
Mereka tidak tahu harus berbuat apa sekarang, hanya ada kecemasan saja di sana, Duke bersama Deondre tidak bisa Menahan kesedihan mereka melihat putri serta adik satu-satunya menderita.
"apa yg terjadi... apa.." Ucap George bingung.
Duke melihat putrinya khawatir sambil memegang tangannya erat.
"Aku baik-baik saja... ini hanya kelelahan...aku bisa menyembuhnya"
Ujar Agnasia lemah, dia mencoba untuk menyembuhkan diri sendiri tetapi malahan luka itu semakin besar. Dia mengerang sakit serasa tubuhnya seperti terbakar dalam api yg menyala-nyala, siap menghanguskan seluruh tubuh.
"Tuan Duke! Lengan nona! Lukanya semakin besar!"
Teriak Merry histeris melihat luka Agnasia yg perlahan menjalar seperti memakan tubuhnya pelan-pelan.
"Apa ini!"
Dellion terlihat begitu cemas, ia langsung mendekat dan menggendong Agnasia dalam pelukannya segera.
"Ini karena luka dari pedang tersebut... kenapa tidak bisa di obati olehnya?" Tanya Galen pada kaisar.
"Kita harus menolong putri."
Ujar Marquess Christoffel dan di angguki oleh lainnya.
Tetapi terlihat kaisar Theo yg diam, sangat sulit untuknya menjawab pertanyaan Galen.
"Ada apa ayah?"
Tanya Dellion. Theo perlahan membuka mulutnya menjelaskan kenyataan yg ia ketahui.
"Tidak ada yg dapat menyembuhkan luka dari pedang kegelapan, kematian dari kaisar wanita sebenarnya karena pedang kegelapan. Faktanya di tubuh kita mengalir darah suci, ketika aura pedang baal masuk dalam tubuh, terjadi penolakan besar dan efeknya..."
"Apa maksud perkataan anda Yang Mulia!" Bentak Duke penuh emosi.
"Maksud ku, Agnasia... tidak bisa di sembuhkan dan..."
"Tutup mulutmu ayah!"
Celah Dellion marah, ia menatap Agnasia dalam pelukannya dengan sedih.
"Bertahanlah Agnasia..."
Wanita itu langsung di bawahnya ketempat kediaman Alddes yg masih utuh. Begitu tiba di sana, Dellion membaringkan Agnasia keatas tempat tidurnya, kaisar dari timur langsung mendekat memeriksa luka tersebut.
Ia menyuruh mereka mengumpulkan bahan-bahan pengobatan untuk menyembuhkan Agnasia.
Tetapi tidak ada satu pun dari tanaman obat itu yg dapat menyembuhkannya, kian menit kondisinya semakin memburuk. Duke serta yg lainnya tidak tahu harus berbuat apa sekarang.
"Ayah..."
Panggil Agnasia pelan, Duke langsung berlutut di depan putrinya, menggenggam tangan Agnasia yg kehangatanya perlahan memudar.
Pandangan Agnasia mulai tidak bisa melihat jelas, tetapi yg ia tahu ayahnya sedang menangis sekarang.
"Jangan sedih ayah... aku baik-baik saja... usap air matamu itu..." ucapannya mulai parau.
Duke mengangguk sambil menghapus air matanya yg terus saja tidak bisa terkontrol, kemudian dengan lembut ia mencium tangan putri nya.
Orang-orang yg berada di dalam kamar Agnasia hanya bisa diam menahan tangisnya saja, mereka tidak mau sampai terdengar di telinga wanita yg terbaring itu.
Tarikan nafas satu persatu dari Agnasia terdengar. Perlahan tangan wanita itu membalas genggaman Duke.
"A-ayah... a-ku mau tidur s-ebentar..."
Setelah Agnasia berucap seperti itu, satu tarikan nafasnya yg terakhir membuat suara tangis memecah dalam ruangan.
Dellion terduduk tidak dapat berbuat apa-apa, sama halnya dengan yg lainnya.
Tiba-tiba dari arah pintu datang Snow yg dari tadi keluar entah kemana, atau mungkin ia pergi karena tidak tahan melihat kondisi Agnasia wanita yg ia cintai itu menderita.
"Masih ada cara!" Ucapnya membuat yg lain terkejut.
"Cara apa yg kau maksudkan!" Tanya Kaisar segera.
"Sudah terlambat! Agnasia dia sudah pergi..."
Ucap Deondre dengan tatapan kosong melihat kearah tempat tidur.
"Dia masih bisa di selamatkan"
Ucap Snow yakin, ia kemudian mendekat kearah Dellion memberikan sesuatu padanya, dan berbalik menuju tempat tidur.
Snow meletakan tangannya ke atas luka Agnasia sambil menggumamkan sesuatu, seketika muncul sekelibat cahaya yg menusuk penglihatan dalam ruangan itu.
