The Destiny Of A Princess

The Destiny Of A Princess
Bagian 20



Matahari mulai naik, dari arah jendela sesuatu masuk dan menyentuh kaki Agnasia yg sedang asik menebak permainan teka-teki.


Pandang wanita itu melihat kearah bawah, kucing putihnya ternyata kembali lagi. Betapa senangnya dia, dengan cepat Agnasia mengangkat kucing itu dan meletakannya kedalam pangkuannya.


"Kau dari mana saja Snow? Aku sangat khawatir saat melihat mu tidak ada di dalam kamar. Lain kali jangan seperti ini?!" Marah Agnasia pada kucingnya seperti halnya seorang ibu yg menegur anaknya.


Dia lalu melanjutkan permainannya, saat sedang asik menebak, kembali lagi dia teringat akan perkataan lelaki yg bernetra ungu.


"Acel? Kenapa aku masih saja sangat penasaran dengannya?" Tiba-tiba dari arah luar terdengar suara yg ricuh. Aku dengan cepat turun kebawah.


Nampak Merry dengan keadaan yg kacau dan tubuh penuh dengan luka masuk kedalam. Aku yg melihatnya tersentak kaget lalu dengan cepat membantunya.


"Panggilkan dokter segera!!!" Teriakku, pelayan yg lainnya pun mengangguk lalu sisanya membantu ku membimbing Merry kedalam ruangan tidurnya.


...๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’...


Beberapa saat pun berlalu, dokter sekarang sudah datang dan memeriksa keadaan Merry. Dia menjelaskan bahwa Merry baik-baik saja, luka yg dia alami juga tidak terlalu parah.


Aku berterima kasih dan menyuruh pengawal untuk mengantar dokter tersebut.


Di pingiran tempat tidur, aku duduk dan menatap lurus Merry. Padahal baru beberapa jam yg lalu dia pergi keluar.


Saat setelah mereka selesai berbicara Merry meminta izin untuk pergi ke pasar yg dekat dengan Kekaisaran hanya untuk membeli beberapa bahan yg di suruh kepala pelayan padanya dan sekarang malah jadi seperti ini.


"Merry... bangunlah... harusnya aku tidak mengizinkannya untuk pergi jika terjadi seperti ini." Ucapku sedih sambil melihat Merry


Pintu lalu terbuka, di sana nampak Deondre dan beberapa pengawal yg masuk kedalam kamar.


Saat melihatku, pandangan khawatir dari Deondre menghilang, dan digantikan nafas lega yg ada.


Dia lalu mendekat dan menarikku kedalam pelukannya sedikit aku tersentak.


"A-da apa?" Kataku gugup karena yg lainnya juga melihat tingkah Deondre yg aneh. Dia lalu melepas pelukannya dan menatap ku


"Saat sedang mengawal di sekitarย Kekaisaran, tiba-tiba terdengar penyerangan di daerah pasar. Dan ada yg bilang pelayan mu Merry terluka. Ku pikir, kau bersamanya." Jelas Deondre. Aku menggeleng dan menenangkan dia.


"Aku baik-baik saja Kakak... Hanya Merry yg pergi kesana, dia terluka" kataku sambil menunjuk Merry yg tertidur.


"Dan apa maksud dari penyerangan di pasar?" Kataku sekali lagi pada Deondre, dia lalu menyentuh kepala ku pelan, sambil sedikit tersenyum.


"Kami juga belum tahu pasti, tiba-tiba pasar itu di serang dengan beberapa ledakan, banyak juga rakyat yg terluka." Jelas Deondre.


kemudian dia berpamitan pada Agnasia melanjutkan tugasnya yg tertunda.


Agnasia terdiam menatap kepergian dari Deondre. Tapi tetap saja, ada banyak hal yg menganjal didalam pikirannya.


'Kenapa ini terjadi? Padahal di kehidupan ku yg dulu tidak pernah seperti ini'


...๐Ÿ’Kekaisaran Ango๐Ÿ’...


Dua orang duduk dengan tenang di dalam ruangan, mereka ternyata sedang memainkan permainan catur.


Lalu sebuah surat muncul begitu saja di atas meja yg mereka tempati. Kaisar segera memberhentikan permainan mereka, dan langsung membuka surat yg sampai itu.


Detik berikutnya ruat wajahnya berubah menjadi tidak puas.


"Bodoh!! Tidak becus sama sekali!" Ucap Kaisar Nick sambil membakar kertas itu dengan kekuatannya.


"Ada apa yg mulia?" Tanya Tuan Cleon pada Kaisar.


"Kau tahu, lelaki yg kusuruh untuk mencelakai Agnasia. Ternyata salah sasaran."


