The Destiny Of A Princess

The Destiny Of A Princess
{Season Dua} Bagian 99 - Sihir



Terdengar suara keras menghantam tanah, perkelahian besar berlangsung tanpa hentinya. Puluhan bahkan mungkin ratusan kesatria sudah habis di lahap oleh Roh kegelapan, mereka masuk kedalam tubuh manusia memakan jiwa serta ingatan dari manusia itu sendiri.


Teriakan semua orang serta tawa dari kaisar Nick tidak berhenti. Meskipun keturunan Dewa dapat mengimbangi kekuatan dari kedua musuh di hadapan mereka, tetapi jika dalam hal jumlah mereka kalah, karena Kian menit berkurang.


"Lihatlah! Pada akhirnya aku yg terkuat di sini! Hahahaha!"


Tawa Nick menggelegar, padahal dia belum menggunakan pedang kegelapan, tetapi sudah terlihat siapa yg memegang kendali di sini.


"Sial! Jangan senang dulu Nick!"


Teriak kaisar Theo, dengan cepat ia pergi menyerang Nick menggunakan pedang bercahaya yg sudah di baluri kekuatan anugerah.


Pukulan dasyat terdengar sampai tanah pun bergetar akibat serangan tersebut, debuh naik ke udara membumbung tinggi dan perlahan-lahan menghilang tertiup angin.


Sosok yg di serang tadi menghilang, kaisar Theo melirik ke sana-sini mencari keberadaan dari pria itu. Tiba-tiba seseorang muncul tanpa di duga-duga dari bawah tanah menyerang kaisar Theo sampai ia terhempas cukup jauh.


"Ayah!"


"Yang Mulia!"


Dellion dengan cekatan langsung berdiri di depan kaisar Theo yg terduduk, mengarahkan pedangnya kearah kaisar Nick sementara itu Carin di biarkannya.


"Ayah! Jangan mengambil jatah ku."


Teriak Carin dari ujung sana.


Kaisar Nick tertawa sembari meminta maaf. Carin pun dengan cepat menembakan sihir kearah Dellion. Saat sihir itu mulai mendekat, seketika ada serangan yg tidak terduga di tengah-tengah proses itu.


Belati kecil menghadang sihir carin, sampai lenyap secara bersamaan.


Dari jarak yg lumayan jauh, seseorang berlari mendekat kearah pertarungan dengan baju latihan nya, membuat orang-orang yg ada di sana terkejut dengan kedatangannya yg seperti hantu.


"Bagaimana bisa, ia Selamat!"


Carin dengan penuh amarah mengepalkan tangannya tidak terima, lain hal dengan teman-teman Agnasia berserta keluarganya yg begitu bersyukur mendapati wanita itu ternyata baik-baik saja.


"Agnasia! Kau selamat!" Teriak Galen yg terasa bahagia.


"Putri ku, dari mana saja kau." Tanya Duke ayah dari Agnasia.


"Aku baik-baik saja!" Balasnya.


Setelah perkataannya itu, tiba-tiba kaisar Nick dengan cepat berpindah tempat dan mengerakkan tangannya ingin memukul mundur Agnasia.


Tetapi itu tidak sempat, sebab Snow langsung menarik Agnasia menggunakan kekuatan teleportasi dengan cepat.


Kaisar Nick terhenti berbalik dengan ekspresi dingin, menatap dua orang yg membuatnya kesal setengah mati.


Begitu akan memulai serangannya lagi, Dellion mencegah itu dengan ayunan pedang kearah Nick.


Dia menatap tajam mata kaisar Nick dengan rahang yg mengeras.


"Berani kau menyentuh sehelai rambutnya saja. Ku pastikan kau tidak akan membuka mata mu itu."


Perkataannya begitu dingin, sampai membuat kaisar Nick pun merasa geli.


"Hahaha! Cinta? Kau begitu mencintainya, ya. Kejadian ini mengingatkan ku kembali pada Mariana, ahahah! Hanya karna perasaan yg tidak berdasar itu! ia membuang janji setia padaku!"


Pria itu terus saja tertawa tanpa henti, detik berikutnya, tangannya yg menutupi wajah tiba-tiba mengeras.


"Aku sudah muak dengan cinta yg kalian tunjukan! Sekarang matilah!"


Dia mengerakan tangannya keudarah menatap langit, seketika kilat dan petir datang menghancurkan daratan tempat mereka berpijak.


Untungnya semua terlindungi berkata kekuatan dari Duke Alddes.


Agnasia pun memberikan tanda pada Snow untuk membawa Neacel segera kesini. Tanpa hitungan detik pria itu berpindah tempat membawa Neacel bersamanya.


Itu membuat carin bersama Nick terkejut untuk kesekian kalinya, padahal mereka sudah hampir berhasil.


"Sialan kau Pitter! Pasti kau yg telah membantu mereka! Penghianat!" Teriak Carin marah.


Dengan siaga Dellion langsung menghadang di depan, karena mungkin Carin akan muncul tanpa sepengetahuan dia.


"Snow! Bawah Agnasia menjauh, jangan sampai dia terluka."


