The Destiny Of A Princess

The Destiny Of A Princess
{Season Dua} Bagian 78 - Pertemuan



Agnasia menyandarkan tubuhnya ke pembatas teras, membuka kertas yg di gulung itu.


Di dalamnya hanya sekedar kata-kata menanyakan tentang keadaan ku, serta kedatangannya hari ini.


"Eh... tunggu... hari ini!"


Keterkejutan ku di ahlikan oleh ketukan pintu kamar, Marry masuk mencariku, dengan cepat aku menyimpan surat itu dan masuk kedalam kamar.


Begitu melihat kedatangan ku, dia mengerutkan alisnya curiga.


"Apa Nona akan melompat dari teras sekarang?"


"Mana ada seperti itu"


Kataku sembari memalingkan wajah, Merry bernafas pasrah kemudian mengeluarkan  gaun untuk ku pakai.


"Di bawah ada si pengganggu itu, Kami begitu terkejut dia berdiri di depan gerbang"


ucap Merry malas.


"Be-begitu ya.."


"Harusnya dia membuat janji dulu! Baru bisa bertemu dengan anda kan?"


Aku hanya diam saja tidak membalas perkataan Merry, hari ini dia sangat cerewet, karena kejadian kemarin sekaligus kedatangan Kaisar Neacel.


'Harusnya dia di sambut dengan mewah karena seorang kaisar, tapi sepertinya itu akan membuat perasaannya terbebani'


Neacel, seorang kaisar yg sangat sederhana dia tidak mau menunjukan pangkatnya yg tinggi, alasannya sudah pasti itu.


Di kekaisaran, jika ingin menjadi kaisar harus melalui banyak hal, perang, konspirasi, menambah pendukung dan hal lainnya. Namun, dia tidak melalui semua itu karena kematian keluarganya makanya dia harus naik tahta.


'Pasti dia sangat tersiksa'


Menjadi kaisar hanya karna kematian anggota keluarga... di tambah di usia yg masih sangat muda saat itu...


"Nah Nona semua sudah siap... mari kita turun"


...🌼🌼🌼🌼...


Begitu pintu ruangan di buka, kaisar Neacel ada di sana dengan beberapa pengawal dan dia sudah di layani cukup baik oleh para pelayan di kediaman Alddes.


Agnasia mengatur nafasnya dan pergi memberi salam pada kaisar Neacel.


Dia tersenyum dengan ramah dan mempersilahkan aku untuk duduk terlebih dahulu.


"Ku pikir putri akan menolak permintaanku yg terburu-buru ini" ucapnya


"Mana ada hal seperti itu..."


Kataku sambil tersenyum, begitu melihat kearah Merry tatapan matanya begitu tajam pada Neacel, sekarang aku mengerti soal perkataannya barusan.


Melihat ekspresi Merry pasti dia berfikir aku keberatan bertemu dengannya.


"Tinggalkan aku bersama kaisar Aleister disini"


Ucap ku, terlihat Merry tidak menerimanya namun aku melototi dia untuk cepat pergi.


Begitu semua keluar aku bernafas lega menatap ke arah Neacel.


"Maaf soal dayang ku tadi..."


"Hahah tidak apa-apa aku sudah terbiasa di tatap seperti itu..." ujarnya.


Aku menjadi kasihan pada Neacel.


"Pasti itu begitu sulit..."


Kataku pelan, karena aku juga pernah merasakannya dulu, dan itu tidak enak sama sekali.


"Mau bagaimana lagi, jika aku bisa mengatur kehidupan, pasti aku tidak ingin seperti ini"


Tawa Neacel, namun bagiku itu terdengar hambar pasti itu di buatnya agar aku tidak merasa terbebani.


"Anda benar, kita hanya perlu jalani saja dengan tegar dan sabar kan?"


Neacel mengangguk setuju.


"Harusnya, anda kami layani dengan layak, mengingat status bukan?"


Agnasia berucap seperti itu hanya ingin mencari tahu saja pemikiran dari Neacel seperti apa, mungkin sedikit menyinggung tapi tidak apa-apa dia bukan seorang yg gampang tersinggung.


"Mungkin benar, tapi 'kan status ini bukan perjuangan ku"


Dia mengambil segelas teh dan meminumnya dengan tenang, ternyata dia sadar akan maksudku dan jawabanya pun di katakan dengan jelas.


Jadi orang-orang berfikir dia naik tahta bukan karena hebat namun, karena keberuntungan di balik kemalangan, akan tetapi menurutnya kedua hal itu adalah kemalangan besar.


