The Destiny Of A Princess

The Destiny Of A Princess
{Season Dua} Bagian 87 - Rencana



Begitu sampai segera aku mencari Merry untuk menanyakan keberadaan buku yg ku bawah saat pingsan di taman.


Tapi jawabannya hanya dia tidak tahu soal di mana sekarang buku tersebut, karena waktu aku pingsan di taman membuat dia tidak memeriksa sekitar.


Sempat aku sedikit takut, tapi dalam kediaman orang yg melihat itu menganggap buku dongeng kan.


Aku lalu berbalik masuk kedalam kamar, berharap bahwa buku itu tidak hilang begitu saja.


Perlahan aku mendekat lalu duduk di pinggiran tempat tidur, memikirkan tambahan teka-teki, dan jika di hubungkan saat Carin mengakui bahwa aku adalah sepupunya, serta fakta bahwa Carin anak dari kaisar Nick membuktikan semua yg terjadi ada kaitannya dengan mereka.


'Apakah aku mempunyai hubungan darah dengan kaisar Nick?'


Satu hal lagi, untuk apa mereka meminta keadilan, sebenarnya kenapa.


Di tambah dengan darah kutukan.


"Ah! Tears? Apa kau bisa mendengar ku?" Panggil ku padanya.


'Ya aku selalu mendengar mu, beruntungnya aku bisa bicara sekarang karena sihir itu sudah di lenyapkan, aku terkejut saat kekuatan jahat masuk kedalam tubuh mu' jelasnya.


Aku mengerti sekarang kenapa dia tidak bicara saat itu, ternyata kekuatan sihir yg di kirimkan Carin menahannya.


"Sekarang, apakah kau tahu soal darah kutukan itu apa?" Tanyaku kepadanya.


'Darah kutukan? Kenapa tidak kau cari di buku saja, jika aku yg jelaskan itu akan sulit'


"Jelaskan pentingnya saja, agar tidak sulit kan?"


Mendengar kata-kata ku dia sedikit membuang nafas pasrah, dan mulai mengatakan inti dari pertanyaanku barusan.


Jika dalam hukum Dewa, manusia yg berbuat salah atau sesuatu yang egois, di tambah merugikan atau menghina Dewa ujung-ujungnya manusia itu akan mendapatkan kutukan sampai pada keturunannya berturut-turut.


Aku diam berfikir sejenak sebelum membahasnya lagi.


"Hmm.. kalau misalnya darahku adalah keturunan terkutuk apakah aku akan mendapatkan kekuatan Dewa?" Tanyaku lagi.


'Ada dua kemungkinan, yg pertama pasti tidak, karena di kutuk. Lalu kedua itu bisa saja terjadi karena kutukan dapat di lepas oleh Dewa sendiri'


Agnasia mengangguk mengerti, apa mungkin kutukan dalam darahku sudah di cabut oleh Dewa sampai bisa mendapatkan anugerahnya-- jangan-jangan dulu saat aku tidak mendapatkan anugerah karena kutukan itu masih ada?!


"Benar! masuk akal, lalu saat aku di hidupkan kembali, tepat di waktu itu Dewa melepaskan kutukan yg ada"


Gumamku memikirkan kemungkinan yg sebenarnya terjadi.


"Kau bicara sendiri lagi"


Snow akan bicara dari luar teras menatap ku aneh, dia lalu masuk dan duduk tepat di samping.


"Ini sudah larut, kau belum juga tidur?"


Dia menatap ku sembari menyingkirkan sebagian rambutku yg terurai kebelakang telinga.


"Masih banyak yg ku pikirkan" jawabku.


"Haa... oh ya buku tua yg kau bawah waktu itu ada pada ku, sebenarnya itu apa?"


Sangking terkejut dan senangnya, aku mendekatkan wajahku pada snow dengan tatapan mata yg berseri-seri.


"Tapi tunggu bagaimana kau tahu itu buku tua?!"


Tanyaku heran. Apa jangan-jangan Snow bisa melihat sampul asli buku itu!


"Entahlah, sekarang menjauhlah sebelum terjadi hal buruk padamu" ucapnya.


Snow lalu mendorong wajahku menjauh darinya.


"Hal buruk? Memangnya apa?"


"Kau tidak paham? Sudahlah kau tidak akan mengerti karena otakmu sempit" balasnya.


Aku memukul tangannya yg menunjuk kepalaku barusan, dengan kasar.


