The Destiny Of A Princess

The Destiny Of A Princess
{Season Dua} Bagian 86 - Masalalu



Di tengah-tengah pembicaraan kami, pengawal dari kekaisaran datang memanggil Dellion berserta Galen untuk datang ke kerajaan mengurus beberapa surat yg baru-baru ini masuk serta laporan lainnya.


Dengan terpaksa mereka harus memenuhi tanggung jawab, sebelum pergi, Dellion membisikan sesuatu soal hadia yg dia siapkan akan di kirim dalam beberapa hari lagi.


Aku mengangguk lalu terkesiap seketika, Dellion tiba-tiba mencium pipi ku saat hendak berpisah dan tanpa merasa bersalah dia tertawa, langsung pergi bersama dengan Galen yg sama terkejutnya seperti ku.


'Apa-apaan dia membuat ku berdebar saja...'


Aku memegang dada ku dengan wajah yg mungkin merah padam karena malu, hal tadi tidak pernah ada di dalam benakku.


"Entah kenapa aku merasa kesal melihatnya?!" Ujar Snow sambil menatap ku, wajahnya berubah masam dan itu terlihat lucu.


"Jangan bilang kau cemburu ya?"


"Apa? Mana ada hal seperti itu! Tipe ku bukan seperti mu! aku lebih tertarik pada sosok yg lemah lembut, bukan cerewet" jawabnya padaku.


"Tunggu, jadi aku cerewet?!"


Kataku sambil memukul lengannya, Snow malahan sedikit tersenyum.


"Eh kau tersenyum? Wah baru kali ini aku melihat mu tersenyum walau sedikit" kataku melihatnya takjub.


Dia segara mengubah raut wajahnya menjadi datar kembali seperti sebelumnya.


"Memangnya kenapa jika aku tersenyum"


"Tentu saja terlihat lebih tampan, lebih baik dari sebelumnya"


Mendengar perkataan Agnasia, Snow langsung memalingkan wajahnya kearah yg berbeda.


"Itu tidak penting, sekarang jawab aku. Kau berbuat salah apa pada Carin sampai dia mengirim sihir mematikan itu padamu?"


Hawa ruangan tiba-tiba berubah menjadi begitu serius, kenapa Snow bisa tahu Carin?


"Kau kenal Carin dari mana?" Tanyaku balik.


"Tak perlu tahu, kau jawab saja pertanyaan ku"


"Tidak, ini penting untuk ku. Apa jangan-jangan kau kelompok dari mereka?!"


Agnasia menatapnya serius tanpa berkedip sama sekali, sebelumnya juga Snow tidak pernah menceritakan keluarga serta asal usulnya bukan, mungkin saja dugaan Agnasia benar.


"Tebakan mu benar aku kelompok mereka"


Jawaban dari Snow membuat ku tidak dapat berkata-kata, perlahan-lahan aku memundurkan langkah menjauh darinya mataku membulat dengan mulut sedikit terbuka sebagai ekspresi tak sangka.


"Tidak mungkin... Carin itu jahat, kau juga--"


"Agnasia aku--"


"Tidak! Jangan menyentuh ku!" Teriakku.


Aku memegang kepala sambil mengatur nafas.


"Jangan takut Agnasia... sekarang aku sudah tidak ingin kembali kesana lagi, tolong percayalah... hanya kau satu-satunya keluarga yg ku miliki, karena mereka membuang ku"


Dia menunduk menatap lantai, aku yg tidak bisa melihatnya seperti itu, mendekatinya kembali entah apa yg harus ku katakan padanya di satu sisi aku begitu terkejut dengan kenyataannya dan di sisi lain ada rasa sedih ketika melihat sikap yg di tunjukannya.


"Sudah waktunya untuk mu tahu tentang ku..."


Snow kemudian menggenggam tangan ku lembut, seketika tempat kami berada berganti, di sana aku melayang di udara sambari di peluk Snow.


Sungguh aku sangat takut, di tambah angin di atas sini berhembus cukup kencang melewati kulit ku.


Tetapi itu tidak begitu menarik perhatian ku sekarang, karena aku begitu penasaran soal tempat yg di tunjukan Snow pada ku.


"Tempat ku dulu di sini, masa itu aku begitu bahagia karena memiliki keluarga yg lengkap, ibu, ayah, serta adik perempuan ku"


Ternyata dia memiliki adik perempuan? Aku baru tahu sekarang.


