
Dalam kamar, Agnasia sudah berbaring sambil menatap langit-langit kamar dengan motif bulan sebagai lambang keluarga Duke Alddes.
Mengingat, kejadian tadi saat di ruang makan. Membuat dia tidak bisa tertidur sekarang.
Saat itu, Agnasia terdiam sambil menatap lurus ayahnya. Beberapa pelayan di ruangan bahkan di suruh untuk keluar.
"Apa kamu menyukai orang lain sekarang?" ucapan Duke cukup membuat Agnasia mengerutkan Alisnya.
"Tidak ada hal yang seperti itu, saya hanya tidak ingin bertunangan dengan pangeran saja."
Duke lagi-lagi tidak berekspresi mendengar jawaban ku, yang sudah beberapa kali tetap sama.
"Katakan Agnasia Arista."
"Tuan Duke sudah saya kata---"
Perkataan Agnasia terhenti, karena tiba-tiba saja kepalanya berdenyut dan itu sangat sakit. Bahkan pandangannya sedikit buram melihat ayahnya.
"Pelayan! Bawah Agnasia kekamarnya." Teriak Tuan Duke dengan lantang, para pelayan segera masuk dan menuntun Agnasia, sempat Agnasia melihat Ayahnya sebelum pergi.
Rautnya terlihat biasa saja dan itu sangat jelas.
Nafas kasar Agnasia keluarkan untuk keseksian kalinya, dia lalu beristirahat.
...💐💐💐💐...
Besok siang, Agnasia menghadiri acara jamuan teh yang selalu di adakan setiap akhir bulan oleh para bangsawan wanita.
Disana mereka selalu membicarakan soal masalah yang terjadi, dan juga mencari kehebatan diri masing-masing. Jika di jelaskan seperti perang adu mulut dan otak.
Setiap pertemuan selalu di adakan di istana Mroir yang berdekatan kekaisaran Aegeus. Tempat yang sudah sejak dulu di sediakan oleh Kaisar untuk pertemuan kelas atas atau jamuan teh biasa bangsawan.
Merry menyisir dan merapikan rambut ku dengan sangat cantik. Dia tidak mau ada yang kurang sedikit pun, karena itu adalah poin plus untuk Marry.
Melihat diriku di cermin saat ini sudah sangat membuatku tidak percaya. Rambutku yang berwarna coklat, begitu indah dengan mata yang hitam bagi langit malam. Dulu Itu semua itu tidak sama seperti sekarang
Mengingat mereka yang menyiksaku dengan cambuk, serta makan yang mereka sediakan sudah sangat tidak layak untuk dimakan manusia.
Karena terlalu lama di tahan, rambut ku berubah menjadi rusak dan kotor. Kulitku banyak dengan memar dan bekas luka, di tambah penglihatannya yang tidak begitu jelas sudah sangat menyiksaku.
Karena itu, untuk yang sekarang aku akan mengubah semuanya. Aku harus berusaha agar kematian seperti dulu tidak terulang kembali.
Setelah selesai dengan persiapanku, segera aku turun kebawah. Aku langsung naik keatas kereta kuda dan meninggalkan kediaman Duke Alddes.
Dalam perjalanan tak henti-hentinya aku terus menatap kearah jendela kereta.
Harusnya, aku yang sebagai putri Duke di berikan pengawal atau prajurit. Tapi sepertinya mereka tidak peduli padaku.
...💐Istana Mroir💐...
Dari jauh nampak jalan yang penuh dengan hiasan bunga mawar putih sebagai lambang kerajaan Aegeus, kereta kuda berhenti tepat di gerbang Mroir. Aku turun dengan perlahan lalu pergi masuk kedalam istana Mroir.
Disana sudah ada beberapa putri bangsawan dengan status yang terpandang. Aku tersenyum sambil memberi salam pada mereka yang hadir.
Acara jamuan pun di mulai. Mereka berbicara mulai dari perhiasan yang mereka miliki, sampai pada keahlian mereka.
"Putri anda terlihat sedikit pendiam sekarang," ujar putri Sara.
"Hobi saya berpedang, hanya itu."
Raut mereka nampak terkejut dengan pernyataan yang ku katakan.
"Bukankah itu di larang putri? Lebih baik menganti hobi saja, yg lebih bermanfaat seperti saya yg selalu membuat hiasan dari permata alam," ucap putri Sara sambil menunjukan cincin permata miliknya.
