The Destiny Of A Princess

The Destiny Of A Princess
Bagian 64 - gelang sihir



Hari ini Arthor bawah bonus up, selamat membaca ^^


...💐💐💐💐...


Sudah tiga hari berlalu, jika di hitung dari hari pertama Carin hampir seminggu berada di kekaisaran Aegeus. Setiap kali melakukan pengobatan Agnasia akan datang melihat semua yg di lakukan Carin.


Untuk saat ini dia tidak melakukan apapun yg cukup mencurigakan, Dellion juga baik-baik saja malahan tubuhnya semakin ada perkembangan sedikit demi sedikit ingatan-ingatan kecil di ingat oleh Dellion.


Tapi walaupun begitu aku harus tetap waspada, sedetik ku biarkan pasti dia akan berbuat yg tidak-tidak. Dan yg paling menguntungkan, aku bisa melihat dia meracik ramuan itu dalam ruangan pribadinya, sesuai janji yg di katakan Carin waktu itu.


Meskipun ada ekspresi yg tidak bisa ku tebak dari Carin, aku harus berpura-pura seperti Agnasia pada umumnya yg dia tahu.


Untuk perkembangan kekuatan yg aku miliki sampai sekarang belum menemukan hasil yg pasti, bahkan kemajuan pun tidak nampak di depan mata dan masih berkabut.


Pertemuannya dengan anak perempuan itu juga yg terakhir kali, untuk saat ini dia belum memanggil ku menemuinya.


Beberapa hari ini Snow jadi sedikit berbeda, dia selalu saja memantau keberadaan ku dan itu cukup membuat ku risih, dan yg paling menyebalkan saat dia tahu aku habis dari kediaman pangeran Dellion.


Dia menggunakan sihirnya sampai tiga kali memeriksa keadaan ku. Saat aku bertanya dia kenapa jawabannya selalu saja sama.


"Bukan apa-apa"


Aku duduk sembari menghadap cermin, sedangkan Merry sedang menyisir rambut ku. Hari ini adalah pertemuan ku dengan Kaisar Neacel sesuai yg ku tulis dalam surat.


Setelah selesai dari kediaman pangeran tadi, aku pulang dan bersiap-siap kembali karena aku harus sedikit menyamar, jangan sampai seseorang melihat ku pasti akan jadi desas-desus buruk


Calon dari Pangeran memiliki kekasih gelap atau berselingkuh, sungguh itu akan membuat nama keluarganya tercoreng. Di tambah Dellion sekarang sudah seperti orang yg berbeda.


Akan ku jelaskan dia berbeda seperti apa nanti.


Setelah selesai bersiap-siap, Merry menyerahkan jubah hitam untuk ku pakai jika sudah sampai di tujuan.


Kali ini aku tidak mengajak Merry, kenapa? Kalian tahu bahwa dia dan Kaisar Neacel tidak akur satu sama lain, walaupun Merry sudah tahu siapa yg dia curigai tapi tetap saja dia pasti tidak akan suka jika aku bertemu dengan Kaisar itu.


Tiba-tiba dari arah berlawanan Snow datang dan langsung mendekati ku, ada beberapa yg tertinggal juga, waktu itu Merry melihat Snow dengan wujud manusianya


terjadi kerusuhan yg besar, aku tidak percaya Merry seterkejut itu. Barang-barang di ruangan ku pun berterbangan akibat ulahnya, dia pikir Snow itu adalah moster jadi dia melempar semua alat make up dan barang-barang yg ada di atas mejaku pada Snow.


Untungnya saat itu ayah serta Kakak berada di luar dan yg datang hanya kepala pelayan.


Merry hampir membongkar semuanya karena dia begitu takut, tapi aku segera menutup mulutnya dengan alasan Snow mengaruk tangannya hingga luka.


Setelah mendengar penjelasan ku, Merry pun memahaminya dan langsung tenang. Sekarang sudah dua hari mereka berdua tenang-tenang saja tapi bukan berarti tidak bertengkar.


"Mau kemana kau?"


