The Destiny Of A Princess

The Destiny Of A Princess
Bagian 57



Langit berubah menjadi gelap, saat dia keluar dari taman kekaisaran. Keadaan sekitar menjadi hancur lebur dengan api melahap beberapa rumah dan bangunan.


Di langit terlihat roh sedang bertebang, terdengar juga teriakan serta tangisan yg begitu menusuk dalam pendengar.


"Dellion? Kau mau meninggalkan ku? Berikan batu mu"


Suara yg sama terdengar di belakang Dellion, lelaki itu berbalik melihat wanita tadi dari kejauhan sedang mendekat secara perlahan padanya.


Entah perasaan apa yg dia rasakan saat ini, dia kemudian berlari tanpa arah agar bisa keluar dari sana. Dia tidak tahu yg lainnya ada di mana karena semua hancur.


Suara tergesa-gesa terdengar dari pangeran Dellion, karena dia sudah lari cukup jauh dan sekarang merasa kelelahan.


"Mimpi aneh... apa yg terjadi?"


Matanya menatap hutan Theos yg sudah mengering, setelahnya tiba-tiba tubuh Dellion bergerak dengan sendirinya mendekat kearah hutan itu, membuat suatu simbol serta mengatakan bahasa yg asing.


Seketika cahaya muncul dari tanah menembus langit dia pun terbangun dengan tubuh yg berkeringat dingin. Mimpi itu membuat dia takut tapi dia tidak bisa mengingat jelas, yg bisa dia tangkap hanya lambang yg dia buat saat itu serta wanita yg berambut hitam.


...💐💐💐💐...


Pagi sekali Dellion ke tempat latihan pedang, mengayunkan benda besi yg tajam yg dia pegang untuk mengingat lagi semua mimpi itu namun kepalanya menolak, malahan rasa sakit yg muncul.


"Karena kau yg membunuh orang yg kau cintai?"


Ucap pangeran ketika mengingat perkataan wanita itu, dia tidak mengerti apa artinya? Apa jangan-jangan nantinya dia akan membunuh orang yg dia cintai? Atau mimpi itu adalah masa depan yg akan datang? Atau malah sebaliknya?


Tanpa sadar beberapa jerami dan kayu yg ada di depan pangeran hancur lebur karena kekuatan yg di keluarkannya tiba-tiba, Dellion pun memberhentikan latihannya dan kembali.


...💐💐💐💐...


Menjelang siang Dellion datang dengan kereta kuda menjemput Agnasia, dia memasuki paviliun kemudian menunggu Agnasia di ruang tamu.


Beberapa saat berlalu pintu di buka oleh seorang pelayan, di sana Agnasia masuk dengan gaunnya yg berwarna biru gelap, rambutnya di ikat setengah dengan hiasan bunga mawar putih.


Sedikit dia berdandan, saat mata mereka bertemu rasa tenang masuk menyeruak kedalam tubuh Dellion, lelaki itu tersenyum memberikan tangannya pada Agnasia.


"Kau cantik"


Ucap Dellion secara spontan. Wanita itu malah diam karena malu, dia lalu menerima tangan Dellion dan mereka pergi bersama.


Dalam kereta, keduanya tidak berbicara, Dellion berfikir soal perkataan dari Galen kemarin, banyak teori yg di berikan, tapi sayangnya dia tidak tahu cara mempraktekannya.


'Pertama perlakuan special... seperti berbeda kan?'


Pangeran menanyakan pertanyaan itu pada dirinya sendiri dan terus berfikir, tapi pikiran tertutup karena mimpi itu.


Pangeran menghembuskan nafasnya kasar, mendengar hal itu Agnasia menatap Dellion kemudian angkat bicara.


"Apa pangeran tidak enak badan?"


"Ah tidak.. hanya memikirkan mimpi semalam"


"Mimpi?"


"Ia... itu sedikit membuat ku kepikiran, karna tidak ingat semuanya, hanya setengah saja"


Mendengar penjelasan Dellion, Agnasia menjadi penasaran akan apa yg di mimpikan pangeran. Dia pun bertanya dengan spontan tanpa berbelit-belit.


"Seperti apa mimpi pangeran?"


Lelaki itu sedikit tersenyum dan menjelaskannya pada Agnasia yg terlihat begitu penasaran. Selepas dia menceritakan mimpi yg hanya teringat samar-samar itu, perasaannya yg khawatir perlahan-lahan menjadi tenang, tapi malahan sebaliknya Agnasia yg merasa aneh dengan mimpi itu.


