The Destiny Of A Princess

The Destiny Of A Princess
{Season Dua} Bagian 76 - Khawatir



Begitu sampai, di depannya nampak pintu besar berwarna coklat gelap, Agnasia menjadi gugup.


Perlahan tangannya terangkat menyentuh permukaan pintu yg keras, dia harus memberanikan diri untuk masuk kedalam.


'Kenapa melamun?! Ayo masuk!'


"Ah! Baiklah"


Dengan penuh kepastian Agnasia mendorong pintu itu dengan kedua tangannya.


'Kenapa?'


"Pintu ini di kunci ternyata"


Tears sedikit mengeluh dengan yg mereka alami sekarang. Agnasia menunduk melihat lubang kunci tersebut serta pegangan pintu yg sudah berkarat.


'Di mana kita bisa dapatkan kuncinya?'


"Aku juga tidak tahu... tapi tenang, aku ahli dalam hal seperti ini"


Agnasia melepas jepitan kecil dari rambutnya yg menahan agar rambutnya tidak menutupi wajah.


Dia mulai memasukan jepitan itu kedalam lubang kunci, karena pengalamannya dulu, Agnasia tahu cara membuka pintu yg terkunci walau pun ini begitu sulit karena lubang kunci yg sudah berkarat.


terdengar suara gesekan antara besi, di putaran berikutnya Agnasia dapat membuka pintu itu.


"Terbuka!"


Ucap Agnasia dengan senyuman kemenangan, seperti dapat menyelesaikan teka-teki puzzel yg begitu sulit.


'Mungkin sebelum menjadi putri, kehidupan mu sebelumnya seorang pencuri'


"Eh? Jangan bicara sembarang!"


Bentaknya kemudian membuka pintu tersebut dengan hati-hati.


...🌼🌼🌼🌼...


Di kediaman Agnasia, Merry tengah sibuk mencari keberadaan majikannya yg sedari pagi tidak nampak.


Beberapa kali Merry memeriksa tempat yg sering di datangi Agnasia namun dia tidak menemukannya di sana.


Merry mondar-mandir dengan khawatir.


"Apa jangan-jangan Nona mengunjungi pangeran? Ah tidak-tidak"


Jika benar Agnasia mengunjungi pangeran, kereta kuda pribadi milik majikannya harusnya tidak ada di tempat tapi tadi saat dia memeriksa, kereta kudanya masih ada.


Pikiran negatif masuk membuat Merry semakin khawatir.


"Di mana anda Nona... hari sudah sore"


Merry putuskan untuk melaporkan hal ini pada beberapa prajurit, mengirimkan pesan pada Tuan Deondre soal Agnasia.


...🌼🌼🌼🌼...


"Hatcim!!"


Debu yg jatuh karena dorongan yg di lakukan Agnasia, masuk kedalam penciuman dan membuat hidungnya jadi gatal.


"Berdebu sekali di sini"


Dalam ruangan hanya ada beberapa benda yg di tutupi kain putih yg sudah usang di makan waktu, Agnasia merinding sesaat, kemudian mendekat kearah jendela dan membukanya agar udara segar bisa masuk.


Ketika di buka, angin menerpa ruangan yg berdebu itu sekaligus menerbangkan satu kain yg menutupi benda dalam ruangan.


Matanya teralihkan seketika oleh ranjang kecil berwarna cream dengan kayu yg sudah sedikit hancur karena rayap.


Dia tidak tahu ini kamar siapa namun tulisan yg ada di tengah ranjang kecil ini membuat Agnasia sadar bahwa ini adalah kamarnya yg artinya tempat di mana ibunya terbunuh.


Keterkejutan yg Agnasia dapat membuat keseimbangannya tidak stabil sampai dia jatuh terduduk.


Insiden beberapa tahu yg sudah sangat lama terjadi di dalam ruangan ini, dan soal mimpinya beberapa waktu lalu tertuju di sini.


Walau Agnasia tidak melihat adegan kematian ibunya, dia merasa seperti nyata tentang terbaringnya ibunya saat itu di lantai yg dingin ini.


'Kau baik-baik saja? Sepertinya kau tahu sesuatu tentang tempat ini'


"Tebakan mu benar, ruangan ini tempat di mana ibuku menghembuskan nafas terakhirnya hanya untuk melindungi ku"


'Maafkan aku sudah bertanya'


ujarnya dengan nada yg sedih.


