The Destiny Of A Princess

The Destiny Of A Princess
Bagian 63



Snow turun dan keluar dari kediaman Duke, sore ini dia ingin berkeliling lagi seperti sebelumnya.


Dia melakukan itu karena mau melihat beberapa tempat yg belum di kunjungi, dengan kekuatannya dia bisa berpindah tempat dengan cukup cepat, tapi itu juga menguras tenaga yg dia miliki.


Hingga dia tiba di tempat yg tidak terduga yaitu taman mawar tempat pangeran Dellion yg tidak dia sukai. Saat ingin berpindah tempat lagi suara yg dia kenal sedang berbicara dengan seseorang.


Snow terkejut karena melihat Carin, putri dari Tuan yg merawat dia sejak kecil ada di taman dan sedang berbicara dengan para pelayan.


"Bagaimana bisa dia ada di sini... yg ku tahu setiap Carin yg turun tangan, artinya akan ada hal buruk yg terjadi."


Dia begitu tahu sifat dari Carin, wanita itu hanya dari luarnya saja terlihat lugu dan cantik, tapi orang lain tidak akan pernah tahu, dia membunuh ratusan manusia hanya untuk mendapatkan kekuatan.


"Ku pikir mereka akan berhenti, tapi nyatanya tidak, kenapa mereka ingin merusak kekaisaran Aegeus serta berniat membunuh Agnasia?"


Tiba-tiba Carin menatap kearah tempat Snow bersembunyi, dengan cepat Snow berpindah tempat kearah pelabuhan Aegnus. Dia tidak boleh sampai ketahuan ada di sini, Bisa-bisa Agnasia akan ada dalam bahaya.


...💐💐💐💐...


Selepas makan malam keluarga selesai, Agnasia menuju kamarnya untuk beristirahat di ikuti Merry yg ada di belakangnya.


"Nona keliatan tidak bersemangat"


"Kau benar, latihan kali ini gagal"


Merry diam tidak mengangkat suaranya lagi, karena melihat situasi, jika dia bertanya pada Agnasia mungkin dia akan tambah sedih.


Besoknya saat menjelang siang, Agnasia sudah ada di kediaman Dellion dan sedang menunggu pria itu selesai bekerja dengan beberapa tugas di berikan kaisar.


Saat sedang menunggu di ruang tamu, tiba-tiba Carin datang dari arah pintu samping sesuai dugaan Agnasia, sangking tidak sukanya dulu pada Carin dia bahkan sangat hafal dari mana wanita itu akan muncul dan kemana wanita itu akan pergi.


Sungguh seperti seorang sasaeng tapi lebih ke dia ingin melindungi Dellion, jadi Agnasia harus ingat gerak-gerik Carin.


"Salam tuan putri"


Ucap Carin sambil menunduk dengan hormat, tapi itu semua tidak di hiraukan Agnasia karena sudah tahu sifat wanita ini.


"Berapa lama lagi kau di sini?" Tanya ku.


"Mungkin setelah Pangeran pulih, saya akan meninggalkan tempat ini putri"


Agnasia menyeruput tehnya dengan pelan sambil mengangguk perlahan, dia melirik kearah wanita itu dengan hati-hati.


"Begitu rupanya, tidak ada hal lain kan?"


"Apa maksud tuan putri? Saya tidak mengerti"


Carin tersenyum kaku melihat kearah ku. Ku letakan kembali cangkir teh ke atas meja dan membalas perkataannya.


"Seperti menjebak kami?"


Seketika Carin menatap Agnasia dengan ekspresi yg tidak dapat di baca sama sekali, berikutnya Agnasia tertawa cukup kencang membuat Carin berkutik kaget.


"Maaf... kau terlihat begitu takut, yg tadi itu aku hanya mengikuti apa yg tertulis di buku yg ku baca"


Agnasia tersenyum pada Carin dan mempersilakan dia duduk untuk menikmati teh bersama-sama, hal yg sudah di sediakan Agnasia sejak semalam adalah berpura-pura tidak tahu apa yg akan di lakukan Carin kedepannya.


Mungkin akan sedikit menjengkelkan, tapi harus di lakukan agar wanita ini tidak curiga. Carin adalah tipe yg waspada dan peka terhadap sesuatu, jadi aku harus lebih pintar mengelak dia.


