The Destiny Of A Princess

The Destiny Of A Princess
Bagian 27



Kaisar Louis dia memalingkan wajahnya menatap kearah Kaisar Theo, mempertanyakan apa maksudnya ini.


"Itu adalah mata-mata yg membawa kalung dengan lambang Kekaisaran Beryl lalu mengaku sebagai pengawal dari Kekaisaran Ango." Jelas Kaisar yg kini semakin membuat bingung Kaisar Louis.


"Jadi, maksud mu? Aku menyuruh mereka memata-matai Kekaisaran Aegeus, dan karena itu kau juga menyuruh mata-mata mu menyelidiki Kekaisaran Beryl?!" Jelas Kaisar Louis dan di angguki oleh Kaisar Theo.


Galen lalu memberikan kalung itu sebagai bukti dari perkataan mereka. Tapi Kaisar Louis hanya melihatnya saja


"Yang Mulia, Kami tidak menuduh tapi bukti sudah di depan mata. Apa kalian bekerja sama untuk menghancurkan Kekaisaran Aegeus?" Ucap Galen, nampak Kaisar Louis tidak menerima perkataan dari Galen.


"Kau menuduh ku?!"


"Tidak Yang Mulia, saya hanya bertanya saja." Balas Galen dengan tenang. Sebelum Kaisar Louis menjawab pertanyaan dari Galen, Kaisar Nick segera membuka suaranya.


"Justru aku semakin curiga, apa jangan-jangan kalian memanipulasi bukti yg ada." Ujar Kaisar Nick.


"Apa yg anda katakan?" Ujar Pangeran sambil mengerutkan alisnya.


"Tadi, Kaisar Theo mengatakan bahwa mereka dari Kekaisaran Ango tapi membawa kalung Kekaisaran Beryl, apa itu masuk akal? Lalu mayat ini kenapa menghitam? Mungkin saja kalian membakarnya agar bukti palsu ini tidak terlalu terlihat kan?" Mendengar suara penjelasan dari Kaisar Nick, Kaisar Theo segera berdiri di ikuti yg lainya. Dia lalu mendekat kearah kaisar Nick dan menatapnya tajam.


"Sekarang kau menuduh Kekaisaran Aegeus memanipulasi bukti agar bersalah?!" Ucap Kaisar Theo tidak senang.


"Kenapa? Apa kau takut Theo?" Ucap Kaisar Nick. Galen lalu membuka suaranya untuk menenangkan Kaisar Theo.


"Bagaimana bisa kami memanipulasi bukti, itu adalah kejadian yg nyata, dan soal mayat yg hangus itu, terjadi penyerang saat di ruangan interogasi dan membuat kulit mereka ini menghitam." Jelas galen sambil menujuk tiga mayat yg masih di dalam ruangan.


Kaisar Nick tertawa mendengar penjelasan dari Galen.


"Zaman sekarang semua bisa di lakukan, dan bagaimana bisa ruangan introgasi yg di jaga ketat bisa di serang, apa penjelasan mu itu di buat-buat? Otak Kekaisaran Galen Alastor?" Semua kini terdiam.


'Rencana ku ternyata berjalan sangat bagus...' pikir kaisar Nick.


"Jika seperti itu, Artinya kalung ini bisa di buat? Dan kau Theo sudah mengkhianati kepercayaan ku selama ini?! Bilang saja kau yg meracuni Kekaisaran Ango dan Berly!!! Kenapa harus membuat bukti palsu seperti ini untuk membela diri?!" Kaisar Louis segera mengeluarkan pedangnya menunjuk kearah Kaisar Theo.


Duke serta Deondre segera dengan cepat menodongkan pedang mereka kearah Kaisar Louis.


"Satu goresan saja, kau bisa tamat di tempat ini Yang Mulia Louis" ucap Duke George. Tanpa mereka sadari beberapa prajurit dari kedua Kekaisaran megerumuni mereka dengan pedang.


Kaisar Theo yg sadar, akan hal itu dan dia juga tidak ingin pertumpahan darah terjadi di kerajaannya hanya karena kesalahan pahaman seperti ini.


Dia lalu mengangkat tangannya menyuruh Duke George dan Deondre meletakan pedangnya kembali.


Mereka dengan berat hati menuruti perkataan dari Kaisar tapi sedari tadi pangeran Dellion sudah mengeluarkan aura penyerang yg cukup besar jika pedang dari Kaisar Louis itu bergerak.