Dia kembali bangkit berdiri mengelilingi ruangan, mencari sesuatu yg mungkin dapat di perlukan nanti kedepannya tapi tidak Agnasia temukan.


Brak!


Suara jendela yg tertutup tiba-tiba membuat ia terkejut.


'Agnasia... kita harus segera kembali sekarang'


"Memangnya ada apa?" Tanya Agnasia bingung.


'Entahlah, hanya saja aku merasakan ada kejanggalan di tempat ini'


Mendengar suara Tears yg sedikit aneh, Agnasia putuskan untuk menutup perjalanannya sampai di sini dan kembali ke kediamannya saja.


Begitu Agnasia keluar dari dalam ruangan sesuatu dari luar jendela muncul dan tersenyum dengan lebarnya, mungkin jika di lihat akan sangat mengerikan sampai-sampai bisa membuat seseorang ketakutan.


'Khu.. khu.. khu aku akan menceritakan ini pada master'


Makhluk yg tidak berbentuk tubuh manusia itu menghilang secara perlahan-lahan meninggalkan suara kekehanya yg begitu menyeramkan.


...🌼🌼🌼🌼...


Langit berubah warna menjadi jingga, gumpalan awan di langit juga berpisah menyebar ke pelosok bumi.


Suara burung-burung yg bernyanyi dengan merdunya memenuhi langit sore saat ini.


Namun teriakan para pelayan serta penjaga memecahkan kedamaian kediaman Alddes, di temani lentera di masing-masing tangan mereka, mengingat hari yg semakin gelap.


Deondre yg sudah memanggil-manggil nama adiknya hingga ratusan kali menjadi gusar, dia khawatir terjadi hal buruk pada Agnasia.


"Di mana kau Agnasia..."


Nada suara Deondre seperti sudah kehilangan harapan, jika Agnasia tidak muncul segera di hadapannya saat ini, pasti nantinya akan membuat perasaan hancur dalam diri Deondre.


"Salam Tuan, beberapa prajurit yg ada di kota telah memeriksa tempat-tempat sekitar, tapi tidak menemukan keberadaan putri"


"Apa kata mu!!"


Tatapan dingin seperti es di tunjukkan Deondre pada salah satu prajurit yg sekarang sudah menunduk ketakutan.


"Aku tidak mau tahu! Periksa sekali lagi dan temukan dia!"


"Tapi Tuan ini sudah yg ke lima kali--"


"Kau sudah bosan hidup ternyata" ucapnya kelam.


"Ah Baiklah akan saya katakan pada mereka."


Prajurit itu pergi secepat kilat karena mendapat ancaman dari Deondre.


Dari arah yg berlawanan datang seseorang dengan dua pengawal di sisi kiri dan kanan lalu seorang lagi sedang berada di sisi yg berbeda memegang buku tebal yg dia pegang.


"Salam Yang Mulia pangeran" tunduk Deondre.


"Apa mereka sudah menemukannya? Sejak kapan dia menghilang?!"


Suara pangeran nampak berbeda, Dellion baru tahu saat dia yg akan mengunjungi kediaman Alddes di kejutkan oleh perbincangan beberapa prajurit yg tergesa-gesa keluar dari gerbang.


"Sejak pagi tadi Yang Mulia..."


"Tidak! tadi pagi saya bertemu dengan putri di ruang perpustakaan" celah Galen, keduanya melirik pria itu dengan cepat.


"Lalu kemana dia Galen Alastor?" Tanya pangeran.


"Setelah perbincangan kami, saya meninggalkan dia di ruang yg sama dan pergi mengunjungi kota untuk menemui Duke yg sudah pergi" jelas Galen.


"Jangan sampai membuat Duke khawatir, tambah beberapa prajurit dan selidiki tempat yg mencurigakan, lalu panggilkan pelayan pribadi Agnasia kemari!"


Dellion membesarkan suaranya, dia takut serta khawatir terjadi sesuatu pada wanita yg dia cintai.


...🌼🌼🌼🌼...


Dalam hutan Agnasia sedikit bingung, padahal waktu dia masuk tadi mudah sekali menemukan mansion, dan sekarang saat dia akan keluar malahan dia tidak menemukan jalannya.


Hari sudah semakin gelap saja, di tambah nyamuk-nyamuk yg menggigit kulit mulus Agnasia membuat dia tidak tenang dalam perjalanan.


"Harusnya tadi aku kasih tanda!" Ujar Agnasia.


Dia harus lekas menemukan jalan, sebelum seseorang melihat dia yg keluar dari hutan yg di larang masuk ini.