
Diego mulai menceritakan kisah dahulu padaku, di mana terbentuknya ke empat pilar sebagai tanda yg di berikan Dewa untuk mengenang pertemuan mereka.
Beberapa anugerah yg terbagi pada tiap-tiap penerus, yg pertama penyerang pada keluarga kaisar, berikutnya kekuatan pelindung yg ada pada keluarga Duke, ke tiga fisik yg kuat pada keluarga Marques dan yg ke empat pada seorang Count kekuatan penyembuhan.
"Tunggu... bukankah dalam sejarah mencatat keluarga kaisar memiliki 2 anugerah? Kenapa aku baru mendengar soal Count dengan anugerah penyembuh?"
Agnasia bingung, dari buku yg dia baca dan tentang cerita pendeta Diego semuanya berbeda drastis. Mungkinkah semua yg di tulis dalam buku sejarah kekaisaran tidak lengkap? Atau ada sesuatu yg mereka sembunyikan.
"Soal itu, guruku yg sebelumnya menemukan catatan yg sudah sobek dan sebagainya menceritakan soal empat pilar dan orang-orang yg mendapatkan anugerah"
Jelas Diego, aku mengangguk dan kembali mendengar penjelasannya.
Tepat saat itu, terjadi sesuatu hingga pilik anugerah penyembuh menghilang tanpa penjelasan apapun, dan selanjutnya Dewa memberkati Kaisar pertama dengan kekuatan penyembuh.
"Hanya begitu saja?"
"Benar, dalam catatan hanya itu yg tertulis"
"Bisakah aku melihat catatannya setelah selesai latihan?" Ujar Agnasia segera, Diego pun menyutujui permintaan dari Agnasia.
Berikutnya Diego menyuruh ku untuk duduk di tengah-tengah berdirinya ke empat pilar, entah kenapa begitu tubuhku menyentuh lantai putih ini, ada sesuatu yg seperti menyetrum kedua telapak kaki ku namun setelahnya tidak terasa lagi.
Diego menyuruh ku untuk fokus pada kekuatan yg ada dalam diriku, begitu juga dengan pikiran ku yg harus rileks.
Saat semuannya sudah terkontrol perlahan
aku mendengar suara Angin yg berhembus melewati kulit wajah ku dengan lembut, lalu rasa sejuk memenuhi ku seketika.
Dari arah berlawanan, Diego melihat aura berwarna hijau yg keluar membungkus tubuh Agnasia, dan perlahan-lahan itu semakin membesar.
Mata Diego terbelalak begitu melihat warna rambut Agnasia yg berubah menjadi putih sedikit demi sedikit.
"Apa yg terjadi?"
Diego memanggil Agnasia segera, wanita itu pun membuka kedua matanya. Perlahan aura yg muncul mulai masuk kedalam tubuh Agnasia dan menghilang, begitu juga dengan warna rambut Agnasia yg kembali normal.
"Ada apa Diego?"
"Kau tidak merasakan sesuatu yg aneh?"
Sedikit terdiam sebelum Agnasia membalasnya, dia hanya merasakan sejuk saja, tidak ada yg lainnya.
"Rasa sejuk."
"Begitu..."
Diego tersenyum sembari memegang kedua tangannya, mungkin hanya perasaan Diego saja soal rasa aneh sesaat tadi dan mungkin juga warna rambut Agnasia itu hanya khayalan dia semata.
Berikutnya Diego memanggil Agnasia keruangan buku yg ada di kuil, menepati janji yg dia katakan tadi pada Agnasia soal catatan lama.
Dia memberikan surat yg sudah sangat usang termakan usia, mungkin karena sudah begitu lama Diego sangat berhati-hati saat memberikannya padaku, segera aku mencari tempat duduk membaca tiga lebar kertas yg dia berikan.
Di sana tertulis seperti yg di katakan Diego, namun ada yg mengganjal. Harusnya sejarah seperti ini di simpan dalam perpustakaan kekaisaran, kenapa ini tidak?
Begitu melihat lebar yg terakhir yg menceritakan tentang Count yg menghilang tulisan-tulisannya nampak berbeda dengan sebelumnya.
'Ini seperti di ubah'
Agnasia menyentuh permukaan kertas yg begitu kasar, dia merasa ada sesuatu tapi apa?
"Diego bisakah aku membawa ini?"
