
Setelah pembicaraan kami selesai, aku segera pergi mengecek soal hutan di bagian barat, di mana mansion lama yg ada di dalam mimpiku.
Banyak pertanyaan dalam benakku, Kenapa aku bisa bermimpi seperti itu, atau mungkin suara yg ada di dalam mimpi adalah Tears yg berbicara?
Agnasia memegang sebelah matanya, dia menyembunyikan Batu itu dalam mata kirinya beberapa hari ini dan jika di perlukan dia akan mengeluarkannya.
Dengan mengendap-endap Agnasia pergi ke arah hutan, dan begitu dia sampai di depan hutan angin yg cukup kencang mengeliti permukaan kulitnya.
Dia menyakinkan dirinya sebelum pergi, karena untuk pertama kalinya dia menginjakkan kaki ke tempat asing ini.
Begitu masuk, ternyata di dalam tidak begitu buruk mungkin karena banyak pohon-pohon yg unik jadi Agnasia bisa tenang, di tambah ada beberapa kupu-kupu yg berterbangan terlihat begitu indah dalam pandangan.
Sementara Agnasia terhanyut, dia mendengar dari samping ada sesuatu yg bergerak, dengan cepat Agnasia berpaling melihat kearah suara.
"Siapa itu?"
Teriak Agnasia dengan lancang, saat ini hanya dia sendirian saja jadi harus berhati-hati, perlahan Agnasia mendekat sambil mengambil kayu tua yg tergeletak di tanah.
Jika ada penjahat atau binatang buas dia akan memukulnya dengan kayu ini lalu pergi.
Langkahnya mendekat secara perlahan-lahan, pijakan demi pijakan Agnasia lalu sampai di depan semak itu.
Saat tangannya menyentuh permukaan semak-semak sesuatu melompat keluar dan jatuh kearah kakinya.
"Kyaa!!"
Dia terduduk sambil memegang punggungnya yg sakit karena terjatuh. Begitu melihat kedepan ternyata hanya seekor kelinci kecil saja.
"Astaga.. ku kira apa"
'Kau penakut ternyata'
Agnasia berteriak kembali begitu mendengar suara seseorang yg ternyata adalah Tears sendiri.
"Bisakah kau tidak mengejutkan ku?" Bentak Agnasia.
'Hahah maafkan aku, dan kenapa kau kesini?'
Sebelum menjawabnya Agnasia bangkit berdiri membersihkan gaunnya yg kotor terkena tanah dan melanjutkan perjalanan.
"Aku akan memeriksa ke dalam hutan ini sesuai mimpi ku beberapa waktu lalu"
Ucap Agnasia dia sedikit menunduk karena ada batang pohon yg menghalangi jalannya untuk kedepan. Begitu melewati itu, cahaya matahari memancar jatuh keatas wajah Agnasia yg membuat dia tidak terlalu melihat jelas sampai harus menutupinya dengan sebelah tangan.
Begitu pandangannya semakin jelas, langkah Agnasia terhenti, bangunan mansion yg tua nampak di depan mata, ternyata itu ada dan sudah sangat kotor.
Tumbuhan yg merambat seperti selimut menutupi beberapa bagian dari mansion, jendela kaca yg pudar karena debu yg banyak menempel menunjukan bahwa tidak ada orang yg datang membersihkannya.
Selain itu ada beberapa rerumputan yg menutupi jalan masuk.
"Ini seperti yg ada di mimpi ku"
'Apa kau hanya akan diam saja? Ayo masuk kedalam'
ucap Tears dengan penuh semangat.
Agnasia mengangguk kemudian mendekat dengan penuh hati-hati bisa saja ada ular di tempat dia berpijak sekarang.
...🌼🌼🌼🌼...
Carin duduk bersila dengan mata terpejam, dia memfokuskan pikiran kearah yg di tujuh, sampai muncul lingkaran sekaligus gumpalan kecil berwarna hitam.
Carin melihatnya sambil tersenyum sumringah.
'Ada apa master memanggil saya?'
"Kau pergilah selidiki Agnasia sedang apa sekarang"
'Baiklah master'
Gumpalan hitam itu menghilang seketika, Carin bangkit berdiri dengan wajah yg datar, dia ingin tahu apa yg di lakukan Agnasia saat dia mengatakan yg sebenarnya waktu itu.
