
Aku melirik kesana kemari karena bingung dengan keadaan yg berbeda dari sebelumnya, bukankah hari sudah malam? Kenapa bisa ada cahaya matahari di tempat ini.
Dari jauh aku melihat sosok anak kecil yg memanggil ku tadi sedang duduk memetik beberapa bunga, ku tepis segala keraguan dan pergi mendekat padanya. Saat sampai, anak itu terhenti dan menatapku sekilas
'Akhirnya kita bertemu...'
senyuman yg hangat terukir di wajahnya, Aku hanya diam lalu menunduk duduk bersama dengan anak perempuan itu di atas rumput.
"Kau mengenal ku? Dan ini di mana?" Tanya ku padanya.
Anak itu tidak menjawab malahan tertawa sambil berdiri dan mengelilingi tubuhku.
'Hahahaha... bukankah kau tahu ini di mana?'
Dia berhenti di depanku mengambil dan menggenggam tanganku erat, matanya memancarkan warna hijau alam yg begitu tenang nan sejuk tapi yg lebih unik rambutnya yg berwarna putih begitu mencolok mengikuti warna kulit dan bulu matanya.
"Tapi aku tidak tahu ini di mana"
Ujarku sembari mengelus rambutnya yg begitu lembut, Dia lalu menunjuk diriku dengan senyumannya lagi.
'Tempat Ini adalah hatimu'
Sedikit aku bingung dengan perkataannya serta banyak pertanyaan yg tercipta di hati kecilku, kemudian anak itu menarik ku berdiri sepertinya dia ingin menunjukan sesuatu.
Aku pun bangkit berdiri mengikutinya perlahan-lahan.
Kami berjalan cukup jauh hingga ada hal aneh yg aku lihat, di sini tempatnya sedikit sekali rerumputan dan bunga-bunga.
Di tengah itu, aku melihat setangkai bunga yg layu tapi dia masih bisa bertahan.
'Ini adalah inti hati mu... kau mengubahnya... lihat sekarang dia akan mati!'
Tunjuk anak itu padaku. Aku memiringkan kepala tidak mengerti akan di katakan anak perempuan ini.
'Apa Ini hatiku? Tapi mana mungkin...'
"Aku tidak melakukan apapun?"
'Tidak! Kau melakukannya, kau membenci cinta mu sendiri dan menciptakan kematian perasaan mu! Kau menyesal padanya'
Anak itu menatap ku sedih.
Seketika aku teringat akan insiden sebelum aku mati, bahwa kejahatan yg mereka lakukan padaku tidak akan aku lupakan.
"aku sudah memaafkan mereka"
'Tapi tidak dengan dia... bukannya kau masih membencinya? Apa kau tidak tahu dia datang kembali untukmu'
Sontak aku melihat dia sambil mengerutkan alis ku, meminta jawaban akan perkataannya.
"Datang kembali?"
Anak kecil itu kemudian menarik ku ke arah berbeda di sana aku melihat sungai yg indah dan begitu jernih.
Kami berdua berjalan di atasnya, Mendekat ke pertengahan sungai yg berwarna biru yg begitu bersih.
'Jangan membencinya... dia hanya di kendalikan...'
Lirihnya yg begitu sedih sambil memutar tangannya kepermukaan sungai.
Tiba-tiba sungai itu menampakan memori lama saat aku di bunuh oleh Pangeran. Melihat hal itu jantungku berdebar begitu cepat karena sakit dan marah melihat masa itu.
Aku berbalik akan pergi tapi anak itu menahan ku dengan cepat.
'Apa kau tahu selanjutnya seperti apa?'
Aku tersenyum kecut mendengar pertanyaan dari anak perempuan ini yg sudah pasti jawabannya, bahkan semua sudah tahu.
Deg
Rasa sakit itu muncul kembali, saat memori lama tergali semakin dalam. Mataku memanas aku jatuh terduduk sambil menangis.
"Mereka pasti hidup bahagia... Pangeran begitu mencintainya kan?" Ucapku dalam tangis.
'Tidak... kau salah... Kekaisaran hancur...mereka berhasil merebut batu kekuatan dan membuka segel kegelapan'
Aku seketika menatapnya dengan tidak percaya. Tangis ku terhenti melihat kearah sungai, kekaisaran Aegeus hancur lebur semuanya terbakar dalam api.
"Ba-bagaimana ini tidak mungkin!"
'Ini terjadi saat kau mati... lalu sebenarnya kau akan di kirim ketempat lain...'
