
Aku sedikit menundukkan kepala sambil menutupi wajahku dengan kedua tangan,mengingat kejadian tadi sungguh memalukan di tambah di depan Kaisar, habis sudah.
'Uaaa ingin aku berteriak di tempat ini'
"Maafkan aku soal tadi... saat itu aku sedang terburu-buru"
Pandangan ku melihat kesamping kanan tempat Dellion, karena kejadian itu kaisar menyuruhnya untuk mengantarku pulang dan dia menerimanya.
"Tidak apa-apa itu juga bukan di sengaja, sebelum pulang saya ingin mengunjungi perpustakaan sebentar"
Setelahnya tidak ada pembicaraan sampai kami tiba di dalam ruangan perpustakaan, tapi mengapa dia mengikuti ku sampai masuk?
'Biarkanlah... kau harus fokus Agnasia!'
Aku berkeliling melihat rak-rak buku yg tersusun rapi dengan berwarna-warni namun elegan dari besar hingga kecil. Ketika melihat rak berikutnya buku yg ku cari ada disana.
"Itu dia.."
Langkah ku mendekat dan mengambil buku tersebut, namun itu terlalu tinggi untukku sepertinya aku harus mencari bangku kecil sebagai tempat pijakan.
Melihat itu pangeran datang mendekat kearahku dan mengambil buku yg ada di rak atas. Aku diam tidak bergerak, entah kenapa nafas pelan darinya begitu terasa di atas kepala ku.
"Ini yg ingin kau ambil kan?"
"Be-benar!"
Segara aku berbalik mencari tempat duduk yg nyaman dan membuka buku itu.
"Ternyata benar... kau memiliki anugerah itu kan?"
Suaranya terdengar di samping ku, aku mengangguk sambil kembali mencari tahu tentang kaisar-kaisar sebelumnya. Sampai pada data Kaisar wanita itu, tentang sejara yg dia lakukan serta hal penting lainnya, aku mulai membaca tulisan demi tulisan.
'Kenapa! Buku ini juga tidak menjelaskan secara detail penyakit itu!'
Beberapa Kaisar lainnya di jelaskan dengan detail kematiannya, bahkan orang-orang bersama dengan mereka tapi, kenapa Kaisar ini tidak begitu jelas? Apa karena hanya dia keturunan terakhir dari anugerah itu, aku juga harus mencari tahu lebih lanjut lagi.
Tapi... petunjuk soal dia tidak ku temukan, penjelasan ini sama seperti buku yg ku baca tadi saat di tempat ku, aku harus mencari petunjuk.
'Ini... aku begitu penasaran---eh'
Tiba-tiba tanganku di tarik oleh pangeran, aku menatapnya terkejut. Pangeran melihat ku tidak senang, seperti dia memarahiku dari tatapannya.
"Apa yg kau pikirkan sampai ingin melukai dirimu?"
"Aku tidak..."
Ketika melihat kearah tanganku ternyata ada cairan merah yg keluar dari jari telunjukku.
'Astaga kebiasaan lamaku...'
Segera aku menarik tanganku dari pangeran, mengeluarkan sapu tangan dan membersihkannya. Aku berfikir kebiasaan lamaku itu sudah tidak ada tapi nyatanya masih, jika aku sedang khawatir atau memikirkan sesuatu yg tidak ada jalan keluarnya reflek aku akan mengigit kuku ku tanpa sadar.
"Sebenarnya kau kenapa?" Tanya pangeran.
Aku tidak menjawabnya dan hanya diam sambil membersihkan lukaku.
"Keras kepala juga... aku tahu kau pasti sedang mencari tahu kematian Kaisar itu kan?"
"Bagaimana pangeranย tahu?"
"Tebak saja... tapi sejarahnya hanya seperti itu... tidak lebih, lalu harusnya kau bisa mengobati lukamu sendiri dengan kekuatan kan?"
Aku diam berfikir jadi sejarahnya hanya seperti ini, dia mati karena penyakit misterius.
"Aku bertanya padamu... kenapa tidak di jawab?"
"Maaf... aku belum bisa menggunakan kekuatan itu, jadi seperti ini..."
"Tapi aku langsung bisa, apa kau belum memiliki batu itu?"
Tanya pangeran tapi tidak ingin ku jawab segera padanya.
