The Destiny Of A Princess

The Destiny Of A Princess
{Season Dua} Bagian 88 - Pengorbanan



Dini hari di mana udara masih sangat dingin, Snow masuk kedalam kamar Agnasia dengan membawa buku sebagai janjinya untuk di berikan pada Agnasia.


Dari jauh dia melihat kearah wanita yg sedang tertidur sangat pulas, perlahan Snow mendekatinya menatap Agnasia sambil tersenyum dan duduk di sampingnya.


Dia menyentuh rambut coklat yg terurai milik Agnasia, mengambil beberapa helai sambil mencium aroma manis yg tertinggal.


Udara dingin yg masuk kedalam ruangan kamar, membuat Agnasia terusik, memaksanya untuk membuka mata.


Saat itu pandangannya masih buram, dia tidak begitu jelas melihat siapa yg berada di sampingnya.


"Siapa--"


Dia bergerak menopang tubuhnya untuk bangun, sambil mengerjap beberapa kali.


Snow lalu memberikan buku yg dia pegang.


"Oh... itu kau, ku kira siapa"


Agnasia mengambil buku yg di pegang Snow kemudian kembali tidur.


"Eh! Ini sudah pagi, kenapa kembali tidur!" Ucapnya meninggi.


"Masih terlalu pagi, dan aku juga butuh istirahat" ujar Agnasia malas.


Perkataannya membuat sebuah ide muncul dalam benak Snow untuk mengerjai Agnasia sekarang, dia berdiri sedikit menjauh dari tempat tidur dan mulai berbicara.


"Tunggu bukankah itu Carin?"


Tanpa berlama-lama dengan cepat Agnasia bangun menuju kearah Snow dan tanpa sengaja dia menabrak kursi dan terjatuh cukup keras.


Melihat itu Snow tidak membantu, tetapi hanya tertawa tanpa henti menunjuk Agnasia yg terlihat lucu.


"Kau membohongi ku Snow!"


Agnasia bangun menatap pria itu tajam.


Sebelum benar-benar membalasnya, dengan cepat Snow menghilang dari dalam kamar dengan teleportasi yg membuat Agnasia jadi kesal.


"Awas saja kau!"


Ucapnya geram dengan tangan di kepal.


...🌼🌼🌼🌼...


Selepas makan pagi, Agnasia buru-buru pergi dengan membawa buku yg akan dia baca ke dalam ruangan perpustakaan, hanya di sana dia bisa fokus.


Begitu sampai dia menyuruh Marry untuk tinggal berjaga di luar dan biarkan dia untuk masuk sendirian.


Agnasia mencari tempat yg cocok untuk membaca, setelah mendapati tempat yg nyaman, dia lalu duduk menatap buku itu, tiba-tiba dari arah belakang terdengar suara seorang yg berbisik membuat Agnasia tersentak kaget.


"Kakak! Kenapa di sini?!"


Agnasia terkejut karena biasanya Deondre turun sejak pagi-pagi sekali karena tugas yg harus dia jalankan dan sangat sedikit waktu untuknya beristirahat.


"Apakah ada larangan untuk ku masuk?" Tanyanya balik.


"Ah, tidak tapi tumben sekali kakak di sini"


"Aku sedang ada waktu luang jadi lebih baik membaca di sini"


Deondre langsung duduk di samping ku dengan matanya sedikit melirik kearah meja.


"Dongeng apa yg kau baca?"


"Hanya Cerita anak-anak saja" kataku bohong.


Sekarang tidak apa-apa, mereka melihat buku ini sebagai cerita dongeng jadi aman untukku membaca di sampingnya.


Ku lakukan hal yg sama saat membuka buku itu, perlahan kertas yg kosong muncul huruf satu persatu.


Mungkin ini adalah tulisan tangan ibu.


Aku mulai membacanya, di mulai dari tulisan kecil di ujung buku 'aku menulis ini dengan tinta sihir'


Page 1


Di baris selanjutnya, disana tercatat saat musim semi mereka meluncurkan strategi dengan ibu sebagai pionnya.


Rencananya adalah dengan bersahabat atau menjalin kedekatan pada Duke George, karena dia sahabat dari Theo. George akan muncul di kota jika perkiraan kita tidak salah.


Page 2


Rencana kita berhasil total, sepertinya sejak awal bertemu, George sudah tertarik padaku. Bagaimana tidak, kakaku Nick membuat ramuan memikat seseorang.


Sempat aku terhenti, jadi ternyata benar kaisar Nick ada hubungan darah dengan ibu!


Sungguh di luar dugaan.


Kembali aku membaca bagian huruf yg sudah muncul, di sana Ibu sudah menjalin kedekatan dengan ayah, agar bisa tahu di mana letak batu anugerah yg ayah dan kaisar miliki di sembunyikan.


