The Destiny Of A Princess

The Destiny Of A Princess
Bagian 40



Paman Joseph seketika jatuh terduduk di atas tanah, tatapannya seperti seorang yg tidak memiliki jiwa sama sekali.


Melihat hal itu perasaan terpukul dalam hatiku muncul, aku menunduk menguatkan dia bahwa kami akan menemukan Putrinya dalam kondisi selamat.


"Tidak akan ku biarkan kau kehilangan seseorang untuk ketiga kalinya."


Ucapan ku membuat dia membalas tatapan ku, hanya bisa menguatkan saja itu adalah cara agar mereka tidak jatuh lebih dalam.


Kami pun pergi ke dekat goa, menyelidiki setiap sudut tempat. Sampai aku menemukan sebelah sepatu Eliza yg berada di semak-semak sekaligus jejak yg cukup mencurigakan.


'Sepertinya aku harus memulangkan paman untuk melanjutkan perjalanan.'


Sepatu yg tadi ku sembunyikan lagi, aku mendekat kearah paman dan berbicara agar dia kembali kerumah saja melihat keluarganya.


"Apa?!! Anakku hilang! Dan aku harus kembali? Tidak! Aku akan tetap mencarinya"


bentak paman padaku kemudian mengusap wajahnya kasar, Galen melihat hal itu mendekat bersama Pangeran.


"Sia, biarkan paman ikut"


ucap Galen sambil menyentuh kedua bahuku. Aku mengerutkan alisku, karena Galen tidak mengerti apa yg sedang ku pikirkan.


Bagaimana bisa aku membawa seorang pria yg mungkin akan mati jika ikut bersama kami? Tidak, masih ada yg memerlukannya apalagi dia seorang suami, anak, sekaligus Ayah.


'Aku harus mengatakannya tanpa di ketahui oleh paman'


"Apa kau mengerti bahasa tangan Alen?"


Kataku padanya, pria itu mengangguk kemudian aku menceritakan semua mengunakan tanganku, bahkan Pangeran pun paham akan hal yg ku maksud


"Jika di pikirkan, benar juga kata Sia, paman Joseph. Lebih baik anda kembali melihat lainnya mungkin saja mereka khawatir, untuk urusan Eliza biarkan kami yg mencarinya."


Jelas Pangeran, tapi tetap saja paman masih tidak menerima keputusan itu.


"Aku berjanji akan membawanya dengan selamat."


Kataku dengan yakin pada paman, melihat tatapan yg ku berikan lelaki itu mengepalkan tangannya erat dan perlahan-lahan mengangguk.


"Baiklah, ku percayakan semua padamu"


setelah itu, paman kemudian kembali ke rumahnya sesuai yg kami mau.


Aku kemudian memanggil mereka dan menunjukan jejak kaki yg banyak. Salah satu di antaranya adalah jejak kaki milik Eliza yg bisa di tebak dengan mudah.


"Sepertinya mereka membawanya."


Ucap Pangeran kemudian pergi berjalan mendahului kami, aku pun mengikutinya dengan pelan bersama Galen.


...πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’...


Angin bertiup cukup kencang, dedaunan jatuh perlahan-lahan. Hari semakin sore, perjalanan ini berakhir dengan menemukan sebuah tenda-tenda yg tersusun rapi, serta banyaknya orang-orang yg tengah duduk minum-minum.


Melihat hal itu reflek Pangeran segera menarik ku menunduk, mungkin bukan hanya menunduk tapi dia memelukku bahkan detak jantungnya yg teratur sangat terdengar di telingaku.


Dengan cepat aku sedikit mendorongnya dan menjauh.


"S-saya bisa bersembunyi dengan benar tanpa bantuan anda." Ucapku padanya.


"Mereka sangat banyak! Bagaimana bisa kita bisa menyelamatkannya." Bisik Galen pada kami berdua.


"Kita langsung serang saja." Ucap Pangeran dengan berani, aku menolak pendapatnya ituΒ  secepat mungkin.


"Tapi mereka kan hanya orang-orang biasa?" Ucapnya sambil melirik kedepan.


"Jangan anggap remeh! Mungkin mereka biasa saja, tapi soal angkah kita akan kalah."


Jelasku pada Pangeran, Galen pun setuju akan hal itu. Kemudian tiga orang keluar dari dalam tenda dan itu ternyata adalah dua orang yg pernah datang ke rumah kakek meminta ramuan.


