
Waktu bergulir seperti air sungai, tidak terasa aku yg tengah menunggu tertidur begitu pulas di ruangan kakek, sampai di bangunkan oleh Galen karena ramuan yg di buat sudah selesai.
Aku sedikit mengerjabkan mata berkali-kali, sambil melihat kearah Galen. Dia sekarang memegang botol kecil berwarna biru dengan senang.
Sebelum aku berkomentar, kakek tiba-tiba membuka suaranya sembari datang mendekat kearah kami berempat.
"Sekarang, jawablah dengan jujur. Apakah kalian seorang bangsawan?"
Seketika kami terdiam, melirik satu sama lain. Haruskah kami mengatakan yg sebenarnya? Bagaimana jika kakek malah lebih marah karena kejujuran kami.
"Ia kami adalah bangsawan"
Ucap Pangeran Dellion dengan lantang, kami berdua menatapnya terkejut. Apa yg sedang di rencanakan Dellion, sekarang habislah sudah pasti kakek akan marah besar.
Namun itu ternyata hanya pikiran semata, sedikit senyuman yg kakek tunjukan sambil mengangguk perlahan.
"Begitu, aku pikir kalian akan bohong kembali."
"Tunggu! Jadi kakek tahu kami yg sebenarnya?!"
Ucapku tiba-tiba dengan nada yg terburu-buru.
"Sejak awal aku sudah mengetahui kalian adalah seorang bangsawan."
Kakek pun mulai menjelaskan semua, sebenarnya saat melihat kami pertama kali di ruang tamu, kakek sudah bisa menebak dari cara berjalan dan cara bicara bangsawan. Jika kami seorang pengelana pasti caranya akan sedikit berbeda, apalagi soal nada dan bahasa negara ini.
Kami sedikit menunduk ternyata itu sudah di ketahui oleh kakek.
"Beruntungnya kalian berkata jujur kali ini, jika tidak pasti aku tidak akan memberikan ramuan itu."
Ujar kakek, kami pun meminta maaf dan menjelaskan maksud dari semua hal yg kami lakukan. Kakek mendengarkan dengan saksama semua cerita yg kami katakan, dia sedikit mengerutkan alisnya menatap kami.
"Dari penjelasan kalian, pasti seorang yg membuat ramuan itu sangat hebat. Apakah orang itu sudah di temukan?"
"Belum, tapi kami mencurigai seseorang..." jawab Galen atas pertanyaan yg di lontarkan kakek.
"Siapa itu kalau boleh tahu?"
"Kaisar selatan..."
Mendengar itu, seorang dari antaranya menatap Dellion dengan tajam. Karena memang benar kecurigaan mereka, tapi untuk Pitter dia masih sulit meninggalkan tuannya yg telah merawatnya sejak kecil.
"Kaisar selatan... hmm bukannya di sana memiliki dua kubu? Kaisar yg mana yg kalian maksud?"
"Kaisar Nick..."
"Oh Kaisar yg begitu misterius itu... tapi menurut rumor yg ku dengar, dia suka sekali membatu anak yatim piatu dan warga sekitarnya"
Sedikit terdiam kami tidak percaya dengan rumor itu, tapi yg paling penting adalah kami harus mendengarkan cerita kakek.
"Begitukah? Aku pikir dia seorang yg tidak tahu sopan santun" ujar Galen.
"Jaga bicara mu!!"
Bentak Snow tiba-tiba. Dia segera berbalik dan pergi dari dalam ruangan. Kami semua terdiam sambil melihat satu sama lain
Ada apa dengannya? Kenapa dia begitu emosian, padahal itu hanyalah sebuah pembicaraan yg mungkin memang benar.
"Jangan-jangan dia dari kekaisaran Ango..."
Ucap kakek. Kami pun sedikit berfikir mungkin saja itu benar, nanti jika ada waktu aku akan menanyakannya.
"Tapi apakah kalian tahu tentang Kaisar berikutnya? Yg ku dengar dia memiliki kemampuan mata suci yg di berkati... bisa melihat hal yg tidak bisa di lihat manusia normal." Jelas kakek.
"Ah maksud kakek Kaisar muda yg naik tahta beberapa tahun lalu karena keluarganya meninggal dengan tragis?"
