
Besoknya aku datang mengunjungi tempat kejadian, reruntuhan bangunan serta kayu bertumpuk bahkan yg lainnya sudah menjadi debu.
Beberapa jualan serta sisa-sisa kain yg sudah hangus di kumpulkan menjadi satu, banyak pengawal dan penjaga memeriksa tempat ini.
Hingga dari jauh terlihat Galen sedang berbincang dengan beberapa penjaga, wajahnya nampak begitu serius begitulah dia jika mengerjakan sesuatu.
Kejadian ini sudah sampai di telinga Kaisar, jadi Galen ikut turut serta mengumpulkan beberapa bukti dan informasi, kerugian yg di dapatkan cukup besar karena api cepat sekali menjalar dan juga... ada beberapa korban akibat kebakaran itu.
Warga yg mendapati luka bakar segera di bawah untuk di obati oleh dokter kekaisaran.
Dari jauh Galen melihat Agnasia yg tengah berdiri di depan bangunan yg hancur di tangannya ada payung kecil berwarna putih di gunakan untuk menghalau cahaya matahari mengenai kulit wajahnya.
Galen pun mendekat, dia menyapa Agnasia seperti biasanya.
"Kenapa kau kesini?"
"Hanya penasaran saja, dan ini juga di bawah wilayah keluarga Alddes jadi aku boleh kesini kan?"
Lelaki itu mengangguk dia lalu menatap bangunan yg ada di depan ada sesuatu yg dia pikirkan namun sulit untuk di jelaskan dan harus memiliki bukti.
Dia lalu melirik Agnasia yg tengah melihatnya juga, mungkin saja wanita yg ada di sampingnya berfikiran sama dengannya.
"Bukti mencurigakan tidak di temukan, mungkin ini hanya kebetulan saja"
Galen sedikit memancing Agnasia untuk angkat bicara atas perkataan yg dia lontarkan barusan.
Agnasia kemudian mengerutkan alisnya menatap Galen.
"Hanya orang bodoh saja tidak bisa membaca situasi"
Mendengar tanggapan dari Agnasia, Galen tertawa sambil memasukan sebelah tangan kedalam katong celana.
"Jadi pendapat mu Yang Mulia?"
Agnasia mengeleng ternyata dia di pancing untuk membuka mulut atas kejadian ini, licik juga pria di sampingnya padahal Agnasia ingin mengistirahatkan otaknya yg begitu banyak teka-teki tidak jelas.
"Menurut ku ini aneh"
Agnasia melangkah mendekati bangunan yg terbakar, Galen mengikutinya dari samping sambil menatap Agnasia.
"Aku tahu maksudmu... Yang pertama bukankah apinya begitu cepat menjalar? Lalu kedua itu di malam hari saat orang-orangΒ tidur dan.."
"Dan terakhir, tokoh yg terbakar bukan tempat makan melainkan tokoh gaun dan pernak-pernik"
Galen kembali bingung dengan jawaban terakhir Agnasia, dia pikir wanita ini akan menjawab tidak ada bukti yg kuat.
"Jelaskan semua yg kau pikirkan tentang kebakaran ini" ucap Galen.
Agnasia mulai menarik nafas menyimpulkan pembicaraan mereka berdua, yg pertama mungkin memang benar terlalu mencurigakan soal api yg begitu cepat menjalar karena bangunan yg ada tidak berdempetan, kedua di malam hari itu sudah pasti tidak ada orang yg berlalu lalang dan sudah tidur jadi patut di curigai.
Yg terakhir tokoh gaun serta pernak-pernik tidak mungkin menyimpan lilin atau sesuatu yg akan membuat kebakaran, karena itu bisa merugikan mereka jika barang-barang jualan terbakar.
Galen mengangguk mengerti, yg masuk akal jika tempat makan yg terbakar karena mungkin saja itu berasal dari dapur.
"Kau benar juga, sebenarnya kenapa mereka melakukan tindakan seperti ini?" Tanya Galen.
"Aku juga tidak mengerti, sama halnya dengan ledakan di pasar kekaisaran dan di sana ada..."
Tunggu dulu, penjelasan Merry waktu itu melihat Snow kan? Jika begitu artinya Snow tahu!
"Ada?"
"Ah bukan, aku sudah melenceng"
Tawa Agnasia membohongi Galen, lelaki itu mengangguk mengerti.