Tanya Snow sambil melirik Merry tidak suka, mungkin dia masih ingat vas bunga yg di lempar Merry mengenai kepalanya hingga ada benjolan di sana sungguh memprihatinkan.


"Nona akan menemui tamunya kau tidak perlu tahu!"


"Aku bertanya pada Agnasia bukan pada seekor tupai"


"Hei! Apa kata mu! Dasar kakek-kakek!"


"Dasar tupai!"


"Kakek tua!"


"Berhenti kalian!!"


"Merry periksa kalau kereta kuda ku sudah siap atau belum"


Pintahku padanya, wanita itu mengangguk dan pergi dari hadapan kami.


"Aku akan segera kembali tenanglah"


"jika kau tidak ingin aku ikut pakailah ini."


Snow mengangkat sebuah gelang dengan hiasan bola-bola warna-warni yg kecil dan menyerahkannya padaku untuk di pakai.


"Ini apa?"


Tunjukku pada benda itu, dia menjelaskan bahwa itu adalah gelang pelindung yg di isi dengan sihirnya, jadi ketika pemilik gelang ini dalam bahaya gelang akan bereaksi untuk melindungi pemiliknya.


Agnasia mengangguk dan segera mengambil gelang itu dan memakainya, dari pada Snow akan mengikutinya seharian itu akan membuat Agnasia tertekan.


Lepas pembicaraan itu, Merry masuk memberi laporan bahwa kereta kudaku sudah siap, aku berpamitan pada keduanya dan segera turun.


...💐💐💐💐...


Hari ini cukup ramai, banyak sekali kapal yg berlabu membawa beberapa barang-barang serta rempah-rempah untuk di jual di sini.


Perekonomian kami cukup stabil, jadi banyak pendatang yg berlibur serta berbelanja di kekaisaran Aegeus.


Kereta kuda pun mulai memasuki beberapa jalan yg cukup sempit, karena sekarang sudah berada tempat yg cukup jauh.


Saat sedang memikirkan di mana tempat yg bagus untuk bertemu aku teringat akan perkataan Galen dulu di kehidupan ku sebelumnya, jika ingin membahas masalah pribadi di pelosok kota ada tempat pertemuan yg aman.


Di sana hanya sedikit orang yg tahu, walaupun masuk ke tempat itu harus di bayar cukup mahal.


Aku memberhentikan kereta kuda lalu turun dan menyuruh kusir untuk menunggu di depan saja, karena tempat yg ku tujuh ada di dalam gang yg sempit.


Setelah melewati gang sempit akan ada perempatan, tinggal lurus saja dan tempat yg ku cari sudah di depan mata.


Setelah beberapa menit berjalan, di depan ada sebuah rumah yg cukup besar dari luar nampak biasa saja, di depan pintu masuk ada dua orang bertubuh besar sedang berjaga.


Aku mendekati mereka dan membayar uang masuk, begitu tiba di dalam, aku terkejut keadaannya ternyata begitu mewah.


'Ini kali pertama aku kesini, sekarang dimana pria itu. Mana mungkin seorang Kaisar tersesat kan?'


Ketika melirik kesana kemari, orang yg ku cari ternyata sedang duduk cukup jauh dari para tamu yg datang. Dia sedang termenung menatap kearah jendela.


Aku mendekat dan menyapanya, dia melihat ku sembari tersenyum. Segera aku duduk dengan tenang


"Sepertinya ada yg tidak ingin anda terluka" ucapnya.


Kemudian memberi sepiring kue yg sudah di potong dengan begitu rapi.


Entah kenapa aku selalu saja pusing jika berbicara dengan orang sepertinya.


"Berbicaralah dengan benar, saya tidak suka terlalu berbelit-belit"


Pria itu tertawa mendengar perkataan ku barusan. Memangnya ada yg lucu?


"Putri, ah maksud saya nona... anda memakai gelang yg bagus"


liriknya, Segera aku menyembunyikan sebelah tanganku dari hadapannya, bagaimana bisa dia tahu ini gelang sihir.