
Dalam ruangan, Agnasia terus memegang tangan Marry yg belum juga sadar.
Sampai dia putuskan untuk keluar menenangkan pikirannya yg kacau sejak tadi.
Dia keluar menutup pelan pintu kamar Merry dan turun kebawah. Jika pikiran Agnasia sedang kacau, jalan keluarnya hanya berjalan-jalan saja agar pikirannya jadi lebih tenang.
Setelah sebagian kediaman sudah Agnasia telusuri, dia lalu melewati pintu depan kediamannya. Saat Agnasia keluar dia mendapati Pangeran Dellion yg sedang menatap gerbang dengan tatapan kosong.
"Sedang apa dia di depan gerbang?" Agnasia putuskan untuk mendekati Pangeran. Saat akan sampai Pangeran segera berbalik dan akan masuk kedalam kereta kudanya.
"Yang Mulia pangeran? Ada apa anda kesini?" Ucap Agnasia sebelum Pangeran pergi.
Dellion lalu terhenti dan berbalik perlahan menatap Agnasia. Sempat dia tidak bisa berkata apa-apa dan hanya diam.
"Saya hanya lewat saja" ucap Pangeran, Agnasia menatapnya tidak percaya.
"Pangeran tidak berbohongkan?" Ucap Agnasia.
"Kau menuduhku?!"
"Bukan menuduh tapi bertanya saja. Apa saya tidak boleh bertanya?" Jelas Agnasia yg membuat Pangeran terdiam lagi. Sebenarnya Agnasia sudah tahu Pangeran berbohong karena saat pangeran berbohong telinganya pasti akan memerah.
"Apa yg kamu pikirkan sampai melihat ku seperti itu!" Bentak pangeran Dellion, Agnasia lalu menggeleng. Dan berbalik pergi.
"Tu-tunggu! Kamu tidak sopan padaku. Harusnya kamu mengundang ku masuk kedalam dan menjamu ku" langkah Agnasia terhenti mendengar perkataan Pangeran.
"Tadi kata Pangeran, anda hanya lewat saja, bukan kesini kan? Jadi saya tidak akan menjamu Pangeran." Ujar Agnasia sambil menatap lurus Pangeran.
Terdengar suara Dellion yg berdecak kesal, tapi dia tetap menahannya dan berbicara kembali.
"Aku kan tunangan mu, harusnya kamu menjamu ku." Jelas Pangeran karena tidak ingin harga dirinya ternodai.
"Baru kali pertama anda menganggap saya sebagai tunangan, Pangeran." Sedikit wanita itu tertawa tidak percaya pada pangeran Dellion.
'Apa-apaan ini? Sekarang rencana apa yg dia buat?'
Melihat Dellion yg sepertinya sudah tidak bisa berbicara lagi, Agnasia lalu dengan sopan memanggil Pangeran masuk kedalam kediamannya dan menyuruh para pelayan menjamu Pangeran dengan segala hormat.
...๐๐๐๐...
Dalam ruangan Pangeran hanya diam saja sambil sedikit melirik setiap sudut ruangan tamu.
"Apa Yang Mulia Pangeran tidak merasa nyaman di dalam ruangan tamu? Mau saya bawah ke taman belakang?" Ucap Agnasia, memecahkan kecanggungan.
"Tidak ini saja sudah cukup, bagaimana dengan pelayan mu?" Tanya pangeran
"Dia masih juga belum sadarkan diri, saya juga sangat khawatir."
Agnasia menunduk, dia sangat sedih melihat keadaan Merry saat ini, walaupun dia hanya seorang pelayan tapi baginya Merry itu seperti Kakak perempuannya.
"Tenanglah, Galen sedang menyelidik khasus ini lebih lanjut." Ucap Pangeran sambil meneguk teh dengan santai.
"Begitu ya... saya sangat berterima kasih, Pangeran ternyata menghawatirkan masalah ini."
"Tentu saja, ini adalah masalah kekaisaran mana mungkin aku diam begitu saja." Ucap Pangeran sambil menatapku, aku mengangguk menyutujuinya.
Pangeran memang melupakan ku, tapi dia tidak pernah berubah sejak dulu.
Sikapnya yg selalu peduli walaupun rakyat melihatnya sebagai Pangeran yg tegas dan dingin. Di balik itu banyak hal yg tidak di ketahui oleh mereka.
"Aku sering menganggap mu aneh." Ucap Pangeran. Aku menatapnya penuh pertanyaan atas perkataannya tadi.
"Aneh? Apa maksud Pangeran?"
"Kamu tidak tahu? Yg pertama tatapanmu padaku seperti, berbeda-beda. Ada kalanya tatapan yg dingin tertuju padaku, berbeda halnya saat sedang memikirkan sesuatu kamu melihatku sangat lembut. Apa-apaan itu?!"
