
Beberapa kali Agnasia memeriksa surat yg ada di tangannya, dengan wajah kebingungan. Ternyata ada juga seseorang yg menulis pesan hanya beberapa kata.
Agnasia memegang kepala bernafas pasrah.
"Ada apa nona?"
"Kau lihatlah sendiri"
Merry yg begitu penasaran segera mengambil surat yg ada di tangan ku, dia juga sama terkejutnya denganku.
"Kau baik-baik saja? Hanya itu?" Ujar Merry melirik ku.
"Iya hanya itu"
Merry menutup matanya berfikir keras karena itu nampak kerutan di bagian dahinya apa yg dia pikirkan sampai harus seperti itu?
Kemudian dia mulai berteriak 'aha' sambil mengepalkan tangannya semangat
"Saya rasa ini pengagum rahasia yg tahu tentang nona"
Dia tersenyum begitu lebar, hingga aku merasa terbebani dengan senyuman yg dia tunjukan.
"Mana ada hal yg seperti itu Merry"
"Siapa tahu... ah senangnya, nona ku ternyata begitu terkenal di kalangan pria"
Aku menatapnya sekilas sambil tertawa dengan gurauwan yg dia katakan, ada-ada saja... jika memang itu benar aku pasti sudah merasakannya.
Sekarang ku putuskan untuk pergi kekediaman Dellion, seperti biasanya.
...🌼🌼🌼🌼...
Bagitu sampai, dari jauh aku melihat Dellion serta kepala pelayan dan Carin sedang berdiri di depan pintu masuk, aku mempercepat langkahku mendekat.
Begitu melihat kedatangan ku Dellion tersenyum dengan hangat.
"Pangeran? Ada apa ini?"
"Hari ini Carin akan kembali, pengobatan ku sudah selesai"
Tidak percaya dengan apa yg terjadi Agnasia bahkan terdiam mencerna situasi yg ada, jadi perkataan Dellion waktu itu benar? Artinya kemungkinan besar kejadian masa lalu tidak akan terjadi kan?
"Yang Mulia putri saya memberi salam perpisahan"
Carin membungkuk dengan sopan di hadapan ku sebagai rasa hormatnya sebelum berpisah.
"Terima kasih sudah membantu penyembuhan pangeran"
"Iya putri, ah satu hal lagi bisakah saya memeluk anda?"
Carin tersenyum padaku, kenapa tiba-tiba dia ingin memelukku? Aku harus berhati-hati.
"Kenapa-"
"Apa itu berlebihan?" Ucapnya
Aku melirik Dellion lelaki itu mengangguk, sepertinya tidak akan terjadi hal yg berbahaya jika hanya di peluk sekali olehnya.
Agnasia mendekat, Carin pun membuka kedua tangannya memeluk erat Agnasia yg nampak kaku saat ini.
"Aku akan merindukanmu... sepupuku"
Bisik Carin lalu melepas pelukan ku, dia pun segera pergi dengan membawa tas yg ada di tangannya. Aku terdiam tidak dapat berbicara, telinga ku tidak salah dengarkan.
'Dia berkata sepupu? Tidak... mana mungkin'
"Agnasia?"
Dellion menyentuh puncuk kepala ku dengan lembut, saat berbalik menatapnya lelaki itu dengan cepat menarikku kedalam pelukannya yg begitu hangat.
"A-apa yg anda lakukan?"
"Kenapa? Kau tidak suka? Bukankah ini wajar? Sudah lama aku tidak memelukmu"
Tidak dapat berkata-kata aku hanya pasrah saja sambil membenamkan wajahku padanya, Dellion sepertinya hanya bersembunyi di kata 'sudah lama' nyatanya pasti dia cemburu karena aku di peluk Carin
Setelahnya dia melepaskan ku dan menarikku masuk ingin menunjukan sesuatu yg sudah dia siapkan.
...🌼🌼🌼🌼...
Aku menutup kedua mataku atas perintahnya, ada sesuatu yg mengelitik kulit ku namun itu ku tahan.
Dari arah belakang, aku merasakan hembusan nafas Dellion sepertinya dia sedang melihat sesuatu yg membuatnya puas sampai harus begitu.
"Buka matamu Agnasia"
Begitu membuka mata, di hadapan ku sudah ada cermin yg besar menampilkan sosokku dan Dellion dengan mata kami yg saling memandang kearah cermin.
Yang lebih membuat aku tertarik
adalah kalung berlian yg berwarna putih terlihat begitu tenang namun memiliki ketertarikan yg unik karena hiasan yg ada di ujung berlian itu.