"Kenapa tidak?"
Jelasnya padaku, aku yg semakin tidak percaya mulai menanyakan pernyataan yg ku simpan selama ini.
"Tapi sebelum di kirim kembali, kata penjaga itu dewa sangat menyayangi ku? Ku pikir karena itu dia mengirim ku kembali untuk mengubah takdir ku"
'Soal itu kau akan tahu dengan sendirinya... saat kau di kirim kembali begitu juga dia mengulangi waktunya'
Perempuan itu menunjuk kearah sungai, Dellion yg penuh luka sedang membuat sebuah sihir dengan susah paya kemudian setelahnya dia menghilang.
'Saat itu dia di kendalikan... dan ketika dia sadar kau tiada, penyesalannya juga sangat dalam...'
Anak perempuan itu menunduk memegang kedua bahuku dengan lembut dan menatap ku begitu sedih.
'Kau percaya sekarang? Dia masih mencintaimu di kehidupan lama dan sekarang'
Ucap anak itu dengan padaku, aku menunduk tidak bisa menerima semua kenyataan ini.
Sedikit aku menepisnya dan bangkit berdiri, ku pegang kepala ku menahan rasa sakit yg bermunculan, semua rahasia yg tidak ku ketahui ini menusuk pikiran ku.
"Tidak mungkin... kau pasti bohong... tidak... Dellion tidak mencintai ku!"
Teriakku padanya, anak itu menunduk di hadapan ku dalam diam sambil mengepalkan tangannya lalu kembali menatap ku lagi.
'Dia di kendalikan agar kau membencinya' ucapnya lagi.
"Benarkah?! Lagi pula jika ingin menghancurkan Kekaisaran Aegeus kenapa harus menjebak ku dan membunuh ku!"
Aku tertawa di hadapannya, untuk semua kebenaran yg dia ucapkan. Kenapa! Kenapa aku harus hancur terlebih dahulu baru kebenaran muncul! itu hal yg tidak bisa aku terima.
"Kenapa!--"
"Karena kau kuncinya!" Teriak anak itu padaku seketika aku terdiam menatapnya.
"Kunci?"
...💐💐💐💐...
Cahaya yg menyilaukan masuk menusuk kedua mataku, hiasan langit-langit yg ku kenal terlihat ketika aku membuka mata. Saat mengerakan tubuh ku terdengar suara pecahan sekaligus teriakan Merry.
"Nona!!!"
Teriaknya sembari memelukku erat dia menangis terseduh-seduh tiada henti di pelukan ku.
"Merry? Apa? Kenapa kau menangis?"
Tanyaku pelan padanya sembari mengelus punggungnya untuk menenangkan dia.
"Syukurlah.... anda sudah sadar... aku sangat senang..."
Ucapnya dalam tangis sembari melepaskan pelukannya.
"Aku harus melaporkan ini pada tuan"
Ucapnya berlari keluar dari kamar. Aku hanya diam tidak mengerti apa yg sebenarnya terjadi
Belum beberapa menit berlalu tiba-tiba pintu kamar terbuka lebar di sana ada ayah serta kak Deondre sedang melihat kearah ku.
"Putri ku!"
Dengan cepat ayah memelukku begitu erat, tubuhnya bergetar hebat saat ini namun dari itu semua aku mendengar suara deruh nafas lega yg dia keluarkan.
"Ayah.. aku kenapa?"
Kataku sambil melirik Deondre yg nampak khawatir menatap ku. Aku lalu melepaskan pelukannya dan memegang tangan ayah erat.
"Jelaskan sebenarnya apa yg terjadi..."
Ucap ku sambil terus penasaran kenapa mereka seperti ini.
"Kau makan terlebih dahulu..."
Ayah berdiri memanggil pelayan untuk menyiapkan makan segera. Dia lalu pergi keluar memanggil dokter untuk memeriksa keadaan ku.
Deondre mendekat dan duduk di samping ku dia membelai rambutku begitu pelan kemudian memegang tanganku erat.
"Jangan menghilang lagi... itu sangat menyakiti ku"
Aku menatapnya diam tidak mengerti situasi sekarang. Memangnya aku kemana sampai mengatakan hal seperti itu, padahal aku hanya mengikuti... benar!
Malam itu aku mengikutinya, kenapa sekarang sudah ada di kamar? Saat akan menanyakannya Deondre berpamitan untuk mengabari Kaisar dan lainnya.
'Harusnya dia jelaskan semua padaku!'