"Neacel, haruskah kita..."


"Jika mereka bisa menahan dua orang itu, kita bisa menutupnya." Ujar Neacel.


Agnasia lalu menatap Snow, pria itu langsung mengerti, dengan sihir telepati dari Snow, Agnasia langsung berbicara dalam pikiran Dellion tentang rencana mereka untuk menyegel pintu kegelapan.


Dellion pun mengangguk mengikuti rencana yg di atur oleh Agnasia.


Saat ketiganya bergerak kearah pintu yg terbuka lebar, seketika Carin langsung membelah dirinya menjadi dua dengan sihir, lalu menghadang mereka dengan cepat.


"Tikus-tikus ini, Harusnya kalian berada di selokan saja dan jangan mengganggu!"


Bayangan Carin langsung menyerang dengan sihir hitam, tetapi Snow sekali lagi melindungi kami.


"Lawanmu itu aku. Agnasia pergilah! aku akan menahannya"


Agnasia mengangguk cepat dan langsung pergi bersama dengan Neacel, sepanjang perjalanan banyak roh yg menyerang mereka, tetapi itu dapat di tepis menggunakan kekuatan dari Neacel yg masih menjadi misteri.


"Ini berbeda dengan sebelumnya Agnasia."


Ucap Neacel sembari terus berlari, menghajar para roh.


"Apa maksud mu?"


"Carin dan kaisar Nick, aku merasa ada yg mengganjal. Seperti ada selubung yg menutupi mereka."


Setelah tiba, Neacel berhenti menatap pintu di depannya, tatapannya seperti menerawang ke berbagai arah yg tak pasti, membuat Agnasia bahkan tidak bisa mengerti.


"Mungkin, Saat ini yg mereka lawan bukan tubuh asli dari Carin dan kaisar Nick."


Mendengar itu Agnasia terkejut.


"Maksud mu tubuh mereka sekarang hanya buatan? Lalu yg asli ada di mana?" Tanya Agnasia.


"Iya, untuk pertanyaan mu itu aku tidak tahu."


Gumam Neacel sembari berfikir. Dia juga tidak lepas dari membunuh para roh yg menyerang mereka.


'Jika benar mereka bukan yg asli...'


Agnasia kemudian melirik kearah Snow lalu berpindah pada Dellion, dan terakhir pada kaisar. Meskipun mereka sudah melukai dua penjahat itu, tetapi tubuh Carin dan kaisar Nick baik-baik saja dan tidak kenapa-napa. Sementara lainnya sudah mulai lelah.


Padahal Agnasia serta Neacel sudah dekat dengan pintu kegelapan, tapi dua orang itu tidak khawatir, dan hanya fokus bertarung? Bukankah aneh, seharusnya ini menjadi ancaman besar, karena rencana utama mereka akan di segel.


'Gawat! ini hanya untuk mengecoh kita semua!' Pikir Agnasia.


"Itu bisa kita cari lagi lain kali, lebih baik kita segel saja pintu ini" Ujar Neacel.


Pria itu pun duduk, mulai menggambarkan sesuatu di atas tanah yg adalah ritual untuk menyegel pintu kegelapan. Sementara Agnasia terus saja berfikir tanpa henti.


Detik berikutnya Agnasia paham sekarang. Ia langsung menghalangi proses itu segera, sebelum Neacel membuang tenaganya percuma.


"Berhenti! Aku tahu!" Cegahnya.


"Apa maksud mu, kita harus segera menyegel ini" bentak Neacel.


"Tidak, ini pintu palsu yg mereka buat!" Bentak balik Agnasia.


Wanita itu pun menjelaskan maksudnya, selubung yg di rasakan Neacel itu adalah sihir untuk mencega penglihatannya soal pintu palsu. Ini seperti jebakan untuk membuat dirinya serta Agnasia lemah dan hanya buang-buang tenaga menyegel pintu kegelapan palsu.


"Bukankah saat ingin menyegel pintu kegelapan membutuhkan tenaga yg besar? Dan, Mana mungkin mereka membiarkan pintu ini di segel? Jawabnya sudah pasti, Kaisar Nick dan Carin berbuat seperti ini supaya kita semua lelah, jika tujuan mereka tercapai barulah yg asli muncul" jelas Agnasia.


"Lalu, pintu kegelapan yg sebenarnya sekarang di mana?"


"Aku rasa masih ada di dalam tanah, mana mungkinkan juga pintunya terbuka lebar dengan cepat, bukankah jika ingin membuka pintu kegelapan seutuhnya membutuhkan kekuatan sihir gelap yg besar."


Ujarnya sambil melirik penuh arti pada Neacel.


"Kau menyuruhku menebak di mana persembunyian mereka?" Pria itu tertawa garing.


"Tidak aku sudah mengira-ngira di mana tempat persembunyian mereka. Kau tahu pelajaran yg kau berikan padaku, tentang menghancurkan penghalang sihir?"


Neacel mengangguk. Agnasia kemudian tersenyum, dia lalu menarik Neacel menuju reruntuhan kekaisaran.