The Destiny Of A Princess

The Destiny Of A Princess
Bagian 39



❤️Hai hari ini Arthor duoble up,selamat membaca ❤️


Kami terdiam, ingin mendengar penjelasan yg lebih rincih lagi soal ramuan itu. Kakek menatapku kemudian melanjutkan penjelasannya.


"Ramuan itu bisa menjadi sebuah senjata yg mematikan jika di campuri mantra, oleh penyihir. Ramuan itu bisa saja membuat manusia jadi tidak memiliki perasaan dan bisa mengontrol orang itu sepuasnya."


Aku terkejut mendengar penjelasan kakek, ternyata dia menolak karena tidak ingin terjadi sesuatu yg fatal.


"Bagaimana kakek bisa tahu itu?"


Tanya Pangeran dengan rincih.


"Sahabat ku dulu seorang yg hebat dalam hal ramuan. Tapi, dia berubah karena  menemukan buku aneh, yg menjelaskan kegunaan lain ramuan pemulihan.


--Saat itu juga dia membuat ramuan pemulihan dan mengajarkannya padaku juga pada bawahnya, melihat ada yg aneh aku bertengkar dengannya dan memutuskan hubungan ku lalu pindah tempat" jelas kakek.


"Sekarang dia di mana kakek?" Tanya Galen.


"Aku tidak tahu, semenjak hari itu kami sudah tidak tahu kabar dan kehidupan masing-masing mungkin, dia sudah mati karena perang saat itu di wilayahnya."


Sedikit jeda karena semua tenggelam dalam lamunan masing-masing.


"Artinya jika bangsawan datang meminta ramuan itu kakek takut mereka akan menyalahgunakannya. Tapi sekarangkan para penyihir sudah sangat sedikit itu pun sulit di temukan." Ucap Galen.


"Biarpun begitu aku tidak akan memberikannya."


"Tapi kamikan pengelana tidak tahu apa-apa. Jadi kakek bisa memberikannyakan?"


"Tidak."


Penolakan ke puluhan kalinya terdengar lagi, sepertinya kakek masih belum luluh dan percaya pada kami bertiga.


"Tapi kami bukan orang jahat kakek." Ucap Galen sambil terus bermohon.


"Seorang penjahat bisa menyebut dirinya baik jika menginginkan sesuatu."


Ucap kakek yg membuat Galen tidak dapat membuka mulutnya berkomentar.


Tiba-tiba pintu di buka dengan kasar, disana berdiri Eliza, wajahnya tidak menunjukan ekspresi senang. Dia lalu mendekat dan menunjukku dengan marah.


"Ini semua gara-gara kau!! Ibu serta Aldara terluka!!"


Teriaknya dengan kecang, paman segera menariknya menjauh dariku.


"Apa yg kau katakan Eliza??"


Bentak paman padanya.


"Ayah selalu membelanya! Dia itu jahat! ayah! Karena dia  pergi keluar rumah, kalian mengikutinya dan tidak bisa melindungi kami!! Jika saja dia tidak pergi kami akan baik-baik saja!!"


Eliza menitihkan air matanya karena marah sekaligus kesal.


"Apa-apaan perkataan mu itu! Dia sudah membatu mengusir para bangsawan! Harusnya kau berterima kasih!"


Marah paman Joseph pada anaknya.


"Tidak! Mana mungkin pengelana sepertinya bisa mengusir bangsawan! Aku yakin mereka sekelompok, berencana ingin mengambil ramuan!!"


Teriak Eliza sekali lagi. Galen lalu berdiri.


"Eliza, Sia ini teman kami, mana bisa dia berkomplotan dengan mereka tadi?"


Ucap Galen menenangkan Eliza


"Tidak kalian membelanya kan!!? Dia itu wanita yg tidak tahu diri--"


Plakkk!!!


Sebuah tamparan di berikan kakek pada Eliza, wanita itu terdiam tidak dapat berbicara apa-apa karena keterkejutannya.


"Sepertinya dia sedang diluar kendali Karena kejadian tadi, kembalilah Eliza!"


Ucap kakek dengan tegas, wanita itu lari meninggalkan ruangan yg seketika hening.


"Maafkan saya kakek karena keluar tiba-tiba dan membuat masalah jadi ruyam." Ucap Agnasia.


"Jangan meminta maaf, kami yg sudah salah mendidiknya..." ucap paman padaku, mereka lalu berpamitan pergi.


...💐💐💐💐...


Dalam kamar aku duduk sambil memandang langit malam, entah kenapa aku merasa sedih karena keluar mencari angin sesaat yg lalu.


"Aku sudah merusak semuannya."


Gumamku pelan tiba-tiba dari arah belakang seseorang berbicara menjawab perkataan ku.


