The Destiny Of A Princess

The Destiny Of A Princess
Bagian 70 - Batu kekuatan {End}



Agnasia merenggangkan tubuhnya sebelum tidur, sebelumnya dia tidak merasa lelah tapi saat masuk kedalam kamar tiba-tiba saja perasaannya jadi aneh.


Dia membaringkan diri keatas tempat tidur, matanya terasa sangat berat ingin cepat beristirahat karena masih banyak yg akan Agnasia lakukan besok.


Perlahan pandangannya menghitam dan masuk kedalam mimpi.


...πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’...


Agnasia membuka matanya, dia melihat tangannya di rantai dengan pakaian yang usang serta bau. Sekelilingnya begitu suram, di depannya nampak jeruji besi dan ada jendela kecil di belakang tubuhnya sebagai tempat udara masuk.


Entah mengapa dia terasa begitu lemah, bahkan untuk menggerakan ujung jari saja begitu sulit.


"Di mana ini?"


Ucapnya, padahal tadi dia baru saja tidur tapi kenapa sudah berada di tempat mengerikan ini.


Perlahan-lahan dia mengingat sesuatu, tempat yg gelap dan tidak memiliki kehidupan sama sekali, ini pernah dia rasakan sebelumnya.


Tiba-tiba terdengar suara sesuatu yg berat, seseorang membuka pintu jeruji, baju besinya yg mengkilap ketika terkena cahaya yg masuk dari sela-sela jendela kecil di belakang ku membuat pandangan ku sakit.


Dia menarikku dengan kasar, berikutnya datang seorang lagi berdiri di sisi kiriΒ menahan Agnasia layaknya seorang tawanan.


"T-tunggu! Apa yg kalian lakukan!" Ucap Agnasia.


Keduanya hanya diam, seperti tidak mendengar perkataannya barusan, dia di bawah kearah yg tidak menentu hingga di ujung jalan nampak pintu coklat yg tertutup, cahaya masuk menusuk kedua matanya saat membuka pintu besar itu.


Mereka menariknya lagi dengan paksa keluar.


Begitu melihat keadaan sekitar Agnasia begitu terkejut karena ini adalah tempat eksekusi para bangsawan, jantungnya berdebar begitu kencang karena takut.


"Tidak! Apa.. apa ini!"


Dia melihat sekeliling dengan gemetaran ingin dia pergi, tapi langkanya begitu berat bergerak leluasa. Agnasia ingat, ini adalah hari di mana dia akan di hukum gantung akibat perbuatannya pada Carin.


Dia lalu di tarik paksa kedepan seluruh rakyat dan para bangsawan. Mereka mendorongnya untuk berlutut, di hadapannya terdapat tali gantung yg entah sudah berapa orang di siksanya.


Dia meronta tapi ikatan yg ada tidak terlepas.


"Ini.. mimpi! a-aku harus bangun!" Ucapnya takut.


Agnasia berusaha sekuat tenaga, dia menutup matanya rapat-rapat berdoa agar bisa terbangun dari mimpi buruk masalalu yg tidak ingin dia ingat kembali.


'Kumohon..kumohon bangun!!'


Seketika Agnasia membuka matanya menghirup udara dalam ruangan kamar dengan tidak beraturan, keringat dingin membasahi tubuhnya, tangannya masih gemetaran rasanya seperti nyata dia kembali ketempat itu.


Dia meringkuk ketakutan, tepat saat itu Merry datang ingin membangunkan Agnasia karena sudah menjelang pagi, saat melihat keadaan majikannya Marry berlari mendekat.


Sedikit Agnasia terkejut karena kedatangan Merry, namun setelahnya dia segera memeluk Merry erat dan tidak ingin melepaskannya.


"N-nona.. tenang.. saya di sini"


Merry mengelus rambut coklat Agnasia yg bergelombang itu dengan lembut, apa yg terjadi dengan Agnasia? Itu yg di pikirkan Merry, yg dia tahu waktu itu juga Agnasia seperti ini.


"Jangan pergi..." ucap Agnasia gemetaran.


"Tenanglah nona..."


...πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’...


