The Destiny Of A Princess

The Destiny Of A Princess
{Season Dua} Bagian 85 - Pembicaraan



Dia lalu memegang wajah Agnasia dengan lembut dan menatapnya begitu tulus.


"Kenapa ibu diam? Jawablah, siapa yg memisahkan ibu dan aku!"


Begitu mengulang perkataan ku, tatapannya menjadi sayu seperti menyimpan kepedihan di dalamnya yg tidak mampu di ungkapan.


"Semuanya adalah salah ibu... jadi ibu pantas menerima kematian"


"Apanya yg pantas! Ibukan hanya melindungi ku saja! Itu tidak adil sampai ibu harus pergi!"


Ucapku dengan sedih menatap kedua bola mata birunya.


"Kau akan mengetahuinya, maafkan ibu sudah meninggalkan mu berserta darah kutukan yg mengalir dalam tubuh mu" ucapnya.


Agnasia terdiam, dia tidak mengerti soal darah kutukan. Apa jangan-jangan ibu di kutuk?


"Kutukan? Apa itu ibu! Tolong katakan dengan jelas"


Dia menggenggam tangan ibunya erat mempertanyakan semuanya.


Ibunya tidak menjawab itu, dia malahan balas menggenggam dan mencium dahi Agnasia.


"Bukankah kau sudah menemukan buku yg di sembunyikan ibu? Di sana tercatat semuanya"


"Tapi itu kosong ibu.." ucapku.


Dia lalu membuka telapak tanganku, dan menyentuhnya dengan ujung jari telunjuk.


"Sekarang kau bisa membacanya, lalu kau harus kembali sayang... ini belum waktunya kau disini banyak yg menunggu mu membuka mata" ucapnya.


"Tapi aku tidak apa-apa... jadi semua akan baik-baik saja"


"Ibu berharap seperti itu juga, tapi kau harus kembali"


Ibu kemudian melepas genggam ku, tiba-tiba ada sesuatu yg menarik ku kebelakang menjauhkan aku dari sosoknya.


"Aku menyayangi mu Agnasia... anak ku" ucapnya.


"Tidak! Ibu! Jangan pergi!"


Seketika aku membuka mata, bernafas perlahan-lahan, rasanya sangat sesak saat ini sebenarnya apa yg terjadi.


Pelan-pelan penglihatan ku kembali normal, dia hadapan ku sekarang hanya tubuh Dellion saja yg mendekap ku erat.


"Dellion.. ini sesak" kataku pelan.


Tiba-tiba dia menatap ku terkejut dengan matanya yg sudah sembab, bukannya melepaskanku dia malahan semakin memeluk ku erat.


"Agnasia... kau.. kembali!"


Nada yg dia ucapkan begitu senang, entah apa yg terjadi aku juga tidak tahu tapi tubuh ku rasanya begitu lelah


Aku menutup kedua mataku beristirahat.


...🌼🌼🌼🌼...


Besoknya aku sudah berada di kamar, dengan Merry yg berada di samping ku.


Dia membantu ku turun dan bersiap-siap, rasanya tubuh ku kembali normal seperti biasa.


Setelah selesai bersiap-siap aku membuka pembicaraan dengan bertanya apa yg terjadi, pada Merry, wanita itu kemudian menjelaskan detail dari kejadian kemarin yg tidak aku ketahui termasuk ayah serta kakak.


Begitu mendengar itu aku baru kembali teringat, benar terakhir kali aku melihat Snow dan saat akan mendekat semua menjadi gelap.


Aku lalu melirik sekitar mencari seseorang dan itu membuat Merry penasaran.


"Apa yg anda cari?" Tanyanya segera.


"Di mana Snow sekarang?"


"Soal itu, setelah dia mengantar nona kemari tanpa berkata apa-apa lagi dia langsung pergi begitu saja" jelasnya.


Aku menunduk merasa sedih, padahal ada yg harus di katakan pada Snow, sepertinya dia masih marah pada ku.


Tiba-tiba tirai yg menutupi teras terbuka, di sana berdiri Snow dengan rautnya yg tidak berekspresi sama sekali, aku tersenyum dan segera berlari memeluknya erat.


"Snow! Kau kembali! Maafkan aku soal kejadian itu, sungguh aku sudah termakan emosiku sendiri padahal kau hendak melindungi ku.. dan terima kasih karena sudah membantu ku kemarin--"


Perkataan ku tiba-tiba di celah olehnya.


