
Dellion diam menatap ku yg tiba-tiba bertindak aneh padanya, aku yg sadar akan itu segera melepaskan tangannya dan duduk sedikit menjauh darinya.
Perlahan aku mengatur nafas dan mulai berbicara pada pangeran yg ada di samping ku.
"Maafkan kelancangan saya"
"Tidak apa-apa... kenapa kau melarangnya? Padahal bagus kan aku bisa sembuh dan mengingat mu kembali? Atau kau tidak suka karena sudah menyukai Galen?"
Bola mataku membesar karena terkejut akan yg di katakan pangeran padaku, bagaimana mungkin dia memikirkan hal yg bahkan tidak aku pikir itu? Apa dia cemburu?
"Kenapa sampai pangeran berfikir seperti itu?!"
Ucapku, pangeran kemudian mengambil cangkir yg berisih teh lalu meminumnya. Setelah itu dia diam sambil menatap cangkir yg ada di tangannya dan mulai angkat bicara menjawab pertanyaan ku.
"Kalian terlihat saling mencintai"
"Apa!!"
Mendengar teriakan ku yg berada tepat di sampingnya, pangeran terkejut sehingga teh yg ada di tangannya tumpah dan membasahi kemeja putih yg sedang di pakai pangeran.
"Astaga maafkan saya, anda pasti terkejut"
Kataku sembari mengeluarkan sapu tangan dan membersihkannya perlahan. Kemeja itu sangat basa bahkan warna putih yg ada berubah menjadi merah mudah sesuai warna teh. aku lalu meniupnya agar sedikit mengering namun pangeran tiba-tiba menjauhkan tubuh ku darinya.
"A-aku tidak a-pa-apa!"
"Tapi itu pasti pa... nass"
Sedikit aku terhenti melihat Dellion yg menutupi wajahnya yg memerah dengan sebelah tangan, aku yg mengerti kenapa dia bisa seperti itu segera bangkit berdiri dan menjauh darinya sambil meminta maaf.
'Astaga! Apa yg ku lakukan tadi!'
Pikiran ku tidak karuan, pasti pangeran pikir aku seorang wanita yg tidak sopan dan mengambil untung dalam kejadian tadi.
Kami berdua saling diam satu sama lain sampai pangeran membuka mulutnya berbicara, bahwa orang yg akan menyembuhkan dia akan datang lusa.
Aku sedikit mengerutkan alisku, memikirkan bagaimana aku harus melindungi pangeran serta mengusir wanita jahat itu.
"Besok siang, kita akan pergi ke pesta ulang tahun anak perempuan Baron... kau ingat?"
Matanya melihat kearah ku yg masih saja menunduk tidak membalas menatapnya. Aku mengangguk sebagai balasan
Kemudian pangeran bangkit berdiri dan berpamitan padaku, aku ikut mengantarnya sampai gerbang depan saat dia sudah di dalam kereta kuda Galen dari arah belakang datang dengan terburu-buru.
"Ternyata sudah selesai... kalau begitu kami pergi dulu"
Sebelum beranjak, Galen sedikit menunduk berbisik padaku dengan sangat pelan.
"Apa si penyihir jelek itu berbuat jahat?"
"Untuk saat ini tidak... kau tak perlu khawatir"
Setelah itu Galen tersenyum sambil sedikit mengacak rambutku kemudian naik dan masuk kedalam kereta. Saat kereta kuda yg di naiki pangeran serta Galen sudah jauh aku berbalik masuk kedalam, tapi tiba-tiba seekor burung merpati hinggap di bahuku.
Aku cukup terkejut, kemudian pandangan ku terahlikan oleh surat yg di ikat di kaki kecil burung tersebut. Segera aku mengambilnya, burung itu pun terbang pergi menjauh.
"Siapa yg memberikan ini?"
Ku putuskan untuk membacanya di dalam kamar agar tidak ada yg curiga.
...💐💐💐💐...
Aku mengunci pintu rapat-rapat dan pergi menuju tempat tidur, ku baringkan tubuh sembari membuka kertas itu dan mulai membacanya dalam hati.
