
Sekarang Merry bisa beraktivitas kembali seperti semula, tapi itu tetap saja masih membuat ku khawatir.
Padahal aku sudah menyuruhnya untuk cuti sementara tapi dia menolaknya dan hanya terus saja bersama ku sambil mengerjakan semua yg ku perlukan.
Aku berdiri lalu memegang bahu Merry dan menatapnya, rasa bersalah itu muncul lagi.
'Hampir saja aku membunuhnya lagi.'
"Maaf, maafkan aku Merry." Dengan cepat Merry menutup mulut ku dengan tangannya dan mengeleng pelan.
"Nona, tidak pantas seorang Putri Alddes meminta maaf pada pelayan" Merry dengan tatapan seriusnya membuat ku sedikit tersenyum dan melepaskan tangannya dari mulut ku.
"Kau sudah seperti saudari untuk ku."
"Tapi jangan meminta maaf terus menerus Nona, aku tidak nyaman." Aku mengangguk padanya dan mengajaknya untuk duduk.
"Kenapa Nona khawatir seperti ini?"
Agnasia hanya bisa menunduk tidak bisa berkata apa-apa. Dia harus terus berusaha agar hal yg buruk tidak terjadi lagi kedepannya.
Cukup hanya sekali itu saja Merry mati karenanya, jika itu terjadi lagi entah apa yg bisa dia lakukan.
Dari arah jendela kamar Snow masuk dan duduk di pangkuan Agnasia, mereka berdua cukup terkejut melihatnya.
"Nona, apa Snow juga terluka saat itu?" Tanya Merry padaku, aku menggeleng dan memperhatikan Snow.
Saat itu dia baik-baik saja bahkan tidak ada luka atau kakinya yg pincang.
"Untuk ukuran seekor kucing dia benar-benar kuat ya, seharusnya saat itu dia juga terluka bukan?" Merry terus saja berbicara membuat ku berfikir keras tentang perkataannya.
'Benar, harusnya kucing ini terluka karena posisinya sama dengan Merry saat itu.'
Ku angkat kucing ku dan menatapnya, mata abu-abu dan hijau ini, bulu yg halus dan sangat putih.
"Siapa kau?" Ujarku membuat Merry terdiam.
Di detik berikutnya aku tertawa sambil memeluk erat Snow. Mana mungkin kucing ini seseorang yg menyamar kan?
"Nona, membuat ku terkejut saja." Ujar Merry sambil mengeleng dan tersenyum
...💐Kekaisaran Aegeus💐...
Kaisar mendapatkan 2 surat dari kekaisaran Beryl dan Ango, dalam surat itu mengatakan bahwa mereka sedang menuju kekaisaran Aegeus dan ada sesuatu yg penting ingin dia katakan.
"Kenapa tiba-tiba Kaisar Louis dan Kaisar Nick ingin bertemu?" Ucap Galen sambil melihat kembali surat yg sampai itu.
"Sepertinya perkataan dari Agnasia benar" mendengar perkataan Kaisar, Galen mengangguk.
"Saya akan mempersiapkan bukti-buktinya bersama dengan Tuan count sekarang."
Galen memberi salam dan pergi mempersiapkan semuanya. Kaisar lalu bangkit berdiri membuka laci mejanya dan mengeluarkan kalung dengan lambang kekaisaran Beryl yg dia simpan sebagai bukti.
...💐💐💐💐...
Dalam ruangan Pangeran sedang mengurus beberapa surat yg di berikan kaisar padanya, ada beberapa daerah yg belum juga dia kunjungi, termasuk undangan dari keluarga Baron karena putri semata sayangnya yg berulang tahun.
"Baron yg tamak itu? Cih kenapa Ayah selalu menyerahkan tugas yg membosankan ini padaku? Terlebih lagi, Aku juga harus pergi sendiri kesana." Pangeran Dellion lalu terhenti dan menatap cincinnya.
"Benar juga, bagaimana jika aku meminta Agnasia menemani ku? Ah, tapi jika dia tidak mau bagaimana?...... coba saja dulu."
Kertas dan tintah sudah dia sediakan untuk menulis. Dellion lalu menulis surat untuk Agnasia,
Sampai beberapa saat berlalu, dia menatap surat yg masih kosong itu.
"Ahk! Kenapa menulis surat saja aku tidak bisa?! Dellion hanya surat untuk menemani mu pergi keacara ulang tahun anak Baron saja."
'Ayo Dellion kau pasti bisa, santai dan tidak menekannya.'
Tik... tik.. tik..
"Akhirnya selesai, sekarang tinggal memberikan ini pada putri Agnasia." Sebelum Dellion membuka suaranya pengawal menyebutkan nama Galen yg datang berkunjung, Pangeran lalu mempersilakan Galen masuk kedalam.
