The Destiny Of A Princess

The Destiny Of A Princess
Bagian 48



Aku kembali melakukan aktivitas di dalam kereta yaitu diam sambil melihat keadaan luar dengan bosan.


Sampai semua itu terahlikan sesaat karena melihat pangeran Dellion.


pangeran segera membuka sarung tangan kulitnya yg dia pakai untuk menyembunyikan lambang yg di berikan Dewa karena sedang menyamar. Baru kali pertama aku melihat bentuknya, ternyata berbeda dengan milik Kakak.


Yg aku ingat Kakak memiliki lambang seperti bulan sabit di punggung tangannya. Tapi pangeran memiliki lambang seperti matahari di telapak tangannya.


"Itu adalah lambang anugerah"


Ucap Galen, ternyata dia sedang menatap ku.


"Aku juga memilikinya di sini"


Galen memegang tengkuk lehernya, lambang bintang biru nampak di sana. Aku takjub melihatnya. Ternyata setiap tanda berbeda-beda letaknya serta bentuknya.


"Lalu bagaimana dengan batu kekuatan?"


"Soal itu, kami menjadikannya bros agar kakek tidak terlalu curiga."


Jelas Galen, ternyata bros yg tidak ingin mereka lepas adalah batu kekuatannya. Pantas saja aku bingung mereka suka sekali memakai bros itu.


Aku menghembuskan nafas kasar lalu kembali melihat kearah luar.


"Maaf kau merasa tersinggung ya?"


Mendengar perkataan Galen, aku bingung kenapa dia sampai berucap seperti itu.


"Kau kan tidak memiliki anugerah itu."


Ucap pangeran Dellion untuk memperjelas maksud dari Galen, aku kemudian mengeleng pelan pertanda tidak apa-apa.


"Satu hal lagi... apakah kau punya musuh, putri Agnasia?" Tanya pangeran.


"Soal itu aku tidak terlalu tahu... memangnya kenapa?"


"Bukan apa-apa... sangat bahaya jika kau tidak memiliki anugerah dan memiliki musuh, Bisa-bisa mereka akan membunuh mu... jadi kau harus hati-hati saat kita sudah tidak bersama lagi."


Jelasnya padaku, aku yg mengerti maksudnya hanya bisa mengangguk setuju. Harusnya ini adalah hal yg menggembirakan tapi kenapa aku begitu sedih.


"Harusnya kita teleportasi saja seperti waktu itu, kan bisa ya?"


Ucap Galen memecahkan kecanggungan yg ada.


"Ah soal itu, dia tidak mampu memindahkan beberapa orang ketempat yg jauh, dia hanya bisa di tempat yg dekat saja."


Itu yg ku dengar dari penjelasan Snow saat sedang berkemas, sekaligus dia meminta untuk aku membawanya sementara waktu ke kediaman ku.


"Kau harus berhati-hati... perkataannya saat di kamar masih tidak terlalu jelas"


Aku melirik Galen yg sedang menatap serius kearahku, memang benar adanya aku juga harus sedikit menaruh kewaspadaan pada Snow.


Agar tidak membuat Galen khawatir aku mengangguk setuju atas perkataannya.


"Bagaimana dengan lukamu?"


Pangeran membuka suaranya menanyakan keadaan ku.


"Ah sudah tidak apa-apa, bekasnya juga menghilang karena salep yg di berikan bibi padaku"


Jelasku Pangeran kemudian melirik ke arah yg berbeda setelah aku selesai berbicara.


...💐💐💐💐...


Siang berganti malam, perjalanan kali ini sudah hampir sampai pada tujuan. Saat ini kami sedang mampir untuk mengisi perut yg sudah kosong.


Kami memesan beberapa daging, serta kue untuk menu terakhir setelah selesai makan. Entah kenapa begitu makan itu masuk kedalam mulut rasa segar muncul.


'Uaaa enak! Tidak kusangka ada tempat makan seenak ini di perbatasan kota'


Saat sedang menikmati makanan, Snow segera berdiri dan berpamitan keluar karena sudah selesai makan. Aku Melihatnya diam sampai dia menghilang dari pandangan.


Ku putuskan untuk pergi menyusulnya, tapi tanganku di tahan oleh pangeran segera.


"Untuk apa menyusulnya? Habiskan makan mu saja" 


Mata pangeran menunjuk kearah daging yg baru sepotong saja ku makan tadi. Aku melepaskan tangannya dari ku dan sedikit menjelaskan kembali.


"Hanya sebentar saja... walaupun dia jahat tapi itu pasti ada alasannya."


Pangeran diam, dia kemudian mengangguk menyuruh ku untuk pergi menyusulnya.


