The Destiny Of A Princess

The Destiny Of A Princess
Bagian 50



Malam pun tiba, aku sudah di persiapkan oleh Merry dengan cepat dan tanpa kurang sedikit pun. Karena dia begitu bersemangat, aku yg bergerak sedikit pun di bentaknya.


Kenapa dia setelitih ini soal mendandani ku? Wajah ku terasa kaku.


"Merry, kurasa ini sudah cukup."


Ujarku pelan padanya, tapi dia menyuruhku diam sebentar.


"Percuma jika akhirnya akan di hapus" ucapku sekali lagi padanya.


"Tidak apa, apa nona tahu? Kaisar muda misterius Katanya akan hadir! Setelah bertahun-tahun dia akhirnya menunjukan dirinya"


Merry nampak sangat senang akan hal itu, Kaisar muda yg naik tahta karena kematian keluarganya yg tragis itu... Artinya kami akan bertemu?! aku penasaran seperti apa perawakannya.


"Nah sudah! Astaga nona anda sangat cantik!"


Dia tersenyum dengan bangga padaku, sampai terdengar ketukan pintu pertanda ada orang yg akan masuk. Saat pintu terbuka nampak Deondre dengan pakaian yg sangat rapi, dia sedikit menyisir rambutnya keatas menampilkan bentuk wajahnya yg tegas dan tampan.


'Baru Pertama kalinya aku melihat kak Deondre berbeda, tidak seperti biasanya'


"Ternyata kau sangat cocok dengan gaun itu..."


Ucapnya membuat ku tersadar dari lamunan sementara, aku mengucapkan terimakasih padanya lalu dia memanggil ku untuk pergi bersama.


...๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’...


Di depan gerbang, ayah sudah menunggu di sana, langkah ku mendekat memberi salam padanya. Ayah sedikit terdiam kemudian senyuman kecil terukir di wajahnya.


"Saat melihat mu sebentar aku teringat akan sosok Mariana.."


Ucap Duke George pada Agnasia, dia lalu menuntun Agnasia masuk kedalam kereta dengan hati-hati.


Roda kereta kuda berputar, kami akan menuju kekekaisaran. Aku sembari melihat keadaan malam yg dingin terus berfikir apa yg akan terjadi selanjutnya dan terus penasaran seperti apa Kaisar muda itu. Dari yg ku dengar hanya dia yg di undang karena kami sangat menghormatinya.


"Aku harap semua baik-baik saja"


...๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’...


Masih teringat akan permohonan ku di kereta kuda, sepertinya tidak akan baik-baik saja bagaimana mungkin lelaki kue yg ku temui waktu itu adalah seorang Kaisar?!


'Apa-apaan takdir ini! Lelaki aneh itu Kaisar?! Aku tarik kata-kata ku yg ingin membantunya karena merasa simpati'


"Putri.. sepertinya anda kurang enak badan?"


Tanyanya padaku, aku hanya tersenyum sambil menolak penilaiannya tentang ku.


"Saya tidak menyangka anda mengenal putri ku"


Ujar Duke George pada Kaisar Neacel.


"Kami bertemu beberapa waktu lalu di perpustakaan negara, saat itu kami mulai berkenalan."


Jelasnya sambil tersenyum, lelaki licik ini padahal dia yg datang padaku secara tiba-tiba, aku juga tidak mau berkenalan dengannya!


Saat sedang berbincang-bincang dari arah belakang seseorang memberi salam, dia adalah Galen dan Pangeran Dellion keduanya nampak sangat tampan.


'Benar-benar seperti patung pahatan yg indah'


Mata Dellion melirik lelaki yg ada di samping ku dengan tajam, sepertinya dia sudah bisa mengetahui siapa yg ada di sebelah ku.


"Tidak saya sangka anda adalah Kaisar misteri itu"


Ujar Dellion dengan dingin, Neacel membalas perkataan Dellion dengan senyuman sambil memberi salam perkenalan.


"Suatu kehormatan pangeran bisa mengenal saya"


Semua nampak melirik satu sama lain mempertanyakan kenapa kami bisa mengenal Kaisar Neacel.


"Ah! Apakah acaranya akan di mulai?"


Aku sedikit bernafas lega sambil berjalan mengikuti mereka dari belakang, namun... sedari tadi aku merasakan hawa panas di samping kiri dan kanan ku.


