
Dalam ruangan yg cukup hening empat orang duduk sambil melihat satu sama lain tetapi satu di antaranya tidak berani menatap lelaki yg dia pukul saat bangun dari tidur lelapnya.
"Maafkan kami Tuan, sudah membuat kekacauan pagi ini, saya akan menganti rugi barang-barang lainnya yg rusak" Galen mengangkat suaranya menjelaskan secara baik-baik pada pemilik tempat penginapan.
Lelaki tua itu tersenyum dan mengeleng pelan.
"Hohoho tidak apa-apa anak muda, kejadian seperti ini sering terjadi..." ucapnya.
pria tua itu menatap kearah Dellion yg duduk sambil menyilangkan kedua kakinya, keadaannya sungguh kacau, rambut yg berantakan,baju yg basah, wajahnya yg memiliki bekas tamparan milik Agnasia itu sungguh terlihat mengkhawatirkan.
"Jika dia seperti itu padamu mungkin saja kau berbuat kesalahan" ucap pria tua itu pada Dellion, aku bersama Galen menatap bingung kearah orang tua ini.
"Ahahah maaf sebelumnya tapi, kami tidak memiliki hubungan seperti yg anda pikirkan tuan.." ucap Agnasia, dia tidak ingin kesalahpahaman terjadi di tempat ini.
"Oh ternyata aku salah, maaf ku pikir kalian suami, istri ternyata cinta yg di tolak ya lalu terjadi pemaksaan"
Ucapan Tuan itu membuatku terbelalak, bagaimana bisa dia berfikir seperti itu? Cinta yg di tolak! Haaa ada-ada saja. Agnasia mengeleng pelan melirik Dellion yg menahan amarahnya sedari tadi
'Gawat! Dia akan meledak'
Dengan cepat Agnasia berdiri dan berpamitan pada Tuan penginapan sebelum sesuatu yg fatal terjadi, Galen lalu menarik Dellion pergi tapi tangannya di tahan oleh tuan tadi.
"Aku mengerti perasaan mu anak muda, jangan bersedih... jika kau mau aku memiliki anak perempuan yg cantik." Wajah Dellion berubah menjadi merah padam mungkin dia malu sekaligus marah mendengar ucapan pria tua di depannya.
Jika saja Tuan ini tahu siapa yg dia ajak untuk menjadi besannya pasti dia tidak bisa berkata apa-apa lagi.
"Ahhh maaf Tuan kami akan segera pergi sampai nanti" ucapku sambil menarik mereka berdua keluar dari dalam ruangan.
...💐💐💐💐...
Setelah terbebas dari tuan penginapan sekarang mereka berdua meminta penjelasan padaku dengan tatapan yg cukup mengerikan.
Aku menjelaskan semua pada mereka sampai Galen menatap Dellion curiga.
"Mau ku tebas leher mu itu?" Ucap Pangeran dengan suara yg mencekam. Galen setelahnya tertawa
"Sekarang kenapa anda ada dikamar Sia, Tuan Lion?" Ucapnya sambil menekan kata kamar cukup dalam. Dellion terlihat salah tingkah dengan memalingkan wajahnya kesembarang arah.
"Malam itu, aku hanya ingin melihatnya saja tapi karena mengantuk aku jadi tertidur di situ." Jelasnya.
Agnasia menatap Dellion curiga, dia mempertimbangkan perkataan Dellion benar atau salah.
"Anda tidak melakukan apa-apa kan?" Tanya Agnasia.
"Tidak, lagi pula aku tidak tertarik."
Dellion menatap tubuh Agnasia dari atas sampai bawah biasa saja, milihat Dellion dengan tatapan seperti itu Agnasia menjadi jengkel, dia berbalik lalu berjalan kembali.
"Aku juga tidak tertarik padamu! Karena itu cepat-cepatlah selesaikan hubungan kita. Sebelum terikat ke status berikutnya." Ucap Agnasia yg membuat Galen terkejut
Dia mengikuti Agnasia dengan cepat dan menahan tangannya.
"Apa yg kau katakan? Berpisah? Kau ingin Nama baik keluarga mu menjadi kotor?!" Penjelasan Galen memang benar, tapi dia kan tidak tahu yg sebenarnya, apa yg akan terjadi kedepan ketika aku terus bersama Dellion.