Mendengar perkataan Galen aku sedikit merasa kasian dengan Kaisar itu, andaikan aku bisa bertemu dengannya pasti banyak yg akan ku bicarakan.
Seketika aku teringat soal kehidupan ku dulu, memang kisah ini sekali ku dengar saat aku berusia delapan belas tahun, karena mendengar pembicaraan para pelayan. Saat itu, kekaisaran kami ikut membantu juga, Tapi tidak ku sangka keluarganya berkorban sebesar itu untuk melindungi tanah kekaisaran yg lainnya.
"Sejak saat itu kami banyak berhutang budi pada keluarganya, kami sangat menghormati beliau... namun karena sedikit guncangan mental dia jadi tertutup" Jelas Galen.
Aku menunduk ternyata ada seorang yg lebih menderita di luar sana. Setelah perbincangan itu kami melanjutkan pembahasan lainnya setelah selesai, kami pamit untuk beristirahat karena besoknya kami akan segera kembali ke kekaisaran.
...💐💐💐💐...
Pagi pun menyingsing, kami sudah selesai berkemas. Dan sekarang sedang berpamitan, ketiga wanita yg awalnya marah dan tidak menyukaiku, menahan ku untuk tidak pergi.
"Sudah... kalian kakak-kakak akan segera pergi karena ada urusan.."
Ucap bibi sembari menyentuh kepala putrinya.
"Terima kasih sudah memberi tumpangan kepada kami... kami akan segera pergi"
Ucapku sembari memberi salam hormat, bibi seketika menarik ku dan memeluk ku erat.
"Jika ada waktu mampir lah kesini..."
Aku mengangguk sembari membalas pelukan bibi ternyata begini rasanya pelukan seorang ibu... begitu hangat dan menenangkan.
...💐💐💐💐...
Kami pun pergi dari sana, dalam perjalanan tak henti-hentinya Galen tersenyum, dia begitu senang karena misi kali ini selesai.
"Aku sudah mengirimkan surat kepada Kaisar soal ini..." ucap pangeran.
"Ah begitu... lalu yg saya dengar soal acara suci di hutan Theos akan di adakan benar kan Yang Mulia?" Tanya Galen.
"Benar, tepat saat kita sampai di sana."
Aku hanya diam mendengar pembicaraan mereka, memang acara itu sering di lakukan enam bulan sekali untuk memperingati kebaikan Dewa yg sudah memelihara kekaisaran Aegeus dengan berkatnya.
Saat itu aku tidak ikut, karena demam tinggi di acara suci itu... padahal aku sangat penasaran tentang hutan Theos, Apalagi Buku yg menceritakan tentang keajaiban hutan Theos yg bisa mengabulkan permohonan orang yg di pilih Dewa langsung.
"Oh ia.. Agnasia, apa kau yakin akan membawanya ke kediaman mu?"
Tunjuk Galen pada Snow yg berada di depan kami.
"Ia...Melihatnya sepertinya dia tidak memiliki rumah..."
"Tapi, dia cukup mencurigakan. Kau ingat soal semalam dia marah besar kita menceritakan soal Kaisar Nick?"
Ujar pangeran, membuat ku sedikit memikirkan soal itu lagi.
"Akan saya pikirkan itu Yang Mulia..."
Setelah itu kami semua diam dalam perjalanan, sampai kereta kuda terlihat beserta para penjaga yg di tugaskan. Aku kembali berfikir kenapa saat menyelamatkan Eliza tidak meminta bantuan mereka? Ah mungkin saja karena kami saat itu sedang menyamar.
Tapikan pada akhirnya semua ketahuan, pasti Eliza sudah menceritakan soal kekuatan Dellion dan Galen saat bertarung dengan para perampok itu.
Nyutt...
Sakit di pergelangan tangan ku muncul kembali lagi, hal yg sama ku lakukan untuk menghilangkan sakitnya yaitu memijatnya lagi.
"Kau kenapa Agnasia?"
Tanya Galen sambil melirik ku.
"Ah bukan apa-apa..."
Kataku sembari naik keatas kereta kuda. Mereka pun masuk kedalam bersama, tapi berbeda dengan Snow. Dia malah duduk bersama dengan kusir di depan.
Kami pun melanjutkan perjalanan untuk kembali ke kekaisaran.