The Destiny Of A Princess

The Destiny Of A Princess
Bagian 65 - penyamaran



Keadaan jadi begitu senyap aku menatapnya curiga, apa jangan-jangan dia memata-matai ku?


"Saya tidak seperti yg anda pikirkan"


"Eh, bagaimana bisa Anda..."


"bukankah tidak salah aku memuji gelang yg anda pakai?"


Rasa curigaku tiba-tiba luntur seketika, ternyata aku yg begitu waspada sudah salah paham. Ku pikir dia tahu ini adalah gelang sihir, ternyata tidak.


"Begitu... terima kasih" ucap ku canggung.


"Anda terlihat baik-baik saja, bahkan kebencian yg ada sudah memudar"


Jelasnya, aku memang tahu dia memiliki mata yg spesial bisa melihat hal berbeda yg tidak bisa manusia lihat dengan mata mereka.


"Apakah anda bisa melihat Roh juga?"


"Tidak, hanya bisa merasakannya saja"


Ucap lelaki itu, dia tidak menyangkalnya artinya dia tidak apa-apa bahwa aku berbicara soal kekuatan aneh yg ada padanya?


"Kalau begitu, bisakah anda jelaskan setiap perkataan anda pada saya?"


"Waktu itu? Nona masih mengingatnya? Itu hanya sebuah ungkapan saja. Sekarang itu tidak berlaku karena nona sudah sadar"


Ucapnya padaku, sadar yg dia maksud seperti aku yg sudah tahu semuanya? Begitukan. Ingin sekali aku bertanya lebih padanya tapi itu terdengar tidak sopan, kita juga belum terlalu dekat.


"Sepertinya banyak yg ingin anda ketahui tentang saya?"


Aku meliriknya seketika, kenapa setiap perkataan yg dia lontarkan semuannya benar adanya? Apa Kekuatannya itu bisa membaca pikiran seseorang juga? Seperti Novel yg kubaca? Tidak mungkin.


"Kekuatan jenis apa yg anda punya?" Tanyaku.


...💐💐💐💐...


Setelah perbincangan kami selesai dan aku sudah cukup tahu banyak hal karena penjelasannya tadi, sekarang dia meminta balasan meminta aku agar bisa menemaninya berjalan-jalan di sekitar kota dan pelabuhan Aegnus.


Permintaannya ku setujui karena tidak terlalu berat juga, bukan seperti meminta kekaisaran? Mana bisa aku memberikannya.


Saat akan naik kedalam kereta kuda, aku terkejut karena dia juga mengikuti ku masuk kedalam.


"Apa yg anda lakukan! Ini kereta kuda saya"


"Bukankah kita akan jalan-jalan? Lagi pula aku tidak memiliki kereta pribadi saat kesini. Karena sedang menyamar"


Aku bernafas pasrah dan mengizinkan dia untuk duduk satu kereta kuda dengan ku. Kami pun melanjutkan perjalanan menuju kota.


Setelah sejam perjalanan, kami tiba di Ibu kota, aku pun turun dari kereta kuda dan mulai mengajaknya jalan-jalan menunjukan keadaan sekitar.


Walaupun aku tidak terlalu tahu, di sini aku tuan rumahnya jadi tidak boleh bersikap bodoh, itu akan menjatuhkan harga diriku di depan pemimpin kekaisaran lain.


...💐💐💐💐...


Sedari tadi banyak mata memandang kearah kami, itu pasti karena lelaki yg ada di samping ku. Meskipun dia berpakaian begitu sederhana namun ketampanannya hampir setara dengan Dellion, atau mungkin sudah setara.


Dia mencolok karena memiliki warna mata yg langkah, seperti warna bunga lavender dan warna rambut abu-abu yg hampir mirip dengan Snow tapi rambut Snow lebih keputih dan mengkilap.


"Kenapa nona menatap saya seperti itu?"


Tersadar akan yg di katakannya aku berpaling melihat kearah yg berbeda, apa dia tidak merasa terbebani dengan tatapan orang-orang? Bukankah selama ini dia mengurung diri dari dunia luar, mungkin karena itu dia mengajak ku untuk berjalan-jalan


Saat selangkah kedepan, tiba-tiba aku terhenti sosok yg ku kenal sedang berdiri melihat sekitar.


