The Destiny Of A Princess

The Destiny Of A Princess
{Season Dua} Bagian 98 - Kebenaran



Merry yg mendengar hal itu, terdiam. Dia menutup mulutnya tidak percaya. Dia harus menjelaskan semua pada Duke bahwa Agnasia baik-baik saja.


Tapi dari arah depan, seseorang muncul menggetarkan tanah, sosok pria dengan baju perang nampak, di iringi oleh satu buah pintu yg besar berwarna hitam.


Dia tersenyum sembari tertawa, dari kejauhan juga muncul seorang wanita yg membuat Dellion terkejut karena ia baik-baik saja.


"Carin! Bagaimana bisa kau--"


Wanita itu tersenyum.


"Aku tidak bisa terluka Dellion, karena kami abadi! Hahahaha! Sayang sekali bukan? Tadi itu aku hanya kelelahan saja"


Tawa yg mengerikan keluar dari mulut wanita itu, membuat semua bangsawan serta rakyat gemetaran.


"Ah putri ku. Kau sudah menakuti mereka." Ujar kaisar Nick.


"Apa ini Kaisar Nick! Kau menghianati kami!"


Teriak Theo marah dari kejauhan, tatapannya begitu muak dengan semua ini.


"Oh... kau keturunan kaisar. Jangan sebut aku menghianati kalian, karena sebenarnya kehidupan ku yg tidak adil! Semua gara-gara keturunan mu! Dan Dewa!"


Teriak Kaisar Nick marah, terdapat emosi dalam suaranya, kemudian setelah teriakan itu ia tertawa dan menatap kembali Theo.


"Akan ku hancurkan kekaisaran Aegeus, keturunan Dewa, seperti halnya Mariana, adikku yg tercinta. Dan menguasai semuannya! Tanpa terkecuali." Teriaknya lancang.


"Apa yg kau katakan tentang mendiang istiku!"


Seru Duke, menautkan kedua alis geram.


"Ohw, dia tidak menceritakannya? Saking ia mencintai mu dia tidak mengatakan hal yg selama ini menjadi rahasia besar. Ya. Baiklah akan ku ceritakan pada mu, ketidakadilan apa yg ku alami."


Kaisar Nick mulai mengunakan sihirnya, memperlihatkan kejadian yg terjadi di masa lampau.


Awal terbentuknya kekaisaran dengan perjuangan empat orang pria.


Sayangnya, Dewa itu sangat pemilih. Dia lebih menyayangi keturunan Alcander dari pada keturunan Alasd. Sampai melupakan kesetiaan mereka.


Hal itu membuat kebencian terus tertanam dan terjadi perkelahian satu sama lain.


Karena ketidakadilan yg di terima pengikut setia dari keturunan Alasd. Tetapi akhirnya dia di usir, sekaligus kekuatan penyembuh di cabut darinya.


Dia pun bertekat akan kembali dan menghancurkan semuanya.


"Dan sekarang aku kembali dalam wujud ini! untuk membalas dendam."


Ucapnya dengan rahang yg mengeras.


"Apa-apaan Cerita sejarah itu! Kau mengubahnya! Bukankah, semua di berikan kekuatan yg adil untuk saling melengkapi! Tetapi keturunan Alasd begitu egois! Karena itu Dewa tidak tertarik dengan kesetiaan palsu yg kau berikan padanya!"


Theo berteriak menjelaskan semuanya, tetapi Nick hanya tertawa saja tidak peduli.


"Oh ya! Tetapi itu tidak perlu di bahas, sekarang. Akan kubunuh keturunan yg di berkati Dewa, dan langsung menguasai semua."


Kaisar Nick mengerakan kekuatannya seketika pintu kegelapan terbuka sepenuhnya, dari dalam terdengar raugan roh-roh yg kelaparan, mereka pun keluar dari sana dan datang menyerang, tapi dengan cekatan Duke maju menghalangi semua menggunakan kekuatan pelindung yg ia miliki.


Roh-roh itu pun menghilang membuat Nick sedikit sedih.


"Ah masih ada keturunan Alddes ya... Hmm tapi bagaimana dengan hadia yg ku berikan, putri mu itu sudah ku antar menemui Mariana. Jadi dia pasti senang." Senyumnya.


"Tutup mulut mu sialan! Akan ku hancurkan kau berkeping-keping." Teriak Galen.


Kemudian kaisar menyuruh Deondre untuk menuntun rakyat serta bangsawan ketempat yg aman segera. Dia pun membimbing semua tanpa terkecuali. Tetapi Merry langsung menahan Deondre, dia menatap pria itu.


