The Destiny Of A Princess

The Destiny Of A Princess
Bagian 24



Dalam perpustakaan, Agnasia tertidur tenang sehabis membaca beberapa buku. Di tambah angin yg masuk melalui jendela, itu sangat membuatnya nyaman.


Sampai seseorang masuk kedalam ruangan dan mendapati Agnasia yg tertidur. Dia mendekat dan duduk di samping Agnasia.


Dia menyingkirkan rambut yg menutupi wajah Agnasia, dan dengan lembut dia menatap wanita di depannya.


"Wanita dingin ini ternyata bisa menunjukkan ekspresi manis sekarang." Deondre sedikit tersenyum dan menyentuh pelan wajah adiknya.


"Aku terkejut saat melihat mu yg berubah, sebenarnya apa yg kamu pikirkan sampai seperti ini?"


Deondre sedikit tersenyum pahit kemudian dia melihat Agnasia yg mulai membuka matanya perlahan-lahan.


'Eh, Kak Deondre?'


Agnasia bingung melihat lelaki di depannya, dia menyentuh wajah Deondre dan terkejut.


"Astaga! Salam Tuan Duke muda." Dia berdiri dengan cepat dengan keadaan rambutnya yg berantakan.


'Ternyata bukan mimpi!'


Terdengar kekehan dari Deondre, dia ternyata tertawa melihat wajah Agnasia yg terkejut.


"Kamu kira ini mimpi ya?" Ucap Deondre, dia lalu bangkit berdiri mengatur rambut Agnasia.


"Maafkan saya Tuan Duke muda, saya sungguh tidak--" Deondre mengangkat tangannya memberhentikan perkataan adiknya.


"Kamu bisa berbicara dengan santai, sudah ku katakan bukan?" Tatapan Deondre sungguh dalam melihat Agnasia.


"Jika kamu bersikap seperti itu, aku selalu teringat akan kesalahan ku." Ucap Deondre.


"Maaf--"


"Jangan katakan itu Agnasia, kumohon."


Aku terdiam dan mengangguk perlahan pada Deondre, lelaki itu lalu tersenyum hangat padaku. Tapi, melihat senyumannya itu membuat hatiku terasa sakit, selalu saja kenangan itu tidak hilang dari dalam pikiran ku.


"Apa yg kamu pikirkan?" Aku terbangun dari lamunan sementara dan mengeleng sambil sedikit tersenyum.


"Apa kamu menyembunyikan sesuatu padaku dan ayah?" Tanya Deondre tiba-tiba sambil memegang kedua pundakku.


"Tidak, kenapa Kakak bertanya seperti itu?" Aku tersenyum menyakinkan dia. Deondre sedikit membuang nafas kasarnya dan menatap ku.


"Karena, kamu sedikit berbeda, tawa ceria yg selalu ada padamu sekarang menghilang, hanya ada senyuman kehampaan."


Aku terkejut mendengar perkataan dari Deondre, dan sedikit menelan Silva ku karena gugup.


"Bukan apa-apa, jangan mengkhawatirkan hal yg tidak perlu" ku pegang tangannya dan tersenyum.


"Katakan padaku jika ada hal yg menganggu mu ya?" Deondre menepuk pelan kepalaku dan mencium puncuk kepalaku cukup lama.


'Dia... apa... ini... a-ku..'


Karena ini adalah hal yg pertama bagi Agnasia, keadaan tubuhnya menjadi kaku.


Deondre lalu berpamitan pergi, sebelum dia menjauh aku melihat sesuatu yg menurut mataku itu sangat menarik, sampai ku tahan lagi tangan Deondre.


"Kakak? Itu apa?" Tunjuk ku ke arah punggung tangan Deondre, karena baru kali ini aku melihat bentuk unik itu di tangannya.


"Kamu tidak tahu ini?"


Aku mengangguk sambil menatap terus tanda yg ada di tangannya.


"Ah, karena kamu baru melihat ku melepaskan sarung tangan, mungkin karena itu kamu tidak tahu kan?"


Deondre lalu mengangkat tangannya menunjukannya pada Agnasia lebih dekat.


"Kamu sudah tahu anugerah yg di berikan Dewa kan? Ini adalah tandanya, dan ini adalah batu anugerah pelindung yg ku ubah menjadi cincin, untuk melindungi Kekaisaran" jelas Deondre padaku, aku sungguh takjub melihatnya.


"Setiap keturunan Alddes, menerima anugerah pelindung jadi aku bersama dengan ayah memilikinya bahkan batu kami sama."


"Lalu, bagaimana dengan keturunan Kaisar?" Tanyaku pada Deondre.


Tanda anugerah mereka terletak di telapak tangan. Untuk batu kekuatan mereka kata Deondre dia tidak tahu, Pangeran dan Kaisar mengubahnya menjadi bentuk apa.