"Jangan sedih, besok kita akan pulang. Masalah ini akan kami bicarakan pada Kaisar." Ucapnya, aku lalu berbalik melihatnya.


"Sejak kapan anda masuk?"


"Aku tidak perlu menjawabnya. Sudah sekarang aku akan kembali lagi" ucapnya berbalik.


"Maafkan aku, harusnya aku tidak merepotkan kalian."


"Jangan menyalahkan diri sendiri, Aldara pingsan karena menghadang di depan ku."


Agnasia menutup jendela kamarnya, kemudian pergi berbaring di atas tepat tidur untuk beristirahat.


Tapi malam itu dia bermimpi hal yg cukup membuatnya takut, dia memimpikan


mereka menyeretnya ke tengah tempat eksekusi.


Semua menatapnya seperti melihat seorang yg menjijikan, kemudian dia melihat Eliza mendekat padanya.


"Ini akibat kau berpura-pura... sekarang lihatlah kematian itu datang padamu lagi"


Mendengar hal itu jantungku berdetak kecang, terdengar tawa semua orang termasuk Pangeran Dellion bersama Galen.


"Tidak... bukan aku..." ucapku gemetaran.


"Ada apa Agnasia? Ini akibat kau menyakiti Carin serta keluarga Eliza."


Ucap Dellion dengan wajah yg mengerikan. Kemudian Galen mengikatkan tali ke leherku.


"Mati kau Agnasia.."


tawa lelaki itu melihat ku saat ini.


"Tidak... tidak...."


Srekk


Cengkraman yg begitu menyiksa, sekali lagi ku rasakan. Perlahan pandangan ku menghitam, dan terdengar seseorang memanggil-manggil namaku terus menerus.


"Agnasia.... Agnasia... Agnasia!"


Aku membuka mataku, keringat dingin membasahi tubuh ku seketika aku menatap Galen yg tepat berada di samping kiri ku.


"Maafkan aku..."


gumamku padanya, Galen terkejut kemudian memeluk ku erat.


"Tenang... itu bukan salahmu... itu hanya mimpi buruk dan itu tidak nyata."


Ucap Galen sambil terus menangkan ku.


'Kau memimpikan apa sampai takut seperti ini Agnasia.'


Setelah keadaan ku sudah cukup tenang, terdengar suara ketukan dari luar, kami segara membuka pintu dan mendapati paman dengan ekspresi wajah yg khawatir.


Dellion lalu keluar dari dalam kamarnya,


mendekat pada kami, paman lalu memberikan sepucuk surat yg berisikan sebuah salam perpisahan Eliza.


"Dia pergi dari rumah semalam..."


ucap paman dengan nadanya yg lemah.


"Jangan khawatir! kami akan mencarinya."


Ucap Dellion, tapi paman menahannya karena dia juga ingin ikut mencari Eliza. Kami mengijinkannya lalu turun kebawah bersama-sama.


...💐💐💐💐...


Dalam ruangan bibi tengah menangis bersama dengan kedua wanita lainnya, dan kakek hanya bisa duduk terdiam. Mungkin dia merasa bersalah karena sudah berbuat seperti itu pada cucunya.


Agnasia mendekat dan menunduk di depan bibi, dia memegang tangan wanita itu lembut dan berbicara dengan pelan.


"Dia tidak akan pergi jauh... kami akan menemukannya sebelum fajar."


Ucap Agnasia dia lalu bangkit berdiri, tetapi bibi menahannya.


"Kau juga harus berhati-hati."


Ucapnya, aku mengangguk kemudian pergi keluar mencari Eliza.


...💐💐💐💐...


Di setiap tempat yg sering di datangi Eliza, kami memeriksa semua tempat itu dengan rincih, tidak ada yg terlewatkan. Namun dia tidak ada disana, sepertinya dia pergi jauh. Ku putuskan untuk memeriksa goa yg ada di bagian barat. Mungkin saja dia ada di sana.


Saat masuk kedalam, aku menemukan sebuah tas coklat yg berisikan baju-baju milik Eliza tapi dia tidak ada di dalam goa.


"Firasat ku tidak baik mengenai hal ini"


ucapku, lalu keluar dari dalam goa mendekat kearah tiga lelaki yg juga sibuk mencari eliza.


Agnasia memanggil mereka dan menunjukan apa yg dia temukan.


"Ini tas yg ku berikan di hari ulang Tahunnya." Ucap paman gemetar.


"Dimana kau menemukannya?"


Tanya Galen padaku aku lalu menunjuk goa yg ku kunjungi tadi pada mereka.


"Tapi dia tidak ada disana..... Alen, Lion? Aku memiliki firasat buruk tentang ini."


Ucapku melihat mereka berdua bergantian.