'Baiklah misi pertama buat musuh menjadi tenang tanpa merasa terancam'


"Oh ia soal kemarin, aku melakukan itu karena jika tidak, artinya aku bukan calon yg baik"


Agnasia tersenyum sambil menuangkan teh kedalam cangkir.


"tidak apa-apa putri, kedepannya anda bisa memeriksa apa yg saya buat"


Carin tersenyum sambil sesekali mengatur ketegangannya di hadapan Agnasia, dan sudah selesai wanita itu masuk dalam perangkap pertama.


Kemudian dari arah samping pintu besar, Dellion datang bersama kepala pelayan. Kami memberi salam dan Carin mulai mengobati Pangeran dengan ramuan obat yg dia racik di depan kami.


Setelah menyelidiki, ada beberapa kemungkinan. Antara dia meletakan bubuk itu kedalam ramuan, atau kedalam teh Pangeran. Itu hanya kecurigaan saja, jika Carin meletakan bubuk itu kedalam ramuan penyembuh, warna ramuan itu akan berubah menjadi biru yg begitu pekat, jika tidak birunya akan murni.


Setelah selesai ramuan terlihat berwarna murni, yg artinya dia tidak mencampur apa-apa kedalam ramuan.


'Lalu kapan saat dia mencampur itu? Aku harus lebih waspada'


Setelah selesai, Carin undur diri untuk kembali begitu juga dengan kepala pelayan. Dellion kemudian duduk bersebelahan dengan ku sambil menyandarkan tubuhnya ke belakang tempat duduk.


"Anda lelah?" Tanya ku sambil meliriknya.


"Iya ada beberapa tugas yg belum selesai"


Suara pangeran terdengar begitu lemas, mungkin dia banyak pikiran. Melihat itu aku merasa begitu kasian padanya, seharusnya sejak awal aku tidak berkata kasar yg menyakiti hatinya dan berperilaku lebih lembut.


Tapi saat itu aku tidak tahu kebenarannya, untuk sekarang aku harus bersikap seperti seorang tunangan dulu.


"Berbaringlah saya akan memijat kepala pangeran"


Kataku padanya, pangeran membuka satu matanya sambil sedikit tersenyum.


Kemudian dia bangun dan berbaring di atas pangkuan ku.


"Disini kan?" Tanya Dellion.


Aku tidak menjawabnya, dan mulai memijat pelan kepala pria yg ada di depan ku. Dia nampak menikmatinya, ini pertama kalinya kami cukup dekat bahkan bulu matanya yg panjang dan lentik begitu terlihat, di tambah nafasnya yg beraturan terdengar seperti lantunan nada pelan.


"Kau terlalu memperhatikan ku"


Ucapnya dengan mata yg tertutup, aku seketika terkejut dan melihat kearah yg lain.


"Bagaimana perasaan pangeran saat meminum obat itu?"


"Sedikit membaik, ramuan yg langkah itu di miliknya sangat banyak aku bahkan tidak percaya"


Dellion sedikit tersenyum sambil mengatur posisi lebih nyaman.


"Baguslah.."


"Kau seperti bersikap waspada pada wanita itu, kenapa?"


"Karena dia pendatang disini"


Balas Agnasia secepat mungkin, hingga Dellion tertawa mendengarnya.


"Tenanglah aku tidak akan berpaling walaupun dia begitu cantik"


Aku melihat kebawah, Dellion sedang menatap ku dengan senyuman yg tidak seperti biasanya.


Entah kenapa aku merasa, makin lama Dellion mirip dengan Galen yg suka sekali menggoda seseorang.


"Saya serius pangeran, jadi jangan main-main" ucap ku ketus padanya.


Kemudian terdengar tarikan nafasnya begitu lama, seperti sedang menarik udara untuk masuk lebih banyak kedalam penciumannya.


"Aroma mu begitu menenangkan, seperti berada di tengah-tengah taman bunga. Aku menyukainya"


Mendengar itu, seketika pipi ku seperti terbakar sesuatu. Aku mendorong pangeran agar bangun secepatnya, dia pun mengikuti apa yg ku lakukan.


"Kenapa? Apa ada masalah?"


"Ti-tidak, hanya saja saya sudah selesai jadi... Saya pergi dulu"


Dengan cepat aku keluar, bahkan hampir jatuh sangking terburu-burunya. Aku harus pergi karena jika tidak, jantung ku yg akan kenapa-napa.