
Kami sekarang duduk diam didalam rumah Tuan ini, mengingat saat tadi terjadi perkelahian yg tiba-tiba membuat ku sedikit tidak menyukai wanita yg ada di sudut ruangan.
Sesaat yg lalu saat aku sampai wanita itu sudah menginjak kakiku, berikutnya dia marah dan menarik rambut ku. Beruntungnya saat itu, ada seorang lelaki datang menolong ku dan bertepatan dengan kedatangan Dellion beserta Galen, Sepertinya telinga wanita ini sedikit sensitif.
'Ughk... sakit sekali jika saja aku tidak sedang menyamar... tapi sudahlah aku juga salah disini sudah berbicara yg tidak-tidak'
Disudut ruangan tiga orang wanita berdiri sambil menatap Galen bersama Dellion dengan mata berbinar-binar seperti baru pertama kalinya melihat seorang lelaki tampan.
"Maafkan atas kelancangan anak saya nona, dia sedikit kasar..." ucap wanita yg tidak terlalu tua itu. Jadi dia adalah ibu dari mereka?
"Jangan meminta maaf bu! Dia itu sudah membicarakan kakek yg tidak-tidak! Katanya kakek memiliki tempramen yg buruk!" Teriak wanita itu sambil menunjuk ku.
"Eliza!! Jaga sikapmu?!!" Setelah teriakan ibunya wanita itu menunduk tidak berbicara lagi. Dellion bersama Galen menatap ku terkejut karena mendengar perkataan wanita yg bernama Eliza itu.
"Tidak apa-apa... aku juga merasa bersalah" ucapku
"ah ada keperluan apa kalian datang kemari? Apa kalian seorang pengelana?" Ucap lelaki yg di samping wanita itu, sepertinya dia adalah suaminya.
"Kami ingin meminta penawaran racun, untuk perjalanan kami." Ucap Galen dengan senyumannya.
"Ayah, saya sedang keluar mencari tumbuh-tumbuhan... kalian bisa menunggunya?" Kami bertiga bertatapan dan mengangguk setuju pada paman yg ada di depan kami
"Sebelum itu perkenalkan saya Alen, di sebelah saya adalah Lion, Kakak saya lalu dia Sia, teman perempuan kami. " jelas Galen. Kemudian di antara tiga wanita itu membuka mulutnya berbicara.
"Syukurlah... ku pikir dia adalah tunangan kak Lion" tawa wanita yg satunya kemudian di tegur oleh ibunya.
"Maaf anak saya yg bungsu itu terlalu blak-blakan...saya adalah Emi, dan di samping saya Joseph, ketiga wanita di sana itu adalah anak saya yang sulung Ayla kedua itu Eliza dan yg bungsu Aldara"
Setelah perkenalkan itu, paman dan bibi tadi undur diri pergi kebelakang meninggalkan kami dengan ke tiga anak wanitanya.
"Kak Lion apa ingin makan sesuatu, aku akan menyuapinya." Ucap Aldara sambil tersenyum manis. Kemudian Eliza mendekat dan memberikan cangkir berisi teh yg ada di atas meja pada Lion.
"Aku ya, yg memberikan teh untuk kak Lion, Aldara."
Perasaan ku kini tidak enak, ada yg aku lupakan tapi tidak tahu itu apa. Aku menghembuskan nafas kasar sambil melihat sekeliling ruangan, ternyata tempat ini cukup hangat.
"Sia, ayo makan kuenya" ucap Galen padaku aku mengangguk tersenyum, saat akan mengambil kue itu Ayla dengan cepat menarik piringnya menjauh.
"Lebih baik kak Alen lebih dulu makan." Ucapnya sambil menatapku tidak senang.Β Ku miringkan kepala ku menatapnya penuh tanya.
'Oke... aku bisa makan setelah mereka makan... demi misi ini aku harus sabar.' Pikir ku sambil membalas Ayla dengan senyuman.
Kemudian bibi Emi kembali, katanya dia ingin menunjukan kamar yg sudah di sediakannya untuk kami beristirahat. Aku berdiri dan mengikutinya bersama dengan yg lain.
...ππππ...
Aku mendapatkan kamar yg bersebelahan dengan kamar Dellion dan Galen, karena mereka berdua menyamar sebagai kakak adik jadi, kamar tidur mereka bersama, Sedangkan aku tidur sendiri.