Betapa bodohnya aku, hari ini kak Deondre yg berjaga mengawasi kota. Kenapa sampai lupa, di tambah aku memakai jubah yg cukup mencurigakan pasti nantinya akan di periksa.


'Penyamaran bajunya saja tidak cukup, aku harus segera pergi'


Deg.


Saat akan berbalik mata kami bertemu, reflek aku memegang tangan Kaisar Neacel dan menariknya masuk kedalam tokoh yg tidak aku tau tokoh apa.


'Ah! Kenapa harus lari! Aku yakin dia curiga!'


Begitu melihat sekeliling, ternyata aku menariknya masuk ke tempat penjualan rambut palsu.


'Begitu beruntungnya! Ini adalah bantuan dari Dewa!'


"Nona, kenapa kita kesini?" Tanya Neacel.


"Ada yg harus di lakukan, yaitu menyamar. Karena mungkin saja penjaga kota akan curiga aku yg jalan-jalan memakai jubah ini kan? Di tambah sore hari." Ucap ku.


...💐💐💐💐...


Begitu selesai dengan penyamaran rambut kami, aku bersama Neacel keluar dari dalam tokoh setelah membayar rambut palsu.


Jubah yg ku pakai tadi juga aku buang agar tidak ada yg curiga aku memegang beda itu. Namun setelah lepas dari semua, malahan banyak sekali yg melihat kearah kami dan bahkan mereka nampak begitu terkejut.


'Harusnya tidak semencolok ini, apa aku salah sudah memakai rambut palsu?!'


"Saya rasa rencana nona ini malah menarik perhatian"


Neacel tersenyum padaku dengan begitu kaku, Ya mungkin dia malu karena rambut palsu yg ku pilih dengan terburu-buru sebelum seorang yg ku kenal mungkin mengunjungi tokoh.


Aku memilih rambut palsu berwarna merah muda untuknya, sedangkan aku memilih rambut yg berwarna putih seperti rambut Snow.


'Sepertinya aku tahu kenapa mereka melihat kami'


Di kekaisaran Aegeus seseorang yg memiliki rambut berwarna putih serta merah muda adalah langkah dan jarang di dapati. Selain mendiang Ratu yg memiliki warna rambut silfer yg lainnya mungkin hanya seorang pendatang dan mungkin tidak ada sama sekali.


Harusnya aku pilih warna lain, tapi karena sudah cepat-cepat aku tidak berfikir panjang.


"Ibu! Coba lihat ada putri salju serta Pangeran permen kapas di sana!"


Reflek aku berhenti, dan menatap Neacel yg ada di samping ku. Wajahnya memerah saat ini, aku bahkan tertawa pelan mendengar perkataan anak itu, sepertinya dia sedang malu di panggil begitu.


"Harusnya saya tidak mengikuti saran nona, saya akan melepaskannya"


"Eh tidak, anda masih tampan dengan rambut itu jadi jangan di lepas. Dan juga anda tidak mau penyamaran ini ketahuan oleh mereka kan?"


Lirik ku pada penjaga yg sedang berkeliaran di kota termasuk Kakak ku yg ada di sana. Ku pikir tadi dia akan mengikuti masuk kedalam tokoh karena mata kami bertatapan sebelumnya, tapi nyatanya tidak.


Tiba-tiba segerombolan anak datang mendekat dan menarik gaun yg sedang ku pakai, melihat mereka seketika ada firasat buruk yg ku rasakan.


"Kakak beneran putri salju?! Tolong buat ini menjadi es krim!"


"Ia, aku juga mau!"


"Hei itu tidak penting cari dulu Michael dia tidak ada!"


"biarkan saja dia. Tunggu kakak permen kapas ubah ini menjadi permen."


Semua kini berkerumun meminta kami mengubah mainan yg mereka pegang menjadi makanan, sebenarnya anak-anak siapa ini.


"Anak-anak kakak--"


"Tolong!"


Ucapan ku terhenti ketika mendengar teriakan dari arah jam tiga.