"Hmm melihat ekspresi mu pasti belum kan? Jangan khawatir, masalah seperti ini pernah di alami oleh Marques Christoffel"
'Kakak Galen?'
Ternyata dia pernah seperti ku? Apa mungkin karena terlambat munculnya batu itu, jadi bisa mempengaruhi kekuatan ku?
Jelas pangeran, dia kemudian menatap ku.
"Jangan malu bertanya... aku akan menjelaskan semua padamu"
Sedikit aku membuang pandangan ketika pangeran berkata seperti itu padaku. Sebenarnya aku ingin mencari tahu sendiri, karna aku masih merasa bersalah padanya
"Kau masih tidak percaya padaku?"
"Saya tidak ingin merepotkan pangeran, kalau begitu saya akan pulang"
Tangan pangeran memegang ku kemudian bangkit berdiri pergi keluar, sepanjang perjalanan banyak mata yg memandang kami, sebenarnya aku sudah sedikit meronta agar dia melepaskan ku saja.
Tapi, sepertinya dia tidak mau dan terus berjalan tanpa henti sampai di depan kereta kuda. Dia menuntun ku masuk kedalam dengan hati-hati
Sepanjang perjalanan kami berdua hanya saling diam, dan tiba saat sudah sampai di kediaman ku pangeran menahan tanganku sebelum pergi.
Matanya yg berwarna biru menatapku.
"Apa kau suka bunga anyelir?"
Detak jantung ku berpacu ketika mendengar pernyataannya pangeran, pikirku bercampur aduk jangan-jangan ingatannya sudah kembali?
"Bagaimana anda tahu itu?"
"Aku memimpikannya semalam, namun itu seperti pernah ku rasakan."
Rasa kecewa muncul mendengar perkataan pangeran, ternyata itu hanya sebuah mimpi dan dia ingin memastikan itu. Tapi tak apa, walaupun hanya mimpi aku sedikit senang dia memikirkan ku.
"Begitu ya... jika hanya itu boleh lepaskan tangan anda?"
Dengan cepat dia melepaskannya, aku berpamitan dan berbalik pergi. Dari arah yg berlawanan Dellion menatap punggung wanita itu perlahan menghilang dari pandangan.
"Agnasia..."
Pangeran pun beranjak pergi dari sana menuju kediaman Alastor untuk bertemu dengan Galen beserta Marques Christoffel.
...๐๐๐๐...
Galen tertawa terbahak-bahak sambil menatap pangeran Dellion yg duduk dengan wajah yg memerah.
Karena itu, pangeran merasa tidak nyaman, dia pun bangkit berdiri dan akan pergi bertemu dengan Marques Christoffel saja orang yg bisa di ajak berbicara serius.
"Percuma pangeran mau menanyakan hal itu pada kakakku yg kaku"
Ucapnya sembari menghapus setitik air mata yg keluar karena sehabis tertawa. Galen berdiri mendekat kearah pangeran dan mendorongnya agar duduk kembali, pangeran pun mengikuti apa yg di lakukan Galen selepas itu lelaki Alastor tersebut duduk kembali di tempat semula.
"Coba ulangi pertanyaan pangeran?"
"Tidak. Kau akan tertawa kembali."
Ujar pangeran dingin dengan tatapan yg tajam.
"Ah aku tidak akan tertawa lagi, cukup sekali... katakan?"
Dellion mengatur nafasnya kemudian berbicara lagi hal yg dia tanyakan tadi, tapi belum di jawab oleh Galen.
"Bagaimana cara membuat wanita jatuh hati"
Galen menutup mulutnya karena akan tertawa kembali.
"Ingin ku potong mulutmu itu" ucap pangeran.
"Pfttt oke... oke.. huft.. ekhemm! Tenang... tenang..."
Galen berusaha mengendalikan dirinya agar menjadi setenang mungkin dan bisa berfikir jernih.
"Memangnya ada yg lucu tentang pertanyaan ku!"
Mendengar itu dia kembali tertawa sambil memukul sofa tempat yg dia duduki sekarang.
"Sangat lucu bahkan. Biasanya anda datang kesini berbicara soal taktik, penjagaan, keadaan kota dan lainnya. Tapi, sekarang pangeran mengatakan hal yg bahkan tidak ku pikirkan"
Selepas galen berbicara seperti itu, Dellion menjadi sedikit sadar sambil memikirkan kenapa dia bertanya seperti itu? Memalukan sekali.