
Besoknya dokter datang memeriksa ku kembali, aku di suruh untuk beristirahat agar stamina tubuh kembali pulih, kemudian Merry datang dengan beberapa makanan.
Dia lalu mengaturnya di atas meja dan membimbing ku pelan ke tempat duduk.
"Nona harus makan banyak! Menghilang selama tiga hari itu membuat semua khawatir"
Sendok yg ku pegang seketika jatuh kelantai sangking terkejutnya mendengar perkataan dari Merry.
"Apa ada yg sakit?!" Tanya Merry seketika.
"Apa? Me-menghilang selama tiga hari?"
"Ia nona... sebentar aku akan menganti sendoknya."
Ucap Merry sambil berbalik pergi keluar, kemudian dari arah jendela Snow datang dengan membawa sesuatu di mulutnya.
Saat melihat ku dia terkejut dan segera merubah bentuknya menjadi manusia.
"Kau sudah sadar!"
Ucapnya sembari meletakan benda itu keatas meja. Dia mendekat dan memeriksa keadaan ku, meletakan kedua tangannya di wajahku secara tiba-tiba.
Plak!
Dia menjerit sakit karena aku memukul tangannya begitu kuat.
"Aw! Bisakah kau tidak memukul ku? Kau tahu aku khawatir melihat mu sampai aku mencari tumbuhan obat di Kekaisaran timur"
Ucapnya sembari menunjuk tumbuhan yg dia letakan tadi di atas meja.
"Aku baik-baik saja!"
Bentakku padanya sambil membuang pandangan kesembarang arah.
Saat Snow akan menjawab, pintu tiba-tiba terbuka, Merry masuk dengan sendok di tangannya beruntung sekali dengan cepat Snow sudah berubah menjadi kucing.
"Nona! Ini... Selamat makan!"
Ucapnya penuh semangat, aku mengambilnya dan mulai makan. Merry lalu duduk dan mengambil tanaman yg ada di atas meja.
"Eh bukannya ini tidak ada?" Tanya Merry padaku.
"Ia... itu tumbuhan obat yg di bawah Snow..."
Tujukku pada Snow, Merry seketika terkejut bahkan sup yg ku pegang tumpah karena mendengar teriakan Merry.
"Astaga! Maafkan saya nona... mari saya bersihkan"
Segera Merry mengambil sapu tangan dan membersihkan sup yg ada di bajuku, untungnya tidak terlalu panas dan hanya sedikit saja yg tumpah.
"Kenapa kau berteriak"
"Itu aku kaget saja... dan apa Snow yg bilang itu tumbuhan obat? Tidak mungkin kan?"
Ucapnya, kembali duduk di kursi yg ada hadapan ku. Aku terdiam sambil memukul pelan kepala ku dengan tangan.
'Bodoh! Kenapa berkata seperti itu'
"Itu... aku tahu dari bentuknya saja, kan aku sudah belajar banyak saat tinggal di Kekaisaran timur"
Kataku agar Merry tidak curiga. Wanita itu mengangguk kemudian mengangkat Snow ke pangkuannya.
"Kau pintar juga"
Ucapnya sambil mengelus kepala Snow lembut.
"Nah sekarang ceritakan apa yg terjadi sebenarnya?"
Merry kemudian mengatur nafasnya dan mulai menceritakannya padaku, dari yg dia dengar saat acara penyambutan itu aku tiba-tiba menghilang. Dan semua orang mencari-cari tidak bisa menemukan keberadaan ku.
Bahkan pangeran Dellion ikut mencari sampai larut malam. Dan saat hari ketiga mereka menemukan ku tertidur di bawah pohon Dewa dengan tenang lalu mereka membawaku, dan besoknya aku sadar
Penjelasannya ku angguki sambil menikmati makanan.
'Ternyata kejadiannya seperti itu, pantas saja mereka khawatir'
"Sebenarnya nona kemana?" Tanya Merry.
"Aku juga tidak mengingatnya"
Aku tersenyum untuk membohongi Merry, aku tidak harus menjelaskan semua padanya tentang rahasia masa lalu.
Setelah selesai makan, Merry merapikan semuannya dan aku pun masuk kedalam kamar mandi ingin membersihkan diri.
Tepat saat itu aku menggunakan baju tidur lengan panjang, saat membuka ikatakan yg ada di pergelangan tangan, aku terkejut melihat tanda yg muncul di sana.
"Ini... jangan-jangan tanda anugerah!"
...💐💐💐💐...
