
...💐Kekaisaran Ango💐...
Ruangan sekarang hancur berantakan, beberapa darah berserakan di lantai ruangan kerja Kaisar Nick, pemandangan ini sudah sangat biasa bagi Marques Cleon, setiap kali Kaisar Nick marah dia akan menghancurkan sesuatu dan membunuh seorang pelayan.
"Agrrrr!! Bodoh! Wanita itu kenapa selalu menghancurkan semua rencana yg sudah lama ku buat!!" Teriak Kaisar dia lalu mengeluarkan aura gelapnya memecahkan kaca jendela di dalam ruangan itu.
"Yang Mulia... maafkan saya jika lancang, tapi bukankah masih ada jalan untuk membunuh Agnasia?" Setelah Marques selesai bicara, Kaisar Nick menatapnya dengan tajam.
"Katakan!"
"Masih ada Pitter serta anak kesayangan mu itu" Mendengar hal itu Kaisar sedikit tertawa dia lalu menancapkan pedangnya kearah tubuh pelayan yg sudah mati sejak beberapa saat lalu.
"Pitter? Pekerjaan yg dia lakukan tidak berguna sama sekali! Kita biarkan saja dia mati tertangkap! Sekarang kita gunakan saja rencana yg satunya, tentang anak kesayangan ku" tawa Kaisar, dia benar-benar marah Sekarang di tambah Kaisar Nick sudah melihat Agnasia, orang yg akan membunuhnya suatu hari nanti.
"Kalau begitu aku akan menemuinya Yang Mulia." Marques Cleon segera pergi keluar dari sana dan tanpa mereka sadari, Pitter mendengarkan pembicaraan mereka dari awal dan itu membuatnya menjadi marah.
'Akan aku buktikan aku berguna! Lihat saja Agnasia akan mati!'
Dia lalu pergi menghilang dari sana tanpa sepengetahuan Kaisar Nick.
...💐Kekaisaran Aegeus💐...
Besoknya, Kaisar menyuruh Galen pergi ke Kekaisaran Tayron untuk meminta jenis ramuan penangkal racun.
Saat kejadian kemarin, kaisar Theo membuat kesepakatan bahwa dia saja yg akan menanggung semua kerugian yg ada termasuk mencari obat penawar untuk memulihkan sungai yg sudah di racuni.
"Yang Mulia jika anda berkenan saya ingin memanggil Agnasia untuk ikut bersama saya" Ucap Galen, Kaisar Theo menyetujui permintaan dari Galen. Dia juga akan memberikan hadia atas kerja keras Agnasia dalam membantu mereka kemarin.
Galen lalu undur diri, dan pergi kekediaman Agnasia.
'Tunggu aku Agnasia, kau harus di marahi juga karena bertindak ceroboh!'
...💐Kediaman Alddes💐...
Agnasia tengah duduk menunduk, dia sekarang tidak bisa membuka suaranya karena sedari tadi Merry memarahinya Karena sudah melukai diri sendiri tanpa pikir panjang.
'Huft kemarin sore Pangeran memarahi ku lalu malamnya Ayah serta Kakak juga, sekarang giliran Merry...tolong siapa pun selamatkan aku...'
"Nona! Anda mendengarkan saya kan?!" Ucap Merry sambil menatap serius Agnasia.
"Ah ia, ia aku tidak akan mengulaginya lagi... itu kan hanya sebuah goresan kecil" mendengar hal itu, Agnasia menutup mulutnya karena sudah salah bicara.
'Habislah! Merry akan mengulagi ceramah panjangnya! Hikss..'
"Luka? Kecil? Anda tahu, bagaimana jika ada racun di pedang itu atau pedang Kaisar--" perkataan Merry terhenti karena pelayan memberi tahu bahwa Galen sedang mencari Agnasia.
'Ahhh penyelamat ku datang juga...' pikir Agnasia dengan senang
"Kalau begitu aku pergi dulu, by Merry..."
"Nona! Dengarkan dul--" pintu kamar pun tertutup, Agnasia dengan cepat meninggalkan Merry dan pergi menuju ruangan tamu tempat Galen berada.
Dia mengatur rambutnya sebelum sampai ke ruang tamu, dia lalu menyuruh penjaga membuka pintu ruangan dan nampak lelaki dengan rambut biru sedang duduk menatap kearah jendela.
Agnasia melangkahkan kakinya dengan senyuman yg hangat.
"Hai Galen..." ucap Agnasia pada sahabatnya itu, mendengar suara Agnasia yg memanggilnya, dia segera berbalik dan berdiri menatap Agnasia.
