
Setelah selesai mengambarkan Dena tempat yg akan di tujuh Agnasia, dia memberikan itu pada kusir kereta kuda dan memerintahkannya untuk mengantar mereka kesana.
'Ini hanya mengandalkan ingatan lama saja, ku harap benar'
"Nona sebenarnya kita mau kemana?" Tanya Merry.
"Kau lihat saja nanti"
Dengan tenang Agnasia duduk dalam kereta kuda, banyak yg dia pikirkan.
Jalan di depannya masih berkabut walaupun dia sudah membawa cahaya untuk menerangi jalan, jika salah langkah saja mungkin dia akan terantuk batu atau tergelincir ke jurang.
'Sebenarnya ada hubungan apa Carin dengan ku'
...🌼🌼🌼🌼...
Beberapa saat berlalu, kereta kuda berhenti pertanda mereka sudah tiba di tempat tersebut.
Agnasia turun melihat rumah kecil yg ada di depannya sambil memeluk buku di depan dada.
Tempatnya masih sama, artinya dia benar. Yang mereka datangi sekarang adalah toko sihir tersembunyi, Ini di temukan tepat saat Agnasia tersesat saat dia jalan-jalan di kehidupan lamanya.
Sebelum di tutup karena bangkrut, dia harus segera masuk.
"Nona... te-tempat ini menakutkan" ujarnya.
"Tenang, jika kau takut tinggal saja di luar"
"Aku akan tetap ikut!"
Agnasia mengangkat kedua bahunya berucap terserah pada Merry lalu masuk kedalam.
Ruangan yg tidak memiliki cahaya begitu masuk, sudah dia tebak. Jika dulu dia takut setengah mati tapi sekarang tidak.
Penjaga tokoh pun keluar dengan tongkat di tangan kirinya, benar orang ini yg di cari Agnasia.
"Ada keperluan apa nona terpandang sampai kesini?" Tanyanya sambil tersenyum.
"Tuan bisakah anda mengatakan bagaimana agar saya bisa melihat tulisan di buku ini?"
Tanpa berlama-lama Agnasia langsung keinti pembicaraan sambil memberikan buku tersebut pada pria tua di depannya.
Pria itu nampak melihat keseluruhan buku itu, kemudian dia tertawa.
"Nona, ini buku dongeng. Ada tidak bisa lihat tulisan serta gambar yg ada?" Ucapnya.
"Apa?! Itu buku usang yg kosong bagaimana bisa Anda menyebutnya buku dongeng?" Kataku dengan serius.
Pria itu sekali lagi melihatnya dan mengatakan hal yg sama, yaitu buku tersebut hanya buku dongeng.
"Apa!!"
"Tenanglah nona, kata tuan itu benar... itu buku dongeng" ucap Merry.
Sekarang apakah ini hanya halusinasi? Nyatanya tidak begitu melihat raut wajah Merry yg serius.
Apa mungkin mataku yg bermasalah?
Agnasia mengambil buku itu kembali, dan melihatnya tapi masih tetap sama itu hanya buku yg kosong dan tua, tidak ada tulisan serta gambar.
'Apa jangan-jangan hanya aku saja yg bisa melihat bentuk buku aslinya?'
Kemudian dia berbalik pergi keluar kembali kedalam kereta, mungkin itu benar karena ini buku sihir.
"Jika mereka tidak bisa melihat aslinya bagaimana aku bisa tahu apa tulisannya?"
"Nona? Apa anda baik-baik saja? Mungkin karena benturan itu penglihatan nona jadi aneh" ucap Merry
Aku melihatnya datar dan kembali pulang.
"Jangan marah nona, tapi itu benar buku dongeng biasa. Ah! Dari pada anda pusing bagaimana jika kita makan beberapa kue?"
Aku mengangguk menyutujuinya.
'Sepertinya benar hanya aku yg dapat melihat aslinya'
...🌼🌼🌼🌼...
Marry dengan lahap memakan beberapa kue yg di pesan, namun aku masih saja diam berfikir tentang buku itu dengan menikmati kue.
"Nona! Makan ini rasanya begitu nikmat!"
Merry menyondorkan kue itu di hadapan ku, tapi aku menolaknya biarkan saja dia memakan kue itu, melihat pipinya yg mengembung karena kue membuat dia lucu.
"Sekarang apa yg harus ku lakukan..." gumamku pelan.