Ternyata mereka hanya menyamar sebagai seorang bangsawan saja dan menipu kami semua, tapi kenapa mereka bisa mendapatkan logo bangsawan?! Di tambah itu seorang Duke.


"Bukannya mereka orang-orang kemarin?" Ucap Galen.


"Benar mereka orang yg kemarin, tapi lelaki muda yg ada di belakang mereka itu siapa?" Mendengar perkataan Pangeran, segera aku mengamati lelaki tersebut.


Deg!


"Hei! Dengar! Ketua sudah membuat ini untuk kita! Jadi tidak ada seorang pun yg bisa mengalahkan kita!"


Teriak pria yg mengaku Duke itu, dia adalah Jors! Lelaki yg ku lempari batu.


Dia menunduk di depan lelaki muda yg bersurai silfer itu dengan penuh hormat. Mereka lalu mengundangnya duduk dan menuangkan segelas Wine kedalam gelas.


"Bersulang untuk ketua!!!"


Teriak Jors beberapa orang lainnya pun berteriak sambil tertawa.


Namun sesuatu yg tidak kami pikirkan terjadi, lelaki yg mereka layani itu jatuh saat meminum Wine tersebut, kemudian Jors kembali tertawa.


"Mana bisa seseorang menganti kedudukan ketua?! Tidak akan!"


Ucapnya sambil menunduk memegang wajah pria yg tergeletak lemah.


"Aku berterima kasih karena kau telah membuat gelang sihir ini agar kami menjadi sedikit kuat. Bawah dan kurung dia kedalam sel bersama gadis itu!"


Teriaknya, kemudian yg lain mengangguk dan membawa lelaki itu kedalam tenda.


"Ternyata dia hanya memanfaatkan lelaki itu saja!" Ucap Galen geram.


"Tenanglah Galen, kita dengarkan apa yg mereka katakan."


Aku kemudian melihat lagi mereka untuk memastikan keadaan sekitar.


"Bos! Bagaimana jika penyihir itu bangun?!" Tanya salah satu bawahnya.


"Tenanglah, dosis yg ku campurkan kedalam minumnya cukup banyak. Dia pasti tidak akan bergerak dengan leluasa."


Jawab Jors kemudian tertawa terbahak-bahak. Jadi lelaki misterius itu adalah seorang penyihir?!


Setelahnya Jors meninggalkan tenda dan pergi bersama dengan Argus. Di sana hanya ada anak buahnya yg sedang duduk minum sambil berbincang-bincang.


"Sekarang apa rencananya?"


Tanyaku pada mereka berdua, namun entah kenapa dari tatapan yg di berikan kedua orang ini sangat membuat ku tidak nyaman.


"Sebenarnya ada satu rencana agar kita bisa masuk kedalam."


Ucap Galen sambil menunjukan senyuman jahatnya padaku.


...πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’...


"Apa!!"


Ucap ku yg hampir berteriak itu pada mereka berdua. Mendengar rencana bodoh yg menjijikan itu rasanya aku tidak akan melakukannya.


"Ayolah Agnasia... hanya itu jalan satu-satunya... mungkin akan berhasil benarkan pangeran?"


Tanya Galen pada Pangeran, aku yg melihat itu memberi tanda agar merubah strategi yg lebih masuk akal.


Tapi seperti sebelumnya yg ku katakan, Dewa keberuntungan tidak berpihak lagi, dan Pangeran malah sangat setuju dengan perkataan Galen.


"Ughk! Tapi aku tidak bisa!" Kataku sekali lagi.


"Ayolah hanya sebentar, kau sedikit merayu mereka dari jauh agar mereka pergi dari sana kemudian aku bersama Pangeran, akan membuat mereka tidak sadarkan diri."


Jelas sekali lagi Galen, aku sedikit menggigit bibirku dan kemudian bernafas pasrah sambil membuang pandangan kearah lainnya.


Kami pun pindah tempat dan mulai mengatur strategi yg ada.


"Baiklah! Aku hanya mengoda mereka, dan memanggilnya kearah sini kan?" Ucap ku kemudian di angguki oleh Galen.


Aku lalu berbalik arah akan pergi, tapi di tahan oleh Galen lagi.


"Ada yg kurang! Kau harus sedikit mengikat gaunmu keatas dan melepas rambut mu"


Mendengar penjelasan Galen, aku mengepalkan tanganku menahan amarah yg sudah tidak tertahan dari awal perjalanan sampai sekarang.


"Kauuu!!!!"