"Jangan menganggap aku seperti itu! Aku hanya belum mengerti saja hal buruk apa yg kau maksud, apa jangan-jangan kau akan melukai ku!"


"Mana ada seperti itu! kau tidak mengerti, hubungan pria dan wanita?"


tanpa hitungan detik aku memukulnya sampai jatuh tergeletak dilantai.


"Kau! Berpikiran kotor ya! Ha!"


"Eh, hanya perkataan saja, aku tidak berfikir seperti itu! Lagi pula kau tidak mengerti arti hal buruk yg kuatkan sejak awal! jadi untuk lebih paham kukatakan saja--"


"Tutup mulutmu!" Teriakku.


Aku memukulnya lagi dengan sekuat tenaga, tapi dia hanya terkekeh saja melihat ku.


"Baiklah aku salah, sekarang kembalilah tidur"


Snow menjentikan jarinya seketika aku melayang menuju tempat tidur dan berbaring di atas benda empuk nan nyaman sambil tertutup selimut yg tebal sampai batas wajah.


"Hei! Aku belum selesai bicara! Pulangkan buku itu Snow!"


"Iya besok saja, malam ini kau tidur" ucapnya.


Tiba-tiba saja pandangan ku memberat, terakhir aku melihat dia menghilang dari dalam ruangan.


...🌼🌼🌼🌼...


Di pelosok kekaisaran, Carin menghancurkan beberapa barang-barang di dalam ruangannya, mengetahui bahwa Agnasia yg baik-baik saja.


Padahal Pitter terlambat menyelamatkan dia, tapi bisa-bisanya wanita itu selamat!


"Agrrhh!! Akan ku hancurkan kau!"


Teriakannya yg begitu mengerikan, menggema dalam ruangan sampai panggilan dari kristal merah memberhentikan Carin.


Dia dengan kesal mengangkat panggil itu.


"Putri ku... tenanglah"


Ucap kaisar Nick dari ujung sana.


"Tapi ayah! Dia tidak Mati!" Geram Carin.


"Tenang, jika kau dalam emosi seperti itu akan bahaya karena tidak terkontrol."


"Baiklah... maafkan aku ayah... sekarang, apa yg harus aku lakukan?" Tanya balik Carin.


Kaisar Nick menjelaskan bahwa rencananya hampir selesai dan akan segera di luncurkan tepat pada waktunya lalu--


"Kau akan terkejut sayang... pedang kegelapan yg langkah itu, telah ayah dapatkan"


Kaisar tertawa licik di ikuti Carin sambil tersenyum memutar-mutar ujung rambutnya.


"Tugasmu hanya tambahkan saja lambang itu, di tempat yg tidak terlihat sisanya serahkan pada ayah"


Mereka mengakhiri pembicaraan tersebut dengan senyuman yg tidak bisa di artikan.


...🌼🌼🌼🌼...


Sementara itu di kekaisaran Sebasta, kaisar Neacel sedang memikirkan sesuatu yg harus dia lakukan kedepannya, dari mata-mata yg dia lepaskan di kekaisaran Ango ada sesuatu yg menjanggal di sana yg mereka lihat.


Warga di sana sedikit demi sedikit berkurang. Dan hanya ada satu kemungkinan hal itu terjadi, mereka merencanakan pembukaan pintu kegelapan untuk kedua kalinya.


Kecurigaannya tidak salah dari awal, udara yg tidak mengenakan ini ternyata dari mereka, manusia yg tidak tahu rasa puas! Tanpa rasa kasihan kaisar itu mengorbankan nyawa warga serta anak-anak yg tidak bersalah agar dapat memuaskan egonya menguasi dunia dari terbukanya pintu kegelapan.


"Apapun yg terjadi aku akan menghalangi mereka yg tidak benar itu, lalu... Agnasia, dia juga mendapatkan kekuatan untuk menyegel pintu itu..."


Untuk menutup pintu kegelapan di perlukan setidaknya dua orang penyegel, dan dari hal yg di selidiki kaisar Neacel, Agnasia memiliki kekuatan penyegel sama sepertinya.


Mungkin karena dia anak pilihan dan special jadi Dewa memberikan kekuatan penyegelan juga padanya.


Beruntungnya waktu itu dia berhasil mengubah perasaan dendam Agnasia, jika tidak, mungkin saja dia sebagai penyegel tidak bisa menutup pintu itu karena ada pemikiran jahat.


"Lebih baik aku menemuinya"