
"Agnasia! Apa yg terjadi!"
Dellion Melihatnya khawatir di iringi beberapa orang yg masuk melihat keadaannya.
Kakek segera mendekat memeriksa keadaan Agnasia, dia tidak pernah melihat hal ini sebelumnya bahkan ini adalah yg pertama baginya.
"Apa? Kenapa dia seperti ini?"
"Aku juga tidak tahu, harusnya ramuan itu mensterilkan racunnya."
Tubuh Agnasia bergetar hebat nafasnya tidak beraturan, sampai tiba-tiba dia tidak bergerak sama sekali dan itu cukup membuat semua terdiam.
"Apa... kakak baik-baik saja?"
Ucap Aldara dengan gemetaran, semua terdiam sampai Dellion memanggil namanya dengan lembut.
Itu memberikan reaksi yg tidak terduga, perlahan-lahan Agnasia membuka matanya melihat sekeliling, semua kini tersenyum bahagia mendapati Agnasia baik-baik saja.
...💐💐💐💐...
Dua hari berlalu, kini Agnasia sudah bisa beraktivitas kembali tapi setelah saat dia bangun sifatnya Jadi sedikit berbeda, suka sekali diam sambil menatap kosong kearah ruangan yg hampa.
Padahal mereka tidak tahu, Agnasia sedang memikirkan jawaban dari teka-teki yg begitu aneh yg muncul dalam mimpinya.
Tok
Tok
Tok
Suara ketukan pintu menyadarkan Agnasia untuk kembali lagi, wanita itu berdiri lalu membuka pintu kamar. Di sana tiga orang wanita sedang berdiri melihat ke arahnya.
"Maafkan kami kakak!"
Ucap mereka bersamaan, itu cukup membuat Agnasia terkejut dia perlahan tersenyum dengan berucap tidak apa-apa untuk menenangkan mereka.
"Jika kakak mau menghukum kami, kami akan menerimanya"
Ucap Eliza dengan sungguh-sungguh, ku sentuh kepalanya lembut sambil mengeleng perlahan.
"Sudah, sekarang teman-teman ku ada di mana?"
"Mereka sedang berbicara bersama kakek."
Hal itu membuat ku bertanya-tanya, ku putus kan untuk menemui mereka terlebih dahulu agar rasa penasaran ku ini terbayarkan.
...💐💐💐💐...
Saat masuk kedalam ruangan, mereka memberikan ku tempat duduk. Aku langsung menanyakan apa yg mereka bicarakan sampai tidak memanggil ku.
Galen lalu memeluk ku erat, reaksi yg berlebihan ini membuat aku tidak nyaman.
"Kakek akan memberikan ramuannya!"
Ucapnya padaku, aku tersenyum bahagia ternyata semuanya tidak sia-sia.
"Ekhemm!!"
Suara Pangeran yg berdehem membuat Galen dengan cepat melepaskan pelukannya dari Agnasia.
"Tidak ku sangka kalian akan bahagia seperti ini, tapi aku hanya akan memberikan resepnya saja. Sisanya kalian cari setelah selesai aku akan membuatnya" jelas kakek sambil berdiri.
"Ini ku berikan, karena kalian sudah menyelamatkan cucuku"
ujar kakek sekali lagi lalu segera pergi.
"Sudah.. sekarang kita harus mencari bahan-bahannya"
Ucap pangeran dengan tegas, entah kenapa saat aku bangun pangeran sedikit sensitif sekarang.
"Terkadang aku merasa takut melihat Dellion"
bisik Galen padaku pelan.
"Ah ia, lelaki yg kau pungut itu ada di kamar! Aku ingin memberi tahu mu bahwa dia sudah sejak beberapa hari yg lalu, tapi karna kau kurang sehat jadi ku tunda."
'Lelaki itu? Ah benar! Aku harus Melihatnya'
Aku segera berdiri dan beranjak pergi dari sana, tapi suara pangeran yg menghentikan ku itu cukup menyeramkan.
"Apa dia orang yg spesial sampai kau menyelamatkan dia?"
Tanya pangeran padaku. Entah apa yg harus ku jawab agar dia tidak curiga tentang maksud ku ini.
"Soal itu.... emmm... karena dia tampan! Jadi Aku tidak tega melihat kondisi orang tampan saat itu... jadi aku menolongnya... sudah ya aku harus pergi"
Kataku dan dengan cepat pergi dari sana, aku bahkan tidak bisa menjelaskan ekspresi yg di tunjukan pangeran tadi.
"Tampan? Apa aku tidak tampan!"
Tanya pangeran pada Galen.
"Hahaha anda tampan, hanya saja... pandang wanita berbeda-beda kan?"
