
Agnasia berdiri di depan tiga perampok yg sedang menertawakan dia dengan berucap kata lemah pada wanita itu.
"Apa kau sanggup? Hahaha sepertinya tidak"
ucap salah satu dari mereka.
"Benar, perempuan yg lemah lembut seperti ini... pfttt!"
Tawa mereka mengemah di jalan itu. Padahal sedari tadi dia sedang mengatur strategi untuk menyerang mereka.
"Dapat!"
Ucap Agnasia sambil menatap mereka.
"Dapat? Apa? Tidak dapat di kalahkan kan?"
Ejek perampok itu pada Agnasia, wanita itu sedikit tersenyum membalas perkataan mereka.
"Biasanya yg paling banyak bicara itu yg paling lemah."
Mendengar perkataan Agnasia perampok tersebut merasa malu, dia segera menyerang Agnasia dengan pedangnya tapi dengan cepat juga Agnasia menghindar.
Dia memutar tubuhnya dan menarik gelang yg ada di tangan perampok itu sampai putus.
"Bukankah kalian hanya kuat karena gelang sihir ini?"
Ucap Agnasia sambil kembali memukul jatuh perampok itu ketanah. Dari arah berlawan dua orang menyerang secara bersamaan.
Agnasia menunduk mengambil pasir dan melempar kearah kedua orang itu, mereka berdua berteriak karena pasir yg ada masuk kedalam mata dan membuat mereka tidak bisa lagi melihat dengan jelas.
Saat akan menyerang mereka, Eliza tiba-tiba berteriak, Agnasia memutar tubuhnya sebuah belati masuk dan menusuk perutnya.
Ughkk!!!
Wanita itu terdiam, dia memegang tangan pria yg telah menikamnya dan menatapnya marah.
"Ck! Ternyata kau wanita lemah, yang bermulut besar."
Ucap Jors sambil mencabut belati itu dari tubuh Agnasia, wanita itu pun ambruk dengan darah yg membasahi pakaiannya, perlahan-lahan penglihatan Agnasia menjadi buram.
"Agnasia!!!"
'Siapa itu? Apa aku mati?'
...💐💐💐💐...
Saat Agnasia membuka matanya, tempat yg tidak asing terlihat. Bagaimana bisa dia melupakan tempat ini, di mana semua awal tercipta disini.
Untuknya yg sudah sangat kecewa pada Pangeran, tempat ini serasa seperti menyayat hati dan pikirannya.
'Kenapa aku di sini?'
Ku telusuri taman yg penuh dengan bunga anyelir putih ini, tiba-tiba dari arah belakang terdengar tawa seseorang yg di kenal Agnasia. Perempuan itu berbalik mendapati Pangeran bersama dirinya tengah tersenyum dengan bahagia.
Melihat hal itu ada sesuatu yg mengganjal di hatinya. Dia begitu ingat, ini saat-saat Pangeran akan membuat janji setia bersamanya.
Agnasia mendekat kearah dua orang yg sedang menatap penuh kasih satu sama lain, dia mengepalkan tangannya erat.
'Jangan! Pergilah dari sini!! Pergi!!!'
Teriak Agnasia tapi mereka tidak bisa mendengarkan teriakan wanita itu sedikit pun. Sampai sebuah janji untuk kesekian kalinya terdengar di telinga Agnasia.
'Tidak... kau pembohong!! Aku sangat membenci mu!!'
Wussshhh...
Selepas itu, tiba-tiba keadaan berubah. Nampak dua orang yg berbeda, sedang berjalan sambil bergandengan tangan.
Kehampaan yg sama dia rasakan saat melihat dua sosok yg ada di depannya. Sungguh padahal dia tidak ingin melihat ini
Hanya bisa menundukkan kepalanya, Agnasia merasakan sakit itu lagi dan lagi... dia sangat membenci Dellion, dia mengepalkan tangannya erat tiba-tiba dari arah belakang seseorang mendekat dengan cepat dan memeluk Agnasia erat. Dia perlahan mulai membisikkan sesuatu padanya.
'Menangislah... bukanya ini adalah takdir yg tidak adil untuk mu? Harusnya kau bahagiakan?'
Bisiknya.
'Benar... harusnya aku bahagia...'
'Ini semua karena Dewa mengembalikan mu kesini... dia hanya ingin menyiksa mu dengan cerita yg sama seperti kehidupan mu dahulu'
'Kau benar, aku tidak menyukai semua ini'
'Kalau begitu benci saja mereka, bukankah itu lebih baik? Aku akan membantu mu'
Kemudian sosok itu lalu menghilang dari hadapan ku, dan hanya ada kegelapan yg terlihat.
