The Destiny Of A Princess

The Destiny Of A Princess
{Season Dua} Bagian 83 - Waktu



Begitu aku membuka mata, di hadapan ku nampak sebuah cermin yg besar menampilkan keseluruhan tubuh ku.


Aku memakai gaun pengantin yg sangat indah dengan renda-renda berhiaskan berlian putih yg berkilau ketika terkena sinar matahari.


'Ini... Ah.. benar, aku akan menikah'


pikirku melihat kembali gaun yg kupakai.


Gaun ini menampilkan kedua pundakku, aku melihatnya sangat terpukau dan merasa senang, karena ini adalah gaun yg ku inginkan ketika menikah.


Rambut ku di ikat setengah dan di atasnya dihiasi mahkota tiara yg berwarna biru terang, perasaan berbebar yg kurasakan ini sangat menyenangkan.


Dari arah samping pintu terbuka menampilkan sosok ayah dengan jasnya yg rapi berwarna putih, dia tersenyum padaku memanggilku untuk pergi.


Dengan pelan dan hati-hati aku melangkah pergi mendekati ayah dan menggandeng tangannya erat.


"Semua sudah menunggu" ucapnya, aku hanya bisa tersenyum sambil mengangguk.


Tapi dalam lubuk hatiku seperti ada yg ku lupakan, sesuatu yg begitu penting apa itu?


"Agnasia? Kenapa wajah mu nampak khawatir?"


"Bukan apa-apa ayah, aku hanya merasa senang"


Kataku tersenyum lagi.


...🌼🌼🌼🌼...


Di dalam ruangan tempat yg di tinggali Snow dia tengah berusaha untuk membangunkan Agnasia dari tidurnya yg berlarut-larut.


Lalu dua orang datang dan masuk dengan tergesa-gesa, itu adalah Dellion serta Galen.


Mereka tahu tempat ini, karena saat Agnasia tidak sadarkan diri bertepatan itu juga Merry melihatnya, Snow dengan cepat mengangkat dan menyuruh memanggil Pangeran dan Galen untuk datang ke tempatnya tanpa sepengetahuan Duke serta Deondre.


"Apa yg terjadi padanya?"


Dellion dengan gelisah menampilkan wajah khawatir, sama halnya dengan Galen.


Snow kemudian menatap keduanya dia bahkan bingung menjelaskannya dari mana karena selama ratusan tahu ini kali kedua dia menemukan hal seperti sekarang, untungnya dia juga tahu cara mengatasinya sebelum terlambat.


"Agnasia di kutuk oleh seseorang yg hebat dalam sihir jahat, efeknya seperti dia merasa lelah dan sakit di bagian kepala, jika di biarkan tahap terakhirnya seperti sekarang"


Galen mendekat dan menarik kerah baju milik Snow dengan kasar, wajahnya berubah menjadi merah padam menahan amarah.


"Lalu? Dia pasti selamat kan?!"


Suaranya nampak begitu bergetar menanyakan hal itu pada pria di hadapannya.


"Bisa, asal kita tidak terlambat"


"Tidak terlambat?!" Ucap keduanya bersamaan.


"Iya kutukan ini memiliki batas jika sudah mencapai tahap akhir, tahap terakhir dari kutukan jiwa ini menunjukkan keinginan sang pemilik tubuh sampai selesai dengan dia tidak mengetahui itu adalah mimpi atau kenyataan, dan perlahan-lahan memakan jiwanya, tapi jika aku dapat menemukan di mana letak sihirnya aku bisa menolong Agnasia" jelasnya.


"Baiklah aku dan Snow akan pergi, Dellion kau tetap di sini dan jaga dia"


Ucap Galen kemudian dia menghilang bersama Snow dengan kekuatan teleportasi.


Dellion menunduk berlutut di hadapan Agnasia yg terbaring dengan wajahnya tanpa ekspresi, baru beberapa saat dia berpisah sudah jadi begini.


Sebenarnya tadi itu dia meminta tolong pada putri Sanha untuk mencarikan hadia gaun yg akan di pakai Agnasia di acara ulang tahun kekaisaran, tapi malahan dia bertemu dengan Agnasia.


Dellion dengan lembut menggenggam tangan Agnasia, suhunya semakin menurun itu sangat terasa.


"Agnasia... kau harus bangun!"


Dia mempererat genggaman tangannya, memanggil-manggil Agnasia terus menerus.


...🌼🌼🌼🌼...


Keduanya tiba di kediaman Alddes, dan berpencar mencari letak sihir itu.


Sesuai yg di katakan oleh Snow dia berbentuk seperti bunga, namun itu sebenarnya sihir yg sangat berbahaya, orang-orang jahat melakukan hal itu alasannya hanya ingin menyingkirkan sesuatu yg merepotkan.