"Itu pangeran kan? Kenapa dia bersama dengan putri bangsawan lain?"
"Aku juga tidak tahu"
Agnasia menyipitkan matanya menatap tajam kearah Dellion yg tidak sadar akan tatapannya.
Padahal kemarin katanya sibuk, sekarang ternyata dia menemani seorang wanita.
"Aku tidak terima ini Nona! Ayo kita pergi kesana?!" Ucap Merry dan dengan cepat dia menghabiskan kue yg ada di piring.
Aku hanya bisa mengangkat tangan saja, tidak mau berurusan dengan Dellion, mengingat Kami yg masih bertengkar juga maklum dia berbuat seperti ini.
Tapi... kenapa aku kesal!
"nona! itu namanya perselingkuhan!" Ujarnya.
"Sudahlah aku malas menanggapinya, lebih baik kita pulang!" Ucapku geram.
"Se-sepertinya, itu bertolak belakang dengan perkataan anda..."
"Apa?!"
"Ah tidak-tidak saya akan membayar kuenya dulu"
Setelah selesai, Kami segera keluar dari tempat tersebut. Bertepatan saat itu mereka juga keluar dari tokoh baju, cepat sekali berbelanjanya, apa jangan-jangan dia sudah tahu aku disini dan dengan sengaja hanya ingin menunjukkan kebersamaan mereka?
"Kurasa mereka sengaja" ujar Merry.
Aku menatapnya terkejut kenapa dia bisa membaca pikiran ku?
Begitu pandangan kami bertemu Dellion terdiam seketika tidak dapat bergerak hanya saling pandang saja.
Aku mengangkat satu alisku, kemudian tersenyum padanya dan masuk kedalam kereta kuda secepatnya.
'Dia bahkan tidak mengejar ku?!'
...🌼🌼🌼🌼...
Begitu masuk kedalam kediaman, Agnasia hanya diam saja, bahkan Merry yg mendampinginya tidak mengatakan apapun.
'Nona terlihat seram jika marah'
Wanita itu sedikit melihat kearah majikannya, auranya terlihat sangat berbahaya.
Agnasia lalu memberhentikan langkahnya, dan berfikir sejenak, mumpung masih jam segini dia akan minun teh di taman belakang kamarnya.
"Merry!"
"Ah- ia no-na ada apa?"
Ucapannya gelagapan karena terkejut.
"Kenapa kau terkejut?"
Tanya Agnasia yg sedang bingung dengan perilaku Merry.
"Tidak saya baik-baik saja"
"Siapkan teh untuk ku sekarang di taman belakang" pintahnya.
Dia tersenyum membalas Agnasia, menerima perintah untuk menyiapkan teh di taman belakang karena nonanya ingin beristirahat sejenak.
Merry mengangguk dan segera pergi, begitu juga dengan Agnasia yang langsung menuju taman belakang.
Tiba di sana dia segera duduk dan sedikit bernafas berat, memegang kepala dan terus saja berfikir tentang teka-teki yg dia dapati sekarang.
Setelah semenit berlalu Merry datang dengan pesanan yg di katakan Agnasia sebelumnya.
"Kembalilah, aku ingin sendiri di sini" ujarnya.
Marry merasa tidak enak dengan perintah dari Agnasia tapi akan lebih baik jika dia mengikuti kemauan majikannya saat ini.
Di taman yg hanya ada Agnasia seorang nampak begitu tenang, angin yg berhembus membawa aromah teh pun sangat tercium, dia lalu menyeruput teh perlahan-lahan karena masih panas, kemudian menatap lurus kedepan, tiba-tiba kepalanya berdenyut kembali seperti sebelumnya.
"Ini begitu sakit"
Saat membuka matanya, dari kejauhan nampak seseorang yg berdiri di sebelah pohon yg tinggi hanya dalam sekali lihat saja dia bisa tahu siapa itu.
Sangking senangnya melihat sosok itu, cairan bening keluar menetes membasahi pipinya yg lembut.
Agnasia bangkit berdiri, dia tidak salah. Itu adalah Snow pria yg menghilang sudah sejak lama
Dia menggerakan kedua kakinya hendak berlari, tapi ditengah langkahnya, tiba-tiba pandangan Agnasia menghitam dan seketika dia terjatuh tidak bisa merasakan apa-apa lagi.