Udarah yg begitu dingin ku rasakan namun di balik itu setitik cahaya terlihat menghampiri ku.
Ini berbeda dengan sosok sebelumnya yg ku temui, rasanya begitu hangat sampai ada sesuatu yg mencabut semua rasa sakit itu.
Suaranya yg begitu lembut dan hancur masuk kedalam pendengaran ku.
'Apa maksud mu?'
Tanyaku, kemudian cahaya itu memutari tubuh ku dan mulai berbicara.
'Bukankah kau sudah tahu, Dewa memilih mu karna dia menyayangimu? Kenapa kau mau melukai dirimu dengan kebencian yg sama seperti dulu?'
Ucapnya padaku sekaligus meninggalkan pertanyaan di hati kecilku.
'Semua omong kosong! Kau tidak akan mengerti!! Sejak kecil aku sudah di kutuk!! Tidak akan mendapatkan cinta sedikit pun! Apa kau mengerti akan hal itu!!!' Teriak ku padanya.
'cobalah melihat dengan cara yg berbeda, kau akan menemukan sesuatu yg tidak kau temukan di kehidupan mu yg dulu'
Mendengarnya aku sedikit tertawa, siapa dia yg bercerita layaknya seseorang yg paham dan sudah menjalani takdir yg menyakitkan sama seperti ku?
'Aku datang kesini hanya untuk membantu mu, kau harus memilih jalan yg benar...'
'Jangan memerintahku, memangnya siapa kau!'
'Aku adalah dirimu sendiri'
Sedikit aku tertawa kembali karena mendengar lelucon yg dikatakannya, mana ada hal yg seperti ini.
'Jangan bicara yg tidak-tidak'
'Aku tidak berbohong, tapi semua keputusan ada padamu.... pergi tenggelam bersamanya atau Melihat sudut pandang yg berbeda.. kelahiran kembali adalah pemurnian.. ingatlah itu'
cahaya itu lalu masuk kedalam tubuh ku.
Deg!
Deg!
Ughk!!!
Rasa sakit menusuk yg tidak bisa tertahankan ini sungguh menyiksa ku. Perlahan terdengar suara seseorang yg sedang memanggil namaku lagi.
'Siapa?'
...💐💐💐💐...
Di kediaman kakek semua kini tengah menunggu Agnasia membuka matanya, racun yg ada di belati yg telah menusuk Agnasia adalah racun langkah yang bisa membunuh dengan cepat jika sudah masuk kedalam tubuh manusia.
"Apa dia akan baik-baik saja kakek?"
Tanya Eliza yg sedang menatap sayu kearah Agnasia.
"Entahlah... tapi ramuan pemulihan ini akan bisa menetralkan racunnya"
Jelas kakek, dia lalu menatap Agnasia dengan serius.
'Aku baru kali ini menemukan seorang yg bahkan bisa bertahan selama ini...padahal jika manusia biasa dia pasti akan mati jika tidak di tangani dengan cepat... dia hebat bisa bertahan.'
Pintu lalu terbuka, Pangeran Dellion mendekat kearah Agnasia dengan cepat. Galen yg melihat itu terkejut, padahal dia belum boleh bergerak.
Saat itu Pangeran mengeluarkan semua Kekuatannya bahkan hampir membunuh dirinya sendiri dan sekarang dia malah memaksakan diri seperti ini.
"Lion? Bukankah kau harus istirahat dulu..."
"Keluar..."
"Apa yg kau kata--"
"Ku bilang keluar! Tinggalkan aku sendiri."
Mendengar bentakan dari Dellion, semua kini keluar dari dalam kamar meninggalkan Agnasia bersama Dellion.
Ceklek... pintu tertutup.
Langkahnya mendekat kearah Agnasia, dia duduk di samping wanita yg sedang tertidur lelap, perlahan dia mengambil tangan Agnasia dan menggenggamnya erat.
"Aku sudah kembali dengan selamat... tapi kenapa tidak dengan mu?"
Suaranya terdengar pilu... perlahan Dellion menangis sambil mencium lembut tangan Agnasia.
Cup.
"Harusnya aku tidak membiarkan mu pergi... ini semua salahku... aku tidak bisa melindungi mu"
Seperti tersayat pedang, Dellion menahan sakit itu saat melihat wanita yg ingin dia lindungi malahan terbaring tidak sadarkan diri selama tiga hari.
"Maafkan aku..." ucapnya.
Perlahan ada pergerakan dari Agnasia, tapi itu membuat Dellion lebih khawatir karena Agnasia menunjukkan reaksi yg begitu aneh.
"Agnasia! Agnasia! Apa yg terjadi!"