Selepas bersiap-siap, aku dengan cepat pergi menuju ruangan kerja ayah. Para prajurit mempersilakan ku masuk kedalam, di sana ayah sedang duduk mengurusi beberapa surat-surat yg banyak.
Kataku, pria itu terhenti dan melihat ku, dia lalu bangkit berdiri dan mempersilakan aku duduk.
"Bawahkan teh dan cemilan kesini"
Ucapnya pelayan pun pergi keluar sesuai perintah.
"Bukannya kau harus istirahat? Kenapa kesini?" Tanya ayah dengan khawatir padaku.
"Aku sudah dengar semuanya, Merry menceritakannya... maaf membuat ayah khawatir"
Ucapku sembari melihat ayah dengan sedih.
Pintupun terbuka para pelayan masuk kedalam meletakan teh dan cemilan yg ada, kemudian mereka keluar.
"Sudah... jangan merasa bersalah... Tapi saat itu kau kemana?"
"Umm itu... aku tidak ingat ayah" Kataku padanya.
"sekarang kenapa kau kesini?"
Sebelum aku menjawabnya aku melihat beberapa surat yg menumpuk di atas meja, pasti itu baru di kerjakan karena aku yg tiba-tiba menghilang dan membuat dia khawatir.
"Tenang ayah bisa mengatasinya"
Ucapnya sambil memandangku lembut, dia sepertinya tahu apa yg aku pikirkan.
"Kalau begitu coba ayah lihat ini!"
Aku menunjukan tanda yg ada di pergelangan tanganku padanya, seketika pria itu terdiam tidak berkata apa-apa.
"Tidak mungkin... itu tanda..."
Pintu di ketuk dari luar, kata para penjaga ada yg ingin menemui ku sebentar di ruang tamu. Aku melirik ayah, dia mengangguk dan menyuruh ku untuk pergi.
"Anak itu bagaimana bisa dia mendapatkan anugerah penyembuh... padahal itu untuk keturunan kaisar" Ucap Duke George.
...💐💐💐💐...
Saat membuka pintu ruang tamu, di sana ada Galen bersama dengan Pangeran Dellion yg sedang duduk berbincang. Ketika melihat ku, reflek Galen mendekat dengan cepat dan segera memeluk ku erat.
"Galen... apa yg kau lakukan!"
Kataku gugup, kemudian dia melepaskan pelukannya dan memegang wajahku erat.
"Dari mana saja kau saat itu!"
Tanyanya padaku, aku hanya menunduk tidak bisa menjawabnya kemudian dari arah belakang seseorang membuka suaranya menjawab Galen.
"Dia masih sakit, kau jangan banyak bertanya"
Ucap Dellion, saat Melihatnya rasa sedihku muncul seketika. Penjelasan dari anak itu membuat ku tidak dapat berkata apa-apa lagi dan hanya bisa percaya saja padanya.
Perlahan-lahan aku mendekat pada Dellion dan memberi salam sambil sedikit tersenyum. Kemudian aku duduk berhadapan dengannya.
"Ada apa kalian kemari?"
Tanyaku pada mereka berdua, Galen yg dari jauh sedikit terkekeh.
"Ada orang yg begitu mengkhawatirkan mu... sepertinya kalian butuh waktu, aku pergi dulu..."
Dengan cepat Galen keluar dari dalam ruangan meninggalkan kami berdua yg terdiam.
"Yang mulia--"
"Apa aku baik-baik saja? Maafkan aku tidak bisa menemukan mu lebih cepat"
"Itu... tidak apa-apa pangeran... saya baik-baik saja sekarang, dan perlu apa anda kemari?"
Dellion mengepalkan tangannya, kemudian menatapku dengan sungguh.
"Kenapa..."
"Kenapa? Ada apa?"
"Kenapa kau tidak mau menikah denganku? Apa karena kau sangat membenci ku?"
Matanya yg berwarna biru menatap ku dengan sangat penasaran.
"Memang benar awalnya aku membenci mu karena tidak mengenali mu... tapi, ada perasaan yg aneh seperti aku sangat mengenalmu lama"
Jelas Pangeran Dellion padaku, aku menunduk ingin mengatakan yg sebenarnya tapi belum saatnya.
"Waktu itu sudah ku katakan pada Kaisar tentang perpisahan kita... tapi dia tidak setuju karena kondisi ku saat ini, lalu dia akan mengundang seorang untuk mengembalikan ingatan ku"
Dengan cepat aku bangkit berdiri menuju kearah Pangeran dan memegang tangannya.
"Jangan! Pangeran tidak boleh memanggilnya!"