Dalam ruangan Agnasia duduk diam tidak bersuara, reaksinya kali ini mengundang kekhawatiran dari kedua orang yg sedang duduk di hadapannya.


"Agnasia?" Panggil Galen.


Wanita itu segera menatap kearah suara bertanya kenapa dia memanggilnya.


"Jangan terlalu memikirkan masalah kebakaran itu..."


Mendengar itu Agnasia tersenyum pada keduanya.


"Aku tidak memikirkan itu"


"Lalu apa?" Tanya Dellion.


"Bukan hal yg penting..."


Agnasia mengeleng pelan, Dellion menatap sedih kearah tunangannya padahal sudah beberapa kali dia katakan untuk jangan menyembunyikan sesuatu yg memberatkan hatinya, sepertinya Agnasia masih memberikan sedikit jarak.


"Jangan berbohong.. wajahmu terlihat pucat" ucap Dellion


Agnasia menolak pernyataan itu dan terus berkata bahwa dia baik-baik saja. Dia hanya ingin datang melihat keadaan sekitar lagi, sekaligus mengawasi Carin.


Lalu pintu di ketuk dari luar, setelah mendapatkan ijin masuk kedalam, nampak Carin serta kepala pelayan datang bersamaan.


Begitu melihat Agnasia, Carin sedikit tidak senang namun itu tidak harus di tunjukkannya melalui ekspresi wajah.


Dia segera memberi salam, memberikan ramuan pada Dellion. Matanya yg berwarna merah muda menatap Agnasia sekilas, sepertinya sihir yg dia letakan dalam kamar Agnasia berhasil dengan baik.


'Tinggal beberapa hari lagi tubuh itu tidak akan bergerak dan aku bisa memulai rencana lain sesuka hati'


Setelah Dellion meminum ramuan itu, dia menatap Carin dan berbicara.


"Sepertinya ini sudah cukup, penyembuhan yg kau lakukan sangat bagus. Kau bisa kembali kekediaman mu tapi sebelum itu, akan ku berikan hadiah"


Carin cukup terkejut, jika dia kembali rencana kedepannya tidak akan berhasil di tambah batu kekuatan Kaisar yg dia incar sangat sulit di temukan.


Kaisar menyembunyikan batu itu dengan sempurna, aurahnya bahkan tidak terdeteksi.


"Tapi Yang Mulia pangeran, anda belum terlalu pulih"


"Untuk itu tidak apa-apa... cukup ingatan tentang Agnasia saja. Itu yg ku mau"


Dellion menatap Agnasia dengan hangat, melihat itu Carin menjadi kesal dia bahkan mengumpat dalam hati.


...πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’...


Lepas itu Agnasia menuju kuil suci untuk memulai latihannya di sana, dalam perjalanan tak henti-hentinya menatap pergelangan tangan di mana lambang itu muncul.


'Harusnya bisa!'


Dia lalu berpangku tangan menatap luar jendela dimana ada beberapa prajurit penjaga yg di tambah dengan kuda mereka masing-masing.


Karena dia terbentur kemarin Ayah serta Kakaknya bahkan dua orang tadi memarahinya. Sungguh membuat pendengaran Agnasia berdenyut.


Begitu sampai di depan kuil, dia turun di bantu salah satu prajurit. Saat memasuki pintu kuil beban yg di rasa tadi sedikit berkurang.


Dia bahkan heran sambil membuka telapak tangannya bingung, tidak berlama-lama dia segera menuju kearah tempat latihan di mana sudah ada pendeta Diego di sana.


Mereka pun memulai latihan tersebut, sampai waktu terus berputar, tepat saat Agnasia ingin beristirahat dia duduk di bangku kayu kemarin sambil menyandarkan tubuhnya mencari tempat nyaman.


Matanya terpenjam sesekali dia menghirup udarah segar, tiba-tiba suara seorang di sampingnya menyadarkan Agnasia, kedua bola matanya membulat begitu melihat kearah samping.


"Kau! Aku sudah menunggu saat ini!"


Anak itu tersenyum sambil sedikit menggoyahkan kedua kakinya, dia mencondongkan badan kearah Agnasia.


'Sudah waktunya kau mengeluarkan ku' ucapnya.


