The Destiny Of A Princess

The Destiny Of A Princess
{Ekstra part and pengumuman}



Dalam kekaisaran, terdapat mitos bahwa ketika seseorang lahir dengan memiliki tanda yang sama dengan orang lain. Itu pertanda bahwa kehidupan lampaunya pernah membuat janji bersama untuk hidup di kehidupan selanjutnya.


Tetapi itu hanya sebuah mitos yang tidak di percaya oleh Athalia. Anak desa terpencil yang begitu cuek. Dia berfikir bahwa tanda itu wajar bagi semua manusia yang lahir di dunia.


Menjelang senja saat di mana orang-orang kembali pulang sehabis bekerja, seorang wanita dengan rok panjang berwarna coklat seiras dengan kemeja miliknya, tengah membawa dua buah ember untuk menimba air.


Kulitnya yang putih begitu mencolok dari kejauhan. Apa lagi rambut berwarna caramel yang berpadu dengan warna bola mata hijau emerland miliknya, terlihat begitu cantik.


Saat tengah menimbah air di dekat sumur, terdengar seseorang yang memanggilnya dari belakang. Reflek Athalia berbalik melihat kearah suara.


Ternyata itu adalah May, sahabat kecilnya yang baru pulang sehabis mencari kayu bakar di sekitar hutan dekat desa.


Dengan girang ia mendekat seperti seorang yang menang lotre.


"Ada apa," tanyanya setelah May sudah dekat sembari menimba air untuk mengisi tempat yang kosong.


"Kau tahu! Pangeran yang naik tahta menggantikan Kaisar yang wafat?"


Athalia hanya mengangguk mendengar pertanyaan dari sahabatnya itu.


"Katanya sejak Pangeran naik tahta, beliau mencari seorang istri yang memiliki tanda sama sepertinya," ucapnya dengan hebo.


"Lalu?" tanya Athalia sambil menaikan salah satu alisnya, kemudian menjunjung air untuk kembali pulang.


"Astaga! Jika tandanya sama, pastinya kita akan jadi Ratu mendadak! Ayo kita pergi ke ibu kota dan menunjukan tanda yang kita miliki! siapa tahu beruntung!" ujar May kegirangan seperti orang kesurupan.


"Haa ... Aku tidak mau! Lagi pula itu hanya mitos! Ingat mitos!" tekan Athalia tidak menghiraukan perkataan sahabatnya.


"Tapi beberapa orang percaya dan sudah ada bukti, salah satu dari pemilik tanda akan mengingatnya!" seru May tidak mau kalah.


"Aku tidak ingat tuh. Sudah ya. Bye"


Athalia melambaikan satu tangan sebagai tanda sampai bertemu nanti pada May.


Mitos yang konyol. Serunya dalam hati sambil tertawa singkat.


...❃❃❃...


Menjelang malam, sehabis membersihkan tubuh dan berpakaian, di lanjutkan dengan menyisir rambut kemudian beristirahat, sebelum matanya terpejam, ia melirik tangan kanannya tepat di jari manis yang memiliki tanda seperti salju.


Athalia teringat kembali soal perkataan May di dekat sumur beberapa jam lalu. Wanita itu terkekeh tidak percaya dan berbalik menghadap kiri untuk mencari posisi yang nyaman agar ia tertidur.


Tidak menunggu lama, Athalia tertidur dan langsung bermimpi. Ia melihat seorang pria yang sedang menatapnya sembari tersenyum tetapi tidak jelas.


Ia rasa suasananya sedang gelap, dan salju turun di luar jendela.


"Berjanjilah kau akan hidup bersamaku di kehidupan selanjutnya," ucapnya yang tidak begitu kedengaran.


Seketika Athalia langsung tersadar dari tidurnya. Ia bernafas tidak karuan. Dia kemudian bangun dan pergi ke arah dapur untuk sekedar mengambil segelas air, hendak menenangkan dirinya.


Ini kali pertama ia memimpikan seorang pria misterius.


"Aku sudah tidak waras karena mendengar perkataan May," katanya sambil duduk memegang kepala.


Karena kejadian itu ia tidak bisa tertidur dengan nyenyak sampai pagi, sepertinya hari ini dia tidak bisa ke ladang untuk bekerja.


Tetapi dari luar terdengar tiupan terompet. Begitu memeriksanya dari dalam rumah, ternyata ada seorang kesatria dengan kuda putih memegang surat di tangannya.


Dengan lantang ia membacakannya sebagai perintah dari Kaisar baru.


"Untuk seluruh wanita muda yang belum menikah! Di haruskan datang ke kerajaan Kaisar, mengikuti perintah memeriksa tanda. Jika tidak memenuhi titah Kaisar dia akan membayar denda dua kali lipat."