Memang benar kerajaan Alhpin adalah tempat pembuatan permata yang begitu indah, karena itu kerajaan mereka cukup kaya di wilayah Aegeus.
"Itu terdengar hebat, tapi bagiku itu tidak menarik sama sekali." kataku sambil meneguk teh Camollie.
"Sepertinya, putri sudah jadi sedikit tenang sekarang." ucap putri Sara untuk memecahkan kecanggungan. Lalu tiba-tiba Putri Sanha berbicara
"Oh ya ... Bagaimana dengan pria tampan dari keluarga Alastor?" sambung putri Sanha pada yang lain. Mereka lalu membicarakan pria sekarang, jika di lihat. Tuan Christoffel dan Galen sangat terkenal di kawanan para wanita.
Itu karena rambut biru sama seperti langit yang mereka miliki sama dengan warna mata mereka. Sangat terlihat menarik dan indah.
Dimana mereka ya? pasti banyak sekali tugas yg Kaisar berikan sejak penyerang Pangeran Dellion.
Aku juga merasa sangat takjub pada mereka, yang di besarkan tanpa kedua orang tua.
Dulunya, yang ku dengar dari cerita Galen, Orang tua mereka meninggalkan dalam kecelakaan kereta kuda.
Setelah kepergian kedua orangtuanya, kakak dari Galen yaitu Christoffel di angkat menjadi Marques termuda sejak umur 10 tahun.
Dia sudah menerima pelajaran yang sangat berat bersama dengan Galen.
Karena kerja keras mereka, Kaisar mengangkat Christoffel menjadi pemimpin pasukan Mawar putih di kekaisaran, lalu Galen di angkat sebagai kaki tangan Kaisar dan mengurus semua masalah yang terjadi di kekaisaran bersama dengan Tuan Count.
"Putri Agnasia, bagaimana kondisi Pangeran sejak penyerang itu? Saya dengar dia mengalami lupa ingatan." ucap putri Sanha padaku.
"Pangeran baik-baik saja."
"Apa putri tidak sedih di lupakan oleh Pangeran? Padahal jika itu tidak terjadi, beberapa hari yg lalu pasti kalian sudah jadi pasangan yg bahagia. Tapi sekarang itu malah di tunda sampai Pangeran sembuh total." jelas putri Sanha padaku, sepertinya dia ingin tahu perkembangan ku dengan Pangeran.
"Saya tidak apa-apa, kalian ternyata ingin sekali mengetahuinya." ucapku pada mereka, aku sudah sangat tahu maksud dari perkataan putri Sanha. Dia ingin tahu lebih, dan saat itu pasti dia akan mendekat pada Pangeran.
Walaupun aku sudah menjadi tunangan Pangeran tapi tetap saja banyak wanita bangsawan yabg mengejar Dellion. Karena parasnya yang begitu tampan
Warna rambut hitam bercampur sedikit silfer yang terlihat begitu unik, karena warna dari rambut Kaisar adalah hitam dan Ratu adalah silfer, jadi rambut Dellion seperti itu.
Berpadu dengan warna mata biru gelap yang indah bagai galaksi malam seperti milik Ratu. Mana ada wanita yang tidak tertarik. Aku saja dulu tertarik.
"Bukan begitu maksud dari perkataan saya putri Agnasia, saya hanya prihatin saja," katanya sedikit pelan, mungkin dia terkejut karena aku bisa membalas balik perkataannya, tidak seperti dulu aku hanya bisa terdiam mendengar ocehan mereka yang merendahkan aku.
"Terima kasih atas semua itu putri Sanha, saatnya saya akan mengunjungi Pangeran terlebih dahulu," kataku sambil beranjak pergi dari ruangan. Mereka memberi salam padaku dengan hormat, lalu aku pergi.
...💐kerajaan lyeon💐...
Tidak butuh waktu yang lama, aku sampai dan pergi menuju tempat pangeran Dellion yaitu kerajaan Lyeon yang di berikan Kaisar untuknya atau tempat pangeran pertama.
Saat masuk, aku melihat pangeran yang berada di tangga sedang turun ke bawah. Sekarang apa yang dia lakukan dengan tubuh yang masih membengkak itu?
Dasar keras kepala.