Sekarang Agnasia harus mencari Snow.
...ππππ...
Dalam ruangan Carin sedang duduk sambari melihat kearah kalung sihir, dia sedang berbincang bersama Kaisar Nick soal rencana yg dia buat sekarang.
"Putri ku memang pintar"
Kaisar Nick tertawa mendengar penjelasan Carin. Dia begitu senang atas apa yg di lakukan putrinya
"Tenanglah ayah, aku sudah mendapat seseorang untuk melakukan tugas itu"
"Aku sudah tidak sabar melihat kehancuran mereka!"
Terdengar amarah yg besar dari Kaisar Nick, dia ingin segera melihat wajah-wajah yg percaya diri itu mulai hancur serta kehilangan harapan.
"Tenanglah ayah... aku akan membuat balas dendam ayah berhasil"
"Baguslah putriku, lalu Bagaimana dengan Agnasia?"
"Oh.. sepupuku itu? Mungkin mulai malam ini akan ada kejutan untuknya" ucapnya.
Carin tersenyum sambil memutar ujung rambutnya dengan bahagia, dia tidak sabar juga melihat wajah Agnasia yg selalu mereka seperti bunga mawar itu menjadi layu.
"Carin? Bagaimana juga dengan Pitter? Apa kau menemukannya?"
Mendengar pertanyaan ayahnya, Carin mengeleng sambil menceritakan kejadian beberapa waktu yg lalu, soal ledakan sihir Pitter.
Sampai sekarang dia belum menemukannya, Pitter cukup hebat dalam menyembunyikan keberadaannya bahkan Carin pun sulit mencarinya.
"Anak nakal itu tidak tahu terima kasih"
...ππππ...
Lepas dari kota, Agnasia mengunjungi kediaman Pangeran Dellion mengecek keadaannya saat ini.
Begitu pintu di buka, Dellion menyambut Agnasia dengan senang hati mengajak tunangannya untuk duduk terlebih dahulu sebelum membuka obrolan.
"Bagaimana keadaan Pangeran?"
"Aku baik-baik saja, setelah meminum obat siang tadi, aku lanjut mengerjakan beberapa tugas. Bagaimana soal kebakaran itu?"
"Masih dalam proses penyelidikan"
"Mungkin itu di sengaja, sangat aneh juga padahal bukan musim panas bisa terjadi kebakaran besar" jelas Dellion.
Aku mengangguk setuju atas perkataan barusan, lepas itu pelayan masuk membawakan teh serta cemilan dan segera pergi.
"Bagaimana dengan kekuatan mu?"
"Masih dalam proses, saya harap akan ada kemajuan"
Dellion langsung menarik tangan ku dan menggenggamnya erat, kemudian sedikit menyandarkan kepalanya pada bahuku.
"Tetaplah semangat, kau bisa"
Hanya ada keheningan saja, tiba-tiba Dellion menjauhkan kepalanya dari ku, Dia sekarang menatap kearah ku diam.
"Beberapa hari ini aku merasa ada yg aneh"
"Aneh? Apa? Ramuannya membuat mu pusing? Atau mual?"
Tanya Agnasia dengan cepat.
"Bukan itu Agnasia.."
Dellion tertawa, dia lalu bangkit berdiri menuju kearah meja kerja mengambil sesuatu yg ada di dalam laci, sebuah kertas putih.
Dia lalu memberikannya padaku.
"Seperti yg kau tahu aku selalu mimpi aneh dan mimpi aneh terakhir hanya lambang itu"
Tangan ku cukup gemetaran ketika melihat ke arah kertas putih. Ini adalah lambang yg sama saat anak perempuan itu menunjukan detik terakhir Dellion mengunakan sihir pengulang waktu.
Bagaimana bisa dia tahu ini, apa jangan-jangan ingatan masa lalu akan kembali?
"Sudah aku tanyakan pada beberapa orang tapi mereka tidak tahu pasti itu digunakan untuk apa" ucap Dellion.
"Mungkin ini hanya gambar biasa, jangan terlalu di pikirkan"
Aku mengahlikan topik sebentar, karena tidak ingin berbicara soal lambang kuno yg sudah ku ketahui.
Kami melanjutkan pembicaraan lainnya, setelah sudah cukup lama aku berpamitan padanya untuk kembali pulang.