The Destiny Of A Princess

The Destiny Of A Princess
Bagian 26



Menjelang malam, aku bersiap-siap untuk makan bersama dengan ayah dan Kakak. Aku turun sambil melihat sekeliling, hingga langkah kaki ku terhenti seketika.


Seorang lelaki dengan rambut silfer sedang berada di depan ku, dari gerak geriknya, sepertinya dia penyusup.


Sempat aku bersembunyi dan memantaunya dari jauh, lelaki itu lalu belok kearah taman belakang dengan sangat hati-hati.


"Siapa dia? Aku harus mencari tahu itu."


Ku putuskan untuk segera pergi menyusulnya, saat sampai di sana ku dapati dia sedang masuk kedalam labirin taman bunga, ku ikuti dia. Sampai entah kenapa aku kehilangan jejaknya.


"Aku terlambat, sekarang di mana dia?" Ujarku pelan sambil melihat sekeliling. Sampai sesuatu datang menyentuh kakiku dan membuat aku terperanjat kaget.


"Astaga!" Pandangan ku melihat kearah bawah, mendapati Snow yg sedang menatap ku.


"Meow..."


Aku tersenyum dan mengangkatnya, kutatap dia dengan lembut sambil mengelus kepalanya.


"Kau membuat ku kaget saja, sedang apa kau berkeliaran di luar?" Tanyaku tapi hanya di balas suara dengkurannya. Ku putuskan membawanya lagi kedalam, lalu menuju ke ruang makan.


...πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’...


Saat sedang menyantap makan, aku teringat kembali soal lelaki yg berambut silfer itu, apa mungkin dia adalah penjaga atau prajurit dari ayah? Atau mungkin orang baru?


Tanpa Agnasia sadari Ayahnya memanggil namanya berulang kali tapi tidak di jawab oleh Agnasia.


"Agnasia?" Ucap Duke sambil memegang tanganku, aku langsung tersadar dan menatap ayah dengan bingung.


"Ya? Ada apa ayah memanggil saya?" Kataku seketika, terlihat Duke mengerutkan alisnya dan kembali mengatur posisinya.


"Kau sedang memikirkan apa?" Tanya ayah padaku.


"Ah, bukan hal yg penting ayah..." aku tersenyum padanya sambil memotong daging panggang lalu memakannya.


"Hal tidak penting apa itu, sampai ayah memanggil mu saja tidak di jawab" sambung Deondre padaku, aku menatapnya tidak percaya.


"Benarkah?" Sekali lagi aku menanyakannya untuk menyakinkan bahwa aku tidak salah dengar, Deondre mengangguk padaku.


"Katakan saja, jangan diam seperti itu" ucap Deondre. Aku lalu menarik nafasku dan mulai berbicara pada kedua lelaki ini.


"Apa kita ada tambahan prajurit baru, atau pengawal baru ayah?" Kataku pada mereka, tapi di jawab tidak secara bersamaan.


"Memangnya ada apa?" Tanya ayah. Aku lalu menceritakan kejadian tadi pada mereka, ayah lalu memanggil pengawal dan menyuruh untuk memperketat penjagaan keamanan sekitar.


"Kenapa ayah melakukan itu?" Tanyaku balik padanya, ada sedikit jeda sebelum ayah mengatakan maksudnya.


"Beberapa hari ini, ada kejadian yg aneh kan, ayah takut orang yg kau ceritakan itu adalah mata-mata luar." Jelasnya padaku, aku mengangguk dan meminum air.


"Aku akan berkeliling, setelah ini ayah." Ucap Deondre, dan benar setelah selesai acara makan kami dia segera berpamitan dan pergi.


Ku tatap punggung Deondre yg menjauh, sampai aku merasakan sesuatu yg menyentuh kepalaku.


Ternyata itu adalah tangan ayah, rautnya terlihat sangat kaku menatap ku.


'Eh, ada apa dengan rautnya itu, seperti tidak nyaman saja'


Berikutnya aku tersenyum, pada ayah sambil memegang tangannya.


"Ayah, kenapa?"


"K-kau harus berhati-hati, jika ada yg aneh katakan saja pada ayah." Ucapnya lalu segera pergi keluar. Senyuman yg kutunjukkan perlahan menghilang.


Aku lalu memegang dadaku, terasa debaran yg teratur di sana.


"Apa ini rasanya di perhatikan?" Ucap ku sambil sedikit kembali melihat pintu keluar yg di lewati mereka. Berikutnya aku menyuruh pelayan untuk mengambil kain berbulu yg ku punya, setelahnya aku pun pergi menyusul Deondre.


