The Destiny Of A Princess

The Destiny Of A Princess
Bagian 61



Di ruangan kerja, Dellion menyudahi pekerjaannya dan hendak kembali kekamar untuk membersihkan diri sebelum orang yg akan mengobatinya datang.


Dellion keluar menuju kamarnya, saat sampai dia pun masuk kedalam menuju tempat mandi membersihkan diri di sana.


Setelah selesai Dellion keluar memberi perintah dari dalam kamarnya pada para pelayan.


"Pelayan dengar! jangan masuk karena aku sedang ganti pakaian, pergilah ambil cincin ada ada di atas meja kerjaku" ucap Dellion


Kemudian dia pergi menuju lemari baju yg cukup besar, dan mencari pakaian yg nyaman untuk di pakai.


Hingga pikirnya tertuju pada Agnasia saat wanita itu cukup syok mendengar ada orang yg akan datang mengobatinya.


"Hmm karena kedatangan orang itu membuat Agnasia sedikit takut, ada apa dengannya?"


Tanya pangeran pada diri sendiri, sambil mengambil celana hitam panjang melepas handuk yg melingkar di tubuhnya dan mulai memakai celana tersebut.


Tapi tiba-tiba pintu terbuka, dan disana ada Agnasia yg berdiri tanpa bersuara sama sekali, dia membantu dengan wajah yg memerah.


"Agnasia? Ada apa?"


Tanya Dellion dengan santai, tapi tiba-tiba wanita itu berteriak dan menghilang dari pandangan di ikuti pintu yg tertutup.


Dellion yg sadar akan hal yg terjadi, mulai merasa malu dan dengan cepat memakai pakaiannya.


...💐💐💐💐...


Dellion membuka pintu kamar karena sudah selesai dengan aktifitasnya, dia mengunakan kemeja putih serta celana hitam panjang tampilannya hari ini begitu simple.


Dia mengundang kami masuk kedalam kamar, mempersilakan kami duduk di tempat yg sudah dia sediakan. Kemudian pelayan yg ku temui tadi muncul setelah Dellion memberikan izin untuk masuk.


Pelayan itu memberikan cincin yg Dellion minta, kemudian dia menyuruh untuk membawakan cemilan serta teh kesini.


Dellion lalu kembali duduk sembari memakai cincin itu di jarinya. Aku mengatur nafas sembari Melihatnya, tiba-tiba kejadian tadi teringat kembali seketika pipi ku menjadi panas seperti terbakar.


"Ada apa dengan mu Agnasia?"


Tanya Galen dengan bertujuan untuk mengejek wanita itu di depan Dellion.


"Bukan apa-apa"


Agnasia tersenyum sambil menginjak perlahan-lahan sepatu Galen, lelaki itu menghadap Dellion sambil mengangguk.


"Ya tidak ada apa-apa, dan harusnya kau ketuk pintu dulu"


Dellion menatap keduanya bergantian, Agnasia yg merasa tersinggung meminta maaf pada Dellion secepatnya.


"Beruntung itu adalah Agnasia, jika orang lain"


"Memangnya kenapa jika orang lain?" Tanya Galen.


"Sudah ku keluarkan bola matanya dari tempat"


Balas Dellion dingin, Agnasia yg mendengar itu bukan takut malah semakin malu dia pun sedikit bersuara dengan cukup keras.


"Berhentilah! Se-sekarang di mana orang yg akan mengobati anda?"


Keduanya menatap Agnasia, Dellion bahkan berfikir mengapa tindakan yg di lakukan Agnasia cukup tergesa-gesa apa karena orang yg datang hari ini?


"Apa hubungannya dengan mu?"


Dellion menanyakannya untuk memastikan semua dari Agnasia sendiri, tapi Agnasia diam tidak menjawab dia sekarang menatap Dellion dan tidak berkedip sama sekali.


"Saya hanya ingin memastikan keselamatan anda"


Balas Agnasia, Dellion berkutik setelah mendengar perkataan dari wanita yg ada tepat di hadapannya yg kini ternyata dia mengkhawatirkannya.


Tangan Galen terangkat mengusap kepala Agnasia.


"Kau pikir dia akan meracuni Dellion? Ingat, dia kuat Agnasia"


Agnasia melihat kearah Galen, dia tidak setuju dengan kata-katanya, jika memang dia kuat lalu untuk apa Agnasia datang kesini dan untuk apa dia di kembalikan lagi?!