"Untuk itu saya tidak yakin Nona"
"Hanya sehari saja... ya?"
Aku memohon padanya, sampai akhirnya dia menyetujui permintaan ku lagi. Aku lalu melipat kertas itu dan langsung berpamitan pada Diego.
'Aku begitu penasaran apa yg terjadi pada Count itu... lalu soal perkataan Carin...aku akan menyelidikinya'
...🌼🌼🌼🌼...
Setelah selesai dengan acara makan malam mereka, Agnasia buru-buru menuju kamar dan langsung menguncinya rapat-rapat.
Tangannya mengambil kertas yg dia simpan dalam laci meja rias, dia berbalik menuju kursi tadi dan duduk di sana membuka tiga lembar kertas usang yg di dapati dari kuil.
Malam ini begitu senyap namun Agnasia menikmati saat tenang seperti ini, sampai beberapa jam berlalu Agnasia tidak menemukan hal yg dia cari sampai-sampai rasa kantuk datang menyuruhnya untuk beristirahat.
'Hai kau belum juga tidur?'
"Uaa! Astaga jantung ku hampir jatuh karena terkejut"
Agnasia memegang dadanya mengatur nafas perlahan akibat suara Tears yg berbicara tiba-tiba.
"Aku sedang menyelidiki beberapa cerita masa lalu soal kekuatan anugerah"
'Kau tipe yg begitu penasaran, itu kan sudah berlalu'
"Tapi ini menyangkut hal yg begitu penting! masalah soal penerima anugerah penyembuh pertama... tunggu, Kau pasti tahu siapa Count pertama itu bukan?"
Bermohon mendapatkan jawaban, Tears hanya diam saja tidak merespon pertanyaan dari Agnasia.
"Jawab aku!"
'Haa.. kau lupa itu sudah sangat lama mana mungkin aku mengingatnya'
"Baiklah.."
Dengan pasrah Agnasia bangkit berdiri menuju tempat tidur, mengistirahatkan dirinya untuk hari ini.
Besok dia harus menanyakan soal Ibunya pada Tuan Duke untuk lebih jelas mengenai apa yg Carin katakan pada mereka.
...🌼🌼🌼🌼...
Pagi sekali Agnasia pergi menuju ruangan kerja Duke dengan lemas di sekujur tubuh dia harus menahan itu, sebelum Tuan Duke pergi keluar lagi dia harus segera menahannya untuk beberapa pertanyaan.
'Ini mungkin akan sedikit sensitif untuk ayah... tapi aku harus tahu'
Agnasia mengepalkan tangannya kemudian mengetuk pintu kerja ruangan ayahnya. Terdengar Duke mempersilakan Agnasia untuk masuk, dia pun mengatur nafasnya dan melangkah masuk kedalam.
Duke menyambutnya dengan senyuman hangat, dia memanggil Agnasia untuk duduk terlebih dahulu dan menyuruh para pelayanan menyiapkan teh kesukaan Agnasia.
Beberapa menit kemudian pelayan datang membawa teh Lippe kesukaan ku, dan lekas keluar dari dalam ruangan ayah.
Ku tegukan teh perlahan-lahan sebelum membuka pembicaraan ku bersama dengan ayah.
"Ada apa kau kemari?"
Mata hitamnya menatapku lurus, aku sedikit gemetar melihat hal itu.
'Sudah bertahun-tahun ayah tidak membicarakan Ibu... aku berharap dia tidak tersinggung'
"Ayah... ini soal Ibu"
Begitu mulut ku menyebutkan kata 'ibu' ekspresinya seketika berubah sepertinya mungkin aku tidak bisa mendapatkan apa yg ku cari.
"Apa yg ingin kau ketahui?"
Aku langsung menatapnya, apakah tadi nyata? Ayah benar-benar ingin menjawab pertanyaan ku?!
Segera aku tersadar dari keterkejutan ku dan mulai berbicara.
"Aku ingin tahu, apakah ibu berasal dari kekaisaran selatan?"
Ayah menutup matanya seperti sedang berfikir, perlahan dia sedikit tersenyum dan menatap ku dalam.
"Dia hanya rakyat biasa, dan gadis yg konyol"
"Ceriakan padaku ayah!"
Dengan antusias aku mengepalkan kedua telapak tangan, sambil menatap ayah dengan penuh harapan agar dia melanjutkan ceritanya padaku.
Dia pun mengangguk dan mulai berbicara.