"Maksud anda, Pitter anak yg anda pungut itu?" Kaisar mengangguk dan menceritakan semuanya pada Tuan Cleon.


Dalam surat menuliskan bahwa dia salah mengira, Pitter berfikir Putri Agnasia pergi bersama dengan pelayannya kepasar saat itu. Tapi ternyata tidak, hingga ledakan itu hanya mengenai pelayan Agnasia saja.


Kaisar segera menarik Tuan Cleon dan menatapnya dengan marah.


"Kaulah yg tidak mengerti situasinya sekarang, harusnya kita lebih cepat membunuh Putri Duke itu. Sebelum kutukan yg dikatakan Mariana terjadi padaku!!"


Ucapan Kaisar menjadi sebuah tanda tanya besar bagi Tuan Cleon, dia tidak mengerti apa yg dikatakan Kaisar sekarang.


"Maafkan saya yg mulia, tapi saya tidak paham." Kaisar itu kemudian tertawa dan melepas pria tua yg ada di depannya.


"Ini adalah kejadian yg sudah lama berlalu, lalu masalah baru datang lagi, Pangeran sudah sedikit dekat dengan Agnasia, Aku harus melakukan sesuatu!"


Kaisar lalu segera pergi keluar membiarkan Tuan Cleon yg terdiam dalam kebingungannya.


...๐Ÿ’Kekaisaran Aegeus๐Ÿ’...


Kaisar Theo duduk dengan keadaan yg cukup gusar, sudah beberapa kali Kekaisarannya di serang dan entah oleh siapa itu, padahal mereka baik-baik saja dengan kerajaan yg lainnya .


Pintu lalu terbuka, di sana ada Galen dan Pangeran yg masuk secara bersamaan.


Galen lalu memberikan salam hormat pada Kaisar dan berbicara.


"Saat saya sampai di sana, tidak ada benda atau orang yg mencurigakan." Jelas Galen.


"Ini aneh, padahal kita sudah memasang pelindung tapi kenapa?!" Perkataan dari Kaisar semakin meninggi, dia sudah tidak tahan dengan yg terjadi sekarang.


"Saya akan berusaha sekuat tenaga Yang Mulia Kaisar." Ucap Galen.


"Lalu, yg kudengar pelayan dari putri Agnasia juga ada di sana saat penyerangan. Apa dia baik-baik saja?" Ucap Kaisar.


Mendengar hal itu Pangeran Dellion seketika terkejut, walaupun dia tidak menyukai Agnasia. Tapi entah kenapa saat mendengar sesuatu yg menyangkut Agnasia perasaannya tidak bisa tenang.


"Apa Putri ada dia sana bersama pelayannya?!" Ucap Pangeran secara tiba-tiba.


"Tenang Pangeran, Putri tidak ada di sana. Yg saya dengar dari Duke muda, hanya pelayan Putri saja yg pergi."


Mendengar penjelasan dari Galen ada sedikit nafas lega yg di keluarkan Pangeran.


"Setelah pelayan itu siuman, kita harus menanyakan detail kejadian padanya." Ucap Kaisar pada Galen.


"Dan bagaimana soal perkembangan dari penyelidik kita?" Ucap Kaisar lagi, Galen menjelaskan bawah mereka tidak menemukan apa-apa saat ini.


Setelah perbincangan itu, Pangeran Dellion memutuskan untuk pergi kediaman Alddes.


...๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’...


"Ck! Kenapa aku harus menemuinya? Lebih baik aku kembali saja." Deondre kemudian memerintahkan kusir untuk berhenti.


Saat dia akan kembali lagi, entah kenapa ada perasaan yg aneh menyuruhnya untuk tetap pergi menemui putri Agnasia.


"Ahk!! Tidak! Ada apa dengan ku! Aku harus segera kembali! Ya aku harus kembali pulang." Ujar pangeran Dellion pada dirinya sendiri.


...๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’...


Pangeran turun dari kereta, melihat gerbang keluarga Alddes yg terbuka. Diaย  teringat kejadian beberapa saat yg lalu. Padahal dia sudah putuskan untuk tidak pergi mengunjungi kediaman Agnasia.


Tapi pada akhirnya dia pergi.


"Tidak Dellion. Kau harus kembali." Pangeran segera berbalik dan akan masuk kedalam kereta.


Tapi dari arah belakang seseorang memanggilnya.


"Yang Mulia Pangeran? Ada apa anda kemari?" Suara itu membuat Dellion terdiam lalu berbalik perlahan.


Hai, terima kasih sudah membaca cerita ini, silahkan tinggalkan tanggapan serta pertanyaan kalian, sampai nanti ๐Ÿ’™๐ŸŒป๐Ÿ’™