
Keadaan jadi mencekam, beberapa pasang mata sedang menatap tajam Merry, wanita itu jadi gemetar ketakutan karena tatapan yg di tujukan padanya.
Dia meremas baju pelayan, tidak dapat berbicara apa-apa lagi.
"Nampaknya kau tidak becus menjadi dayang pribadi"
Ujar Deondre yg menambah ketakutan dalam diri Merry.
"Jika Agnasia kenapa-napa, akan ku keluarkan bola matamu itu dari tempatnya"
"A-ampuni saya Yang Mulia pangeran!"
Marry bersimpuh sambil menangis, dia sungguh sudah menggali kuburannya sendiri karena lalai, harusnya dia lebih ketat lagi dalam hal ini.
...🌼🌼🌼🌼...
Terdengar langkah kecil dalam ruangan, Carin mendengarkan dengan serius cerita dari pesuru kecilnya yg imut.
"mansion tua? Apa yg dia lakukan di sana?"
'Saya juga tidak tahu master'
Carin menutup mata berfikir sebenarnya apa yg di lakukan Agnasia di mansion tua itu, dan yg lebih membuatnya tertarik adalah soal kekuatan penyembuh yg di ceritakan oleh iblis kecil ini.
Dia mengepalkan tangannya menahan emosi, bola matanya yg berwarna merah muda terlihat mengerikan sekarang.
"Tidak adil sekali! padahal darah Agnasia mengalir kutukan keturunan Alasd!"
Carin berteriak memecahkan gelas yg berada di atas meja, dia begitu kesal, semua harus cepat di tangani, ketidakadilan ini akan dia tegakkan.
Dalam emosinya saat ini, batu permata merah yg dia gantung sebagai kalung tiba-tiba bercahaya, tanda bahwa seseorang ingin berbicara dengannya.
Carin mengangkat panggilan itu mulai berbicara pada seorang di ujung sana.
"Carin, apa semuanya baik-baik saja? Ayah dengar kau keluar dari kekaisaran"
"Ya, tapi tenang rencana ku akan berjalan lancar, soal lambang yg ku letakan di kota itu akan menjadi akses masuk para pasukan kegelapan"
Ujarnya dengan santai lalu menyandarkan tubuhnya ke samping meja kerja yg besar.
"Kau memang putri ku yg pintar, sebentar lagi semua akan selesai"
"Aku tahu itu ayah, dan kita akan membalas dendam lama pada ketiga keturunan itu"
Carin berserta Kaisar Nick tertawa lepas dalam ruangan, dia sudah tidak sabar kehancuran yg akan datang pada mereka dan mengambil semua senyum dan tawa mereka.
...🌼🌼🌼🌼...
Agnasia bernafas lega, akhirnya dia bisa keluar dari dalam hutan dan sedikit meninggalkan tanda agar dia tidak tersesat jika kembali nantinya besok.
Sekarang dia harus membersihkan tubuhnya yg kotor dan penuh debu ini, jika orang-orang melihatnya pasti mereka tidak akan percaya bahwa dia adalah putri Duke Alddes.
Ternyata di bagian hutan ini tidak ada yg berjaga, mungkin ada alasan? Tapi itu tidak penting, pasti mereka mencarinya sekarang.
Agnasia pergi melewati pintu samping yg ada dalam kediaman untuk berhati-hati agar tidak ketahuan, tepat di saat dia hendak masuk dari dalam terdengar suara beberapa orang berbicara.
"Kau dengar dayang putri di panggil saat ini"
"Ku rasa dia akan bertemu kematiannya karena tidak menjaga putri"
"Sudah.. lebih baik kita melanjutkan pencarian lagi sebelum--"
Brak!
Pintu samping di buka dengan kasar, membuat beberapa orang yg berbicara itu terkejut, Agnasia dengan wajah yg panik masuk menatap mereka yg berbicara tadi.
"Nona! Dari mana saja anda--"
"Tunjukkan di mana Merry sekarang!"
Ucap Agnasia penuh penekanan tatapannya juga membuat para pelayan berkutik ngeri dan segera menuntun Agnasia pergi.