Dia kemudian menatap ku, tatapannya begitu sedih seperti ingin menangis.


"Tidak apa-apa, jika itu begitu berat untuk di ceritakan, jangan katakan" kataku tersenyum.


"Kau sudah harus mengetahui kisah lama ku"


Perlahan dia menurunkan aku di tempat yg kosong, Snow mulai angkat bicara mengenai tempat di depan kami yg ternyata itu adalah rumahnya dulu yg kini sudah menjadi abu.


Waktu itu terjadi perang yg dahsyat, kota terpencil seperti mereka menjadi imbas dendam antar kerajaan.


Di ingatan terakhir yg dia punya hanya ada  senyuman ibunya yg tertimpa batu bangunan akibat bom udara yg di lepaskan--


Ayah serta adiknya tidak terlihat karena mereka terpisah saat menyelamatkan diri, dengan bersusah payah Snow mencari ayah serta adiknya namun yg dia temukan hanya sepasang mayat di dekat sungai dengan bagian tubuh sudah terkoyak.


Snow gemetar, dia nampak ketakutan. Mungkin itu kejadian yg sudah lama tapi, masa lalu yg menyakitkan tidak akan mudah di lupakan seseorang begitu saja.


Aku pun yg mendengarnya sudah sangat sedih. Perlahan aku mengusap punggungnya, dia pun lanjut menceritakan semua padaku.


Jika di pikirkan itu adalah hari terburuk yg pernah dia alami, kedinginan, kehilangan, kehampaan serta hal lainnya yg begitu menyiksanya.


"Saat itu aku masih berumur sepuluh tahun, dan tidak tahu apa-apa, untuk melanjutkan kehidupan ku aku berkelana ke kota-kota mencari makanan dengan mencuri agar bisa hidup, walaupun di pukuli pada akhirnya yg terpenting perut ku sudah terisi" jelasnya.


Dan di tengah keterpurukan yg Snow alami, seseorang datang membantunya, mengobati, memberikan makan serta di beri tempat tinggal yg begitu layak.


"Itu adalah ayah dari Carin, Kaisar Nick."


Sempat aku terkejut, Carin anak dari Kaisar Nick? Bukankah di masa lalu Carin adalah anak dari Viscount?! Kenapa sekarang berbeda!


"Apa kau tidak salah? Carin anak dari Kaisar Nick?" Tanyaku sekali lagi.


"Benar, aku tidak salah. Bertahun-tahun aku tinggal bersama mereka, mereka membatu ku dan mengajari ku sihir, manaku sekarang adalah sebagaian dari Kaisar Nick, dia memberikannya padaku" jelasnya


Sekarang Agnasia bingung, apakah di masa lalu Carin menipu semua orang dengan berpura-pura seperti itu? Sepertinya ini ada hubungannya dengan Kaisar Nick.


'Aku tidak mau berasumsi lebih tapi, jika benar dugaan ku bahwa Kaisar Nick yg membunuh Ibu... tidak akan ku biarkan!'


"Agnasia? Kau kenapa?"


"Ah, tidak apa-apa lanjutkan saja cerita mu" ucapku.


"Berikutnya Aku di suruh untuk menyerang mu serta kekaisaran Aegeus"


"Apa kau tahu kenapa mereka menyuruhmu melakukan itu?" Tanyaku.


"Untuk itu aku tidak tahu, tapi dari pembicaraan yg tak sengaja ku dengar, mereka ingin membalas dendam dengan ketidakadilan yg di alami mereka"


Aku mengerutkan alis, orang jahat seperti mereka ingin meminta keadilan? Memangnya ada apa?


"karena aku tidak becus, mereka mengusir ku, sampai aku bisa bertemu denganmu--maafkan aku sudah pernah ingin melukai mu Agnasia..."


"Tidak apa-apa, kau juga saat itu hanya pesuruh yg ingin berterima kasih atas kebaikan mereka kan?"


Snow mengangguk, kemudian sedikit kami berkeliling memberikan bunga di tempat terakhir kedua orang tuanya berserta adik satu-satunya.


Dia lalu bernafas lega sambil menatap ku.


"Perasaan ku sedikit ringan sekarang, bagaimana jika kita kembali?"


Ucapnya, aku mengangguk setuju kemudian menghilang bersama dengan Snow, satu yg pasti buku saat itu ku temukan adalah kuncinya.