The Destiny Of A Princess

The Destiny Of A Princess
{Season Dua} Bagian 89 - penyegel



Menjelang sore tiba-tiba datang seekor burung merpati masuk dan hinggap di atas meja riasku, aku yg sempat termenung beberapa jam lalu langsung mendekat kearah meja.


Di sana ada surat yg di ikat di kaki burung, seperti waktu itu.


Lekas aku mengambilnya dan segera membuka dan langsung mendapati pesan yg di kirim dari kaisar Neacel.


Aku menunggu mu di tempat pertemuan pertama kita...


Sempat aku terhenti dan sedikit tersenyum, bukankah di tempat pertama kita bertemu di sana terdapat kesalahpahaman yg cukup membuat Merry emosi.


Kembali aku berbalik mendekati pintu dan memanggil Merry untuk membantu ku bersiap-siap.


Menjelang beberapa menit, saat sedang merapikan rambut ku tiba-tiba Snow muncul mengagetkan Merry yg tengah serius menata rambut ku.


Dia berbalik dan langsung memarahi Snow yg sedang tertawa melihat raut wajah Merry. Aku menggeleng pasrah, untuk hari ini ku biarkan saja ruangan kamar sedikit berisik.


Tiba-tiba Snow maju mendekati ku dengan tatapannya yg begitu banyak tanda tanya.


"Kenapa kau berias?"


"Ada seseorang yg ingin ku temui, jadi aku berias" kataku menatapnya dari pantulan cermin.


Sempat dia mengerutkan alisnya setelah kemudian memegang rambut ku mengingatnya menjadi satu.


"Apa yg kau lakukan! Aku sudah merapikan rambut nona dengan susah payah!"


Bentak Merry Karena Snow telah merusak apa yg dia lakukan.


"Jangan sekali-kali kau melepas rambut mu di depan pria asing" ujar Snow.


"Memangnya kenapa, dan bagaimana kau tahu aku akan bertemu seorang pria?" Tanyaku.


Dia hanya tersenyum saja sambil menjawab dengan santainya.


"Kebanyakan teman mu itu pria, lalu untuk rambut mu, apakah kau mau mereka takut, pikir-pikir yg datang akan cantik tapi ternyata seorang pengemis"


Sempat aku berteriak memarahinya, dan akan melepas rambut ku yg di ikatnya, tapi dia menahan ku untuk jangan melakukan itu.


"Apa lagi! Lepaskan!" Bentak ku.


"Kau tidak mengerti apa yg kukatakan! Ah dasar tidak peka sekali!" Balas Snow frustasi.


"Haa? Ejekan mu itu tidak perlu di artikan!"


"Agnasia! Bukan mengejek mu, tapi kau akan terlihat cantik jika melepas rambut mu!"


Teriaknya membuat aku terdiam kemudian memiringkan kepala mencerna perkataan dari Snow tadi, dengan cepat lelaki itu menutup wajahnya dengan sebelah tangan dan berbalik menghilang dari dalam ruangan.


'Artinya dia memuji ku?'


...🌼🌼🌼🌼...


Setelah sampai, segera aku masuk kedalam toko kue tempat pertama kali kita bertemu. Tiba-tiba dari sudut ruangan seseorang mengangkat tangannya memanggil ku untuk mendekat.


Aku mengangguk sembari mendekatinya, sekarang Neacel sedang menyamarkan diri cukup baik.


"Lama tidak bertemu, Agnasia..." ucapnya sambil tersenyum.


Aku mengangguk sembari duduk, ternyata dia sudah memesan teh serta cemilan untuk ku.


"Apa yg akan kau katakan padaku?" Tanyaku langsung keinti pembicaraan.


Pria itu tersenyum sembari mendekatkan wajahnya melihat ku.


"Di ikat satu ya... padahal lebih baik di lepas saja, apakah tunangan mu itu yg menyuruhnya?"


"Bukan... dia orang yg berbeda."


Neacel mengangguk sembari duduk seperti semula, mulai mengaduk teh dan meminumnya dengan santai.


"Aku mengundang mu kemari untuk mengatakan hal yg tak sempat aku katakan"


"Apa itu?"


"Tentang kau yg adalah seorang penyegel" ujarnya tersenyum ringan.


...🌼🌼🌼🌼...


Tugas dari seorang penyegel, mencegah terjadinya hal yg berbahaya seperti terbukanya pintu kegelapan dan menutup kembali pintu tersebut.