Agnasia bernafas pasrah, mudah sekali dia bicara sedangkan dia begitu sulit mengeluarkan batu kekuatan itu.


"Aku tidak bisa, bahkan tidak tahu."


Anak itu ber'oh'ria sambil meloncat turun dari kursi, dia memegang tangan Agnasia dengan tersenyum melihatnya.


'Aku tahu sulit.. sekarang Pertanyaannya, apa yg akan kau lakukan ketika bisa mendapatkannya?'


Ucapnya membuat ku terdiam sambil berfikir, hal ini belum ku pikirkan sebelumnya, apa yg akan ku lakukan jika mendapatkan kekuatan ini?


Detik berikutnya Agnasia terbayang akan wajah orang-orang yg dia sayangi, kejadian yg selama ini terjadi, yg memakan banyak korban jiwa.


Agnasia menunduk, dia mengerutkan alisnya lalu kembali menatap anak gadis yg ada di hadapannya.


"Aku ingin melindungi mereka, orang-orang yg aku sayangi, membantu dan mengobati mereka"


'Hmm... bagaimana kau jika pergi dari kekaisaran dan menggunakan kekuatan itu untuk diri mu sendiri'


Anak itu tersenyum sambil meletakan jari telunjuknya di ujung bibir mungilnya sambil menatap ku.


Agnasia terkejut mendengarnya, anak itu pun segera berjalan kedepan dan dengan cepat Agnasia mengikutinya.


'Kau bisa menikmati sendiri kekuatan itu, biarkan saja mereka kan? Jika di pikiran orang-orang itu dulunya membenci mu.. dan menyeret mu dalam kematian'


Kenangan kelam itu muncul kembali, Agnasia meremas bajunya.


"Kau benar... tapi, itu adalah kehidupan dulu yg sudah berlalu. Dan sekarang, berbeda. Aku tidak ingin melihat mereka tersiksa seperti yg kau tunjukan padaku, aku ingin mengubahnya. Karena aku menyayangi mereka"


Agnasia menatap lurus dengan pasti kearah anak itu, kemudian suara tepuk tangan terdengar dari anak tersebut dia tersenyum bangga.


'Kau mirip dengannya...'


"Siapa?"


'Bukan apa-apa... selamat kau lolos'


"Tunggu jadi... tadi kau mengetes ku?!"


'Mungkin?'


Dia kembali tertawa sambil berlarian di hadapan ku merentangkan kedua tangannya, kemudian berhenti dan menatap ku lagi.


'Satu hal lagi... pertanyaan mu kenapa kau di pulangkan kembali aku tahu jawabannya'


"Apa itu?"


'Karena Dellion...'


Aku mengerutkan alis menatapnya bingung.


'Kau tidak mengerti?'


Ulangnya sekali lagi padaku, dan aku mengangguk.


'Yang sudah kau ketahui, dia mengulang waktu dan tidak bisa mengingat apa-apa, dewa tahu itu akan terjadi jadi dia mengembalikan mu juga untuk tidak membuat kehancuran kedua kalinya di tanah yg dewa sayangi'


Seketika pemikiran ku terbuka aku jadi tahu kenapa dewa melakukan ini padaku.


"Bagaimana dengan anak kesayangan?" Tanya Agnasia.


'Hmm? Itu belum saatnya kau tahu...'


Anak itu mendekat padaku, dia menyuruh ku untuk menunduk di depannya. Ku ikuti apa yg dia inginkan.


Dia memegang sebelah mataku dan mengucapkan bahasa kuno yg tidak ku pahami artinya. Seketika cahaya menusuk Mata muncul begitu saja menelan tubuh ku seluruhnya.


'Berhati-hatilah...'


Aku segera membuka mata ku dengan keadaan terkejut, sekeliling masih sama di tempat latihan hanya saja ada yg aneh.


Setitik air mata jatuh keatas telapak tangan ku, air mata itu perlahan memancarkan cahaya hijau alam, kemudian dia berubah menjadi bentuk batu yg begitu cantik di tengah batu itu terdapat warna hijau berbeda dengan sekelilingnya yg berwarna putih.


Agnasia tersenyum bahagia.


"Batu kekuatan!"


...πŸ’Season satu endπŸ’...