Beberapa halaman sudah di periksa oleh keduanya dengan cepat tapi tidak menemukan hasil, sekarang mereka menuju dalam kediaman untuk memeriksanya kembali.


Inilah hal yg sulit, sihir itu biasanya di pasang dalam tempat yg berbeda dan tidak di ketahui, tapi tujuannya tetap sama menghancurkan seseorang yg di tujuh.


Ruang demi ruangan di buka tapi tidak menemukan hal yg mereka cari.


"Gawat! Waktu semakin sedikit, dimana letaknya?!"


Ujar Galen sambil memeriksa sekitar.


"Jika saja sihir itu bisa terasa mungkin aku bisa menemukannya, tapi sayangnya sihir itu tidak bisa di rasakan kecuali oleh orang yg memasangnya"


Begitu berbalik, terlihat Marry dengan rautnya yg khawatir mendekat menanyakan keadaan Agnasia.


"Dia akan baik-baik saja! Aku yakin" jawab Galen dengan antusias.


"Harusnya aku sadar Nona tidak baik-baik saja saat dia bangun tidur, ini salahku.."


Suaranya terdengar parau karena sudah menangis sedari tadi, dia terus menuduh dirinya sendiri karena tidak bisa melindungi nonanya.


"Tunggu, katamu setiap bangun pagi dia sakit?" Tanya Snow lagi.


"Benar, Nona selalu seperti itu"


Setelah cukup mendapatkan jalan keluar keduanya saling menatap dan pergi menuju kamar tempat Agnasia dengan teleportasi tidak lupa juga bersama dengan Merry.


...🌼🌼🌼🌼...


Cahaya masuk menusuk penglihatan ku, tapi perlahan-lahan itu menghilang menampilkan banyak sekali orang-orang berbaris di samping jalan setapak, meja dan kursi juga di atur rapi dan di hiasi bunga serta alas meja berwarna putih bercorak.


Orang-orang yg ku kenal serta sahabat bersama teman seumuran ada di pesta pernikahan .


Galen juga terlihat tertawa sambil melambaikan tangannya menyapa ku, aku tersenyum membalasnya.


Perasaan ku bercampur aduk, dan di antaranya ada rasa yg tidak bisa di jelaskan sesuatu yg aku lupakan.


'Sebenarnya hal apa yg membuat ku tidak tenang?'


Langkah setelahnya aku di sambut oleh seseorang yg aku kenal, begitu menatapnya jantung ku berdetak cukup kencang, dia adalah pria yg ku cintai sejak lama.


Melihat pakaiannya yg serasi dengan gaun pengantin yg ku pakai menambah nuansa romantis di atas altar pernikahan.


Dellion memberikan tangannya dengan tersenyum hangat padaku, kemudian aku merainya dan pergi bersama-sama menuju pendeta Diego yg akan memberkati pernikahan ini.


"Apakah kau sudah siap?" Ucap Dellion.


"Tentu saja"


...🌼🌼🌼🌼...


Begitu sampai, Snow menggunakan sihirnya membongkar setiap sudut ruangan kamar Agnasia di bantu oleh Galen, Merry juga ikut membantu, saat ini dia tidak tahu apa-apa hanya mengikuti nalurinya saja.


Hampir semua sudah di priksa mereka berkali-kali tapi tidak menemukan yg mereka cari.


"Apakah kita tidak salah?"


Tanya Galen dengan gelisah, waktu juga sudah semakin sore batasnya hanya sampai malam jika mereka tidak segera menghancurkan sihir itu Agnasia dalam bahaya.


"Jangan menyerah, kita harus menemukannya"


Snow kembali menggunakan sihirnya membongkar semua kembali, dua orang lainnya juga kembali memeriksa ruangan serta dinding, tirai, dan lantai.


Tanpa mereka sadari ada seseorang yg mengintip di balik teras, sambil terkekeh dengan suaranya yg pelan namun menyeramkan.


Itu adalah Roh yg di kirim Carin untuk memeriksa keadaan yg terjadi, mata dari Roh itu terhubung pada penglihatan Carin jadi dia bisa melihat semua tanpa perlu di jelaskan.


"Orang-orang bodoh, jika pun mereka menemukan tempatnya semua akan terlambat dan Agnasia tidak bisa di selamatkan"


Carin tertawa terbahak-bahak di dalam ruangan pribadi miliknya yg tersembunyi sambil memutar-mutar ujung rambutnya.


Hanya tinggal menghitung waktu saja Agnasia tidak bisa membuka mata untuk selamanya.