"Sudahlah, aku akan membicarakan itu pada Kaisar ketika dalam keadaan yg baik" ucap Pangeran dari arah belakang Galen, dia lalu meninggalkan kami berdua yg terdiam.
Galen menatap Agnasia, bagaimana mungkin wanita ini jadi tidak menyukai Dellion? Padahal beberapa hari yg sudah lewat dia begitu menyayangi Dellion.
Apa karena Dellion tidak mengingatnya jadi dia putuskan untuk berpisah dengan Pangeran?
Agnasia hanya menatap punggung Galen yg menjauh dia sedikit menyunggingkan senyuman mendengar hal itu.
"Kau tidak akan mengerti, sebelum kau menjadi diriku Galen."
...💐💐💐💐...
Mereka lalu melanjutkan perjalanan menuju kekota berikutnya, dalam kereta kedua orang tengah sibuk dengan aktivitas masing-masing.
Dellion yg tengah membaca surat yg di berikan oleh Galen sebelum kami pergi tadi, lalu Galen sedang menggambar sesuatu mungkin itu adalah Dena perjalanan kedepannya.
Agnasia menghembuskan nafasnya bosan, tidak ada hal yg menarik sama sekali di perjalanan, sampai tiba-tiba dia teringat akan kejadian yg hampir merenggut nyawanya. Dia menatap Dellion dan membuka suaranya.
"Terima kasih untuk semalam, anda sudah menyelamatkan saya."
"Itu sudah kewajiban ku melindungi mu." Ucapnya, Agnasia sedikit tersenyum sambil membuang pandangannya kearah jendela kereta.
'Jika bukan karena kewajiban, artinya kau tidak akan menolong ku kan?'
Pikir Agnasia, perlahan-lahan waktu terus berlalu sampai dia tertidur dalam kereta sangking jauhnya perjalanan.
Kedua orang yg melihat Agnasia yg sudah tertidur memutuskan untuk berbicara hal yg penting.
Mereka sedari tadi sedang mencari seseorang yg melakukan tidakkan pembunuhan saat kemarin di kereta, Dellion juga sudah bertanya langsung pada pria yg membawa kereta kuda mereka saat itu.
Dan jawaban yg sungguh aneh terdengar yg membuat Pangeran bahkan tidak percaya.
"Apa? Dia bilang aku yg menyuruhnya?" Galen terkejut mendengar penjelasan Pangeran, bahkan dia sendiri tidak tahu apa-apa.
"Katanya sebelum kau pergi, kau menyuruhnya untuk membeli buah di tokoh terdekat." Jelas Pangeran lagi.
"Apa Pangeran percaya saya yg melakukan nya?" Tanya Galen memastikan pendapat Pangeran.
"Tidak, jika kau berkata seperti itu, aku yg berada di dalam kereta kuda pun akan kedengaran bukan?"
"Artinya, kusir itu berbohong?"
"Tidak juga, melihat ekspresinya dia tidak berbohong. Bahkan dia sudah mengamankan kereta kuda sebelum pergi"
Keduanya kini terdiam menatap Agnasia yg tertidur cukup nyenyak itu. Galen menghembuskan nafas kasarnya lalu berbicara.
"Seperti ada yg ingin melukai Agnasia, kita harus memperketat penjagaan, di tambah lagi kita kan berada di kekaisaran orang pasti bahaya akan lebih banyak." Jelas Galen.
Belum beberapa saat, tiba-tiba kereta yg mereka tumpangi di serang saat melewati hutan. Pangeran Dellion segera mengeluarkan pedang yg ada di bawah tempat duduknya, begitu juga Galen mengeluarkan busur dan panah yg ada.
Mereka lalu turun dari kereta mendapati beberapa orang dengan tubuh yg kekar serta wajah yg mengerikan.
Para prajurit penjaga pun keluar melihat tanda dari Pangeran, Dellion menyuruh para prajurit melindungi kereta kuda.
Salah satu dari mereka tertawa terbahak-bahak sambil menunjuk Pangeran Dellion.
"Ternyata kata lelaki itu benar, mereka memiliki sesuatu yg special dan berharga." Ucapnya kemudian 7 orang yg ada di belakang pria itu menyutujui perkataannya.
"Kurasa yg berbicara itu adalah ketuanya, Pangeran." Bisik Galen, Pangeran tersenyum mendengarnya.
"Mereka salah sudah menyerang kereta kita." Ucap Dellion sambil mengatur aba-aba sebelum menyerang mereka.