Ternyata dia ada didaerah taman belakang bersama dengan beberapa prajurit yg berjaga-jaga, Aku mendekat kearahnya.


"Kenapa kau di sini? Bukankah harusnya kau sudah tidur" ucap Deondre saat aku mendekat padanya.


"Ia aku akan tidur, ini..." aku lalu memakaikan kain berbulu punyaku yg cukup besar, kain ini sering ku pakai saat jalan-jalan di sekitar kediaman saat malam agar udara tidak begitu menusuk kulit.


"Di luar dingin, pakai saja ini." Kataku padanya, dia awalnya terkejut tapi setelahnya senyuman terukir di wajahnya.


"Baiklah... sekarang pergilah tidur sebentar lagi tengah malam" aku mengangguk dan berbalik pergi dari sana.


Dari arah belakang dua pengawal sedikit terkekeh, mendengar hal itu Deondre berbalik melihat mereka berdua seketika pengawal itu terdiam.


"Apa yg kalian tertawakan?!"


"Tidak Tuan, hanya saja apa tidak apa-apa anda memakai pakaian wanita?"


"Memangnya kenapa? Apa gaji kalian akan berkurang jika aku memakai ini?!!" Ucap Deondre dingin.


"Tidak! Maafkan Kami Tuan!" Ucap mereka berdua.


"Sudah! Sekarang kalian pergi dan awasi kembali daerah gerbang!" Bentak Deondre kedua orang itu dengan cepat pergi meninggalkan taman dan menuju kearah gerbang depan sesuai perintah Deondre.


...πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’...


Besoknya, aku mengunjungi ruangan ayah dengan secangkir teh yg dia sukai. Tapi itu tidak sesuai ekspektasi ku, ayah tidak ada di ruangannya.


"Tuan Duke kemana?" Tanyaku pada salah satu pelayan di ruangan ayah.


"Tuan sedang pergi kekerajaan, karna hari ini adalah pertemuan antar Kaisar dari 2 tempat yg berbeda." Jelas pelayan itu padaku.


'Tunggu, apa jangan-jangan soal masalah waktu itu?!'


Pikir Agnasia, dia lalu meletakan nampan dan teh itu ke atas meja dan pergi keluar bersiap-siap.


"Aku harus melihat kedua Kaisar itu."


...πŸ’Kekaisaran AegeusπŸ’...


Para prajurit menyebutkan nama kedua Kaisar yg masuk kedalam ruangan pertemuan.


Kaisar Theo lalu mempersilakan kedua Kaisar untuk duduk terlebih dahulu, lalu setelah itu para pelayan mendekat dan menuangkan teh kedalam cangkir dan kembali pergi keluar dari dalam ruangan.


Ruangan saat ini sangat mencekam, karena raut wajah Kaisar Louis tidak bersahabat sama sekali.


"Aku sudah paham benar kenapa kalian datang kesini." Ujar Kaisar Theo, berikutnya terdengar suara pukulan meja yg begitu keras. Ternyata itu adalah Kaisar Louis.


"Lalu! Apa semua ini Theo! Apa kau tidak puas hanya memimpin wilayah utara sampai kau ini merebut wilayah barat?!" Marah Kaisar Louis.


"Apa maksud mu Yang Mulia?" Ujar Galen yg berdiri di samping Kaisar Theo dengan mimik wajah yg begitu dingin melihat kearah Kaisar Louis.


Kaisar lalu tertawa melihat kearah depan tepat keberadaan Kaisar Theo.


"Jangan pura-pura, tadi Kaisar mu katakan dia tahu kedatangan ku kesini? Apa perlu ku jelaskan bahwa mata-mata Aegeus meracuni sumur dan sungai?!" Mendengar perkataan Kaisar Louis, Duke dan Deondre cukup terkejut.


"Apa anda tidak salah paham?" Ujar Pangeran pada Kaisar Louis dia lalu melirik Kaisar Nick dengan ekspresi wajah yg tenang.


"Lalu, apa keluhan Yang Mulia Kaisar Nick Juga sama?" Ucap Pangeran sekali lagi dan di angguki oleh Kaisar. Berikutnya Kaisar Theo menyuruh Galen untuk melaksanakan tugasnya membawa bukti yg ada.


Para prajurit masuk sambil membawa mayat 3 orang penyusup waktu itu dan menunjukkannya pada kedua Kaisar.


Nampak wajah mereka yg terkejut, dengan cepat mereka menutup hidung karena aromah yg sangat tidak enak ini.


Kaisar Nick yg tahu ke tiga mayat itu tersenyum licik.


'Cih... apa bukti itu bisa membebaskan mereka dari tuduhan ini? Kita lihat saja'