The Destiny Of A Princess

The Destiny Of A Princess
{Season Dua} Bagian 100 - Pertarungan sengit



Di tengah pertarungan yg tiada hentinya, Agnasia bersama dengan Neacel mendekat kearah reruntuhan kekaisaran, tepat berada di belakang para kaisar yg tengah bertarung.


Sempat Galen bertanya kenapa Agnasia tidak menutup dulu pintu kegelapan itu, tetapi tidak banyak waktu baginya menjelaskan.


"Nah sekarang untuk apa kita kesini."


Serunya setelah tiba.


"Kau dengar baik-baik apa yg ku katakan, mereka ada di bawah reruntuhan ini, dan sedang bersembunyi."


Neacel sedikit bingung dengan yg di jelaskan Agnasia, tetapi dia memilih untuk percaya saja pada wanita ini.


"Tetapi kau tahu dari mana?"


"Jika kau ingin mengetahui rencana musuh, berpikirlah seperti mereka."


Senyumnya dan berbicara kembali.


"Jika aku menjadi kaisar Nick, yg mengincar batu kekuatan untuk menambah sihirnya pastinya dia akan bersembunyi di dekat tempat yg kekuatan sucinya lebih besar untuk menutupi eksistensinya yg jahat, walaupun aku tidak tahu apakah mereka akan baik-baik saja di sana."


"Bagaimana dengan pintu kegelapan." Tanyanya lagi.


"Untuk itu, Nick akan memunculkannya sendiri" ujar Agnasia tersenyum seringai.


Mendengar penjelasan dari Agnasia, pria itu terheran-heran, bahkan dia tidak sampai memikirkan rencana saat sedang kacau begini, tetapi Agnasia berbeda, ia begitu cerdas mengatur waktunya.


Tiba-tiba Neacel tersenyum dengan menggelengkan kepalanya.


"Ada apa?" Tanya Agnasia.


"Sekarang aku tahu, kenapa mereka sangat tertarik pada sosokmu ini." Ujarnya.


"Apa maksud mu?"


"Astaga, kau bisa mengerti pemikiran musuh tetapi tidak mengerti kata sederhana yg ku ucapkan? Sudahlah kita fokus saja dengan apa yg akan di lakukan."


Neacel berbalik menatap bangunan yg runtuh, keduanya mulai fokus pada titik yg terasah aneh. Hal itu di dapati pada bagian sudut timur kekaisaran, keduanya pun saling melihat satu sama lain dan langsung menuju kesana.


Sebelum itu Agnasia menjelaskan sesuatu pada Snow dalam telepati sihir yg masih ada pada keduanya.


Begitu melihat tingkah lalu dari Agnasia, Carin seperti terlihat panik sambil melirik kaisar Nick yg tengah serius bertarung.


"Ayah! Lihat kearah jam satu!" Teriaknya.


Mengetahui itu, dengan cepat kaisar Nick berpindah, akan tetapi langsung di halau oleh Galen yg berada di sana.


"Mau kemana kau sialan, apakah kau ketakutan sekarang?"


Dengan tinjunya dia memukul baju besi milik kaisar Nick sampai hancur berkeping-keping.


Di sudut Agnasia serta Neacel mereka langsung mengerakan tanyanya menyentuh udara kosong, kekuatan yg di lakukan Agnasia untuk membuka penghalang sihir yg tidak terlihat, dilakukannya sekali lagi.


Seketika terdengar suara pecah seperti gelas kaca yg jatuh. Setelahnya tanah bergetar dan terbelah, beruntungnya Neacel sudah bersiap-siap akan hal yg terjadi, jadi ia langsung menarik Agnasia menjauh dari sana.


Seketika dua sosok asli muncul dari dalam tanah dengan wajah yg masam, merasa marah.


Setelah kemunculan mereka, sosok palsu yg di lawan langsung menghilang seperti debu tertiup angin bersamaan dengan pintu palsu.


Mengetahui itu, semua tatapan langsung tertuju kearah belakang.


"Oh ternyata mereka bersembunyi." Ujar kaisar Theo.


Dellion melihat luka tusuk yg ada di perut Carin ternyata masih ada, namun sedikit memudar. Mungkin karena dia sudah memulihkan diri.


"Dasar wanita sialan! Kau merusak semua rencana ku!" Teriaknya marah.


Seketika Nick muncul di hadapan Agnasia dan langsung menangkap leher wanita itu seperti seekor hewan, begitu Neacel akan menyerangnya Carin segera menancapkan benda tajam kearah belakang tubuh pria itu.


Agnasia meronta bahkan menendang tubuh kaisar Nick secara brutal, namun cengkramannya begitu kuat yg membuat nafas Agnasia tidak stabil.


"Agnasia!!"


Teriak semuannya dan langsung mengerahkan kekuatan ingin menyerang Nick.


"Kalian bodoh?! Jika menyerangku, wanita ini juga akan terluka dan lebih parah dari padaku. Sekarang Kalau ingin ia Selamat, berikan batu kekuatan yg ada pada kalian!" Teriaknya lancang.


"Itu tidak akan terjadi!" Balas Duke marah.


Kaisar Nick tertawa mendengar itu, kemudian melebarkan matanya melirik Agnasia


"Baiklah wanita ini akan mati sekarang juga."