Tapi di lembaran-lembaran selanjutnya rencana ibu sedikit berbelok, tidak sesuai dengan strategi yg ada di awal.


Entah kenapa perasaanku beberapa hari ini sedikit berbeda, yang aku tahu bahwa aku sudah mencintai George dengan tulus, tetapi kenyataan itu terdengar di telinga Nick...aku takut.


Hari itu mereka bertengkar hebat, karena ibu sudah tidak ingin melanjutkan penghancuran lagi pada anak pilihan Dewa serta kekaisaran.


Ibu di kurung dalam ruangan sihir, dan Nick melanjutkan sendiri rencananya, akan tetapi dengan sihir yg ibu miliki dia bisa kabur dari ruangan itu dan pergi tinggal bersama ayah di kekaisaran.


Fakta itu di ketahui oleh Nick, akan tetapi dia masih berharap ibu kembali padanya.


Sampai tahun demi tahun berlalu, bukannya kembali, dia mendengar kabar bahwa adiknya sudah menikah dan sedang mengandung sekarang.


Aku tahu ini salah karena sudah menghianati kakak, maafkan aku...


Di bulan berikutnya ibu melahirkan seorang anak laki-laki yg tampan, dia adalah Deondre, kebahagiaan itu begitu menyelimuti kediaman Alddes.


Tetapi di hari-hari berjalan setiap akhir bulan selalu saja Nick datang menyerang dengan sihir yg dia kirim untuk menghancurkan kami, tapi berhasil di halau oleh ibu.


Di malam musim dingin, ibu terbangun karena merasakan sihir Nick yg mendekati kediaman, ternyata dia menerima surat yg berisikan ancaman dan kenyataan yg ada.


Kau pikir aku akan diam saja? Akan ku balas penghianatan ini Mariana... darah Keturunan Alasd pasti ada dalam diri anakmu, bukankah lebih baik aku menjadikannya alat untuk menyerang?


Malam itu ibu berlari menuju tempat di mana putranya berada, dia lalu menggunakan sihir untuk mengecek darah yg ada pada Deondre yg ternyata dia bersih tidak ada darah Alasd padanya, itu juga terbukti saat keesokan harinya putranya Deondre mendapatkan tanda anugerah.


Mulai saat itu ibu sering berjaga-jaga agar Nick tidak melukai orang-orang yg dia cintai lagi dan lagi.


Meskipun awalnya aku jahat, tetapi tidak ada salahnya berbalik pada yg baik dan membuang dendam keturunan Alasd.


Begitu sampai di bagian selanjutnya, Deondre tiba-tiba menyentuh kepala ku lembut.


"Apakah itu seru?" Tanyanya sambil tersenyum.


Aku hanya bisa mengangguk saja dan kembali membaca dengan serius.


Di tahun yg ke lima ibu melahirkan anak perempuan, rambut serta perawakannya mirip sekali dengannya hanya saja bola matanya mirip dengan George--


Selanjutnya saat tidak ada siapapun di dalam kamar, ibu mulai mengeluarkan sihirnya memeriksa darah putrinya yg ternyata tidak sesuai yg dia mau.


'Apa mungkin karena ini ibu meminta maaf padaku, dia menyesal melahirkan aku dengan darah terkutuk'


Di halaman selanjutnya tulisan yg muncul tidak serapi sebelumnya, dan aku bisa menebak itu... ibu sedang ketakutan.


Tenanglah Agnasia... ibu akan melindungi mu apapun yg terjadi, ibu tidak ingin kau menjadi alat untuk membalaskan dendam keturunan Alasd sejak awal. Ibu mencintai mu.


Itu adalah catatan terakhir dari buku yg ku baca, selanjutnya aku sudah tahu akan terjadi seperti apa... kematian ibu.


Aku mengepalkan tangan menahan perasaan sedih yg mungkin akan menguasai ku sekarang. Perlahan aku bangkit berdiri berpamitan pada kakak Deondre, dan berbalik menuju kamar.


Sesampainya, aku menyuruh Merry untuk meninggalkanku sendiri, langkah ku mendekat kearah meja, membuka laci, mengambil foto yg ada di sana sembari menatap sayu kearah gambaran sosok ibu.


Perlahan mataku memanas, benda bening jatuh membasahi pipi ku begitu saja tanpa sadar.


Aku terduduk, memeluk foto itu erat sambil menangis tanpa bersuara mengetahui kenyataan yg sebenarnya.


Sekarang jawaban ibu waktu itu tentang dia pantas mendapatkan kematian karena untuk menebus kesalahannya dan tidak mau membiarkan aku menjadi alat balas dendam, dia memilih untuk berakhir seperti itu.


"Aku tidak akan menyia-nyiakan pengorbanan yg ibu berikan... akan ku selesaikan semuannya"