Para pelayan masuk dengan cemilan dan teh, kemudian mereka meletakan semua itu di atas meja lalu pergi keluar.


...💐💐💐💐...


Mereka menikmati teh dan cemilan yg tersedia, kemudian kepala pelayan meminta izin untuk masuk kedalam.


"Ada apa?"


"Yang Mulia pangeran, orang yg akan menyembuhkan anda sudah tiba"


Mendengar itu Agnasia terkejut, dan dari arah pintu masuk seseorang dengan pakaian yg sederhana seperti ingatannya sebelumnya berdiri dengan sedikit senyuman.


Matanya yg berwarna merah muda begitu mencolok, di tambah rambut hitam yg panjang itu membuat dia terlihat Anggun walaupun hanya dengan pakaian atau dress sederhana.


Dellion mempersilakan wanita tersebut masuk, kemudian wanita itu memberi salam pada kami dengan begitu sopan.


Mendengar suaranya yg begitu lembut dan indah seperti ingatan dulu membuat Agnasia merasa tidak nyaman.


'Dia... wanita yg menjebak kami hanya ingin menguasai kekaisaran? Sudah cukup dia merebut Dellion dulu, dan sekarang! Aku tidak akan membiarkannya'


Agnasia bergerak menuju samping Dellion dan mulai berbicara dengan nada dinginnya yg begitu mencekam.


"Katakan Siapa namamu?"


Agnasia bertanya bukan karena tidak tahu, tapi dia harus berpura-pura tidak mengenal wanita yg ada di hadapannya.


"Saya Carin Azelea Alecta, dari kekaisaran timur, putri Viscount. Tuan putri"


"Kau putri dari Viscount? Ku dengar kau baru pulang dari luar negeri"


Tanya Dellion pada wanita itu.


"Benar Yang Mulia pangeran"


"entah kenapa aku merasa pernah bertemu dengan mu"


Perkataan dari Dellion membuat ku cukup terkejut, begitu pula dengan Carin yg ada di hadapan kami saat ini. Bagaimana bisa Dellion berkata seperti itu? Apa jangan-jangan mereka pernah bertemu tanpa sepengetahuan ku?


Tiba-tiba Carin sedikit tertawa pelan.


"Mana mungkin, ini pertama kalinya saya menginjak kaki di kekaisaran ini, mungkin itu hanya perasaan pangeran karena melihat warna rambut saya"


"Benar mungkin begitu, jadi apa kita akan mulai pengobatannya?"


Tanya pangeran, Carin mengangguk dan membuka tas coklat kotak yg dia bawah, di dalam ada beberapa botol ramuan yg sudah selesai di racik, Dellion duduk kembali kemudian Carin mulai menuangkan cairan berwarna biru itu kedalam cangkir yg di sediakan.


"Maaf sebelumnya... sesuai perintah Kaisar, saya akan memyicipi obat yg anda berikan sebelum pangeran meminumnya"


Ucap kepala pelayan pada Carin, wanita itu awalnya hanya diam tapi kemudian dia mengangguk. Kepala pelayan pun mencicipi ramuan itu di cangkir yg berbeda yg di tuangkan oleh Carin


Setelah itu, mereka menunggu beberapa menit dan tidak terjadi apa-apa.


"Saya tidak akan meracuni pangeran, karena saya masih menyayangi nyawa saya sendiri"


"Baiklah, berikan ramuan itu aku akan meminumnya"


Ucap pangeran, Carin pun memberikan cangkir itu pada Dellion.


Tapi sebelum di minum oleh Dellion, Agnasia mengambil cangkir itu dan mencicipinya sendiri. Rasanya seperti ramuan pemulihan yg kakek berikan tapi kenapa dia masih ragu?


"Apa yg kau lakukan Agnasia? Tadi kan itu sudah di cicipi oleh kepala pelayan?" Tanya Galen padaku.


"Mungkin saja yg di berikan kepada kepala pelayan berbeda dengan punya Pangeran, karena itu aku mencicipinya lagi. Sekarang sudah bisa di minum"


Ucap Agnasia sambil memberikan cangkir itu pada Dellion, Carin hanya menatap diam pada Agnasia tanpa angkat suara sedikit pun.


'Wanita Ini... dia cukup merepotkan' Pikir Carin.