Musim demi musim berganti terus menerus, tidak terasa sudah empat tahun berlalu, sekarang sudah masuk musim dingin yg membekukan semua.
Udara di kekaisaran Aegeus semakin dingin saja, para rakyat dan bangsawan hanya beraktifitas dalam rumah dan kediaman mereka, mengingat badai salju yg akan datang sore ini.
Tiba-tiba pintu terbuka menampilkan sosok pria yg tengah mencari-cari seseorang sedari tadi, tapi tidak di temukannya.
"Yang Mulia? Ada perlu apa?"
Tanya pelayan yg adalah Merry karena terkejut dengan kedatangan Dellion.
"Di mana Agnasia? Dia tidak kelihatan." Ucap Dellion khawatir.
"Bukankah nona mengunjungi pangeran kecil di kamarnya." Ujar Merry.
"Jika ada, aku tidak akan bertanya padamu" tekan Dellion.
Pria itu segera pergi memberikan perintah untuk mencari Agnasia.
Bergegas para kesatria kekaisaran mencari dimana keberadaan wanita itu sekarang, padahal sebentar lagi badai salju akan datang tetapi batang hidung Agnasia tidak kelihatan.
Para pelayan berteriak dengan lentera di tangan mereka, memanggil-manggil majikannya di tengah salju. Sedangkan para kesatria berpencar mencari di luar kekaisaran.
Begitu Dellion sudah siap dengan pakaian hangatnya, tangan mungil menahan baju Dellion, membuat pria itu berbalik melihat kebawah.
Nampak sosok anak kecil yg manis dan menawan di pandangan Dellion. Bola mata yg imut berwarna hitam menatap pria itu senang, rambut hitamnya yg bercampur sedikit surai putih itu sama persis dengan warna rambut Dellion.
"Kenapa kau keluar kamar? Dimana para pelayan, bukankah aku sudah menyuruh mereka untuk menjagamu?"
Tanya Dellion, tiba-tiba terdengar suara para pelayan yg memanggil-manggil anak itu.
"Astaga pangeran... ternyata anda di sana, maafkan kami Yang Mulia, pangeran tiba-tiba menghilang." Tunduk pelayan.
"Mari kembali kekamar pangeran, ini sudah saatnya anda makan."
Ucap pelayan lainnya, tetapi anak itu mengeleng tidak mau, dia malahan makin menarik baju Dellion.
"Aku mau salju ayah!"
Ucap anak yg bernama Lucan dengan suaranya yg imut. Dellion pun menunduk memegang puncak kepala Lucan lembut sambil tersenyum.
"Sayang di luar dingin, kau akan sakit nantinya." Seru Dellion.
Tetapi Lucan malahan menunjukan ekspresi cemberut, melihat Dellion yg tidak memperbolehkannya pergi.
"Tapi... tapi.. ibu dia mau lihat salju tadi."
Perkataan dari Lucan membuat Dellion tersadar tempat mana yg harus ia datangi untuk menemukan Agnasia.
"Pelayan! Ambilkan baju hangat untuk pangeran kecil, dia akan ikut bersama ku." Pintah Dellion.
Tanpa berlama-lama pelayan pergi, kemudian kembali lagi dengan pakaian hangat Lucan. Di pakaikannya segera kepada anak itu, lalu Dellion menggedongnya dan pergi keluar bersama dengan dua pengawal lainnya.
Mereka menuju kearah belakang kekaisaran tempat pemakaman para pahlawan dan keluarga kerajaan.
Dari jauh nampak tubuh seorang wanita yg masih berbalutkan pakai tidur berwarna putih, rambutnya tidak di ikat hanya tergurai begitu saja di terpa angin dingin.
"Kalian berjaga di sini, biar aku saja yg kesana." Ucap Dellion.
Tiba-tiba Lucan meronta ingin turun dari dalam pelukan ayahnya, Dellion pun segera menurunkannya. Lucan langsung berlari mendapatkan Agnasia yg tengah menatap lurus kearah makam.
"Ibu! Ibu!"
Teriak Lucan kegirangan sambil memeluk kaki Agnasia erat.
Wanita itu seketika tersadar dari lamunan panjangnya, dan segera menunduk menggendong pangeran kecilnya itu.
"Lucan, sudah ibu katakan di luar dingin."
Tegurnya lembut sambil membersihkan salju yg terjatuh di atas kepala anak itu.
"Ibu juga sama, dingin sepelti salju."
Ucapnya memeluk Agnasia erat.
Dellion perlahan mendekat memberikan mantel bulu miliknya menutupi Agnasia yg sudah memucat karna dingin.
"Sudah ku katakan, jangan pergi sembarangan Agnasia... di tambah cuacanya sedang tidak bagus. Kau akan sakit, mari kita kembali."
Ajak Dellion, tetapi sebelum pergi, Agnasia sekali lagi menatap sayu kearah makam.
"Nanti aku akan menemuimu lagi Snow." Ucapnya pelan. Seperti dia tidak mau beranjak dari sana.