'Tidak boleh terjadi sesuatu pada Merry, harusnya aku berpamitan terlebih dahulu sebelum pergi' pikir Agnasia
...🌼🌼🌼🌼...
"Berhenti! Apa yg kalian lakukan"
Teriak Agnasia.
Hal itu membuat mereka memutar pandangan, Agnasia sudah ada di hadapan mereka saat ini dengan penampilan yg kotor namun kecantikannya masih terlihat.
Mereka mendekat kearah Agnasia segera, namun wanita itu malahan tidak menghiraukan tiga orang yg khawatir, dia malahan menuju kearah Merry yg terduduk.
"Kau tidak apa-apa?"
"N-nona! Harusnya saja yg bertanya seperti itu, Kenapa keadaan Nona begitu berantakan? Apa yg terjadi?"
Tidak menjawab Agnasia malahan membantu Merry untuk bangkit berdiri dan menghapus air mata yg membasahi pipinya.
"Maafkan saya karena membuat kalian khawatir tapi sungguh Merry tidak bersalah dalam hal ini--" ucapnya berbalik
Agnasia terhenti saat Deondre dengan cepat memeluknya erat, beberapa pelayan yg ada di sana sekaligus para prajurit terkejut.
Agnasia menjadi kaku, dia tidak dapat membalas pelukan Deondre dan menahan rasa malu sekarang.
"Kak-kakak! Aku baik-baik saja jadi--"
"Kau membuat ku khawatir..."
Ucap Deondre gemetar, dengan lembut dia melepaskan pelukannya kemudian memanggil prajurit, memberi perinta soal pemberhentian pencarian karena Agnasia sudah di temukan.
Setelah itu, Dellion mendekat dia memegang wajah Agnasia dengan khawatir dan itu bisa di tebak dari tatapannya saat melihat Agnasia.
"Aku pikir terjadi hal buruk padamu.."
"Benar! Sebenarnya dari mana saja kau!"
Celah Galen menatap serius Agnasia, perempuan itu sedikit berkutik karena dia bingung, haruskah dia menjawab dengan jujur? Tapi nantinya dia tidak akan bisa pergi ke mansion itu lagi.
"Ahahah aku hanya tertidur di atas pohon belakang kamarku..."
"Apa!" Teriak ke tiga pria itu terkejut.
"Jangan berbohong!"
Galen tahu itu hanya alasan semata saja, bagaimana bisa Agnasia tahu memanjat pohon.
"Benar... karena itu aku jadi kotor seperti ini... yah sudah Kalau begitu saya pamit dulu kedalam"
Agnasia langsung meraih tangan Merry dan membawa dia masuk kedalam kediaman, sungguh otaknya tidak bekerja tadi... bagaimana jika mereka terus saja bertanya-tanya nanti.
Gawat.
...🌼🌼🌼🌼...
Karena kejadian kemarin, Deondre menambah penjaga di depan pintu kamar dan memperketat semuanya, Agnasia menjadi frustasi karena hal ini.
Rencana membujuk Deondre agar sedikit tidak mengekang penjagaan karena bisa menjaga diri sendiri, itu tidak berhasil.
Dan...
Kepalanya juga begitu sakit sama hal dengan tubuhnya, rasa sakit yg muncul sudah menjadi kebiasaan Agnasia setiap bangun pagi, mimpi-mimpi yg dia lihat pun makin lama seperti menelan jiwanya saja.
Hembusan nafas pelan di keluarkan Agnasia, dia sungguh tidak suka keadaan sekarang.
"Padahal aku begitu penasaran akan mansion itu"
Ujarnya sambil menyeruput teh yg di buat Merry beberapa menit yg lalu, jika di lihat pun ini salah dirinya sendiri menghilang tanpa kabar.
Merry juga sesedikit masuk kedalam kamar mengecek keberadaan Agnasia karena tadi di tangkap basa akan turun dari teras dengan kain yg dia ikat sebagai akses untuk turun.
Dalam rasa jenuhnya, dari arah teras seekor burung merpati hinggap membuat perhatian Agnasia teralihkan.
Di kaki burung itu ada sepucuk gulungan surat, sepertinya Agnasia tahu siapa yg mengirim pesan ini.
"Yang pastinya ini adalah pesan dari Kaisar Neacel" ucapnya.