Mendengar itu dari dalam rumah, Athalia tentu saja terkejut. Gaji sebulan saja tidak cukup untuk dia membayarnya.


"Artinya aku harus pergi? Haa..."


...❃❃❃...


Begitu menjelang siang, ia bersama para wanita desa lainnya berangkat menuju istana yang berada jauh dari desa.


Perjalanan tersebut memakan setengah hari, itu karena mereka menaiki kereta kuda yang di sediakan Kaisar. Jika jalan kaki pastinya akan sampai besok.


"Lihat siapa yang merengek tidak mau ikut? Sekarang malah ikut."


May membuka mulutnya menyinggung soal perkataan Athalia kemarin.


"Jika tidak ada denda, mana mungkin aku pergi," jawabnya ketus pada sang sahabat yang duduk di sampingnya.


"Hmp! Asal kau tahu, banyak yang berharap tandanya itu mirip dengan Kaisar," ucapnya menekan semua perkataan.


"Terserah," jawab Athalia dengan nada bicara yang terdengar tidak tertarik sama sekali.


"Kaisar ini tampan loh " bisik May tepat di samping telinganya.


"Aku tidak pe.du.li"


Jawaban terakhir dari Athalia membuat May mendengus kesal. May lalu membuang pandangan kearah yang berbeda. Tidak berbicara lagi dengannya.


Tak terasa waktu berlalu, mereka sekarang sudah tiba di ibu kota. Begitu turun dari kereta kuda, nampak wanita-wanita cantik dengan gaun elegan yang sedang mengantri untuk masuk ke dalam kerajaan sedang berbincang-bincang.


"Aku pulang saja," katanya yang merasa lelah saat melihat sekeliling tempat.


"Hei, jangan begitu. Kita harus semangat!" ucap May sambil berteriak. Mengundang tatapan aneh orang-orang.


Langsung saja Athalia mencubit lengan May seraya menatapnya tajam. Wanita itu pun terkekeh dengan wajah polos. Setelahnya mereka mengambil nomor antrian dan menunggu untuk di panggil.


Namun, belum beberapa saat mereka mengantri, terdengar suara tiupan terompet. Menandakan bahwa Kaisar akan istirahat dan di lanjutkan satu jam lagi.


Mendengar itu Athalia merasa kesal sambil menggerutu dalam hatinya.


Lebih baik tidak datang.


Ia langsung bangkit berdiri meninggalkan May yang berteriak memanggil-manggil namanya namun di hiraukan oleh Athalia. Saat ini dia ingin mencari makanan terlebih dahulu sebelum dirinya mati kelaparan.


Setibanya ia tengah kota yang baru dia datangi, Athalia sangat terpukau dengan keadaan yang berbeda dengan desanya. Di sini banyak sekali orang yang berlalu-lalang serta sejumlah makanan yang unik dan beragam.


Begitu menerimanya, ia sangat bahagia seperti menemukan harta karun.


"Ini yang ingin aku makan setelah sekian lama! Karena di desa sangat jarang orang menjualnya," ujar Athalia merasa gembira.


Tetapi, belum sempat ia memakannya seseorang menyambar tangan wanita itu hingga pangsit yang di pegangannya terjatuh.


"Tidak!" teriaknya kecewa. "Apa yang kau lakukan!" tujuknya setelah berteriak.


Ternyata orang yang menabraknya menggunakan jubah hitam yang menutupi kepala. Tubuhnya tinggi. Sepertinya ia seorang pria.


"Maaf nona. Mari saya bantu," ucapnya sopan seperti seorang bangsawan sambil memberikan tanganya. Athalia mendengus kesal sembari menerima bantuannya itu.


Tetapi begitu menyentuh tangannya, seketika ada sengatan yang muncul. Membuat Athalia sedikit terkejut.


Segera dengan cepat ia menarik tangannya kembali.


"Makanan itu tidak perlu di ganti. Permisi," ucapnya terburu-buru.


Namun dengan cepat orang itu Menahannya dan langsung menarik Athalia untuk menjauhi kerumunan ketempat yang lebih sunyi.


"Lepaskan saya! Siapa anda!" bentaknya sembari terus meronta-ronta.


Detik itu terdengar suara tawa sang pria, yang lumayan indah.


"Akhirnya. Aku menemukan mu. Agnasia. Sudah begitu lama aku menantikan saat ini," ucapnya yang terdengar begitu bahagia.


"Ah! Maaf? Anda pasti salah orang, saya Athalia bukan Agnasia," ujarnya dingin dan ketus seperti sedang tidak terima di perlakuan seperti sekarang.


"Hahah ... Jadi namamu sekarang itu. Namaku juga berbeda, tidak lagi Snow melainkan Max," jelasnya yang terdengar aneh.