Sempat aku terhenti saat mendengar perkataan dari Neacel tentang aku juga salah satu dari penyegel yg di pilih Dewa.


"Tidak, tidak, bagaimana mungkin aku seorang penyegel..." kataku tidak percaya.


"Baiklah pasti kau pernah mendengar perkataan kunci bukan?"


Aku mengangguk karena yg mengatakan itu adalah Tears sendiri.


"Artinya benar, kau itu adalah seorang penyegel" ucap Neacel.


"Lalu, memangnya ada apa dengan hal itu?" Tanyaku yg tidak mengerti jalan pikiran dari Neacel.


Dia menatapku sekilas dan mulai menjelaskan yg dia tahu padaku, beberapa hari yg berjalan ini keadaan kekaisaran sedikit aneh, Neacel sendiri langsung turun tangan memeriksa sekitar kekaisaran dan berakhir pada kekaisaran Ango.


Besoknya dia mengirim seorang mata-mata untuk masuk kedalam memeriksa keadaan di sana, dari cerita yg Neacel dapati warga-warga di sana sedikit berkurang dan warna tanah di sana juga sedikit berubah menjadi kering.


Tanda seperti itu pernah terjadi, sampai membuat kematian keluarga Neacel, yg di maksudkannya soal perang yg waktu itu.


'Dia terlihat begitu serius, jika benar. Pasti ada rencana yg di perbuat kaisar Nick, apakah ada hubungannya dengan kekaisaran Aegeus?'


Pemikiran ku teralihkan oleh suara Neacel yg memanggil namaku.


"Sepertinya kau sedang mengira-ngira sesuatu? Jadi apakah kau percaya dengan perkataan ku sekarang?" Ucap Neacel.


"Selanjutnya bagaimana?"


Pria itu sontak kaget karena aku menanyakannya tanpa berbelit-belit lagi.


"Baiklah... berjaga-jaga saja kali ini, jika kau merasakan atau melihat sesuatu yg aneh katakan padaku. Lalu soal burung merpati yg ku kirim, itu adalah akses untuk kita mengirim pesan tanpa ketahuan"


Ucapnya, aku mengangguk mengerti akan penjelasannya.


Tiba-tiba dia bangkit berdiri dan menyentuh kepala ku lembut.


"Sudah ku duga kau wanita yg pintar dan bisa memikirkan hal lainnya tanpa perlu ku jelaskan"


Kemudian dia segera pergi meninggalkan aku yg duduk diam.


Mungkin ini sedikit aneh, aku yg percaya setelah melihat rautnya yg serius itu atau perkataannya yg menyebutkan kekaisaran Ango?


Kalau yg mereka lakukan untuk menghancurkan kekaisaran Aegeus lagi, itu tidak akan terjadi, karena aku akan melakukan berbagai cara agar bisa menyelamatkan kekaisaran, meskipun itu taruhan nyawa.


...🌼🌼🌼🌼...


Dalam perjalanan aku berpapasan dengan ayah yg saat itu sedang berbincang dengan wakil pasukan, sampai-sampai tidak melihat ku.


Sebenarnya apa yg di bicarakan mereka, itu terlihat serius sekali.


Karena tidak melihat jalan, aku menabrak seseorang yg hendak lewat, beruntungnya itu adalah Galen yg sedang mengejar ayah karena ada yg ingin di katakan.


"Agnasia? Apa kau baik-baik saja?" Tanyanya khawatir.


"Yah, kenapa kau buru-buru?"


"Itu ada yg ingin ku katakan pada ayahmu, jadi nanti saja kita bicara ya!"


Galen segera menyusul ayah, aku hanya menghembuskan nafas pasrah lalu kemudian masuk kedalam kereta ku dan kembali pulang.


Sesampainya di rumah, Merry datang dengan senyuman yg mengembang, dia seperti menemukan harta karun yg tersembunyi.


Dia lalu mengajakku menujukan sesuatu di dalam kamar, begitu pintu terbuka kotak-kotak hadia tersusun rapi dan banyak, mungkin bisa di katakan hampir memenuhi ruangan kamar.


"Pangeran Dellion mengirimkan ini pada anda sesuai janji nona!"


Merry tak henti-hentinya tersenyum, sepertinya dia sudah tidak sabar ingin membongkar semua kotak hadia itu.


Hari ini banyak sekali kejutan yg membuat hatiku terbolak-balik.