The Destiny Of A Princess

The Destiny Of A Princess
{Season Dua} Bagian 101 - Perubahan



Kaisar Nick membuka mulutnya, terdengar suara tawa yg perlahan-lahan membesar.


"Kau mengatai aku bodoh? Bagaimana dengan batu kekuatan yg telah ku dapatkan?"


Dia menggerakkan tangannya di ikuti batu kekuatan yg melayang di udara tepat di atas tangan Nick.


Agnasia melihat itu dalam diam, tiba-tiba senyuman di ujung bibirnya terlihat.


"Bukankah itu yg asli"


Tunjuk Agnasia kebelakang tepat pada Neacel yg sedang memegang batu kekuatan yg sama. Kaisar Nick nampak bingung, dia melirik Agnasia tajam di balik tatapnya ada kata-kata umpatan untuk wanita Alddes itu.


Tiba-tiba Carin bergerak menangkap Neacel dan langsung merebut batu yg ada padannya, setelah itu berbalik menyerahkannya pada Nick.


"Nah sekarang, Siapa yg lambat di sini."


Ujar Carin tersenyum remeh. Nick langsung membuang batu kekuatan pertama yg ada padanya kearah Agnasia.


Wanita itu melirik diam menatap tanah tempat batu kekuatan tersebut, dia mengambil satu persatu semua batu-batu itu dan ia menyerahkannya pada Snow yg muncul seketika di samping Agnasia.


"Seperti kata ku sebelumnya, kalian begitu bodoh. Padahal yg asli sudah di tangan, tapi di buang begitu saja." Tawanya merasa lucu.


Carin terdiam dia gemetar karena menahan amarah telah di permainan Agnasia berkali-kali. Sosok itu pun pindah dan langsung menyerang Agnasia, dengan pedang sihir yg ia munculkan.


Tetapi wanita itu dengan gesit menghindari serangan Carin.


"Dasar penakut! Kau menghindar karena aku bisa membunuhmu kan!"


Teriak Carin dan sekali lagi menyerang Agnasia.


Di tengah pertarungan antara keduanya, yg lain sudah siap karna batu kekuatan mereka telah kembali, Kaisar Theo langsung dengan cepat bergerak menyerang Nick.


Tetapi cahaya keunguan keluar dari tubuh Nick seketika menyerang balik serangan Theo, satu buah pedang yg mengkilap dengan aura hitam pekat keluar dari sana, seperti ingin membela tubuh manusia sampai potongan-potongan terkecil.


Saat itu kaisar Nick tertawa sambil mengangkat pedang kegelapan menujuk langit, seketika petir menyambar dan langsung menuju kearah mereka yg berdiri tidak jauh dari sana.


Kemudian, terdengar suara pintu yg mulai terbuka sedikit demi sedikit, Roh yg hilang muncul kembali.


"Bukankah itu pedang yg tidak boleh di gunakan?" Ujar Duke pada kaisar Theo.


Pria itu mengangguk, pedang kegelapan adalah benda kuno yg tercatat dalam sejarah para dewa, di mana baal membuat pedang itu hanya untuk menguasai dunia manusia dan Dewa.


Kehancuran yg besar terjadi. Namun pedang itu berhasil di segel oleh salah satu penyihir suci dan mengubur pedang kegelapan itu dalam-dalam serta menutupinya dengan sihir penghalang.


"Ini akan sangat berbahaya!" Ujar kaisar lainnya.


"Ya. Anda benar, tetapi yg aku tahu, jika pemilik itu tidak sebanding dengan kekuatan pedang, maka ia akan di lahap oleh pedang itu sendiri." Jelas kaisar Theo.


Tiba-tiba serang mendadak datang seperti kilat tanpa di duga-duga beruntungnya semua dapat terhindar.


"Lawan aku sekarang!"


Teriakan kaisar Nick berubah menjadi seperti monster.


Carin langsung berbalik menatap ayahnya dari kejauhan.


"Tidak. Apa yg ia lakukan dengan pedang itu." Ucapnya tidak percaya.


Agnasia tidak mengerti dengan yg di katakan Carin.


Tiba-tiba Snow muncul dan memberikan pedang pada Agnasia. Wanita itu mengangguk dan langsung pergi menyerang para roh yg sedang ditangani lainnya.


"Brengsek! Jangan lari kau pengecut!"


Teriak Carin menyusul Agnasia.


Di tengah jalan ia berhenti karena Snow menghadangnya sekali lagi.


Sementara Agnasia sudah berada di samping yg lainnya membantu mereka.


"Taktik mu sungguh luar biasa!" Ujar Galen sembari tersenyum.


"Ya, dia hebat. Tapi kau tahu, jantung ku hampir berhenti melihat dia yg nekat."


Jawab Dellion sembari memotong para roh dengan kekuatannya.


Ketiganya kemudian saling membelakangi dan terdengar Agnasia yg tertawa.