Seketika Athalia menatapnya bingung. Masih mencoba untuk mencerna apa yang di katakan pria itu.


"Bukankah harusnya kau ingat, ketika tangan kita bersentuhan?" tanyanya sembari melepaskan tudung yang menutupi kepala.


Athalia sangat terkejut saat melihat wajah rupawan milik pria itu. Bagaimana mungkin seorang malaikat ada di hadapannya! Apa lagi yang paling mencolok darinya adalah rambut peraknya ketika terkena cahaya matahari siang. Sangat berkilau seperti di lapisi batu permata.


Matanya yang berwarna biru muda saat menatap Athalia lembut, juga sangat indah. Atau lebih dari kata indah.


Tunggu dulu! Kenapa aku seperti May! Ini gila ini gila.


Tiba-tiba dari kejauhan terdengar seorang pria memanggil sosok di hadapannya. Sepertinya dia seorang bangsawan atau mungkin benar dia bangsawan.


"Yang Mulia! Jangan pergi sendirian!" ucapnya terengah-engah di akhir kalimat.


Athalia langsung menatap pria yang memegangnya sedari tadi dengan shock.


Yang Mulia! Apa lagi itu! Pikirnya semakin di buat bingung.


Tiba-tiba saja ia di serang ingatan-ingatan yang entah mungkin itu seperti mimpinya semalam, dan kali ini terlihat sedikit jelas.


"Kamu sudah mengingatnya sekarang?" tanyanya sembari tersenyum lembut.


"Entahlah ... Snow itu anda?" ucap Athalia masih merasa pusing.


"Benar, dan kamu akan ku bawa ke istana."


Dia kemudian berbalik melihat ke samping. Tepatnya pada sang pengawal.


"Kau tutup perkumpulan mencari tanda. Karena aku sudah menemukannya,"


ucapannya pada pria yang berdiri bersama-sama dengan mereka.


Dengan cepat ia menggendong Athalia ke dalam pelukannya dan menghilang dari tempat mereka menuju kerajaan.


Sementara di tempat May, ia terkejut mendengar berita penutupan pencarian tanda itu.


"Jadi ... Cita-cita ku yang ingin menjadi Ratu gagal total?!" teriaknya merasa frustasi.


...Pengumuman akhir...


Terima kasih banyak untuk para pembaca yg sudah mengikuti cerita ini dari awal, berkat dukungan kalian arthor bisa menyelesaikan cerita The destiny of a princess sampai tamat.


o(*>ω<*)o


Arthor juga sering liat tanggapan kalian dalam cerita ini. Termasuk banyak pertanyaan kenapa Agnasia ngak jadian sama Neacel.


Ya, sebelum arthor buat story ini arthor udah bikin kerangka ceritanya/jalan cerita/akhir cerita sebelum benar-benar di up, dan dari awal memang Agnasia bakalan sama Dellion.


Kalau misalnya Neacel sama Agnasia ceritanya juga bakal di ubah lagi dan mungkin akan ribet nantinya. Seperti itu.


(๑◔‿◔๑) jadi, untuk kalian kapalnya Neacel mohon maaf... (╥_╥)


Lalu soal komentar kedua tentang terlalu banyak teka-teki... heheheh arthor sebenarnya suka cerita yg menguras otak untuk berfikir. Jadi arthor buat banyak teka-tekinya. Jika kalian kesulitan maaf sekali lagi (๑◔‿◔๑)


Lanjut ke komentar kenapa sama Dellion...


Seperti yg sudah di jelaskan di atas, sekian terima kasih... heheheh...


Oke dan terakhir, kenapa Snow mati atau meninggoy.


Banyak yg ngak setuju. Nah jadi gini, sebenarnya udah sejak awal arthor atur endingnya bakalan kayak gitu, sebab hanya Snow yg bisa tolongin Agnasia, arthor pingin buat penutupan yg manis seperti limineral heheheh... sekaligus ceritain kalau Snow sayang banget sama Agnasia.


Kalau kalian rada sedih dan ngak terima maaf...( ≧Д≦)


Oke tidak berpanjang lebar, arthor tutup sampai di sini. Dan jika kalian ingin baca cerita arthor lainnya silahkan cek profil.


Arthor juga udah up cerita baru lagi The Daughter Of A Witch tentang seorang wanita yg kembali lagi kehidupan awal tanpa sebab, karna itu ia berusahan untuk mencari tahu dari ingatan-ingatan yg muncul satu-persatu. Sambil berusaha mengubah pandangan buruk orang-orang tentangnya.


Kalau begitu sampai nanti semua, jaga kesehatan dan sehat selalu... salam sayang (。・ω・。)ノ♡


Jangan lupa mampir ke novel ini ya ~


Suddenly Become A Former Protagonist