"Itu sudah kewajiban ku, maafkan aku juga sudah membuatmu kesakitan"


Suaranya begitu lembut masuk kedalam pendengaran ku, seketika sedikit perasaan lega datang memenuhiku.


"Hei apa yg kau lakukan? Itu sakit!"


Ucapnya melengking.


"Itu hukuman karena kau pergi begitu saja tanpa bilang-bilang!" Jawabku.


"Begitu.. baiklah aku minta maaf kembali"


Setelah mendengar perkataannya, aku tertawa dalam pelukannya, dia sontak melepaskan dekapan dan menatap ku.


"Ada apa? Hal lucu apa yg membuat mu tertawa seperti itu"


"Bukan apa-apa aku hanya senang melihat mu sekarang"


Tiba-tiba dari arah pintu masuk terdengar suara seseorang, ternyata itu Dellion dengan wajah datarnya melihat kami, sedangkan Galen menahan tawanya di samping Dellion.


"Mataku begitu sakit melihatnya, ternyata benar lebih baik ku singkirkan dia sejak kita berada di kekaisaran timur waktu itu"


Ujar Dellion dengan suaranya yg nampak sekali cemburu.


"Sudah ku katakan bukan, jangan membiarkan Agnasia bersahabat dengan pria"


Ucap Galen, dan di lirik aneh oleh Dellion.


"Lalu kau apa?"


Pertanyaannya membuat Galen berhenti tertawa sambil berfikir kembali.


"Itu... aku berbeda, dengan pria di ujung sana" tunjuk Galen pada Snow.


Dellion menggeleng lalu mendekat padaku, perlahan-lahan memisahkan aku yg berdekatan dengan Snow.


"Ada apa anda kemari?"


Tanyaku datar, mengingat saat dia lebih memilih jalan-jalan bersama putri lain di bandingkan aku.


"Kenapa dengan mu? Harusnya senang kan aku datang kesini? Ah atau aku menggangu seperti waktu itu juga?"


Ujarnya dengan kedua bola mata yg membesar menatap ku.


"Apa-apaan perkataan mu itu?! Lalu bagaimana dengan mu yg pergi bersama putri lain? Ha?"


Dellion diam kemudian menatap kearah yg berbeda.


"Aku punya alasan untuk itu.."


Lalu dari arah belakang Galen datang merangkul ku sambil tersenyum.


"Sudah ini hanya kesalahpahaman saja, kalian sekarang terlihat seperti anak-anak bukan orang dewasa. Dellion saat itu pergi bersama putri Sanha ingin mencari hadia untuk mu"


Begitu mendengar perkataan dari Galen, aku menjadi malu dan langsung menatap Dellion tapi pria itu malahan tidak mau menjelaskannya.


'Astaga... jadi begitu..'


Aku lalu menyuruh Merry menyiapkan beberapa kue serta teh untuk kami, kemudian aku mempersilakan ketiga pria ini untuk duduk dulu.


Setelah beberapa menit Merry datang dengan semua yg ku katakan tadi, mengaturnya di atas meja lalu pergi keluar membiarkan kami berbicara.


"Jadi kenapa kalian kesini? Bukankah kalian sibuk?"


Tanyaku pada kedua orang yg sedang menyeruput teh.


"Mana mungkin kami tidak datang setelah kejadian kemarin?" Ucap Galen cepat.


Sempat aku terdiam, benar juga kemarin aku mengalami hal buruk.


"Maaf sudah membuat kalian khawatir" kataku menunduk.


"Sudah itu bukan salah mu, sekarang kenapa kau tidak bilang pada kami tentang musuh mu ini?"


Ucap Dellion sambil meletakkan cangkir keatas meja.


Aku menautkan kedua alis, soal itu juga aku tidak tahu sama sekali, bagaimana bisa menceritakan pada mereka.


"Tunggu kalian salah, aku juga tidak tahu siapa yg melakukannya... bahkan musuh? Aku tidak tahu soal itu"


Ujarku pada keduanya, sementara itu Snow hanya diam saja belum membuka pembicaraan karena dia sudah tahu milik siapa sihir itu, dan saat melihat Agnasia yg sekarang dia juga sepertinya tidak tahu apa-apa.


'Lebih baik tunggu yg lainnya pergi baru aku akan membicarakannya' Pikir Snow.