Aku mengangguk, di buku sejarah hanya menceritakan kekuatan yg mereka dapatkan serta para keturunan saja, untuk tanda anugerah serta batu kekuatan tidak di catat, ternyata masih banyak yg tersembunyi rupanya.


"Sudah kan? Kalau begitu aku pergi dulu" Deondre berbalik dan pergi menjauh. Ku tatap tanganku, yg tidak memiliki tanda itu.


"Andai saja aku juga memilikinya, pasti aku bisa melindungi ibu." Kataku, yg ku tahu juga jika memiliki anugerah itu, anak Alddes yg baru lahir pun sudah terlindungi.


Aku membuang nafas kasar, berbalik merapikan buku-buku yg berantakan di atas meja baca, setelah selesai aku beranjak pergi dari dalam ruangan baca.


...💐Kekaisaran Ango💐...


Kaisar Nick tertawa jahat mendengar berita bahwa Kekaisaran Beryl sudah memutuskan menemui Kaisar Theo.


"Sekarang, tinggal kita saja yg akan membuat sedikit drama dan PUM! Kekaisaran yg di berkati itu akan hancur hahahahahaha!!!" Tawa Kaisar.


Tapi sedari tadi Marques Cleon hanya diam, dia takut mengenai hal yg sudah dia sembunyikan beberapa hari ini.


Sampai pesan sihir tiba di atas meja Kaisar, itu adalah pesan dari mata-mata Kaisar Nick yaitu Pitter. Saat membaca pesan itu, wajah Kaisar berubah


"Cleon?! Apa ini ? Sihir gelap itu tidak bekerja saat Agnasia pulang kekediamannya?!!"


Tuan Cleon menunduk meminta pengampunan pada Kaisar karena aura hitam yg keluar dari tubuh Kaisar akan segera membunuhnya, hanya dalam satu gerakan tangan saja.


"Saya tidak tahu Yang mulia Kaisar, sihir itu tiba-tiba lenyap" jelas Marques Cleon dengan gemetaran di sekujur tubuhnya.


"Kenapa kau tidak katakan itu dari awal ha!!"


Teriak Kaisar sambil mengebrak meja kerjanya, yg membuat Marques Cleon lebih takut.


"Karena kelalaian mu ini, mungkin saja aku bisa di bunuh olehnya. Kita harus membuat rencana baru." Ucap Kaisar Nick, dia melirik Marques Cleon yg tertunduk. Dengan cepat dia mengeluarkan pedang dan memotong jari telunjuk pria tua itu.


"Ahkkk!!!"


Kaisar Nick tersenyum mendengar jerita kesakitan itu, dia lalu menunduk dan berbisik di telinga Tuan Cleon.


"Itu hanya jarimu, berikutnya jika gagal kepala mu yg akan ku pisahkan dari tubuh mu!"


...💐Kekaisaran Sebasta💐...


Kaisar Neacel sedang duduk membaca buku ditaman kekaisaran dengan tenang, tapi sesuatu datang mengusik pikirannya itu.


Dia terus saja mengingat tentang perempuan Duke itu, sampai sebuah senyuman terukir di wajahnya.


"Kenapa wanita itu terus saja muncul dalam pikiran ku?"


Kaisar meletakan bukunya keatas meja dan sedikit menegukan tehnya.


"Apa Yang Mulia memikirkan sesuatu?" Pertanyaan dari Arthur membuat Neacel mengangguk.


"Tentang wanita itu?" Ucap lagi Arthur yg kedua kalinya, dan itu benar adanya.


"Saat di perpustakaan negara ada seseorang meletakan sihir jahat padanya."


"Lalu, Yang Mulia membiarkannya kan?"


"Tidak, aku menyingkirkannya."


"Tumben sekali anda membantu orang asing sepertinya. Apa karena dia unik, atau penglihatan anda melihat sesuatu padanya?" Tanya Arthur, Neacel sedikit membuang nafas kasarnya dan menatap pengawalnya itu.


"Beberapa jenis orang yg ku temui ada berbagai macam aura yg keluar. Amarah, sedih, senang itu bercampur dalam tubuh mereka." Neacel terhenti dia lalu berdiri dan pergi. Arthur buru-buru mengikutinya dan bertanya.


"Apa selanjutnya? Katakan saja Yang Mulia"


Kaisar terhenti dan berbalik menatap serius kearah Arthur.


"Wanita yg bernama Agnasia itu, aura yg di miliknya yg terlihat hanya penyesalan yg sangat banyak serta sesuatu yg tidak bisa ku ketahui." Jawab Kaisar dia lalu sedikit tersenyum dan masuk kedalam kerajaan.