Dellion meletakan kepala keatas bahuku dengan kedua tangannya melingkar memeluk ku erat dari belakang.
"Apa kau menyukainya?"
"Tidak..."
"Lalu?"
Perlahan dia melonggarkan pelukannya, kemudian menutup kedua matanya dan berbicara.
Itu adalah kalung peninggalan ibunya, yaitu mendiang Ratu yg meninggal karena sakit.
Aku begitu terkejut, kenapa benda berharga ini di berikan padaku? Bukannya ini terlalu berlebihan?
Ku sentuh kedua tangannya.
"Apakah tidak apa-apa ini di berikan padaku?"
Dellion mengangguk.
"Sebelum ibu menutup matanya, dia mengatakan ini kepada ku. Di saat aku menemukan seseorang yg berharga, berikan ini padanya di waktu yg tepat"
Dellion membuka kedua matanya menatap ku dari pantulan cermin, dia melihat Agnasia Wanita yg entah kenapa terus saja ada di pikirannya, apa mungkin karena dia mungil itu terlihat begitu lucu jadi dia mengingatnya? Atau karena aroma khas yang mirip dengan mendiang ibunya yg ada pada Agnasia?
Apapun itu, yg dia tahu dia begitu mencintai wanita yg ada di hadapannya sekarang.
"Kau berharga bagiku... karena itu aku memberikannya padamu"
Dellion mengucapkan kata-kata itu sambil mencium bahuku dengan lembut.
Deg!
'Pe-perasaan berdebar ini...'
Agnasia melepas pelukan Dellion perlahan, dia menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Agnasia? Kau kenapa?"
Agnasia mengeleng pelan, dia kembali merasakan sesuatu di tubuhnya, sepertinya dia harus mencari udara segar.
"Pangeran, saya akan pergi... selanjutnya saya akan mengundang anda untuk minum teh bersama"
Dellion mengangguk, dia mendekat dan mencium dahi Agnasia dengan lembut mencurahkan seluruh kasih sayangnya kepada Agnasia.
"Aku akan menunggu itu"
...🌼🌼🌼🌼...
Dalam kereta kuda, Agnasia termenung dia tidak bisa menahan kebahagiaannya walaupun tubuhnya begitu tidak enak sekarang.
Ingin sekali dia berteriak sekarang juga tapi sungguh tidak sopan, dia lebih baik masuk kedalam kamar menutup dirinya dengan selimut dan berteriak sekeras-kerasnya.
Agnasia menyentuh kalung pemberian Dellion dengan pelan, dia akan menjaga ini dengan baik.
Tanpa Agnasia sadari ada seseorang yg sedang menatapnya dari kejauhan menggunakan kekuatan yg dia miliki.
"Dia sudah membaca surat ku kan?" Ucap Snow.
Dia bisa melihat Agnasia karena Snow memasang sesuatu yg tidak bisa di lihat oleh mata manusia begitu saja.
Sebenarnya tidak ingin dia lakukan, namun saat melihat keadaan Agnasia yg sedikit kacau saat pertemuan waktu itu membuat rasa khawatir Snow muncul.
"Ada sesuatu yg aneh... tapi apa? " ucapnya.
...🌼🌼🌼🌼...
Agnasia turun, dia masuk kedalam kuil mencari Diego ternyata lelaki itu sedang duduk membaca sesuatu di bawah pohon.
"Diego..."
"Oh Tuan putri selamat datang"
Dia menutup bukunya, kemudian memanggil untuk mengikutinya. Kami berdua pergi menuju tepat yg berbeda sekarang.
Katannya ini adalah tempat untuk mengetes kekuatan.
Begitu tiba di sana terlihat lapangan rumput yg luas, di sana juga ada empat pilar yg berdiri kokoh berbentuk lingkaran dan di tengah-tengahnya terdapat lantai keramik putih dengan lambang kuil.
Aku pun mendekat kemudian menyentuh salah satu pilar dengan hati-hati.
'Sebenarnya kenapa Diego memanggilku kesini, dan tempat ini sepertinya begitu di jaga baik-baik'
lirik Agnasia pada lelaki yg ada di sampingnya, yg masih diam saja.
"Apakah putri tahu kisah dari keempat pilar ini?"
"Aku tidak tahu"
kembali Agnasia menatap pilar yg ada di hadapannya
"Ini adalah tempat di mana Dewa memberikan anugerah pada para leluhur terdahulu"
Agnasia membesarkan kedua matanya terkejut, dia tidak dapat berfikir sampai di situ.
'Jadi ini tempatnya?!'