"Maaf jika kamarnya seperti ini.."
"Ah tidak apa-apa bibi, kami sangat berterima kasih." Ucapku sambil tersenyum.
"Baiklah, kalian sediakan air hangat untuk kakak-kakak ini mandi." Ucap paman yg datang mendekat mereka mengangguk kemudian pergi.
...ππππ...
"Sia? Ada apa?" Katanya dari luar pintu.
"Tidak apa-apa, ternyata airnya sudah dingin rupanya." Kataku sambil sedikit tertawa.
"Astaga, ini pasti ulang para Putri ku, maafkan kami Sia... mereka memang nakal pada orang baru..." ucap bibi dengan nada yg sudah tidak nyaman akibat perbuatan anak-anaknya.
"Tak apa... aku sudah biasa mandi dengan air dingin...bibi bisa tenang sekarang." Kataku, kemudian bibi itu sekali lagi meminta maaf dan pergi dari dari sana.
'Kalau aku tahu seperti ini aku tidak ingin pergi... Galen dia sudah banyak berbohong padaku lihat saja!'
...ππππ...
Setelah selesai dengan aktifitas ku, aku pergi kekamar Dellion bersama Galen. Saat masuk mereka sedang duduk dengan secangkir teh hangat. Aku melihatnya tidak senang.
"Kenapa kau melihat kami begitu? Bukankah pelayan mereka sangat enak?" Ucap Galen sambil menegukan teh.
"Kenapa kau berteriak tadi?" Tanya Pangeran tiba-tiba padaku, aku lalu mendekat dan duduk.
"Karena pelayan mereka yg enak, aku mandi dengan air yg dingin... dan KENAPA KAU TIDAK BILANG PADAKU SOAL INI GALEN ALASTOR!" ucapku sambil menekan kata-kata terakhir menatapnya tanpa berkedip.
Lelaki itu terhenti dia menaikkan satu jarinya sebagai tanda untuk diam atau mengecilkan suara ku, setelah itu dia membuang nafas kasarnya sambil tersenyum.
"Aku akan bilang tapi... kau katakan tidak tadi... jadi aku diam saja, lagi pula mereka sangat Ramah kan?"
"Pada kalian berdua saja!" Jawabku sedikit kesal.
"Hehehe mungkin mereka tidak suka karena perkataan mu itu..." Ujar Galen padaku aku hanya pasrah saja menghadapi situasi seperti ini.
'Ku harap semua ini cepat berlalu agar aku bisa kembali pulang.'
Kemudian pintu di ketuk dari luar, Ayla masuk kedalam memberitahu bahwa kakeknya sudah tiba. Kami segera berdiri dan pergi kearah ruang tamu.
Saat sampai aku terkejut melihat orang yg duduk, fisiknya terlihat tidak terlalu tua umurnya seperti baru limapuluan.
Pria itu berbalik melihat kearah kami, dia mempersilakan kami duduk kemudian menyuruh cucu perempuannya pergi.
"Kata Joseph, kalian ini seorang pengembara yg ingin meminta ramuan?" Dia berbicara langsung pada intinya, sepertinya dia bukan orang yg bisa di ajak bekerja sama jika kami turun dengan status bangsawan.
"Benar Tuan, kami ini pengembara ingin berkeliling tempat, saat sampai di kekaisaran ini, kami mendengar bahwa anda orang hebat yg bisa membuat ramuan penawar racun" Jelas Galen.
"Ya itu benar, dan bukan hanya aku saja, ada juga seorang gadis. Tapi dia sering berpergian keluar, lalu ramuan apa yg ini kalian Minta?" Ucap pria di depan kami. Jangan-jangan yg di maksudnya adalah Carin? Dia kan wanitaΒ yg hebat dalam membuat ramuan dan obat-obatan.
"Ramuan pemulihan, apakah itu ada?"
Mendengar ucapan dari Pangeran, Tuan itu menatap curiga kearah kami bertiga dia lalu berdiri.
"Ramuan yg itu tidak ada. Jadi kalian bisa pergi" ucapnya meninggalkan kami di ruang tamu yg terdiam sejenak.
"Tunggu apa dia tahu kita yg sebenarnya?" Ucapku mempertanyakan pada kedua orang yg sama halnya terdiam seperti ku.
"Aku tidak tahu, sepertinya ini akan menjadi hal yg sulit." Ujar Galen sambil menatap serius kearahku.