Mendengar hal itu pangeran menatap Galen dingin, dia lalu berdiri menyusul Agnasia keluar.
Ucap Galen bingung dia lalu menyusul pangeran yg sedang mengikut Agnasia.
...💐💐💐💐...
Krieeettt...
Agnasia membuka pintu sekaligus menutupnya kembali, pandangannya melihat pria dengan rambut silfer sedang duduk di pinggiran tempat tidur, saat dia melihat Agnasia yg masuk kedalam, lelaki itu sedikit menjauh darinya.
"Emmm... hai... aku Agnasia yg menyelamatkan mu..."
"......"
"Oh.. Kalau begitu, siapa namamu?"
"......."
"Ah... salam kenal"
"Masa bodoh!"
Mendengar jawabannya, Agnasia kini sudah tidak bisa menahan rasa jengkelnya, dia lalu mendekat kearah pria yg sedang berada di pinggiran tempat tidur dengan senyuman dinginnya.
"Jadi, apa yg kau lakukan di kediaman ku saat itu?"
Mendengar pertanyaan dari Agnasia dia sedikit membuang pandangannya kearah yg berbeda.
"Siapa? Aku tidak tahu!"
Karena batas kesabarannya sudah habis Agnasia segera memegang wajah pria itu agar dia menatap Agnasia.
Perlahan wajah pria itu sedikit memerah sekaligus marah karena sikap dari Agnasia, namun berbeda dengan wanita yg sedang menatapnya.
'Mata ini... aku pernah Melihatnya!'
"Tidak mungkin! Snow! Kau Snow kan?"
Teriak Agnasia kaget di iringi suara dobrakan pintu yg kasar dari arah berlawanan.
Brakkk!!
"Agnasia! Kau baik-baik saja!"
Teriak bersamaan Galen dan pangeran, mereka tertegun Melihat keadaan Agnasia bersama lelaki putih yg ada di depan mereka.
"Agnasia... kau..."
"Tidak! Ini bukan seperti yg kau bayangkan! Aku hanya bertanya apakah dia Snow kucingku! Karena warna mata dan rambutnya mirip!"
Jelas Agnasia yg tiada henti pada kedua orang yg masih curiga.
"Kalau benar memangnya kenapa?"
"Apa!! Jadi kau Snow! Bagaimana bisa kau berubah! Dan terlebih lagi bersama dengan perampok itu"
"Aku ini ingin membunuh mu!! Tapi sudah tidak berlaku... kau sudah menolong ku."
Mendengar ucapnya aku sedikit sulit mencerna semua, karena ini hal yg mustahil.
'Padahal aku hanya tebak saja karena dia begitu mirip kucing ku... ternyata benar.'
"Kau bodoh atau apa? Aku ini seorang penyihir! Jadi aku bisa berubah menjadi apapun!"
Sekarang penjelasan apa yg dia katakan, kepala ku sedikit sakit, tiba-tiba saja Galen mendekat kearah Snow dan menarik kerah pria itu.
"Akhirnya kau bicara! Siapa yg menyuruh mu membunuh Agnasia?!!"
Ucap Galen dingin, tapi Snow hanya menyunggingkan senyumannya itu.
"Untuk itu aku tidak bisa menjawabnya."
Ucapnya sambil mengeluarkan sihir dan akan menyerang Galen, tapi itu terhenti karena Agnasia menarik Galen menjauh.
Dia menunduk melihat Snow, sambil sedikit membuang nafas kasar.
"Itu tidak penting. sekarang, dia tidak akan membunuh ku."
"Bagaimana kau percaya itu!! Lalu kucing? Apa dia tidak berbohong?" Teriak Galen.
"Dia bersungguh-sungguh... tidak apa... jika dia mau membunuh ku pasti aku sudah mati saat ini sebelum kalian datang. Dan benar dia adalah kucing ku"
Jelas Agnasia, Galen sedikit berdecak kesal, aku lalu menatap pangeran Dellion.
"Bagaimana jika kita mencari bahan-bahan itu?"
Segera Pangeran mengangguk dan pergi keluar dalam diam, sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu.
...💐💐💐💐...
Kami harus pergi menuju Ibu kota untuk membeli beberapa bahan, yg tertulis di kertas. Aku pun bersiap-siap dan berpamitan ingin pergi mencari bahan-bahan tersebut pada bibi dan paman serta anak-anak lainnya.
"Oke... artinya kita harus naik kereta kuda..." ucapku sambil melihat ketiga lelaki di belakangku.
"Ughk! Kenapa dia harus ikut!" Tunjuk Galen pada Snow. Aku sedikit memegang kepala ku, kenapa Galen jadi sedikit sensitif juga?