Awalnya Carin juga tidak mengerti kenapa Ayahnya sangat membenci Agnasia dan ingin membunuhnya. Namun setelah mendengar penjelasan yg sebenarnya, dia begitu marah dan segera ingin menghancurkan Kekaisaran berserta orang-orang yg ada di dalamnya, lalu menguasai dunia.
"Kita lihat saja Dewa, aku akan menegakkan keadilan yg kau ambil sejak dahulu pada Nenek moyang ku"
Carin tertawa terbahak-bahak, dia akan melakukan apapun hanya untuk menghancurkan Kekaisaran Aegeus yg tidak tahu berterima kasih itu.
...🌼🌼🌼🌼...
Sebenarnya sudah berapa lama tempat ini di asingkan? Apa mungkin sejak kematian ibu?
Agnasia memeluk dirinya sendiri sambil berjalan mengelilingi ruangan, udara di sini cukup aneh.
"Apa kau merasakan keanehan di tempat ini Tears?" Tanya Agnasia.
'Benar, seperti sesuatu yg jahat masih menempel di tempat ini'
Di sudut ruangan terdengar suara beberapa tikus yg berlarian hingga mereka menabrak bingkai yg tergeletak di lantai dan jatuh, hingga beberapa pecahan kaca tersebar di lantai.
Agnasia mendekat dan mengambil bingkai foto itu, perlahan dia membersihkan debu yg menempel di permukaan foto.
"Ahk!"
Agnasia terkejut karena pecahan bening menusuk tangannya sampai berdarah.
'Kau tidak apa-apa?'
"Ia hanya tertusuk saja"
'Jangan terlalu ceroboh, pegang luka mu itu dengan tangan yg memiliki lambang'
"Eh, tapi aku belum belajar sampai di sana, Kau ingin aku menyembuhkan lukaku kan?"
'Sudah, percaya pada dirimu sendiri'
Agnasia melepaskan bingkai foto itu kemudian memegang tangannya yg terluka sambil menutup kedua matanya untuk fokus.
'Arahkan aliran mana mu ke permukaan tangan, ingat! Harus fokus'
Perkataan dari Tears ku ikuti, tiba-tiba ada sesuatu yg hangat menyelimuti permukaan telapak tangan ku begitu saja.
Luka yg perih tadi perlahan tidak terasa lagi.
Agnasia yg penasaran membuka kedua matanya, nampak cahaya hijau yg tenang seperti warna alam ada di permukaan tangannya.
Karena itu adalah hal yg pertama kali untuk Agnasia ada rasa terkejut dalam dirinya, membuat cahaya itu menghilang dan lenyap begitu saja.
'Apa yg kau lakukan!'
"Apa apanya? Aku begitu terkejut dengan hal ini"
Agnasia menatap jarinya tadi yg terluka dan sekarang itu sudah sembuh tanpa bekas sedikitpun.
Namun, pandangannya memudar di iringi rasa sakit di bagian kepala yg begitu mencabik-cabiknya.
"Apa yg terjadi?!"
Ucap Agnasia sambil memegang kepalanya.
'Itu karena kau memutuskan tiba-tiba mana yg kau alirkan'
"Apa maksud mu?"
'Kau harus bisa mengontrol emosi mu dan menutup aliran mana dengan tenang agar tidak terjadi efek samping seperti ini'
Sekarang Agnasia mengerti mungkin karena tadi dia terkejut, aliran mana jadi kacau dan putus begitu saja, kedepannya Agnasia akan berhati-hati soal yg di katakan Tears.
Dia mengatur nafasnya sampai rasa sakit berkurang serta pandangannya kembali normal.
'Lalu siapa orang yg ada di foto ini? Dia begitu cantik sama seperti mu'
Karena energi kekuatan yg keluar, debu yg menutupi foto menghilang dan menampilkan sosok wanita yg Anggun, matanya yg berwarna biru muda begitu cantik berpadu dengan warna rambut cokelat yg bergelombang.
Hanya dalam sekali lihat Agnasia tahu bahwa itu adalah ibunya, dia mengenalnya dari cerita para bangsawan dulu.
Agnasia begitu senang, dia mengeluarkan foto itu dari tempatnya mencium gambar ibunya dan menyimpannya dalam kantong baju.
"Aku akan membawa ini"
Dia akan menyimpan foto ibu dengan baik-baik, karena dia tidak pernah menemukan foto ibu di tempatnya, mungkin karena ayah yg begitu terpukul.
Berikutnya Agnasia melihat kearah atas, menatap tangga yg menuju lantai dua. Dia bangkit berdiri dan pergi kesana melanjutkan perjalanan.