The Destiny Of A Princess

The Destiny Of A Princess
{Season Dua} Bagian 92 - penyerangan yg akan datang



Dalam ruangan yg penuh dengan lantunan musik, kedua pasangan masih saja menari menikmati momen mereka, bahkan tanpa Agnasia sadari dia sudah menginjak sepatu pangeran beberapa kali.


Begitu menyadarinya, wanita itu hanya bisa menahan malu, sebenarnya seberapa sakit kaki Dellion saat ini.


Melihat raut wajah Agnasia yg khawatir, perlahan Dellion berbisik dengan mengatakan bawah dia baik-baik saja, dan untuk itu tidak perlu khawatir.


Aku mengangguk menyetujui perkataannya kepadaku, sampai musik pun selesai, para pasangan dansa memberikan salam penutupan satu sama lain kemudian berpisah.


Namun berbeda dengan Dellion yg masih saja tidak membiarkan Agnasia pergi begitu saja.


"Bagaimana jika kau melihat kembang api bersama-sama dengan ku?"


Ujar pangeran, Agnasia jadi bingung, bagaimana dia membagi tubuhnya dalam hal ini.


"Untuk itu... ayah serta kakak sudah..."


"Jadi aku terlambat? Baiklah tidak apa-apa, kita akan melihatnya bersama-sama"


Dellion kemudian memanggil pelayan dan memberikan aku segelas jus untuk di minum.


"Aku tahu kau tidak bisa minum alkohol"


Dellion tersenyum sembari membelai rambut Agnasia dengan penuh kasih sayang.


Kemudian mulai berbincang-bincang satu sama lain, menceritakan hal yg sering dibahas para pasangan.


...🌼🌼🌼🌼...


Di luar pembatas tembok, pengawal pribadi dari kaisar Neacel sedang menunggu tuanya kembali, namun sedari tadi tidak ada tanda-tanda darinya.


Tiba-tiba seekor burung merpati terbang kearah Arthur yg saat itu sedang bersembunyi.


"Bukannya ini burung yg sering di pakai Yang Mulia untuk mengirim pesan?" Ujarnya.


Dengan cepat dia mengambil kertas yg terikat di kaki burung itu dan membaca semua yg tertulis di sana, soal yg terjadi pada kekaisaran Aegeus beberapa hari ini.


Saat hendak pergi menyusul untuk memberi tahu pesan dari Agnasia yg sudah sampai. Seseorang dari dalam gerbang muncul, mereka terlihat sedang memperketat penjagaan.


Arthur juga menebak, mereka sedang membicarakan sesuatu yg nampak penting.


Pria itu perlahan mendekati kumpulan penjaga gerbang, sambil mengendap-endap dalam semak-semak.


"Sudah ku katakan bukan, Kaisar kita hebat dalam menangkap mata-mata"


"Ya kau benar, bagaimana tidak. Kekuatannya begitu luar biasa, dan juga sudah banyak pasukan kegelapan yg terkumpul sekaligus pintu kegelapan yg akan segera terbuka."


"Lancang sekali Kaisar Neacel ingin merusak rencana Yang Mulia."


"Diakan si penyegel itu, mana bisa mengalahkan Kaisar kita"


Pembicaraan mereka sungguh membuat Arthur tidak dapat berkata-kata lagi. Harusnya dia tidak membiarkan Neacel masuk sendirian tadi.


"Apa yg harus aku lakukan, di tambah pasukan kegelapan? Lalu soal pintu kegelapan?! Ini gawat!"


Gumamnya sambil memikirkan rencana apa yg akan dia lakukan kedepannya, jika dia menyerang langsung, pastinya kekalahan yg akan menjadi jawabannya, di tambah pintu kegelapan yg akan di buka, jika tidak di cegah, pasukan mereka akan berkali-kali lipat.


Tiba-tiba sosok Agnasia muncul dalam benak Arthur. Dia harus pergi menceritakan ini, dia yakin kekaisaran Aegeus dapat membantu mereka.


Saat akan beranjak dari sana, seseorang keluar dan memanggil penjaga yg ada di depan gerbang. Katanya mereka harus berkumpul karena sebentar lagi akan di luncurkan penyerangan besar-besaran di kekaisaran Aegeus.


'Sial kita lengah!' Pikirnya.


Setelah Arthur merasa aman dengan keadaan sekitar, dia pun keluar dari dalam semak-semak, dan masuk kedalam hutan.


Tanpa dia sadari seseorang sempat melihat kepergiannya itu dan langsung menyusulnya.


...🌼🌼🌼🌼...


Di tengah perjalanan, Arthur merasakan ada seseorang yg sedang mengikutinya dari belakang. Saat berbalik, dia langsung terhempas kearah pepohonan dengan kasar.