"Hmm? Ada apa kau kesini, lalu bisakah kau mengontrol ekspresi mu?" Ucap Agnasia tapi di detik berikutnya Galen menarik telinga wanita itu hingga dia berteriak kesakitan.
"Aduh! Apa yg kau lakukan!"
'Huaaa aku sudah salah sekarang, padahal tadi baru saja bebas dari kandang harimau, sekarang karena kebodohanku aku masuk sendiri kedalam kandang singa! Tidakkk!'
"Hei lepaskan, lagi pula apa yg kulakukan berhasil dan aku baik-baik saja." Cengir Agnasia sambil menatap Galen.
"Anak kecil ini, ingin ku cabut mulutnya!"
"Eh, lalu bagaimana aku bicara?"
"Pakai kaki!" Teriak Galen, Agnasia terdiam sambil menatap kakinya.
"Memangnya itu bisa?" Tanyanya sambil menatap Galen, Galen yg melihat itu hanya bisa mengelengkan kepala lalu melepas Agnasia.
"Aku menyerah berbicara dengan mu, sekarang bersiap-siaplah karena kau akan ikut dengan ku pergi ke Kekaisaran timur Tayron"
Deg!!
Agnasia terbelalak menatap Galen dia sungguh tidak percaya mendengar perkataan Galen.
"Apa? Aku pergi kesana bersama mu? Jangan bilang ini soal kemarin, tentang penawar racun?!" Ucap Agnasia.
"Kau benar, dan aku meminta sendiri pada Kaisar agar kau pergi bersama ku"
Mendengar itu Agnasia kembali berfikir, apa ini adalah saatnya dia akan bertemu dengan Carin? Kepalanya sakit mengingat itu padahal dia belum menyiapkan mental untuk bertemu dengan wanita yg Dellion cintai itu.
Yg dia tahu dari ingatan lamanya, Carin itu seorang wanita yg cantik, rambutnya yg sangat hitam dan berkilau itu, sungguh membuat lelaki yg melihatnya terpukau bahkan aku saja sebagai wanita sungguh iri melihatnya.
Dan lebih uniknya, dia memiliki warna mata merah muda yg begitu manis seperti permen kapas.
'Uhk, andaikan dia tidak ada! Tapi, walaupun begitu aku hanya seorang antagonis yg malang sedangkan Carin itu seorang pemeran utama bisa di bilang seperti itu'
Saat sedang asik memikirkan wanita yg bernama Carin, Galen menatap Agnasia sambil sedikit tersenyum.
"Apa yg kau pikirkan?"
"Bukan apa-apa, tapi aku tidak ingin pergi kesana." Jawab Agnasia yg membuat Galen sedih.
"Kenapa? Padahal untuk mu yg seorang calon istri Pangeran, sangat bagus mengetahui Kekaisaran yg lainnya."
Mendengar perkataan yg Galen katakan, Agnasia tersenyum kecut bersamaan menatap Galen sayu.
"Itu tidak akan terjadi..." ucap pelan Agnasia.
"Hei, ada apa denganmu?" Ucap Galen sambil memegang wajah Agnasia, wanita itu hanya tersenyum saja lalu melepaskan tangan Galen dengan pelan
"jadi kan? Kumohon... ya?" Galen dengan wajah imutnya memohon padaku, aku yg tidak tahan dengan tingkahnya ini hanya bisa mengangguk pelan.
'Ahk.. aku tidak bisa menahannya jika Galen sudah seperti itu...'
"Oke, karena perjalanan yg membutuhkan waktu 3 hari kau harus membawa barang-barang mu, mungkin saja kita akan sedikit lama dia sana." Ucap Galen sambil membuang nafas kasarnya.
"Lama? Ku pikir kita hanya mengambil ramuan saja lalu pergi, Bukankah begitu?"
"Ku harap juga seperti itu, tapi..." Galen menunduk berbisik padaku "yg ku dengar seorang yg membuat ramuan ini sedikit pelit dan keras kepala... jadi kita harus bekerja keras dulu." Galen lalu menjauh dan menatap ku dengan senyuman pasrah.
"Dia pasti akan memberikannya, kan kita bisa membayar ramuan itu dan juga kita seorang bangsawan kan?" Ucapan Agnasia membuat Galen mengeleng pelan
"Artinya kau belum mendengar soal dia mengusir bangsawan karena menyogoknya dengan emas hanya ingin meminta ramuan. Dia membenci para Bangsawan, Jadi kita akan menyamar, kau tidak mau di usir kan?" Aku hanya bisa pasrah saja. Sepertinya dia memanggilku pergi bersamanya karena pasti Galen tidak akan bisa mengambil hati orang seperti itu.
Agnasia lalu menyuruh kepala pelayan bersama pelayan lainnya untuk segera menyiapkan barang-barangnya.