
Tanah bergetar dengan hebatnya, awan gelap datang menyatu di atas kekaisaran Aegeus, tubuh Kaisar Nick tambah besar seiring berjalannya waktu.
Ia menghantam penghalang yg di buat Duke agar hancur, sementara semuannya nampak kewalahan sekaligus lelah karena kekuatan yg mereka pakai sudah melebihi batas.
Agnasia tengah berkeliling mengobati orang-orang yg terluka, meskipun dia sadar tubuhnya semakin melemah tetapi yg terpenting semua bisa membaik.
Setelah ia selesai mengobati luka para prajurit, dia langsung menuju kearah para Kaisar untuk menutup luka mereka.
"Terima kasih Agnasia, kau sudah menyelamatkan Kami." Ucap Theo.
"Ini sudah tugas saya Yang Mulia." Jawabnya
Kembali Agnasia mengobati lainnya, sampai pada Galen serta Dellion sebagai penutupan.
Lebih dari yg ia kira, ternyata luka-luka yg keduanya alami sangat parah.
"Kenapa tidak katakan kalau ada luka tikaman!"
Marah Agnasia pada Dellion saat membuka baju perangnya.
"Ini bukan apa-apa. Kau jangan khawatir."
"Jangan khawatir! Ah! Lucu sekali."
Balas Agnasia geram, dia pun mengobati Dellion dalam diam, sementara pria itu menatapnya terus yg membuat Agnasia tidak nyaman.
"Kau marah padaku?"
Ujar Dellion tetapi di hiraukan oleh Agnasia, begitu selesai ia lanjut mengobati Galen yg sedang berusaha menahan tawa melihat ekspresi Dellion yg bingung.
"Agnasia ini wajar dalam perang kita terluka. Kau jangan menyalahkan aku." Katanya lagi tidak terima.
"Hmm terserah kau saja." Balasnya dingin.
Pria itu mendengus kesal, kemudian meminta maaf pada Agnasia. Mendengar itu perasaan Agnasia sedikit melunak, ia lalu menatap Dellion.
"Baiklah. Maafkan aku juga sudah marah." Balasnya
"Nah selesai kan, sudah-sudah. Agnasia terlalu mengkhawatirkan mu Dellion, jadi dia seperti itu." Ujar Galen sembari tersenyum penuh arti.
Tiba-tiba terdengar suara dentuman yg begitu keras dari luar, Kaisar Nick sudah berbalik menuju kearah pertarungan Snow dan Carin yg belum berhenti.
"Dia dalam bahaya!" Teriak Agnasia.
Sementara di sisi pertarungan keduanya, Snow terkejut dengan kedatangan Kaisar Nick yg sudah sangat aneh baginya.
Carin seketika bergerak menyerang Snow yg tidak fokus, sampai wajahnya tergores cukup dalam.
"Di mana konsentrasi mu? Apa sekarang kau takut? Kematian mu semakin dekat bukan?"
Seru Carin sambil tersenyum kemenangan.
Sekali lagi dia menyerang Snow hingga terlempar cukup jauh.
"Hahaha! Lihat ayah! Penghianat itu akan mati sekarang!"
Tawa Carin membesar, saat ia akan menyerang pria itu lagi, tanpa di sangka-sangka Agnasia muncul membuat Snow beserta lainnya kaget.
"Agnasia! Kenapa kau di sini!" Ucap Snow khawatir.
"Mana mungkin aku membiarkan mu mati di sini kan?" Jawab Agnasia sambil terkekeh.
Saat sedang berbincang tiba-tiba Carin tertawa lagi, dia menunjuk Agnasia dengan pedangnya dan menatap wanita itu rendah.
"Kau sudah siap mati di sini. Baiklah, ayah lihatlah bunuh saja dia." Teriak Carin.
Snow segera bangun dan berdiri di samping Agnasia, sementara lainnya sudah keluar dari tempat perlindungan, melihat apa yg di lakukan Agnasia cukup membuat mereka khawatir.
Ketika Carin hendak meluncurkan serangannya, Kaisar Nick tiba-tiba mengerakan pedang kegelapan dan memotong wanita itu menjadi dua bagian.
Darah Carin langsung berserakan di tanah, wanita itu mati di tempat dengan mata yg terbuka lebar, sungguh sangat mengerikan.
"Dia... dia... membunuh anaknya sendiri!" Ucap Agnasia gemetar.
"Sudah ku duga, pedang itu telah memakan kesadarannya seutuhnya. Kita harus lebih berhati-hati, karena dia sudah bukan lagi Kaisar Nick. melainkan iblis!"
Tekannya, kemudian orang-orang berkumpul siap menyerang Nick kembali.
Pria itu tertawa dan membanting pedangnya kesegala arah seperti sudah hilang kendali. Di tengah pertarungan mereka, Agnasia diam sejenak mencari celah untuk membunuh Kaisar Nick.
Satu ide langsung muncul dari dalam kepalanya, ia kemudian meminta tolong pada Snow untuk menggunakan sihir telepatinya pada para pemimpin perang.