"Ternyata temanya si tikus" ucapnya.


"Siapa kau?!" Teriaknya dari jarak yg cukup jauh.


Sebelum menjawabnya Carin tertawa terbahak-bahak dan mendekati Arthur perlahan-lahan.


Begitu sudah di depan mata, cahaya rembulan menembus dedaunan menyinari warna mata merah muda milik Carin. Wanita itu menunduk sembari memegang wajah Arthur lembut.


"Oho! Pria yg tampan... bagaimana jika kau ikut aku saja?" Ujar Carin dengan nada chas dirinya.


Tanpa hitungan detik Arthur mengeluarkan belati kecil dan melukai wajah Carin tanpa tanggung-tanggung, kemudian dia balik bangkit berdiri dan lari dari sana.


Detik berikutnya terdengar teriakkan yg mengerikan dari belakang.


"Pria sialan!! Wajah ku yg berharga! kau tidak akan ku maafkan"


Geram Carin, dia lalu mengangkat tangannya keudarah, seketika beberapa potong kayu berterbangan siap menyerang Arthur.


Dengan sekuat tenaga dia lari dan bersembunyi dari wanita yg tidak dia tahu itu siapa, kemudian Arthur sedikit bersiul saat sudah mendapatkan tempat yg aman, setelahnya seekor burung gagak datang padanya, dia lalu menggukir sesuatu di permukaan kayu dan segera di berikan kepada burung tersebut.


"Nah ketemu..."


Ucap Carin dengan senyuman mengembang yg begitu mengerikan, dan dengan cepat menahan pergerakan Arthur dengan menikam kakinya menggunakan sebatang kayu yg di bawahnya tadi.


"Bunuh saja aku wanita gila!" Teriak Arthur kesakitan.


Seketika sebuah kayu lain yg panjang dengan ujung tajam terbang dan menikam bahu Arthur, pria itu berteriak kesakitan untuk kesekian kali, keringat dingin bercucuran saat darahnya semakin terkuras.


"Sial! Padahal kau tampan, Kenapa tidak mendengarkan aku sih!"


Carin menunduk, mendekatkan wajahnya yg membuat Arthur terkejut karena luka sayatan yg dia berikan tadi menghilang begitu saja di wajah wanita itu.


"Sebenarnya makhluk apa kau ini!"


Ucapnya gemetaran dengan nafas tersengal-sengal menahan rasa sakit di bagian bahu kanan yg tertancap sebatang kayu yg tajam.


Carin tersenyum miring, dia kemudian mengambil darah dari Arthur dengan jari telunjuknya, lalu mencicipinya.


"Hmm... kau sangat cocok sebagai tumbal" ujarnya.


"D-dasar iblis!"


"Hmm? Iblis? Tidak pantas sekali kau mengatai aku seperti itu... karena semuanya pasti memiliki sisi jahat dalam dirinya. Dan itu tidak terkecuali"


Dia lalu memutar jari telunjuknya, seketika Arthur melayang di udara, dan menghilang bersama dengan Carin.


...🌼🌼🌼🌼...


Dalam pesta kekaisaran, semua bangsawan sudah mulai bersiap-siap pada tempatnya, karena sebentar lagi kembang api akan di luncurkan.


Namun entah kenapa ada perasaan yg aneh yg timbul dalam diri Agnasia, dia lalu berpamitan untuk kebelakang sebentar, meninggalkan Dellion beserta yg lainnya.


Dia pergi mengambil segelas air dan meminumnya sampai habis.


Dia merasakan perasaan terancam yg sama seperti waktu dia di paviliun lama.


"Tears? Kau dengar aku" ujar Agnasia.


'Ya, aku mendengar mu selalu, apa kau mau menanyakan soal udara malam ini yg begitu aneh?'


"Benar, kenapa begini? Apakah hanya aku saja yg merasakannya?" Tanya Agnasia.


'Sepertinya begitu, karena kau memiliki kekuatan penyegel jadi bisa saja seperti itu'


Saat dalam perbincangan, tiba-tiba dari arah teras belakang, sesuatu mengetuk-ngetuk pintu teras. Itu membuat Agnasia terkejut dan langsung mendekat kearah suara.


Begitu pintu terbuka, nampak burung gagak langsung terbang menyambar Agnasia, dan jatuh kelantai dengan tidak bernyawa.


Agnasia menunduk saat melihat burung itu seperti membawa sesuatu dalam mulutnya, ternyata itu adalah sepotong kayu kecil dengan tanda aneh yg terukir disana sekaligus noda darah segar ada pada permukaan kayu.


"Apa ini?" Gumam Agnasia dengan kedua bola mata membesar.