"Padahal waktu itu aku tidak tahu apa-apa... mereka menyudutkan ku dan terus mengekang ku" ucap Neacel.


Aku menunduk meminta maaf padanya.


"Hahaha putri sangat aneh ternyata, bisa menjadi cuek, lalu bisa menjadi ingin tahu"


Neacel sekarang tertawa, aku sedikit membuang pandangan karena malu bisa-bisa sikap ku terbaca jelas olehnya.


"Saya seperti ini karena merasa khawatir, perasaan anda sedih" ucapku.


Neacel berhenti sejenak menatap ku, tatapannya seperti seorang yg tidak percaya atau mungkin--terkejut?


"Ini pertama kalinya ada seorang berbicara seperti itu" ucapnya.


'Eh... jadi? Aku tidak melakukan kesalahan kan?'


Agnasia jadi bingung, apa yg sebenarnya di rasakan Neacel jangan-jangan dia pikir aku menilainya rendah.


"Terima kasih sudah mengkhawatirkan aku... Agnasia"


Reflek aku berkutik kaget, artinya dia tidak marah dan malahan senang bukan? Syukurlah... Ternyata Neacel tidak buruk juga, mungkin kami bisa menjadi teman.


"Baiklah... sekarang ada keperluan apa anda kesini?"


"Bicaralah dengan santai... aku hanya datang karena--"


Tiba-tiba pintu di buka cukup kasar, di sana ada pangeran Dellion yg berdiri dan masuk dengan tergesa-gesa menatap dingin kearah Neacel.


Aura buruk apa ini.


...🌼🌼🌼🌼...


Dalam keheningan terdapat kekhawatirkan, itu kata yg cocok untukku. Sudah beberapa menit berlalu, tapi tidak ada pembicaraan, mereka berdua hanya diam dan saling bertatapan.


'Aku bahkan tidak bisa membaca pikiran mereka berdua'


Aku sedikit tersenyum, lalu menuangkan teh pada cangkir Neacel dan Dellion.


"Ah! Sekarang aku akan bertanya! Kenapa kau kesini dan... Agnasia?! Kenapa kau menuangkan teh lebih dulu padanya dan bukan aku!" Ucapnya.


Ekspresi pangeran berubah drastis, padahal dia lebih cocok dengan raut yg tenang--dia sedang marah?


"Pangeran... tangan saya reflek saja menuangkan teh ke dalam cangkir Acel"


Ucapku menenangkan dia, tetapi itu tidak berhasil.


"Coba kau ulangi lagi?!" Ucapnya menatap ku tanpa berkedip.


"tangan saya reflek, menuangkan teh ke dalam cangkir Acel" kataku lagi.


"Sejak kapan kau menjadi dekat dengannya!!"


Pangeran meninggikan suaranya, aku di buat terkejut dan tidak mengerti akan yg dia lakukan.


'Kenapa dia begini?'


"pangeran... saya hanya ingin berbincang singkat dengan Agnasia saja tidak lebih"


Neacel tersenyum ke arah pangeran namun Dellion tidak menghiraukan itu.


"Siapa yg mengizinkan mu menyambut nama tunangan pangeran dengan santai?!"


Dellion menjadi geram sekarang, wajahnya yg putih berubah menjadi merah. Mungkin karena kami berdua memanggil nama masing-masing jadi pangeran menjadi marah, padahal kami hanya berteman saja.


"Pangeran, saya mengizinkan dia sudah sangat lama"


"Sangat lama? Padahal kalian baru bertemu beberapa minggu yg lalu! Jangan-jangan kalian bertemu diam-diam tanpa sepengetahuan ku!"


Aku terdiam tidak dapat berkata apa-apa lagi, kenapa pemikirannya menyudutkan aku seperti sedang berselingkuh?


Neacel tiba-tiba tertawa sambil mengaduk-aduk teh dengan sopan.


"Kenapa pangeran berbicara seperti itu? Kami berdua hanya teman berbincang saja"


"Diam dan Tutup mulut mu"


"Pangeran jaga sopan-santun anda." Celahku


"Kenapa kau membelanya Agnasia!"


"Bukan membela hanya--"


"Sepertinya waktu ini tidak tepat ya, saya akan mengirimkan surat lagi lain kali"


Neacel bangkit berdiri, memegang tanganku lembut dan menciumnya sebagai tanda rasa hormat.


Dia lalu pergi keluar dari dalam ruangan meninggalkan aku berserta Dellion dengan kesalahpahaman yg berat.


'Jika di pikir-pikir ternyata Neacel sengaja menyulut emosi pangeran, Awas saja dia!'