"Ah baiklah, persiapkan saja semuanya dan berikan berkas itu pada ku." Pangeran lalu berdiri mengambil berkas yg ada pada Galen.
Tapi pangeran tidak bisa memegangnya dengan benar dan surat itu jatuh berserasakan di lantai termasuk surat undangan yg dia pengang tadi.
"Maafkan saya Pangeran, akan saya kumpulkan." Ucap Galen sambil memunguti surat yg berserakan itu. Setelah selesai dia memberikannya pada pangeran dengan hati-hati.
"Kalau begitu saya undur diri dulu Pangeran" ucap Galen. Saat akan berbalik pergi, dia melihat satu surat yg terselip di samping meja, Galen lalu menunduk dan mengambil surat itu.
Dia terhenti karena sedikit membaca surat yg di pegangnya. Perlahan Galen berdiri sambil melihat Pangeran.
"Maaf saya lancang pangeran, apakah anda membuat surat ini untuk musuh anda?" Tanya Galen sambil memberikan surat itu pada Pangeran.
"Apa yg kau katakan? Ini untuk Agnasia, aku mengundangnya untuk pergi bersama di ulang tahun anak Baron" jelas Pangeran, dan itu membuat Galen mengelengkan kepalanya.
"Pangeran itu bukan surat undangan tapi pemaksaan, jika Agnasia membaca itu dia pasti tidak mau pergi bersama."
"Memangnya ada apa dengan surat ku?"
"Kau datanglah bersama ku ke ulang tahun putri Baron dan tidak ada penolakan." Ujar Galen seperti yg tertulis di surat yg pangeran buat.
"Apa yg salah? Itu sudah benar."
Jawab Pangeran dingin.
"Harusnya untuk memberi surat kepada perempuan itu, lebih romantis dan lembut. Tanyakan kabarnya, berbincang sedikit lalu katakan maksud Pangeran." Jelas Galen.
"Apa?! Kau tahu aku tidak bisa, bahkan menulis surat ini saja butuh waktu hampir satu jam." Penjelasan Pangeran membuat Galen sedikit tertawa.
"Biarkan saja saja yg membuatnya Bagaimana?" Sedikit Dellion berfikir dan mengangguk perlahan setelahnya.
...💐Kediaman Alddes💐...
Menjelang sore, Agnasia sudah berlatih pedang. Dia menebas semua jerami dengan sempurna, setelah cukup lama dia duduk beristirahat di bawah pohon.
Dari jauh Merry datang membawa handuk kecil beserta surat di tangannya, ada juga botol minum.
"Nona ini, pasti anda sangat lelah" Merry memberikan handuk bersama dengan botol minum pada Agnasia, setelah meminumnya dan membersihkan keringatnya Merry lalu memberikan surat yg ada di tangannya pada Agnasia.
"Siapa yg memberikannya?" Tanya Agnasia sebelum mengambilnya.
"Ini dari Pangeran" jawab Merry
"Bacakan untukku." Ujar Agnasia, terlihat Merry ragu-ragu untuk membaca surat dari Pangeran kepada Agnasia, karena ini adalah hal yg tidak sopan.
"Bacakan saja, kau tidak perlu takut." Ucap sekali lagi Agnasia sambil meminum airnya.
"Halo, apa kabarmu putri? Aku harap putri baik-baik saja, kerena putri sudah jarang kemari aku sedikit merindukan mu." Merry terhenti seketika karena Agnasia tersedak dengan air yg dia minum.
"Uhuk! Uhuk!" Merry dengan cepat mengusap punggung Agnasia perlahan-lahan sampai Agnasia bernafas legah
"Apa-apa itu? Jangan-jangan pangeran sedang mengigau saat sedang menulis surat" ucap Agnasia, dia lalu menyuruh Merry untuk lanjut membaca surat itu.
Tapi dia tampak ragu lagi, terpaksa Agnasia yg mengambil ahli surat itu dan membacanya
"Di sini sangat sepi saat putri tidak datang, entah kenapa ada rasa yg hampa....aku merindukan senyuman manis mu itu... "
Merry sedikit menahan tawanya melihat wajah Agnasia yg berubah menjadi seorang yg bingung.
'Sepertinya aku tahu tulisan tangan ini'
Selanjutnya setelah selesai membaca surat itu ekspresi Agnasia sangat tidak nyaman.
"Harusnya mengundang ku saja tidak perlu memakai kata yg seperti ini, bahkan makan yg ku makan tadi pagi seperti akan keluar."
Agnasia mengeleng lalu melanjutkan latihannya. Dari arah berlawanan seseorang terus menatap wanita itu.
"Dia wanita yg aneh, ku pikir dia mengetahui penyamaran ku ini." Ucap Pitter sambil kembali mengunakan kekuatannya dan berubah menjadi seekor kucing.