Dia meremas kencang leher Agnasia, wanita itu meronta dan memukul tangan dari kaisar Nick terus menerus.


"Tidak! Jangan sakiti dia!"


Teriak Dellion, dia lalu mencabut bros yg ada di dalam baju besinya.


"Bukankah ini yg kau mau!" Ujarnya lagi.


"T-tidak! J-angan beri-kan!"


Cegah Agnasia dengan nafas terengah-engah.


"Diam kau brengsek!" Geram Carin.


Semua kini tidak memiliki pilihan lain, mereka mengumpulkan batu kekuatan dan langsung melemparkannya pada Nick.


"Carin ambil batu-batu kekuatan itu."


Pintah Nick, Carin pun mengumpulkan semua batu tersebut dan segera membawanya pada pria itu.


"Sekarang, sisa batumu... dimana kau menyimpannya wanita!"


Tekan kaisar Nick sembari menggoyangkan tubuh Agnasia kasar di udara.


Wanita itu tersenyum remeh.


"Hmp.. s-epertinya k-ekuatan mu ber-kurang karena berse-mbunyi di bawah sana ya! Pecundang!"


Ujarnya membuat kaisar Nick marah. Dia sekali lagi meremas kesal leher Agnasia.


"Kau bilang akan melepaskan dia setelah mendapatkan batu kekuatan itu!" Seru Dellion.


"Oh... benarkah? Aku sudah lupa pernah berkata seperti itu..."


Senyuman mengerikan di tunjukan pada lainnya.


Kaisar Nick kembali menatap Agnasia.


"Katakan di mana!"


Bentaknya sekali lagi, Agnasia malahan tidak membuka mulut berbicara, dia hanya tersenyum saja, padahal kulit wajahnya sudah memucat, aliran darah yg mengalir menuju otak semakin menyempit.


"Keras kepala sekali! Baiklah, tidak ada pilihan lain selain membunuh mu bukan?! Akan ku siksa kau seperti Mariana, kau tahu bagaimana aku membunuhnya? Caranya seperti sekarang, dan menikam perutnya seperti ini!"


Kaisar Nick bergerak dan langsung menusuk perut Agnasia dengan sihirnya.


Jlep!


"Brengsek kau Nick!"


Teriak Dellion berlari menyerang Nick, tetapi pria itu terhempas kerena pukulan kasar Nick, ini akibat batu kekuatan yg terlepas dari tubuhnya jadi stamina Dellion tidak sekuat sebelumnya.


Makin lama pandangan Agnasia memudar, ia hanya merasa perih akibat luka tusukan di perutnya yang tertiup angin malam.


'Tinggal sedikit lagi...'


Wanita itu pun berhenti bergerak, matanya perlahan-lahan tertutup. Membuat kaisar Nick tertawa kegirangan bersama Carin.


Berbeda dengan lainnya begitu terkejut, dan datang balik menyerang Nick. Tetapi karena sihir Nick yg kuat, mereka tidak dapat melukai pria itu.


Duke seperti melihat sosok kedua kematian Mariana, ia terus saja bangkit dan tiada henti-hentinya menyerang Nick.


"Agnasia! Tidak! Jangan tinggalkan ayah!"


Teriak Duke, hatinya begitu sakit melihat tubuh itu sudah tidak bergerak lagi, dengan warna kulit seperti kehabisan darah.


"Hahaha! Ini karena dia sendiri! siapa suruh tidak mengatakan dimana batu kekuatannya. Sekarang dia mati!"


Tawannya menggema diseluruh penjuru kekaisaran, Nick kemudian mengerakan sebelah tangannya mengeluarkan pintu asli yg masih setengah terbuka.


"Aku menang di sini! Hahaha!"


Teriaknya dan melempar tubuh Agnasia ketanah dengan kasar, tetapi tiba-tiba dari sudut kekaisaran Snow ikut tertawa juga melihat tingkah kedua penjahat itu.


Dia bertepuk-tepuk tangan, kemudian hal yg tak di duga terjadi. Agnasia langsung bergerak bangun dan menatap Nick serta Carin yg terdiam. Akan tetapi orang-orang sekitar terkejut melihat wanita itu masih hidup.


"Bagaimana bisa kau selamat!" Ucapnya tidak percaya.


Agnasia tersenyum remeh. Sembari bangkit berdiri membersihkan debu yg menempel di bajunya.


"Apa gunanya aku belajar kekuatan penyembuh selama ini, dan hanya mati begitu saja? Kau sangat bodoh rupanya, tidak menyadari aku menyembuhkan diri sendiri." Ujarnya merendahkan kaisar Nick.


"Ahahah! Rencana mu sungguh luar biasa Agnasia!"


Tawa Neacel yg muncul dari balik reruntuhan.


"Tunggu! Sejak kapan dia disana!"


Tanya Carin heran, karena tubuh yg ia tikam sekarang sudah berubah menjadi abu.


"Sejak kalian meminta batu kekuatan, sihir Snow yg merayap di antara pasir, telah mengecoh penglihatan kalian bukan." Tawa Neacel.


Keduanya menjadi geram tentang siasat yg di rencanakan Agnasia. Bahkan di tebak saja cukup sulit.