
Agnasia berfikir keras, tiba-tiba sepintas ingatan soal Neacel yg terus percaya padanya, muncul seperti sebuah film yg di putar dalam kepalanya.
Harapan bahwa kekaisaran akan baik-baik saja, kehidupan rakyat serta bangsawan yg akan bahagia, semua terputar.
'Selama ini aku sudah berlatih. Dan hanya segini saja yg dapat ku lakukan!'
Agnasia mengepalkan tangannya merasa kesal sekaligus tidak bisa menerima semuanya. Andaikan dia tidak membuang-buang waktu pasti kejadian ini bisa di cegah secepat mungkin.
Melihat raut wajah Agnasia yg tidak seperti biasanya, Snow menyentuh pelan bahu Agnasia, menguatkan dia.
"Kita pasti akan bisa menyelamatkannya, jadi jangan bersedih. Penghalang dari sihir hitam ini akan ku hancurkan sekali lagi--"
Perkataannya membuat Agnasia berkutik kaget.
"Coba kau ulangi lagi kata-kata mu?"
"Kita pasti bisa menyelamatkannya--"
"Bukan! Setelahnya."
"Penghalang sihir hitam--"
"Kau benar! Aku tahu caranya."
Dengan semangat Agnasia mendekat menyentuh permukaan tembok, karena ia panik dia sampai lupa soal ajaran Neacel waktu itu.
Ia masih ingat latihan yg Neacel berikan. Saat itu Neacel berkata, sebagai penyegel, selain bisa menutup pintu kegelapan, ia juga bisa membuka dan menghancurkan pintu-pintu sihir lainnya,meskipun itu agak sulit.
'Tetapi aku harus mencobanya!'
Dengan keyakinan yg teguh, Agnasia menutup matanya seketika cahaya mulai keluar dari telapak tangan Agnasia, dia lalu mengucapkan bahasa aneh.
Kemudian, cahaya itu mulai berbentuk seperti kunci, dan terdengar sesuatu yg terbuka. Begitu ia membuka mata, tembok yg ada di hadapannya berubah menjadi pintu terbuka.
Hal itu membuat Snow terkejut.
"Kau belajar sihir!" Ucapnya penasaran.
"Tidak, ini kekuatan spesial yg ku miliki. Sekarang mari kita masuk"
Cepat-cepat Agnasia mengambil obor yg ada di dekat pintu masuk dan turun kebawah bersama Snow.
'Aku berhasil! Tunggulah akan ku atasi semua!' Pikirnya.
Ternyata tangga yg menurun sangat banyak, tapi Agnasia bisa melewati itu, dan sampai pada pertigaan ruangan.
Snow langsung memegang tangan Agnasia erat.
"Setelah di ingat-ingat, ini adalah tempat di mana kaisar Nick mengurung orang-orang."
"Lalu ada apa?" Tanyanya penasaran.
"Kau tahu Agnasia, jika kita salah memilih jalan, kita yg akan terperangkap. Kau lihat ini."
Snow lalu mengeluarkan batu dengan sihir lalu melemparnya kearah jalan sebelah kiri, Batu itu seketika menghilang. Seperti pergi menuju tempat yg berbeda.
"Jika tebakan ku benar. Salah satu dari ketiga jalan ini tempat di mana Neacel berada, dan dua di antaranya. Adalah penjara monster serta lubang api." Jelas Snow.
"Kalau begitu kita coba saja semua."
"Jangan! Sekali masuk ke pintu yg salah kau tidak bisa keluar. Mungkin karena itu banyak sekali yg tidak kembali saat akan menyelamatkan keluarga mereka yg di kurung dalam penjara."
"Tapi kita tidak bisa berlama-lama hanya karna ini!"
Agnasia segera melepas genggaman Snow, lalu ia menuju kearah yg di lempari batu.
"Agnasia jangan!"
Sekelibat cahaya menusuk mata keduanya, mungkin karena itu keadaan sekitar seperti berguncang. Begitu membuka mata ternyata pilihan dari Agnasia membuahkan hasil.
'Sudah ku katakan naluri ku tak pernah salah.'
"Bagaimana kau seyakin ini!"
Dengan keheranan Snow kembali bertanya.
"Karena kau tidak mendengar suaranya kan? Saat pertama kali membuka pintu, samar-samar aku mendengar suara rintihan."
Mata Agnasia terpaku, itu adalah Neacel. Dia langsung berlari mendekat menuju kearah penjara, begitu memegang besi tersebut. Sengatan listrik keluar melukai tangan Agnasia.