"Apa aku pernah membunuh seseorang yg ku cintai?"


Dellion bertanya dengan polosnya pada wanita yg ada di hadapannya, Agnasia sedikit tersentak kemudian dia tersenyum.


"Jika benar begitu, apa yg akan pangeran lakukan?"


"Yang akan aku lakukan, mungkin jika bisa aku ingin memutar waktu kembali dan tidak melakukan kesalahan yang sama"


Kesekian kalinya Agnasia terdiam, rasanya sedikit sedih bahkan matanya terasa ingin mengeluarkan benda bening itu secepat mungkin, bagaimana bisa dia yg tidak mengingat ingatan masalalu berkata sama seperti yg dia lakukan dulu yaitu mengubah waktu.


"Tapi mana mungkin itu ada kan?"


Ucap Dellion lagi sambil kembali keposisi duduknya semula.


"Bagaimana jika kehidupan kali ini adalah karena perbuatan pangeran yg mengulang waktu?"


"Kenapa kau bertanya seperti itu?"


Agnasia hanya diam saja tidak menjawab Dellion, dia ingin sekali mengatakannya namun mulutnya tidak dapat mengucap semua yg ada di dalam hatinya. Jika dia mengatakan itu, perasaan yg bersalah akan menghancurkan dia sepenuhnya.


Dan juga belum saatnya Dellion tahu kebenaran ini, karena Agnasia harus mengurus beberapa masalah lainnya.


"Aku akan melindungi orang yg membuat ku mengulang waktu"


Jawab Dellion, Agnasia terdiam dia mengangguk menyetujui perkataan Dellion.


"Saya akan mengingat janji pangeran itu"


"Hmm? Maksud mu?"


"Bukan apa-apa, lihat sepertinya akan segera sampai"


Tunjuk Agnasia kearah jendela, pandangan Dellion pun mengikuti arah telunjuk tangan Agnasia segera. Mereka lalu berbicara sedikit sampai tiba di kediaman Baron.


...💐💐💐💐...


Setelah kunjungan itu, Agnasia kembali bersama pangeran menjelang sore.


Mereka berdua berpisah saat Agnasia kembali ke kediamannya, dia lalu masuk dan bersiap-siap untuk pergi ke kuil sesuai perintah Kaisar padanya kemarin sore.


Agnasia mengajak Merry untuk ikut bersama-sama dengan dia, setelah selesai bersiap-siap mereka pun berangkat menuju kuil suci tempat para pendeta agung tinggal.


Sesampainya di sana, dia di sambut oleh seorang lelaki yg seumuran dengan Dellion, mengajaknya kesuatu tempat yg begitu luas dan memiliki mata air yg murni.


Ini adalah pengalaman pertama Agnasia, di kehidupan sebelumnya dia bahkan tidak di perbolehkan kesini karena opini para masyarakat dan bangsawan soal ketidak beruntungan yg dia dapat.


Agnasia menunggu bersama dengan Merry, selepas lelaki itu mengantar mereka, dia lalu pergi begitu saja tanpa sepata kata pun.


Di tempat ini semua berpakaian serba putih dan itu cukup menarik.


Tiba-tiba dari arah samping seseorang berbicara dan cukup mengagetkan kami berdua, Merry bahkan sudah memeluk Agnasia sangking kagetnya dia.


"Oh apa aku mengagetkan kalian?"


Ucapnya dengan senyuman, Agnasia dan Merry saling melirik satu sama lain dalam diam dan tidak membuka mulut mereka untuk menjawabnya.


"Permisi... ku pikir anak kecil tidak boleh berkeliaran di tempat ini"


Ucap Merry berterus terang, anak itu melihat kearahnya dan kemudian menunjukan senyuman yg cukup membebani, mungkin dia sedikit tersinggung dengan perkataan Merry.


"Dari yg ku lihat sepertinya kalian berdua baru pertama kali kesini, dari antara kalian siapa yg bernama Agnasia?"


"Anda tidak sopan sekali menyebut nama nona sembarang!"


Bentak Merry, aku menahannya dan segera menjawab perkataan anak kecil di samping kiri kami.


"Begitu ya, selamat datang di kuil suci ini, perkenalkan saya pendeta Diego."


"Apa!!"


Kami berdua berucap secara bersamaan karena terkejut, mana mungkin pendeta Diego yg sudah berumur tiga puluan, seorang anak kecil?!