Dellion hanya melihat sekilas dengan kesal dan lanjut kembali menyerang, kemudian setelah selesai dengan para roh, Agnasia balik memanggil Neacel untuk langsung menyegel saja pintu asli.


Dia mengangguk dan segera pergi melanjutkan misi mereka yg tertunda. Sesampainya di sana, Neacel bersama Agnasia berpisah, membagi tempat di sudut kiri dan kanan pintu dan memulai penyegelan.


Nick merasakan sesuatu yg aneh, ia segera melirik kearah pintu.


"Agnasia!!!" Teriaknya marah.


Namun ia tidak bisa kesana karena banyak yg menghalangi jalan untuk sampai pada pintu tersebut.


"Kita harus menahannya agar tidak sampai pada mereka!" Teriak kaisar Theo.


Semuanya dengan sekuat tenaga menahan serangan dahsyat yg di berikan Nick secara terus menerus. Luka di sekujur tubuh makin bertambah, namun itu tidak menjadi halangan bagi mereka.


Beberapa menit berlalu, di perkataan terakhir keduanya, muncul cahaya yg menyelimuti tempat pintu kegelapan. Dari dalam tanah keluar rantai besi bercahaya mengikat pintu itu lalu lenyap secara bersamaan.


Agnasia bersama Neacel terengah-engah, keduanya terduduk kasar dengan rasa lega sudah menyegel akar dari semua. Sebenarnya jika pintu itu terbuka, akan lebih bahaya lagi.


Bisa saja yg keluar bukan cuma roh kegelapan melainkan baal sendiri juga akan muncul.


Tiba-tiba ada rasa panas yg muncul dalam tubuh Agnasia, ia pun terbatuk-batuk mengeluarkan darah, yg membuat Neacel terkejut.


"Agnasia! Kau tidak apa-apa?!"


"Tenanglah, hal seperti ini biasa terjadi saat aku lelah." Jawab wanita itu tersenyum, sambil mengusap darah yg ada di sudut bibirnya "Sekarang kita harus mengalahkan--"


Perkataan Agnasia terhenti mendengar teriakan yg sangat nyaring menusuk dalam pendengaran, ternyata itu adalah kaisar Nick, entah apa yg terjadi tubuhnya mulai membesar sedikit demi sedikit.


"Akan ku bunuh!"


Ucapnya lagi. Dan berpindah tempat menuju Agnasia.


Tetapi wanita itu sudah tidak lagi terperangkap tangan besar kaisar Nick untuk kedua kalinya. Ia mengarahkan pedang pada pria itu tanpa rasa takut.


"Agnasia jangan melawannya seorang diri." Ujar Neacel, menatap serius kearah Nick. "Dia sudah seperti iblis, pedang itu meracuni pikirannya"


Nick mengerakan pedangnya menyerang Agnasia, wanita itu meloncat menghindari pedang tersebut dengan cepat.


"Jangan kabur kau! Wanita kecil"


Ujarnya mengejar Agnasia, melihat itu Dellion bergerak dan menarik wanita itu cepat-cepat.


"Sial! Bagaimana dia bisa jadi aneh seperti itu"


Umpat Galen, dia terlihat begitu lelah. Seluruh tubuh mereka tidak luput dari cairan merah yg keluar akibat serang dahsyat sebelumnya.


Dari jauh Duke berteriak memanggil Agnasia beserta yg lainnya untuk mendekat padanya, karena ia akan menggunakan kekuatan pelindung yg besar. Ke empat orang itu mengangguk dan berbelok menuju arah Duke.


Sekarang semua berkumpul menjadi satu, Duke segera membuat lingkaran sihir dan menutupnya agar Nick tidak bisa menyerang mereka.


"Tunggu! di mana Snow!" Ucap Agnasia cemas.


"Dia sedang bertarung dengan Carin."


Jawab Neacel, nampak dari kejauhan dua orang yg tengah bertarung, Agnasia ini keluar memanggil pria itu tapi di tahan keras oleh Dellion.


"Percaya dia akan baik-baik saja." Seru Dellion.


Wanita itu mengangguk dengan terpaksa, ia lalu menuju kearah Duke yg tengah mengeluarkan kekuatan untuk melindungi lainnya.


Agnasia menatap pria itu sedih, dia lalu mengeluarkan kekuatan mengobati luka-luka yg ada pada ayahnya sampai sembuh.


"Jangan buang-buang tenaga mu..."


Ucapnya membuka mata, melirik Putrinya dengan lembut.


Agnasia memegang wajah ayahnya dan tersenyum.


"Aku akan baik-baik saja ayah." Katanya pelan.


"Ayah mohon, jangan bertindak ceroboh... kau tahu betapa sedihnya aku melihat mu tadi yg hampir mati? Jadi ayah memohon dengan sangat pada mu... sudah cukup Mariana saja jangan kau Agnasia... "


Setitik air mata keluar dari wanita itu, Agnasia mengangguk dan langsung memeluk ayahnya erat.


"Aku tidak akan meninggalkan mu ayah..."