Wanita itu berteriak terkejut dengan yg terjadi.
"Agnasia jangan ceroboh! Tempat ini di di letakan sihir yg kuat."
Ujar Snow melihat sekeliling. Berbeda halnya dengan Agnasia, dia menatap dan memanggil kaisar Neacel yg terkulai di lantai dingin.
Banyak darahnya yg keluar dari tubuhnya karena besi yg menancap.
"Tidak! Aku tidak akan biarkan dia Mati!"
Entah keberanian apa yg datang, Agnasia langsung memegang besi penjara itu, walaupun ia terserang listrik itu tidak apa-apa.
Terdengar Snow yg berteriak untuk segera melepaskan diri dari apa yg Agnasia pegang, tetapi wanita itu tidak mendengarnya.
Ketika ia akan mendekat menarik Agnasia, tiba-tiba muncul cahaya kebiruan yg terang di genggaman tangan Agnasia dan menghancurkan besi itu berkeping-keping.
'Sebenarnya kekuatan apa yg ia miliki.' Pikir Snow.
Agnasia langsung mendekat dan membaringkan Neacel kedalam pangkuannya, nafas pria itu terdengar pelan, seperti dia akan pergi jauh.
"Neacel. Bertahanlah aku akan mengobati mu."
Ucap Agnasia. Pria itu sedikit membuka matanya, pandangannya saat ini begitu buram.
"Agnasia... bagaimana bisa kau"
"Jangan berbicara. Aku sedang menyembuhkan mu."
Agnasia mulai mencabut satu persatu besi yg tertancap itu, ia kemudian mengulurkan tangannya, mengobati luka Neacel.
Kejadian yg tidak pernah di lihat oleh Snow membuat ia terkejut. Rambut Agnasia berubah warna menjadi putih, sementara matanya memancarkan cahaya hijau, sama hal dengan cahaya yg ada di tangannya.
...🌼🌼🌼🌼...
Strategi yg di buat oleh Dellion membuahkan hasil yg memuaskan, sekarang Carin nampak kelelahan. Ia menghindar dengan bantuan roh serta monster yg dia panggil.
Dellion memberikan kode untuk meluncurkan serangan, saat setelah Arthur di buat pingsan, keduanya langsung mendekat dan menyerang Carin secara bersamaan dari arah kiri dan kanan.
Carin tersenyum merendahkan mereka dan langsung menghilang, dia berfikir keduanya pasti akan saling menyerang satu sama lain, tetapi apa yg dia pikirkan salah besar.
Saat dia muncul kembali, Dellion langsung memutar arah tujuannya dan melempar pedang yg ia pegang kearah carin.
Saat pedang tersebut menusuk dalam tubuh Carin, wanita itu langsung mengumpat kesal, dengan cepat-cepat ia mencabut pedang itu dan jatuh ketanah.
"Berhasil! Kita berhasil Pangeran!"
Dengan nafas terengah-engah Deondre tersenyum.
"Menyerah saja. Dan ikut kami Carin"
Teriak Dellion, sembari mendekat kearah wanita yg tergeletak itu.
Pelan-pelan ia mendengarkan suara tawa, detik setelah tawanya, terdengar ledakan yg dasyat dari kejauhan.
"Nah Dellion, sekarang... wanita tercinta mu itu pasti mati."
Ucap Carin dan langsung mengilang dari sana.
Dengan cepat ia berlari, bersama Deondre menuju kearah kekaisaran. Monster-monster yg ada, sudah di bantai oleh kelompok kaisar bersama dengan Galen serta Marquess.
Semuanya sekarang sedang tergesa-gesa menuju kesana, begitu tiba, bangunan kekaisaran hancur. Membuat semuanya tidak dapat berkata-kata. Di tengah itu, terlihat lingkaran putih yg melindungi para bangsawan serta rakyat, itu adalah kekuatan pelindung dari Duke yg berjaga di sana.
Dellion merasa lega melihat itu, tetapi saat ia mendekat bersama Deondre dan Galen. Mereka tidak menemukan Agnasia di sana, itu membuat semuanya khawatir.
"Dimana dia! Bukankah Harusnya dia di sini! Pria penyihir juga yg kusuruh melindungi Agnasia tidak ada."
Ujar Dellion. Tiba-tiba Deondre menemukan sepotong gaun yg Agnasia pakai, dia langsung menunjukannya pada semua.
Duke kemudian menarik sepotong kain itu dengan kasar.
"Tidak! Putri ku... jangan katakan dia..."