Dan selanjutnya dia ingin menemui ku karena itu dia menanyakan kapan hari yg bagus untuk bertemu. Aku mengesampingkan tubuh ku sambil menutup mata.
'Lelaki ini cukup tahu banyak rahasia... aku harus mengatur pertemuan kita'
Mengingat juga pertemuan ku dengan anak perempuan itu dan segala rahasia yg dia katakan padaku yg tidak aku ketahui semuanya mengubah beberapa rencana ku untuk kedepannya.
"Kunci? Penyegel? Apa karna itu aku di sayangi Dewa?"
Tanyaku pada diri sendiri, memang saat mengetahuinya aku sedikit terkejut bahkan rasanya mustahil untuk di percaya. Saat itu setelah aku berteriak padanya dia menjelaskan padaku kenapa aku di pilih dan harus mengetahui rahasia tersembunyi.
'Kau adalah penyegel sekaligus kunci untuk menghalau rencana mereka yg akan membuka pintu kegelapan'
Gadis itu mengepalkan tangannya sambil menatap ku dengan begitu serius, sementara aku diam seribu bahasa mendengar perkataannya tidak masuk akal.
"Pintu kegelapan?"
Gumamku karena pernah mendengar kalimat itu sebelumnya, itu adalah kejadian yg merenggut nyawa keluarga dari Kaisar Neacel tapi itu juga yg membuat banyak orang menghormati dia karena telah menyelamatkan ribuan jiwa.
"Ku pikir penyegel itu bukan aku tapi keluarga dari kekaisaran Sebasta? Tapi bagaimana bisa seperti ini?"
'Keluarganya memang seorang penyegel, tapi bukan yg asli karena itu nyawa mereka menjadi taruhannya'
"Tu-tunggu! Kau tahu mereka? Siapa kau yg sebenarnya?"
Gadis itu hanya menunjukan senyumannya saja tidak menjawab pertanyaan ku kemudian dia mendekat dan memegang tanganku dan menatap dalam mataku.
'Mungkin mereka belum bisa mengenal siapa dirimu... tapi suatu saat mereka akan tahu, dan kembali menyusun rencana untuk membunuh mu, karena kau adalah kuncinya'
Lepas dari itu, aku hanya melihat dia memberikan setangkai bunga padaku dan menghilang. Lalu saat aku membuka mata aku berada di kamar tidur.
Kembali lagi aku bangun dan sedikit menatap kosong kearah jendela, pikiran ku tertuju pada ingatan di sungai waktu itu.
Aku meringkuk memeluk erat kedua kakiku, jika memang benar perkataannya artinya aku sudah salah di sini? Anak itu mengatakan dia di kendalikan, karena itu aku harus melindungi kekaisaran ini.
Mataku tertuju pada tanda yg ada di pergelangan tangan kananku, memikirkan apa kekuatan yg ku dapatkan mungkin saja kekuatan pelindung!
"Karna ini kali pertama... aku tidak tahu cara menggunakan anugerah ini"
Gumamku, rasa sedih meruak di dalam diriku, sekarang apa yg harus aku lakukan.
"Aaaa! Harusnya dia katakan saja semua rahasia! Kenapa hanya sepenggal saja! Lalu jika memang benar Kaisar Nick jahat aku akan melakukan sesuatu agar dia tidak berkutik"
Tiba-tiba pintu di ketuk dari luar segera aku berpaling dan turun dari tempat tidur membuka pintu, di sana ternyata ada kak Deondre dengan seragamnya yg begitu rapi.
"Kak Deondre!"
Aku tersenyum padanya, tapi dia segera menarik tanganku dan Melihat tanda yg ada di pergelangan tangan.
"Tidak mungkin..."
Matanya membesar sangking terkejutnya Melihat tanda anugerah yg ku punya.
"Kakak! Sekarang aku bisa melindungi kalian dengan anugerah ini."
Dengan gembira ku katakan itu padanya namun pria itu malah menatap ku dalam diam.
"Astaga... bagaimana bisa keturunan Alddes mendapatkan anugerah penyembuh"
Lelaki itu tersenyum sambil mengeleng tidak percaya, berbeda dengan ku yg membatu dan mencerna perkataannya.
'Penyembuh!'