"Tuan! Jangan percaya omongan pria tua tersebut. Nona Agnasia masih hidup, Saya yakin." Ucapnya.


Deondre nampak mengangguk dan kemudian melanjutkan tugasnya membimbing semua kearah hutan Theos.


...🌼🌼🌼🌼...


Seketika Neacel membuka matanya, nampak ruangan kosong yg berdebu lalu sosok Agnasia yg sedang menatapnya khawatir.


"Neacel kau baik-baik saja?" Tanyanya.


"Siapa dia?" Tanya Neacel.


"Dia teman ku, dia juga yg membawamu kesini." Jelas Agnasia.


"Tubuhku sakit karena membawanya sampai kesini. Harusnya buang saja dia Agnasia."


Gerutu Snow melihat kearah yg lain.


"Jaga ucapan mu Snow!"


"Tidak apa-apa Agnasia. Itu wajar, dia orang yg cemburuan."


Mendengar hal itu Snow menjadi kikuk dan menyangkal apa yg di katakan Neacel barusan, Agnasia hanya menggeleng pelan dan bangkit berdiri.


"Sekarang ayo, kita harus mencari pintu kegelapan dan menyegelnya. Kau tahu dimana letak tempatnya kan?"


Ujar Agnasia, dan di setujui oleh Neacel.


Dia lalu memberikan kode agar kekutakan transparan Snow di gunakan, mereka kemudian saling berpegangan tangan. Nampak Snow yg tidak nyaman karena memegang tangan pria, itu membuat sedikit rasa lucu di mata Agnasia.


"Jika kau mau, aku bisa memegang tangan Neacel." Seru Agnasia.


"Tidak! Biar aku saja."


Bentak Snow, mereka langsung pergi menuju ketempat yg di tunjukan Neacel.


Setibanya mereka dalam ruangan, ternyata di sana pintu itu sudah tidak ada. Neacel mengernyit berfikir kenapa Nick memindahkan pintu itu.


"Jangan bilang dia memindahkan itu ke kekaisaran Aegeus untuk lebih mudah."


Agnasia terkejut, ia mulai berfikir yg tidak-tidak.


"Kita harus kesana segera!"


Ucap Agnasia. Keduanya pun mengangguk.


"Ada jalan pintas kesana, mari ikuti aku."


Perjalanan kali ini di tuntun lagi oleh Neacel, begitu sampai di tempat tujuan. Terlihat lingkaran dengan cahaya keunguan keluar dari sana.


"Apa itu?" Tanya Agnasia.


"Itu semacam pintu teleportasi, aku baru menyadarinya, kau ingat soal tanda yg muncul di kediaman mu? Jika kita masuk kita akan muncul di sana"


Agnasia mengangguk, dia pun memanggil keduanya untuk masuk kedalam, dengan buru-buru Agnasia melompat masuk, sekejap ia langsung berpindah dan muncul di tengah-tengah kota bersama dengan dua orang lainnya.


Dia melihat sekeliling, semuanya hancur. Banyak juga mayat yg berserakan, mungkin Deondre serta Ayahnya tidak dapat menolong mereka secepatnya.


Dia mengepalkan tangan marah.


"Jangan menuduh dirimu sendiri. Kau tidak bersalah." Ujar Neacel. Agnasia menatapnya sedih.


"Andaikan aku dapat mencengahnya. Semuanya pasti tidak akan terjadi."


Dia menutup mata menahan rasa sakit melihat kekaisaran yg hancur, tiba-tiba ia di kejutkan oleh pelukan secara tiba-tiba dari Neacel.


"Kau sudah berusaha. Di kehidupan mu ini, pasti kau akan bahagia."


Agnasia terkejut mendengarnya, bagaimana bisa Neacel bisa tahu rahasianya.


"Kau tahu..."


"Tentu saja, sejak awal aku mengetahuinya. Jiwa mu di kembalikan lagi dan itu nampak dalam penglihatan ku." Gumamnya.


Sekarang Agnasia mengerti semua tentang yg dikatakan Neacel di setiap pertemuan mereka. Tiba-tiba Snow datang dan langsung menarik Agnasia untuk melepaskan pelukannya.


"Sudah! Jangan memeluknya!"


Ujarnya kesal. Tiba-tiba dari arah kekaisaran terdengar ledakan keras yg menggoncang tanah. Agnasia langsung menatap keduanya, Snow lalu menggunakan kekuatan teleportasi untuk berpindah secepat mungkin.