Jelas Pangeran sambil meninggikan suaranya pertanda dia terlihat tidak mengerti semua.
"Itu mungkin perasaan Pangeran saja, tatapan ku tetap sama seperti sebelumnya."
"Lebih baik aku pergi saja!"
"Oh silahkan Yang Mulia Pangeran" Ucapan ku Dellion lalu mengepalkan kedua tangannya dan pergi, aku mengikutinya sampai di depan pintu tiba-tiba dia berhenti.
"Terima kasih." Ucapnya lalu pergi dari hadapan ku. Aku terdiam menatap kepergiannya, sungguh aneh.
'Kenapa semenjak aku di hidupkan jadi seperti ini?'
Pangeran yg sudah berada di dalam kereta kuda, merasa perasaan khawatir itu Perlahan menghilang karena sudah melihat wanita itu.
"Syukurlah dia baik-baik saja" ucap Pangeran sambil menatap Agnasia dari dalam kereta, dia lalu menyuruh kusir untuk berangkat kembali ke kerajaan.
...๐๐๐๐...
Setelah aku selesai dengan latihan berpedang, segera aku membersihkan tubuhku karena sudah terasa sangat kotor.
Pelayan yg membantuku sekarang berbeda, entah kapan Merry membuka matanya. Aku harap bisa secepatnya agar kekhawatiran ku bisa hilang.
Malam ini aku meminta izin untuk tidak makan bersama dan ingin tidur dengan cepat. Ku baringkan tubuh keatas tempat tidur menunggu saatnya mata akan tertutup untuk beristirahat dan masuk kedalam dunia mimpi.
Dalam tempat dan ruangan yg sama seseorang sedang melihat Agnasia yg tertidur dengan nyenyak.
'Aku harus melaporkan ini pada ketua'
...๐Kekaisaran Ango๐...
Seorang pria yg masih belum juga tertidur hanya bisa duduk sambil menatap keluar jendela. Malam ini di tempatnya sedang hujan deras, petir menyambar diikuti suaranya yg terdengar menakutkan di telinga.
Dia menatap pergelangan tangannya.
Langit malam yg berhujan itu membuat pria yg bernetra merah mengingat akan kejadian yg dulu.
Dia tersenyum layaknya sedang masuk kedalam momen kejadian malam itu.
Masih sangat membekas, dalam ingatannya. Darah segar yg menggenangi lantai kamar, teriakan ketakutan bersamaan dengan suara tangis anak kecil, saat itu semuanya tidak bisa di lupakan.
Dia melihat wanita di depannya yg sedang menahan sakit karena sebentar lagi dia akan mati.
Wanita tersebut menopang tubuhnya agar bisa bangkit, dia lalu membuat sebuah lambang agar Kaisar Nick tidak bisa bergerak.
"K-au-akan mati--ditangannya-sama-seperti yg kamu-laku-kan pada-ku-!" Wanita itu lalu membacakan sesuatu dan menyentuh tangan kanan Kaisar Nick. Wanita itu lalu terjatuh ke lantai karena luka sobek yg ada padanya.
Kaisar Nick yg tidak percaya apa yg di lakukan wanita di depannya, ia segera pergi saat kekuatan wanita itu menghilang karena dia juga mendengar seorang yg mendekat.
Setelah hari itu, dia terus saja mencari jalan untuk keluar dari kutukan tersebut. Bahkan dia membuat perjanjian terlarang hanya untuk mendapatkan kekuatan agar dia tidak mati sesuai kutukan.
Kaisar Nick mengepal tangannya erat, entah kenapa saat mengingat kenangan itu amarahnya selalu tidak terkendali.
Mulai dari saat itu Kaisar membuat rencana menghancurkan Putri Agnasia secepatnya.
"Mariana... " Ucap Kaisar dengan pelan tapi masih tersisa sedikit rasa kesal dalam perkataannya.
"Wanita bodoh! Kenapa! Kenapa kau malah berubah!! kau malah memberi kutukan padaku!" Pria itu tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Dia lalu berbalik dan menghilang dalam gelapnya malam.
...๐Kekaisaran Aegeus ๐...
Dalam mimpi pangeran Dellion, dia bersama dengan wanita yg tidak dia kenal di samping kirinya. Lalu di samping kanan Dellion ada Kaisar yg sedang duduk.
Saat matanya melihat kedepan, betapa terkejutnya dia mendapati tubuh seorang wanita yg tergantung dan sudah tidak bernyawa.
Sangking kurusnya wanita itu, perlahan-lahan tubuhnya berputar dengan bantuan Angin yg bertiup. Saat dia melihat siapa yg di gantung
Deg!!!
"Tidak mungkin!"