Kaisar Nick yg melihat pangeran Dellion seperti itu hanya bisa tersenyum simpul saja dia lalu bangkit berdiri.


"Apa kau mau menyerang kami, yg hanya datang meminta keadilan pangeran?" Ujar Kaisar Nick. Kaisar Theo yg sadar maksud perkataan dari kaisar Nick dia segera memberi tanda agar Dellion menenangkan dirinya.


"Nanti seperti sekarang kau baru berucap seperti itu? Apa Kaisar Theo sudah takut?" Ucap Kaisar Louis dengan senyuman yg begitu mengerikan.


"Yang Mulia, bisakah anda tenang dan mendengarkan penjelasan kami?" Ucap Galen.


"Penjelasan? Kalian pembohong! Penipu besar! Untuk apa aku mendengarkan kalian! Mati saja kau Theo!" Teriak Kaisar Louis, tapi saat pedangnya mendekati Kaisar Theo pintu depan terbuka lebar.


Di sana nampak Agnasia dengan rambut yg diikat satu serta pinta putih yg menghias kepalanya. Melihat Agnasia yg masuk, wajah Kaisar Nick berubah menjadi marah dia mengepalkan tangannya menatap perempuan itu yg sempat mirip dengan Mariana.


"Salam Yang Mulia, mohon maaf saya memaksa masuk kedalam ruangan." Ucap Agnasia, kemudian para prajurit masuk kedalam dan memohon ampun karena tidak bisa menahan Agnasia yg ingin masuk.


Kaisar Theo mengangguk mengerti, dan menyuruh para prajurit itu pergi keluar dan membiarkan Agnasia di dalam ruangan. Pintu lalu di tutup


'Huft... beruntungnya aku tepat waktu... tapi perasaan tidak enak apa ini, kenapa aku merasa aneh...'


Agnasia melirik kedua Kaisar dari Kekaisaran luar itu, sampai matanya melihat Kaisar Nick, saat melihat warna mata pria itu, ada sesuatu yg membuatnya tidak menyukai Kaisar Nick.


Agnasia lalu mendekat dan duduk dengan tenang.


'Sepertinya keadaan saat ini sangat kacau, aku tidak bisa salah bicara...'


Terdengar kekehan dari Kaisar Louis.


"Apa ini? Kalian mengundang wanita? Untuk membela diri kalian? Pufttt lucu... lucu sekali" tawa Kaisar Louis mengema di dalam ruangan. Agnasia menatap Kaisar itu lalu berbicara


"Apa Yang Mulia keberatan? Atau anda takut ketika seorang wanita bisa melawan anda" Agnasia tersenyum sambil menopang wajahnya dengan kedua tangannya dan menatap kearah Kaisar Louis.


Kaisar Louis sangat malu mendengar perkataan dari Agnasia dia lalu memutar arah pedangnya menuju Agnasia, dan itu membuat beberapa orang berteriak dengan menyebutkan nama kaisar Louis.


Duke dengan ekspresi wajah yg tidak senang, Deondre dengan tatapan dingin, Galen yg sudah mendekat kearah Kaisar Louis serta pangeran Dellion yg akan segera menyerang Kaisar Louis.


"Tenanglah..." ucap Agnasia.


Masih dengan senyumannya, Agnasia menyentuh ujung pedang Kaisar Louis.


Dia lalu menggoreskan tangannya hingga cairan berwarna merah keluar dan jatuh keatas meja.


"Agnasia?!!" Teriak yg lainnya. Tapi Agnasia terdiam.


"Dalam undang-undang Kekaisaran, jika seorang pria menyerang wanita yg tidak memiliki senjata dan tidak bersalah akan mendapatkan hukuman di penjara, jadi saya menuntut anda atas perbuatan yg anda lakukan." Mendengar penjelasan dari Agnasia semua terheran-heran, padahal dia sendiri yg melakukan itu tapi kenapa dia menuntut Kaisar Louis?


"Apa-apaan kau?! Menuduh ku yg bahkan tidak melakukan hal itu?" Ujar Kaisar.


"Sama halnya dengan kami, Kaisar datang tanpa bukti yg jelas, dan menuduh kami yg sudah memiliki bukti yg kuat? Apa anda tidak salah?!" Ucap Agnasia yg membuat Kaisar Louis terdiam.


'Wanita Ini, pintar juga'