"Semuannya dengarkan aku baik-baik, ini adalah sihir dari Snow supaya suaraku bisa di dengar kalian. kendalanya ada pada pedang aneh yg di pegang Kaisar Nick, jika kita dapat memisahkannya mungkin akan ada jalan keluar membunuhnya, dan ada satu rencana yg ku pikirkan."
Agnasia pun menjelaskan ide serta taktik pada yg lainnya, semuanya mengangguk setuju atas rencana itu. Dellion mengangkat pedangnya yg bercahaya dan segera lari memutar kebelakang, sedangkan para Kaisar masih berjaga di depan.
Itu membuat Nick menjadi bingung, dan sesuai dugaan Agnasia, karena pikirannya sudah termakan oleh pedang itu, ia jadi tidak bisa berfikir jernih dan hanya mau membunuh saja.
Dellion bersama dengan kaisar Theo menatap satu sama lain sebagai tanda, dan dengan sekuat tenaga menghajar Nick menggunakan kekuatan penyerang mereka yg sudah di kumpulkan sejak tadi, saat mendengar penjelasan Agnasia.
Serangan itu membuat kaisar Nick terjatuh, berikutnya Galen bersama dengan Marquess Christoffel langsung mendekat dan menahan Nick agar tidak bergerak dengan kekuatan mereka.
Snow lalu berlari mendekat kearah Nick, ia menggunakan sihirnya menarik pedang tersebut untuk menjauh dari sana. Agnasia berserta yg lainnya bernafas lega melihat hal itu.
Namun tiba-tiba Nick membuka matanya dan berteriak murka, dia lalu menatap pedang yg masih berada di udara itu.
"Jangan kau ambil pedang ku!"
Teriaknya melihat Agnasia dari kejauhan, Nick kemudian menggunakan sihirnya mengerakan pedang itu menuju kearah Agnasia, sementara Snow tidak bisa mengontrol pedang yg tertuju pada Agnasia.
"Agnasia bahaya!" Teriak Kaisar Theo.
Satu serangan melukai lengan kiri Agnasia, wanita itu terkejut dan jatuh ke tanah saat menerima serangan tersebut. Mungkin karena tenaganya yg terkuras tadi saat menyembuhkan yg lain, tubuhnya jadi lambat menghindarinya.
Dellion bersama Snow dengan cepat membantu Agnasia berdiri, wanita itu memegang lengannya menahan darah yg mengalir keluar.
Sementara kaisar Nick mulai melepaskan diri dari kedua orang yg menahannya dengan erat.
"Aku baik-baik saja, sekarang antarkan aku pada Nick, kami berdua harus menyegelnya."
Ucap Agnasia terengah-engah. Snow mengangguk kemudian dengan cepat memindahkan Agnasia di tempat Nick berbaring.
Dia lalu melirik Neacel yg sudah siap untuk menyegel kaisar Nick yg sudah menjadi iblis pembunuh. Keduanya mulai menggumamkan sesuatu, pria itu mulai berteriak-teriak tidak tenang.
Setelah ucapan terakhir dari keduanya, muncul lingkaran biru keunguan dengan cahaya yg begitu menusuk mata, Agnasia lalu melirik Snow untuk segera mengambil pedang itu agar di segel bersamaan.
Pedang itu pun di terbangkan Snow menuju kearah lingkaran, pedang besi tersebut bergetar kemudian hancur berkeping-keping di atas lingkaran segel.
Setelahnya terdengar kaisar Nick tertawa sambil menatap Agnasia marah.
"Kau pikir hanya aku saja yg mati? Hahahaha setelah kematian ku ini kau akan mengikuti ku juga Agnasia! Hahahaha! " Tekannya
Suara tawanya yg begitu menyeramkan lenyap begitu saja bersama-sama lingkaran itu.
'Apa maksudnya itu?' Pikir Agnasia.
Semua langsung bersorak-sorai karena perjuangan mereka tidak sia-sia sejak awal. Agnasia bernafas lega sembari melihat para kesatria saling berpelukan satu sama lain.
Tiba-tiba dari kejauhan muncul segerombolan bangsawan serta rakyat yg tergesa-gesa mendekat kearah mereka.
Merry tersenyum dengan begitu mekar melihat Agnasia, begitu sampai ia langsung memeluk majikannya dengan erat.
Wanita itu membalas pelukannya juga dengan tersenyum gembira.
"Ini semua berkat rencana yg di susun Agnasia! Berikan sorak-sorai untuknya" teriak Galen.
Semuanya pun meneriaki nama Agnasia seperti pahlawan yg telah menyelamatkan kekaisaran, padahal tanpa bantuan dari pemimpin perang dia tidak bisa berbuat apa-apa.
Agnasia menjadi malu menanggapi sikap mereka, semua tatapan yg dulunya melihat ia dengan marah serta benci perlahan-lahan berubah.
Begitu ia akan bergerak menuju Duke serta Deondre, tiba-tiba Agnasia terbatuk-batuk dan sekali lagi mengeluarkan darah dari mulutnya. Hal itu membuat lainnya langsung segera mendekat, sementara Merry sudah menahan tubuh Agnasia agar tidak jatuh.