'Sepertinya mereka berdua tidak bisa cocok satu sama lain'


"Sejak kapan kalian jadi sedekat ini?"


Suaranya yg begitu rendah menanyakannya padaku dengan tatapan yg sekilas.


"Bukankah itu tidak penting?"


Ujarku pada pangeran dia lalu sedikit tersentak pelan dan membalas perkataan ku.


"Benar... lagi pula kita akan berpisah... jadi itu tidak penting sekarang."


Setelah perkataannya itu dia kemudian mendahului kami berdua, aku menatapnya dalam diam. Ada sedikit perasaan bimbang datang tapi semua itu ku tepis agar tidak memberatkan hatiku mengubah nasip yg sebenarnya.


"Apa kalian sudah tidak mencintai satu sama lain?"


"Maaf Yang Mulia, tapi ini urusan pribadi, anda tidak berhak tahu lebih lanjut"


Sedikit lelaki itu mengangguk mengerti, kami pun berjalan dalam diam. Saat mulai mendekati hutan Theos hawa dingin terasa melewati kulitku.


Dari jauh terlihat lampu dan berbagai hiasan, hutan yg untuk pertama kalinya ku lihat ternyata begitu cantik karena hiasan yg ada.


Kaisar Theo yg berdiri di depan pintu masuk hutan melirik kearah kami, dia pun mendekat dan memberi salam pada Kaisar Neacel sambil meminta maaf tidak dapat menyambutnya karena ada beberapa urusan mendadak.


Kami pun berjalan mendekat kearah pintu masuk hutan Theos, namun sebelum masuk kedalam ada beberapa bunga yg di berikan para pelayan untuk kami, sepertinya itu adalah bunga persembahan.


Saat melangkah masuk, terdengar suara alunan musik di kedua telinga ku sempat aku terhenti dan melihat sekeliling mencari asal suara itu namun aku tidak menemukannya.


"Ada apa?"


Tanya tiba-tiba Deondre yg ada disamping ku baru saja.


"Apa Kakak mendengar musik itu?"


Kataku sambil menatap Deondre dengan sungguh, tapi sepertinya dia tidak mendengarnya melihat ekspresi wajahnya yg berubah menjadi kebingungan itu sudah sangat jelas.


"Bukan apa-apa... hahah aku hanya bergurau saja"


Kataku sambil mengajak Deondre melanjutkan perjalanan. Padahal itu terdengar jelas sekali, apa mungkin aku hanya berhalusinasi karena terlalu takjub dengan hutan ini?


Saat semakin dekat dengan tujuan, dari jauh nampak sebuah pohon yg begitu lebat nan di tumbuhi beberapa bunga putih yg cantik.


Kaisar berhenti kemudian memberikan penghormatan pada pohon itu, setelah selesai dia mendekat dan menyentuh pohon itu, seketika cahaya memancar dari sana menyelimuti kaisar Theo, aku yg Melihat hal itu pertama kalinya cukup terkejut.


"Sebagai seorang yg menerima anugerah mereka harus seperti itu, hal tersebut menjelaskan bahwa Dewa sangat senang atas penyambutan dan persembahan dari Kaisar"


Jelas Deondre padaku, aku mengangguk mengerti padanya.


Kemudian pada giliran Kaisar Neacel sama halnya seperti sebelumnya cahaya itu meliputi tubuhnya, mungkin karena anugerah itu jadi walaupun berbeda kekaisaran hutan Theos menerimanya.


Satu persatu orang yg di berikan anugerah maju dan memberikan penghormatan. Sampai pada tua-tua dan para pendeta datang memberikan beberapa persembahan yg ada.


'Hei... lihat kesini...'


Terdengar suara yg berbisik muncul di samping kananku, dengan cepat ku palingkan wajah melihat kearah suara.


Dari jauh seorang anak perempuan dengan gaun putih di tambah hiasan bunga yg cantik ada di ujung bajunya, dia memegang setangkai bunga sedang menatap kearahku.


Kemudian perlahan tangannya melambai kearahku memanggil ku untuk mendekat padanya.


'Kemarilah...'


Mendengar suaranya yg lembut reflek kakiku bergerak dengan sendirinya mengikuti anak kecil itu. Suara-suara orangย  yg berkumpulย  tiba-tiba menghilang dari pendengaran ku dan saat aku tersadar di depan ku nampak taman bunga yg begitu luas.


"D-di mana aku sekarang?"