"Apa tidak apa-apa Pangeran?"


Tanya Galen saat melihat Agnasia yg sudah pergi.


"Tunggu! Pangeran cemburu?"


Dellion tersedak saat mendengar perkataan yg di lontarkan Galen padanya. Dia lalu mengambil sapu tangan dan membersihkan mulutnya.


"Ekhemm... untuk apa aku cemburu, lagi pula kita akan berpisah."


Jelas pangeran pada Galen, lelaki itu sedikit tersenyum dan mendapatkan ide lagi untuk mengerjai Dellion.


"Ah... jika kalian berpisah artinya aku bisa melawamar Agnasia sebagai istri ku."


"Apa?"


Tatapan Dellion begitu tajam melihat Galen, sekarang lelaki itu puas dengan apa yg dia rencanakan.


"Bagaimana pun anda menyembunyikan perasaan itu, semua akan nampak dari wajah. Katakan saja bahwa pangeran mencintainya." Jelas Galen.


Pangeran sedikit memotong daging kembali dan memakannya. Galen hanya bisa diam dan melanjutkan aktivitas makan mereka.


...💐💐💐💐...


Dari jauh Agnasia melihat Snow yg sedang melihat kearah hiasan yg di jual beberapa orang di kota. Tatapannya begitu kesepian, aku mendekat kearahnya dengan perlahan-lahan.


Dia yg sadar akan itu segera menanyakan kenapa aku menyusulnya.


"Bukan apa-apa... aku hanya ingin keluar saja"


Jawabku sambil menyentuh hiasan yg di lihat Snow.


"Aku ingin membeli ini..."


Setelah membayar itu, aku memegang tangan Snow dan memberikannya, dia sedikit mengangkat sebelah alisnya seperti bertanya 'apa yg kau lakukan?'


"Bukankah kau ingin ini?"


Kataku padanya, kemudian sedikit senyuman di tunjukkannya dia berbalik menarik ku menjauh dari sana.


"Kau ternyata bodoh ya... aku ini seorang penyihir" ucapnya padaku


"Lalu?"


Dia kemudian mengangkat tangannya dan menjentikan jarinya, seketika hiasan yg sama muncul di tangannya. Aku terkejut melihat trik sederhana yg dia berikan.


"Uaaa hebat!" 


Ucapku dengan mata yg berbinar-binar karena untuk pertama kalinya aku melihat sihir yg menakjubkan.


"Tidak ini belum bisa di bilang hebat, dasar aneh"


Ucapnya sambil mendorong kepala ku dengan satu jari telunjuknya.


"Eh, itu juga hebat!" Kataku sambil meliriknya.


"Tidak, hebat itu berbeda.. seperti menghancurkan satu negara hanya dalam sekali jentikan itu baru bisa di bilang hebat"


Aku terdiam menatapnya kemudian aku sedikit mengeleng sambil menunjuknya dengan ekspresi seperti seorang guru memarahi muridnya.


"Kau salah! Orang yg di sebut hebat tidak harus menghancurkan suatu negara. Tapi bisa melindungi dan membahagiakan yg lain"


Jelasku padanya, tapi dia terdiam melihat ku. Angin malam bertiup membawa aroma kota yg begitu menenangkan sekaligus gumaman pelan yg di lontarkan Snow.


"Kau berbeda dengannya..."


Aku Melihatnya, mempertanyakan apa maksud perkataannya tadi.


"Guruku... dia mengatakan orang yg hebat itu harus menghancurkan sesuatu baru bisa di bilang hebat... tapi kau? aneh sekali arti hebat dari mu"


Snow tersenyum sambil memandang langit berbintang yg berkelap-kelip menghiasi langit malam.


"Tapi menurut ku itu salah... menghancurkan, melukai, semua itu hanya membuat satu kepedihan dan dendam antar yg lain, itu tidak bisa di katakan seorang yg hebat."


Kataku sambil sedikit tersenyum kearahnya, mengingat soal aku melukai seseorang hanya karena cemburu dan akhirnya tidak ada yg bahagia.


Aku memegang tanganku erat, masa lalu yg begitu kelam... aku tidak ingin melihat lagi bayangan itu.


"Jadi... ku katakan padamu! Orang hebat adalah Dia yg melindungi dan membuat orang-orang bahagia."


Setelah ucapan itu, dari jauh aku melihat Galen melambaikan tangan padaku. Segera aku berbalik melihat Snow dan mengajaknya untuk pergi.


"Melindungi dan membuat orang bahagia? Akan ku ingat itu"


Ucapnya pelan dengan sedikit tawa melihat Agnasia yg berjalan di depannya.